Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 10: Dewi Bunga Dua


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Bom bom bom …!


Blar blar blar …!


Bola-bola sinar merah melesat dari meriam bambu Penembak Bambu terus-menerus tanpa henti.


Semuanya menghantam sosok Permaisuri Dewi Ara yang berdiri diam dengan tubuh diselimuti lapisan sinar merah. Setiap bola sinar merah itu menghantam tubuh Dewi Ara, maka ledakan bola sinar merah terjadi hebat.


Jika bola-bola sinar merah itu semua menghantam tubuh Dewi Ara, maka terjadilah kebisingan yang sangat memekakkan telinga dalam durasi yang cukup lama. Saking rapatnya hantaman dan ledakan yang terjadi pada tubuh Dewi Ara, sampai-sampai sosok tubuh sang permaisuri tertutupi oleh ledakan sinar merah milik Penembak Bambu.


Setiap ledakan terjadi, tanah-tanah di sekitar terbongkar, termasuk menghancurkan  kulit-kulit batang pohon sekitar.


Namun hebatnya, Dewi Ara bergeming, menunjukkan di tahap mana kelas ilmu Perisai Dewi Merah berada.


Sementara orang-orang pengikut Dewi Ara yang sudah berada di posisi jauh dari pusat pertarungan, mereka mengerenyit mendengar kebisingan dari ledakan yang begitu banyak terjadi.


Arda Handara dan sebagian dari mereka menutup kedua lubang telinganya, meski itu hanya mengurangi sedikit dari kebisingan yang mereka dengar.


Kali ini Penembak Bambu mendelik terkejut melihat Dewi Ara bergeming seperti patung baja permanen yang seolah berdiri menyatu dengan bumi. Ia tidak menyangka bahwa ilmu pertahanan lawannya sangat kuat dan tinggi.


Jika ilmu Tembakan Seratus Iblis tidak bisa membuat Dewi Ara mati, bahkan terluka sedikit pun, maka Penembak Bambu tinggal memiliki satu harapan dari kesaktiannya.


Setelah bola sinar keseratus melesat dari meriam bambu Penembak Bambu, kemudian menjadi ledakan terakhir pada tubuh Dewi Ara, maka suasana seketika berubah hening, menyisakan dengingan pada telinga para penonton.


Tanah jalanan itu hancur berantakan, mengubah jalan menjadi lahan untuk berkebun. Pohon-pohon sekitar tidak hanya tertelanjangi dari kulit-kulitnya, tapi juga terpatah-patah rantingnya dan separuh dari daunnya berguguran seperti musim gugur. Itu semua dampak dari seratus ledakan yang terjadi.


Setelah itu pula, Dewi Ara menghilangkan lapisan sinar merah pada tubuhnya.


Buk buk buk …!


“Huk! Huk! Huk …!”


Tiba-tiba Penembak Bambu merasakan dadanya dihantam beruntun oleh kekuatan tidak terlihat, seperti kekuatan tinju. Tubuh Penembak Bambu terguncang-guncang kencang dalam berdirinya seperti orang kesurupan kemasukan setan.


Sess! Bsest!


“Aaak!” Kali ini Penembak Bambu menjerit dengan tubuh tetap berdiri di tempatnya, saat tiba-tiba satu tombak sinar biru melesat menusuk tembus perutnya.

__ADS_1


Meski tombak itu menusuk tembus tubuh Penombak Bambu, tetapi itu tidak melukai atau membolongi badannya.


Namun, ada darah yang termuntah dari mulut Penembak Bambu. Jelas itu pertanda buruk bagi sang pendekar.


Setelah tombakan itu, serangan ilmu Tatapan Ratu Tabir juga berhenti.


“Di mana tawamu, Penembak Bambu?” tanya Dewi Ara dingin.


“Hahaha! Ini tawaku!” ucap Penembak Bambu marah setelah melakukan tawa buatan sebagai jawaban dari pertanyaan Dewi Ara. “Rasakan serangan terakhirku!”


Penembak Bambu berteriak sambil melenting naik ke udara nan tinggi untuk melepaskan ilmu pamungkasnya.


Saat mengudara seperti itu, dari tubuh Penembak Bambu keluar sepuluh sinar panjang tanpa putus yang naik meliuk ke atas. Sinar itu terdiri dari dua warna, lima sinar merah dan lima lainnya sinar kuning.


Di atas kepala, kesepuluh sinar belang itu bersatu membentuk kepangan dua warna sehingga terlihat indah. Kepangan sinar itu lalu bergerak menukik seperti kepala ular dan melesat sangat kencang menyerang posisi Dewi Ara.


Siuss! Wessrr!


Bluarr!


Dewi Ara tidak menghindar, tapi dia menyambut serangan cepat itu dengan lesatan sinar kuning berselimut api biru. Itu ilmu yang bernama Sebutir Mata Maut.


Pertemuan kedua ilmu itu jelas menciptakan ledakan tenaga sakti di udara. Jika Penembak Bambu terlempar semakin tinggi lalu menukik jatuh lurus ke bawah, maka Dewi Ara melakukan lompatan kecil seperti anak main engklek sejauh sepuluh kaki.


Jess!


Ketika ujung kaki kanan Dewi Ara menyentuh tanah, dari pijakan itu muncul gelombang sinar hijau yang melesat cepat dan melebar, seolah melakukan pengecatan terhadap tanah yang berlubang-lubang dan apa yang ada di atasnya.


Bidang tanah yang dijalari sinar hijau sampai jauh, bahkan sampai naik ke batang-batang pohon.


Penembak Bambu yang meluncur jatuh tanpa bisa mengendalikan dirinya, terkejut melihat tanah di bawah telah dilapisi sinar hijau.


“Aku tidak boleh menginjak sinar itu!” batin Penembak Bambu bertekad.


Suss! Bluar!


Penembak Bambu menghentakkan tangan kanannya ke bawah. Dalam jarak dekat, satu sinar hijau gelap berekor melesat dan meledak menghantam tanah berlapis sinar hijau pula.


Sinar hijau berekor memang meledak. Namun, sebelum daya ledaknya mementalbalikkan tubuh Penembak Bambu, ….

__ADS_1


Sluff! Bress!


“Aaak!” jerit Penembak Bambu panjang karena harus melepas nyawanya.


Tiba-tiba dari lapisan sinar hijau di bawah, ada bagian sinar yang melesat naik tanpa putus seperti mulut terompet raksasa, menangkap tubuh Penembak Bambu. Jeratan itu membuat tubuh si kakek langsung terbakar oleh api hijau.


Mengerikan, proses bakar api hijau itu begitu cepat, sehingga hanya dalam setarikan napas saja, pakaian, kulit dan daging tubuh Penembak Bambu terbakar habis, menyisakan tulang belulang berlapis daging hangus berwarna hitam kehijau-hijauan.


Ketika lapisan sinar hijau yang luas itu hilang, maka tulang-belulang panggang itu jatuh ke tanah dalam kondisi mengerikan. Meski demikian, mayat Penembak Bambu masih juga tersenyum lebar, lantaran gigi-giginya sudah tidak tertutupi daging dan kulit lagi.


Permaisuri Dewi Ara baru saja mengerahkan ilmu Dewi Bunga Dua.


Setelah itu suasana hening yang tercipta, karena tidak ada lagi musuh yang mengajak ribut.


Melihat ibundanya telah berbalik badan, Arda Handara yang menonton dari kejauhan langsung bersorak girang.


“Ibunda panjang umur! Ibunda panjang umur!” teriak Arda Handara sambil melompat-lompat di tempat. Wajahnya yang hitam semua membuatnya terlihat seperti tokoh monyet dalam film “Monyet Seribu Topeng”, meski faktanya bahwa topengnya hanya ada tiga.


“Gusti Permaisuri panjang umur! Gusti Permaisuri panjang umur!” teriak Ratu Wilasin juga sambil melompat-lompat di tempat, mengiringi Arda Handara.


Dewi Ara mendatangi para pengikutnya dengan melayang terbang dan mendarat lembut seperti burung dara. Arda Handara dan yang lainnya menyambut dengan tawa dan senyum lebar.


“Kita lanjutkan perjalanan!” perintah Dewi Ara yang tidak sedikit pun memberi senyum kepada putra dan pengawalnya.


“Tadi, jika dalam sepuluh hitungan lagi Ibunda tidak mampu membunuh kakek tidak tahu malu itu, maka aku yang akan turun tangan membunuhnya. Eh, ternyata Ibunda masih sakti. Hahaha!” kata Arda Handara berapi-api kepada Dewi Ara lalu tertawa sendiri.


Dewi Ara hanya mengusap kepala putranya.


Bagang Kala segera membantu Anik Remas turun dari punggung kuda milik sang permaisuri.


Dewi Araa kembali naik ke kudanya.


“Kakak Ratu, apakah kau ingin berkuda bersamaku?” tanya Arda Handara yang naik ke kuda kecilnya.


“Bagaimana bisa, kudamu pendek seperti dirimu? Hihihik!” tanya Ratu Wilasin lalu tertawa nyaring.


“Biarpun pendek, tapi kudaku kuat dan napasnya panjang,” kata Arda Handara.


“Silakan, Gusti Ratu,” ucap Tikam Ginting menawarkan kudanya kepada sang ratu, sedangkan dia sudah turun dari kuda.

__ADS_1


Maka, perjalanan mereka dilanjutkan. Dewi Ara, Ratu Wilasin, Arda Handara, Anik Remas, Lentera Pyar, dan Bewe Sereng mengendarai kuda. Bewe Sereng mengendarai kuda dalam posisi tengkurap memeluk kuda dan Bong Bong Dut yang menuntun menjaganya.


Sementara Tikam Ginting, Bagang Kala, Setya Gogol dan Bong Bong Dut berjalan kaki sambil menuntun kuda. (RH)


__ADS_2