Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 30: Pangeran yang Sakti


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Jika tidak buru-buru bangkit, sebagai seorang penguasa pulau jajahan yang kejam, Pangeran Tololo Coi bisa malu seumur hidup.


Tololo Coi cepat melompat bangkit dengan gaya melentingkan lebih dulu kedua kakinya.


Bak! Dag!


“Akk!”


Belum lagi Tololo Coi berdiri sempurna dan memasang kuda-kuda, tiba-tiba satu hantaman energi tidak terlihat menghantam dadanya dengan keras. Itu membuatnya terlempar ke belakang. Punggung dan kepalanya menghantam tembok depan Istana Raja. Maka wajar jika lelaki gagah itu menjerit.


Blar blar!


Set set set …!


Dua ledakan terjadi pada dua bagian dinding yang pecah menjadi serpihan batu-batu kecil. Namun, pecahan itu tidak langsung jatuh ke lantai, tetapi beramai-ramai melesat menyerang Tololo Coi yang sedang menghantam dinding.


Duk duk duk …!


Tololo Coi yang tidak sempat menghindar hanya menggunakan kedua batang tangannya untuk melindungi wajahnya dari hantaman. Serangan rapat itu membuat Tololo Coi kelabakan yang berujung dengan ledakan amarahnya.


“Heaaat!” teriaknya keras membahana sambil menghentakkan kedua lengannya.


Blass!


Satu ledakan energi berwujud ledakan cahaya ungu membuat rombongan batu yang belakangan terpental balik.


“Aku tidak peduli!” teriak Tololo Coi sambil melompat maju langsung kepada Dewi Ara dengan kedua tinju bersinar ungu seperti lidah-lidah api.


Namun, Dewi Ara menyambutnya dengan tusukan tombak sinar biru dari ilmu Tombak Algojo.


Blarr!


Tololo Coi berani mengadukan tinjunya dengan ujung tombak sinar biru. Menciptakan ledakan energi yang hebat. Membuat Tololo Coi terlempar mundur, tetapi itu tidak membuatnya terluka. Sementara Dewi Ara hanya mundur setindak dari peraduan itu.


“Aku tidak peduli betapa cantiknya kau, Permaisuri Negeri Asing. Jika itu mengancam nyawaku, biarpun kau selegit daging kepiting, aku tidak akan sungkan membunuhmu juga!” teriak Tololo Coi melanjutkan kata-katanya tadi.


“Sepertinya otakmu perlu dibenturkan agar bicaramu normal,” kata Dewi Ara datar.


Pak!


Tubuh atas Tololo Coi tiba-tiba terbanting ke lantai batu. Namun, cepat Tololo Coi menahan bantingan tubuhnya dengan tangan menapak di lantai.

__ADS_1


Dak!


“Aak!” jerit Tololo Coi ketika kekuatan yang kedua begitu kuat menekan kepalanya. Tangan yang menahan bantingan kekuatan pertama jadi tertekuk, membuat kepala Tololo Coi benar-benar keras dibanting ke lantai.


Untung kepala orang sakti, jadi tidak pecah, kecuali hanya berdarah serembes saja.


Namun, diperlakukan seperti orang yang tidak berdaya seperti itu sukses membuat Tololo Coi murka bukan main. Juga tidak bisa membuatnya tertawa lagi atau berani menggoda wanita jelita yang menjadi lawan tarungnya di atas lantai Istana.


Clap!


Tiba-tiba Tololo Coi seperti menghilang dari tempatnya dibanting. Ia tahu-tahu telah berada di depan Dewi Ara dengan kedua tinju bersinar ungu seperti tadi.


Dia mengagresi sang permaisuri dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata pendekar biasa. Dewi Ara mau tidak mau meladeni serangan-serangan tinju berbahaya itu. Dia bisa mengimbangi kecepatan serangan tinju Tololo Coi, bahkan kecepatannya lebih tinggi daripada gerakan sang pangeran.


Hingga durasi lima kali putaran memasang kancing baju kemeja tidak kunjung mencolek kulit pipi Dewi Ara sedikit pun, Tololo Coi lalu kian mempercepat speed-nya.


Namun, kesengajaan Dewi Ara membuat lawannya terombang-ambing dalam harapan belaka, membuat Tololo Coi semakin beringas. Tidak terlihat sedikit pun kebahagiaan di raut wajahnya meski ia bertarung dalam jarak dekat dengan wanita berkecantikan luar biasa.


Memang Dewi Ara menghindari tinju bersinar ungu berkekuatan dahsyat itu, tetapi sesekali tusukan jarinya memberi sentuhan-sentuhan bertenaga dalam tinggi. Namun, memang Tololo Coi memiliki tingkat kekebalan dan ketahanan raga yang tinggi, membuat serangan Dewi Ara pun tidak begitu berefek. Meski demikian, bagi Tololo Coi, tusukan-tusukan yang seperti sentuhan colongan berulang tersebut menjadi gambaran bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dalam pertarungan itu.


Blast! Set! Bdakr!


“Hukh!”


Namun, pangeran jahat itu memang perlu diacungi jempol kaki. Dia hanya terluka kecil pada kulit tubuhnya yang berdarah pun tidak berarti baginya.


Tololo Coi bangkit lalu melakukan gerakan untuk mengeluarkan kesaktian khusus.


Tak!


Namun, sebelum ilmu itu dikeluarkan, sebutir kerikil ditembakkan oleh ketapel Arda Handara dan menghantam dahi Tololo Coi. Meski peluru kerikil itu tidak pakai sugesti, tetapi cukup membuat jidat Tololo Coi bocor dan menghentikannya melakukan gerakan khusus.


“Hahahak!” tawa Arda Handara.


Wusss!


“Aaa!” jerit Arda Handara panjang saat kibasan tangan ibundanya mengirimkan angin keras ke belakang, menerbangkannya jatuh menuju lantai bawah.


“Pangeran Arda!” pekik Putri Mahkota terkejut.


Di sisi lain, Eyang Hagara dan Mimi Mama hanya diam melihat penghukuman yang dilakukan oleh Dewi Ara kepada putranya yang iseng ikut campur urusan orang besar.


Wess!


Tiba-tiba dari bawah muncul Arda Handara yang terbang naik dengan tongkat terbangnya, membuat Putri Keken lega. Bagi Eyang Hagara, Setya Gogol, Lentera Pyar dan Mimi Mama sudah tahu skenarionya akan seperti itu.

__ADS_1


“Hehehe!” kekeh Arda Handara setelah mendarat kembali di depan Putri Keken dan Mimi Mama.


Swisss!


Pangeran Tololo Coi sudah menyelesaikan gerakannya dan dia telah melesatkan delapan sinar hijau sekaligus dari delapan tangannya. Dua tangan asli dan enam dari tangan berunsur sinar hijau. Itu ilmu Enam Tangan Samudera, ilmu wajib di kalangan Keluarga Kerajaan Puncak Samudera.


Blar blar blar …!


Delapan ledakan dahsyat terjadi di depan tubuh Dewi Ara ketika ilmu Perisai Dewi Merah dipasang. Delapan ledakan itu membuat lantai, dinding dan tiang berompalan kecil-kecil. Pasukan yang masih ada di lantai itu, mereka terdorong ketika gelombang ledakan menerpanya.


Dewi Ara sendiri terpental jauh ke belakang meski tadi dinding perisainya tidak hancur. Tubuh indah itu terpental melewati batas balkon lantai tiga dan jatuh ke lantai satu.


“Hiaat!” teriak Tololo Coi sambil melesat jauh ke depan mengejar tubuh Dewi Ara.


Set set set …!


Dari kanan dan kiri sejumlah prajurit melepaskan panah kepada Tololo Coi yang melesat melintas.


Set set! Bluar bluar!


Namun, saat itu tubuh Tololo Coi sudah tidak mengenal yang namanya tajam atau lancip, tidak satu pun senjata yang bisa melukainya. Dia justru melesatkan dua sinar hijau ke kanan dan ke kiri.


Seperti granat besar, kedua sinar itu meledak hebat di antara kumpulan para prajurit. Selain mementalkan sejumlah prajurit dalam kondisi anggota tubuh hancur yang membuat mereka mati, ledakan juga menghancurkan lantai depan Istana Raja itu, tapi tidak sampai jebol ke bawah.


Saat sedang meluncur turun ke lantai satu, Tololo Coi yang memiliki enam tangan sinar, melempar delapan sinar hijau ke bawah.


Plok! Zes zes zes…!


Ternyata di lantai bawah Dewi Ara sudah menunggu tanpa menderita luka sedikit pun.


Ketika lawan tarungnya muncul di atas, sang permaisuri bertepuk tangan sekali yang menciptakan cipratan sinar kuning.


“Hah!” kejut Tololo Coi yang melihat di sekeliling tubuh Dewi Ara bermunculan sinar hijau berwujud kuncup bunga besar sebanyak delapan. Kuncup-kuncup bunga yang mengatup itu memiliki tangkai sinar yang pangkalnya bertemu di tengkuk Dewi Ara.


Itulah ilmu Dewi Bunga Enam. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Novel Baru


Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2