
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Set set set …!
Manik Sari mengamuk seperti penari sirkus. Namun, setiap gerakannya yang diiringi kibasan kedua tangan, dua sinar putih tipis melesat menyerang ke mana saja yang dia mau. Bukan hanya Murai Manikam yang ia sasar, tapi juga para Pendekar Pengawal Bunga yang menonton, termasuk menyasar ke posisi para dayang yang sedang diinterogasi.
Entah, apakah Manik Sari mengerti mana yang jadi lawannya atau memang sengaja mengobral ilmu Sirip Naga-nya.
Tidak terlihat sebelumnya, kali ini Murai Manikam bergerak sangat cepat dalam mengelaki lesatan-lesatan sinar putih tipis. Elakannya membuat sinar-sinar itu melesat terus menyasar rekan-rekannya.
Bset! Bluar! Bset bset!
Gagu Pelirik, Jeruk Penggoda Mok Nong, Teriak Cadas, dan Bidadari Senyum Lelembut dengan cepat melakukan lompatan menghindari sinar yang menyasar mereka. Hindaran itu membuat tanah tersayat dalam dan beberapa benda harus hancur terbelah.
Sementara Pendekar Tikus Tanah Surik Jarang menangkis dengan tinju sinar biru, menciptakan ledakan keras yang mementalkan dirinya, tapi tidak sampai terluka, kecuali membuat lengan kesemutan.
Peneguk Air Suci Reka Balaya menjadikan guci peraknya sebagai tameng, membuatnya hanya terjajar dua tindak. Sementara Ki Goyang menghentak ujung selendangnya menangkis serangan berbahaya itu.
“Awaaas!” teriak Setan Kerdil sambil menerkam seorang dayang cantik, ketika sinar putih tipis menyerang si dayang.
Setan Kerdil tidak melakukan modus, tetapi dia memang menyelamatkan si dayang dari kematian. Setelah itu tidak masalah jika mau bertukar nomor hp dan nomor sepatu.
Set! Bras! Set! Bras!
Murai Manikam menghindari tebasan sinar putih selangkah ke kanan sambil menyalakan sinar kuning cukup menyilaukan di tangan kanannya, lalu selangkah lagi ke kiri untuk tebasan berikutnya sambil menyalakan sinar kuning pula di tangan kirinya. Murai Manikam mengerahkan ilmu Dua Telur Dewi-nya.
“Sambut!” pekik Murai Manikam sambil melesat, tepat ketika Manik Sari usai melepaskan dua tebasan sinar putih jarak jauh.
Terkejut Manik Sari melihat kecepatan yang tiba-tiba maju di saat posisi kedua tangannya baru hendak ditarik. Ia tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan kibasan sinar putihnya.
Psees! Bluarr!
Manik Sari yang tidak siap menghindar hanya bisa menyilangkan kedua batang tangannya di depan wajahnya, ketika dua sinar kuning itu mendatanginya dengan begitu cepat. Dari gaya Wonder Woman itu, Manik Sari melepaskan ledakan sinar putih seiring menghantamnya dua sinar kuning milik Murai Manikam.
Ledakan keras pun terjadi hebat, mementalkan kedua wanita cantik itu, tapi tidak sampai jadi perkedel.
Manik Sari terlempar cukup jauh dan mendarat tidak dengan kakinya di tanah keras keputren. Bahunya sampai terluka dan berdarah seiring darah lebih kental mengalir dari sela bibirnya yang indah.
__ADS_1
Sementara Murai Manikam yang juga terpental, bisa bersalto liar di udara lalu mendarat jongkok di tanah.
“Waktunya untuk mengakhiri!” seru Murai Manikam, lalu langsung menolakkan kaki terkuatnya.
Bras bras!
Sambil melesat terbang seperti burung balap, Murai Manikam kembali menyalakan ilmu Dua Telur Dewi di kedua tangannya yang terentang. Gaya Murai Manikam begitu indah, sampai-sampai membuat Ki Goyang bergerak slow motion sendiri karena begitu menghayati gerakan gadis perawan itu.
Mendapati Murai Manikan tidak mau istirahat di tempat, buru-buru Manik Sari bangkit dan melompat naik ke udara dengan tubuh berputar cepat seperti gangsing. Manik Sari mengerahkan ilmu tertingginya. Baginya tidak ada jalan lain.
Siiing!
Dari putaran tubuh laksana gangsing itu, muncul putaran sinar merah yang menyelimuti tubuh Manik Sari, seiring terdengar suara desingan yang keras.
Namun, ….
Clap!
Suara deruan sinar kuning di tangan Murai Manikam tiba-tiba lenyap karena sosok gadis berambut kepang itu juga lenyap begitu saja. Suara yang terdengar tinggal bersumber dari kesaktian Manik Sari.
Karena Murai Manikam hilang dan tidak segera muncul lagi, akhirnya Manik Sari bingung sendiri, karena dia tidak tahu harus melepaskan serangan kepada siapa.
Saat melihat Permaisuri Ginari dan para pengawalnya bersikap santai seperti sedang asik menonton MMA di akhir pekan, Panglima Dendeng Boyo pun memilih mensenyapkan mode pasukannya.
“Gusti Panglima, sepertinya perempuan seperti dayang itu adalah Putri Manik Sari,” kata asisten Panglima Dendeng Boyo yang sudah menjadi prajurit lebih dari sepuluh tahun.
“Hah! Putri Manik Sari?” sebut ulang Panglima Dendeng Boyo terkejut. Ia pun mencoba memfokuskan perhatiannya. Hitung-hitung sambil menikmati kecantikan istri orang.
Ketika Prabu Menak Ujung belum digulingkan, Panglima Dendeng Boyo masih berstatus sebagai seorang nayaka atau tangan kanan seorang panglima.
“Apakah otak dari para pengkhianat kemarin adalah Putri Manik Sari?” tanya Dendeng Boyo kepada dirinya sendiri, bukan kepada nayaka di sisinya.
Kembali ke dalam pertarungan.
Tidak mungkin Manik Sari terus berada di udara karena dia bukanlah Dewi Ara. Dia turun dengan tubuh masih diputari oleh sinar merah yang bergerak seperti ular sinar. Sudah tujuh kali tarikan napas kuda, tetapi Murai Manikam tidak kunjung memunculkan helaian rambutnya. Apakah dia tertidur di alam sebelah? Jangan dijawab.
Clap!
Setelah seperti pengantin baru kehilangan suami di tengah keramaian, akhirnya pencarian Manik Sari berakhir dengan keterkejutan.
__ADS_1
Seperti keluar dari balik tabir udara, Murai Manikam muncul satu tombak tepat di hadapan Manik Sari, tapi dalam kondisi kedua tangan telah menyalakan sinar kuning besar, sampai-sampai sosoknya nyaris tidak terlihat oleh lawannya.
Siiingss! Sess! Bruass!
Meski tidak melihat jelas tampang Murai Manikam, sinar merah yang mengelilingi Manik Sari langsung menerkam maju seperti ular raksasa.
Pada saat yang sama, sinar kuning besar di depan tubuh Murai Manikam melesat maju.
Pertemuan dua kesaktian tidak bisa dihindari karena jarak yang begitu dekat. Ledakan dahsyat peraduan dua tenaga sakti tingkat tinggi terjadi.
Gumpalan debu raksasa yang tebal langsung membumbung seiring sebaran gelombang kejut yang kuat ke segala arah.
Tubuh Murai Manikam terpental keras dan berguling-gulingan. Namun, dalam kondisi seperti itu, dia masih bisa menolakkan satu tangannya yang membuat tubuhnya mencelat tinggi ke udara lalu bersalto dan mendarat kokoh di tanah.
Manik Sari juga terpental keras ke belakang seperti peluru dilepas.
Brak!
Tubuh Manik Sari menabrak pagar keputren hingga hancur. Maksudnya yang hancur pagarnya, bukan badan cantik Manik Sari. Namun, akibat hantaman itu, tubuh Manik Sari terpental lagi dan jatuh berdebam di depan kaki-kaki para prajurit dengan tidak bahagia.
Ternyata tubuh cantik Manik Sari sudah termakan kerusakan, tercoret di sana-sini dan rompal di beberapa bagian. Tangan dan kaki menekuk ke sisi yang tidak seharusnya. Wajah, badan dan anggota tubuh lainnya bersimbah darah. Manik Sari sudah tidak cantik lagi ketika dia sudah tanpa nyawa lagi.
“Uhhuk uhhuk!” Murai Manikam batuk darah.
“Murai Sayang!” pekik Ki Goyang panik sambil buru-buru berkelebat berlari di udara ke posisi Murai Manikam. “Bersihkan bibir cantikmu, Sayang!”
Lelaki paruh baya itu mengulurkan selendang yang terikat di pinggangnya, seperti penari reog. Meski Ki Goyang genitnya terlambat usia, tetapi Murai Manikam mau menerima ujung selendang itu lalu mengelap bibir dan dagunya dari darah kental, yang menunjukkan bahwa dia sedang terluka cukup parah.
Pertarungan selesai.
Tidak berapa lama, datanglah rombongan Prabu Banggarin yang menjadi penonton masbuk, bersama beberapa pejabat.
Ketika melihat mayat Manik Sari, Prabu Banggarin tidak terkejut karena dia tidak kenal. Kontras dengan beberapa pejabat tua.
“Putri Manik Sari!” sebut mereka terkejut.
Namun sayang, meski disebut oleh orang banyak, Manik Sari tidak bangun-bangun lagi. Banyak pejabat lama yang segera menyimpulkan siapa dalang dari pemberontakan dan para pengkhianat.
Tidak berapa lama, ada laporan bahwa Kepala Abdi Dalam Sugeng Marana telah tewas keracunan.
__ADS_1
Pengumuman. Dengan kematian Manik Sari, maka berakhirlah ancaman di ibu kota Jayamata dan di dalam Istana Baturaharja. Tinggal mengepel kotoran yang tersisa dengan cara menelusuri jejak kaki Manik Sari ke belakang, yang pastinya akan sampai kepada Kerbau Perak dan antek-anteknya, mantan pengabdi mendiang Prabu Menak Ujung. (RH)