Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 45: Menjatuhkan Senjata


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Ternyata, pintu tembus Gerbang Halus ada di Pulau Tujuh Selir.


Memang sebelumnya, Eyang Hagara menculik Arda Handara dan membawanya ke Pulau Tujuh Selir, tetapi di sisi berhutan yang jauh dari orang.


Tepat ketika Eyang Hagara dan Arda Handara pulang dari Negeri Orang Separa, sedang terjadi ketegangan di Pantai Selir Bulan, di mana Dewi Ara sedang terbang bersama pasukan pendekarnya mendekati dinding pertahanan Benteng Sejagad milik Selir Pertama.


“Eyang, itu Ibunda!” tunjuk Arda Handara gembira, saat itu posisinya lebih jauh dari kumpulan penonton di ujung pantai.


“Sepertinya kau perlu menunjukkan kehebatan barumu, Arda,” kata Eyang Hagara.


“Benar sekali, Eyang. Eyang memang pintar,” puji Arda Handara.


“Kau bisa terbang dengan Tongkat Kerbau Merah. Tapi kau bawa sepuluh Bola Mata Pemarah,” kata Eyang Hagara yang tahu-tahu menggenggam sebola sinar merah seperti lampu. “Letakkan bola sinar ini di jaring tongkatmu.”


Arda Handara lalu memasang Tongkat Kerbau Merah di jepitan kedua pahanya. Ia lalu mengambil bola tersebut dan meletakkannya di jaring tempat biasanya bola penerbang diletakkan.


“Kau tinggal menjatuhkan satu per satu bola ini di pasukan musuh itu,” kata Eyang Hagara sambil memunculkan kembali sebola sinar merah di tangannya.


Arda Handara kembali mengambilnya, lalu muncul satu lagi bola sinar merah sebesar genggaman. Arda Handara mengambilnya lagi lalu dimasukkan ke jaring di tongkat. Demikian seterusnya sampai ada sepuluh Bola Mata Pemarah yang ditelurkan oleh tangan Eyang Hagara.


“Tunggulah saat yang tepat untuk memberi kejutan kepada semuanya,” kata Eyang Hagara.


Itulah cerita awal kemunculan Arda Handara di dalam pertempuran yang terjadi antara kubu Dewi Ara melawan tiga selir dan pasukan Pulau Tujuh Selir.


Porak porandanya pasukan prajurit pulau dan terpenjaranya Selir Pertama dan Ketujuh, membuat kubu Pulau Tujuh Selir terpojok.


Bewe Sereng bertarung melawan Selir Kelima yang ternyata pilih tanding. Tikam Ginting bertarung melawan Pangeran Tendangan Kilat. Komandan Bengisan melawan Janggung. Namun, karena Janggung adalah lawan tangguh bagi Komandan Bengisan, Setya Gogol memutuskan membantu Komandan Bengisan.


Sementara Lentera Pyar dan Bong Bong Dut bahu-membahu menghadapi Rengkuh Badai dan pasukannya.


Tiba-tiba pasukan pulau berpentalan saat mereka menyerang seseorang.


Wuss! Wuss!


“Aaak!” jerit para prajurit pulau itu saat mereka diterbangkan oleh angin pukulan berkekuatan tinggi. Bukan hanya satu angin, tetapi beberapa gelombang angin yang membuat pasukan itu kian jadi centang perenang. Orang yang dikeroyok oleh para prajurit pulau itu tidak lain adalah Eyang Hagara. Dia muncul begitu saja di tengah-tengah pasukan.


“Putri Cahaya Bulan, kenapa kau tidak bertarung untuk kami?!” teriak Janggung di sela-sela pertarungannya.

__ADS_1


“Aku dan Kakek tidak berpihak kepada siapa pun, Paman!” sahut Mimi Mama.


Ia lalu beralih memandang kepada Arda Handara yang terbang menghampiri posisi ibunya yang masih melayang di udara.


“Ibundaaa! Hahaha!” teriak Arda Handara lalu tertawa gembira.


Dewi Ara hanya tersenyum kepada putra kesayangannya.


Ketika Arda Handara sudah mendekat di depannya, Dewi Ara menahan terbang Arda Handara dengan kekuatan matanya, sehingga Arda Handara berhenti melaju dan diam melayang di udara.


“Dari mana saja kau, Nak?” tanya Dewi Ara datar.


“Dari Negeri Orang Separa, Ibunda. Negerinya orang-orang cebol,” jawab Arda Handara.


“Tongkat apa yang kau tunggangi ini?” tanya Dewi Ara.


“Namanya Tongkat Kerbau Merah. Pemberian Eyang Hagara,” jawab Arda Handara.


“Berapa wanita yang memperebutkanmu?” tanya Dewi Ara lagi.


“Hahaha! Baru tiga, belum sebanyak Ayahanda Prabu,” jawab sang pangeran.


“Jadi kau mau lebih banyak dari ayahandamu?”


“Kencing saja masih kau pegangi, sudah mau punya istri banyak,” rutuk Dewi Ara.


“Hehehe!” tawa cengengesan sang pangeran.


West!


Tiba-tiba Tongkat Kerbau Merah dan Arda Handara bisa melesat terbang kembali.


Dewi Ara lalu bergerak terbang dan turun ke pasir pantai.


“Heaaat!” teriak satu orang prajurit pulau ketika melihat Dewi Ara telah mendarat. Prajurit itu diikuti oleh beberapa rekannya yang berlari dengan pedang terangkat siap bacok.


Namun, mereka tidak bisa mendekati Dewi Ara kurang dari satu tombak, karena mereka terpental balik dan jatuh berjengkangan di tanah pasir.


Dewi Ara berjalan mendekati Penjara Bola Cemburu yang memenjarakan Selir Pertama dan Selir Ketujuh. Kejap berikutnya, tangan kanan Dewi Ara telah memegang tombak sinar biru yang bernama Tombak Algojo.


“Hentikan pertarungan!” seru Dewi Ara cukup keras, tapi menusuk jelas ke telinga-telinga semua orang.

__ADS_1


Kubu Pulau Tujuh Selir serentak berhenti dan menengok ke sumber suara. Mereka semua terkejut karena dua tetua mereka dalam ancaman bahaya.


“Siapa yang bisa mencegahku membunuh kedua pemimpin perempuan kalian?” tanya Dewi Ara kepada publik.


“Aku!” seru seorang perempuan lain yang muncul berlari di udara dari arah jalan hutan.


Bzurzz!


Perempuan agak gemuk berjubah putih polos itu berlari di udara sambil menghentakkan tangan kanannya. Maka sebola api biru besar dan berekor seperti hantu tanpa kaki melesat cepat menyerang ke arah Dewi Ara.


Sets! Bluar!


Tombak sinar biru yang diancamkan kepada dua permaisuri di dalam bola sinar, cepat dilemparkan menyongsong kedatangan bola api biru. Hasilnya adalah ledakan tenaga sakti yang keras, mementalbalikkan sosok wanita berjubah putih dan jatuh menghantam akar besar pohon.


Sementara Dewi Ara bergeming di tempatnya.


“Tetua Ibu!” pekik Selir Kelima terkejut. Dia cepat meninggalkan Bewe Sereng dan pergi mendapati tubuh wanita berjubah putih, yang tidak lain adalah Selir Ketiga atau Tetua Ibu Pulau


“Tetua Ibu Pulau!” pekik sejumlah anak muda dari prajurit pulau karena mereka akrab dengan tetua yang satu itu.


Selir Ketiga segera bergerak bangkit, tetapi darah yang ia seka dari bibir dan dagunya menunjukkan bahwa ia langsung terluka dalam cukup parah.


Ternyata, di tangan kanan Dewi Ara masih ada setombak sinar biru.


“Dua pemimpin kalian tidak akan bisa luput dari Tombak Algojo. Tombakku bisa masuk, tapi mereka tidak bisa keluar,” kata Dewi Ara.


Permaisuri Geger Jagad lalu mengangkat tangan kanannya dan menariknya ke belakang, siap melemparkan tongkatnya ke dalam bola sinar yang bisa dimasuki dengan mudah, tapi sangat sulit keluar.


“Tahan, Permaisuri!” teriak Selir Kelima tiba-tiba.


“Jatuhkan seluruh senjata kalian dan istirahatkan kesaktian kalian!” seru Dewi Ara langsung.


“Jatuhkan senjata kalian semua!” teriak Selir Ketujuh di dalam kurungan.


Maka seluruh pasukan yang masih kuat untuk bertarung segera menjatuhkan pedang dan tameng mereka dengan perasaan lemas karena kalah.


“Aku tunggu Gandang Duko dibawa ke hadapanku, tanpa tapi. Ancamanku tidak akan aku ucapkan dua kali!” seru Dewi Ara.


Sets!


“Aak!” jerit Selir Ketujuh saat tiba-tiba Dewi Ara melempar Tombak Algojo ke dalam Penjara Bola Cemburu.

__ADS_1


Namun, tombak sinar itu menancap satu jengkal dari badan Selir Ketujuh lalu hilang begitu saja. Selir Ketujuh tidak menderita luka apa-apa dari ancaman itu. (RH)


__ADS_2