Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 12: Perang Tiga Kapal


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


Kapiton Sumpal Kepal dan pasukannya di Kapal Raja Gunung terkejut mendengar suara pecahnya Kapal Raja Samudera setelah beradu haluan dengan Kapal Bintang Emas. Kapal Bajak Laut Malam itu ternyata sangat kuat.


Ketika tabrakan terjadi, sebanyak enam anggota bajak laut, dua di antaranya adalah Segaris Ayu dan Sayup Desah, menjadikan daya lontar kapal sebagai daya dorong untuk melompat jauh menyeberang ke kapal musuh.


Keenam anggota bajak laut itu mendarat di kapal yang pecah terbelah bagian depannya, di mana pasukan tombak dan panah berantakan oleh guncangan hebat.


Set set set!


Cras cras cras!


Tsuk tsuk tsuk!


“Akk! Akk! Akh …!”


Keenam anggota Bajak Laut Malam yang telah mendarat di kapal perang Kerajaan Walet Biru itu, langsung melakukan eksekusi massal terhadap para prajurit Kapal Raja Samudera yang kelimpungan. Pedang, golok, pisau, kapak hingga tombak milik para bajak laut itu bergerak cepat mengeksekusi sebanyak-banyaknya prajurit yang ada.


Para prajurit berusaha untuk melawan, tetapi posisi yang tidak siap karena kapal juga bergerak karam, membuat mereka tidak maksimal dalam bertahan. Apalagi, memang tingkat kemampuan beladiri para anggota bajak laut di atas level para prajurit biasa.


“Aak!” jerit kematian mandor pasukan pemanah.


Tidak berselang lama, ….


“Akk!” jerit kematian dari mandor pasukan tombak pula.


Sementara itu, bagian depan Kapal Raja Samudera dengan cepat masuk ke dalam air karena belahan akibat dari adu badak laut tadi, membuat bagian buritan naik menungging.


Melihat pasukannya kocar-kacir di atas kapal, lebih sibuk menjaga keseimbangan di atas kapal yang miring daripada menyerang bajak laut yang hanya beberapa kepala, Kapiton Beringas segera melompat dan memilih lawan, yaitu Segaris Ayu yang bersenjatakan dua pisau jagal.


Di sisi lain, Kapal Raja Gunung datang mendekati kedua kapal. Pasukan di atas kapal itu sudah bersiap. Tidak jauh berbeda dengan pasukan di Kapal Raja Samudera sebelumnya. Kapal itu datang dari arah agak menyamping.


“Panaaah!” teriak mandor pasukan panah di Kapal Raja Gunung.


Set set set …!


Sama seperti pasukan di kapal sebelah, sebanyak empat puluh anak panah dilesatkan mengudara menghujani Kapal Bintang Emas.


Wusss!


Sebagai Pendekar Angin Barat yang memiliki kelebihan angin, Bagang Kala berinisiatif melepaskan ilmu Angin Gulung Lembah. Segulung angin keras berembus naik menyongsong hujan panah dan membelokan arahnya.


“Tembakkan Tombak Naga Perusak!” teriak Kapiton Sumpal Kepal.


“Tembaaak!” teriak mandor kepada prajurit operator penembak tombak besar.


Sreet! Sreet!


Dua tombak bermata bola besi melesat kencang ke arah Kapal Bintang Emas. Pada saat yang sama ….


“Tembak Kapak Penghancur!” teriak Genggam Garam.

__ADS_1


Tak! Ceklek! Set!


Satu anak buah memukul pasak pengunci, membuat kapak raksasa tidak tertahan dan tiga karet pelontarnya menarik dan melesatkan kapak besar bermata dua itu.


Drakr! Drakr! Jregrr!


Dua tombak besar dan kapak raksasa berselisih jalan di tengah jalan. Pada akhirnya, Genggam Garam tidak bisa menolak ketika kedua tombak berat itu menghantam dua titik di lambung kiri kapalnya. Dua lubang besar langsung tercipta di lambung kiri Kapal Bintang Emas.


Selain menjebol lambung kapal, dua hantaman tombak itu membuat kapal terguncang hebat ke samping. Para bajak laut yang masih ada di atas kapal itu, berjatuhan dengan berbagai gaya. Bahkan ada yang terlempar ke laut karena tidak siap menghadapi guncangan.


Namun, pada saat yang bersaamaan, Kapal Raja Gunung tidak bisa menghindari serangan kapak raksasa yang melesat, menancap dan membelah bagian haluan. Nasibnya hampir sama dengan kapal saudaranya. Jika Kapal Raja Samudera bagian depannya terbelah oleh tabrakan adu badak laut, Kapal Raja Gunung terbelah oleh kapakan. Selain menjebol sisi depan kapal, hantaman kapak juga menciptaakan retakan besar, membuat air laut cepat masuk ke dalam perut kapal.


Pasukan di atas Kapal Raja Gunung berubah panik.


Demkian pula tim dayung Kapal Bintang Emas. Mereka yang baru saja berjatuhan, dibuat panik oleh dua lubang besar pada lambung kapal, membuat air laut mengalir deras.


“Cepat ambil papan tambalan!” teriak Tangan Kanan.


Para anak buah tim dayung segera bekerja cepat mengambil segala bahan dan peralatan untuk menambal dua lubang air.


“Hiaaat!” teriak Tangan Kanan sambil mengapakkan tangan kanannya yang bersinar merah membara kepada rantai yang melintang pada lubang.


Crek! Crek!


Dua kali tebasan barulah rantai besar yang bertaut pada Tombak Naga Penghancur putus, padahal sebenarnya cukup melepas pengait rantai pada ekor tombak. Itu Tangan Kanan lakukan pula pada rantai tombak yang satunya lagi.


“Tekan yang kuat!” perintah anggota yang datang membawa papan tebal dan lebar.


Setelah selesai, mereka segera menambal lubang kedua. Hal yang sama mereka lakukan. Hingga akhirnya, kedua lubang tertutupi, tetapi masih ada aliran air yang merembes masuk. Maklum tambalan dadakan untuk sementara.


“Aaak …!” jerit Kapiton Beringas kencang dan panjang, ketika dua pisau kembar Segaris Ayu merobek lengan dan perutnya. Disusul tikaman pool maksimal ke leher.


Darah Kapiton bermuncratan menyirami wajah Segaris Ayu, membuat wanita itu terlihat kian menyeramkan.


Grekk!


Tiba-tiba Kapal Bintang Emas terguncang yang mengejutkan mereka yang masih di kapal. Guncangan itu terjadi karena adanya tarikan rantai Tombak Naga Belenggu yang masih bersarang di kapal. Tarikan itu terjadi karena separuh Kapal Raja Samudera bergerak tenggelam yang ikut menarik rantai.


“Munduuur!” teriak Genggam Garam lantang.


Setelah itu, dia bergerak memutus rantai besar yang tertaut pada tombak besar yang menjebol anjungan kapal.


Crak!


Jika tangan kanannya saja memiliki ilmu yang bisa memutus rantai besar, maka sewajarnya jika sang ketua juga punya ilmu yang lebih hebat untuk sekedar memutus rantai besar. Dengan telapak tangan bersinar biru terang, Genggam Garam memutus rantai besar itu sehingga kapalnya bebas dari belenggu.


Para anak buah Genggam Garam yang bertempur di Kapal Raja Samudera yang menuju tenggelam total, segera terjun berenang menuju kapal mereka yang sudah bergerak hendak pergi.


Tampak di air, di sekitar Kapal Raja Samudera yang semakin tenggelam, banyak mayat mengambang dan para prajurit yang memilih melompat ke air daripada ikut tertarik tenggelam.


Tinggallah pasukan di Kapal Raja Gunung yang mangalami kepanikan dan kebingungan karena kapal mereka juga bergerak menyelam. Namun, Kapiton Sumpal Kepal masih dalam mode pertarungan.

__ADS_1


“Pasang Tombak Naga Penghancur!” teriak Kapiton Sumpal Kepal, masih belum menyerah.


Beberapa prajurit cepat bekerja dengan susah payah karena geladak kapal sudah begitu miring.


“Cepaaat! Kapal setan itu mulai menjauh!” teriak Kapiton Sumpal Kepal jengkel.


“Siap, Kapiton!” teriak prajurit yang menggotong tombak besi besar.


Bdak!


Namun, pergerakan haluan kapal yang masuk ke air justru membuat keempat prajurit yang mengangkat dua tombak, jadi hilang keseimbangan dan terpeleset jatuh, plus tertimpa badan tombak. Masih untuk tidak ada ember yang jatuh menimpa kepala pula.


“Keparat laut!” maki Kapiton Sumpal Kepal gusar.


Sreet!


Kapiton Sumpal Kepal lalu mencabut keris panjangnya yang seperti pedang.


Bdak! Dak!


Dengan kerasnya Kapiton Sumpal Kepal menjejak lantai kapal sehingga ada papan yang pecah dan terjungkit ke atas. Kemudian dia tendang sehingga patah dan potongannya melesat ke air laut. Seperti adegan yang sudah diskenariokan.


Kapiton Sumpal Kepal lalu melompat dan berlari di udara, lalu turun mendarat di lembaran papan kecil yang tadi ditendangnya. Laksana peselancar profesional, Kapiton Sumpal Kepal meluncur di permukaan air laut menuju ke Kapal Bintang Emas.


Wuusss!


Jbur!


“Hahahahak!” tawa terbahak Genggam Garam dan anak buahnya ketika segulung angin kiriman Bagang Kala menghempas Kapiton Sumpal Kepal masuk ke dalam air.


Memang itu tidak membunuh sang kapiton, tetapi cukup mencegahnya untuk mengejar kapal.


“Kapal sudah ditambal, Ketua!” teriak Tangan Kanan dari tangga.


“Belokkan kemudi dan layar, dayung yang kuat, kita lanjutkan pelayaran dengan kemenangan!” teriak Genggam Garam.


“Yeee!” sorak para anggota Bajak Laut Malam, yang kemudian segera kembali ke posisi tugasnya.


Segaris Ayu dan rekan-rekannya yang usai melakukan pembantaian di Kapal Raja Samudera yang sudah tenggelam penuh, telah naik ke Kapal Bintang Emas.


Kapal pun bergerak cepat meninggalkan titik pertempuran tiga kapal itu, di mana Kapal Raja Gunung menuju kepada karam dan para prajurit berenang seperti anak kura-kura yang lucu-lucu.


“Satu tiga lima! Bajak Laut Malam menang!” teriak Tangan Kanan di perut kapal.


“Bajak Laut Malam menang!” teriak tim dayung yang mendayung dengan penuh semangat karena mereka telah menang.


“Satu tiga lima! Pulang bawa janda!” teriak Tangan Kanan lagi seperti orang yang bernyanyi.


“Pulang bawa janda! Hahaha!” teriak tim dayung yang disusul oleh tawa mereka.


Pengejaran ke Negeri Pulau Kabut kembali dilanjutkan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2