
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
“Ak!” jerit tertahan Ratu Wilasin saat tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara dan melesat seperti ditarik oleh satu kekuatan.
Tubuh Ratu Wilasin diturunkan perlahan ke dekat Dewi Ara. Ketakutan ratu yang kekanakan itu jadi berkurang setelah tahu ia kini berada di dekat Permaisuri Sanggana.
Sementara itu, kumpulan kelopak bunga mawar yang diam melayang di udara bergerak jatuh ke lantai. Pemilik kelopak bunga mawar, gadis kecil bernama Mimi Mama yang dibanting pelan oleh kekuatan mata Dewi Ara, segera bangun kembali dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, tapi tidak menakutkan siapa pun. Maklum dianggap anak kecil.
Tadi, kebanyakan orang tidak melihat ketika Mimi Mama menunjukkan kesaktiannya. Mereka cukup terkejut saat melihat tiba-tiba anak cantik itu terbanting ke belakang. Mereka pun menaruh rasa empati kepada si gadis kecil nan cantik itu.
Namun, penilaian mereka seketika berubah ketika Mimi Mama secara terang-terangan menunjukkan keajaibannya.
Sretrss!
Mimi Mama yang berdiri seorang diri di antara massa dan panggung pernikahan, melemparkan semua tangkai bunga mawar di tangannya. Di udara, tangkai dan bunga berpisah. Lalu puluhan kelopak bunga mawar melesat menyerang Dewi Ara, Ratu Wilasin dan Santra Buna. Sementara batang-batang tangkai mawar yang berduri-duri kecil tetap bertahan di udara, seolah mereka menunggu titah dari sang majikan.
Melihat atraksi itu, barulah semua orang tahu bahwa Mimi Mama bukanlah gadis kecil yang anak-anak, tetapi bocah yang berkesaktian tinggi. Rasa empati mereka pun hilang seketika.
“Eh!” Mimi Mama terkejut lagi, saat melihat puluhan kelopak bunganya yang melesat seperti benda keras kembali berhenti dan tertahan di udara, tidak jauh dari tubuh Dewi Ara dan Santra Buna.
“Hei, Anak Setan!” teriak Anik Remas tiba-tiba kepada Mimi Mama.
Anik Remas menunjukkan kemarahan di balik wajah cantiknya. Jika matanya tidak mendelik, mungkin orang sulit percaya bahwa dia sedang marah.
“Jangan kacaukan pernikahanku!” bentak Anik Remas.
“Weeek!” lewek Mimi Mama dengan juluran lidah yang menunjukkan bahwa dia tidak peduli dengan pernikahan Anik Remas dan Bagang Kala.
“Pengantin tidak usah ikut urusan pertarungan. Tugas kalian tinggal menikah lalu bikin anak!” hardik Dewi Ara.
“Ba-baik, Gusti Permaisuri,” ucap Anik Remas patuh.
“Hahaha!” tawa Santra Buna dan Bewe Sereng.
Dengan memendam sedikit rasa malu, Anik Remas pun kembali duduk di kursinya. Namun, ia melanjutkan rasa bahagianya. Bagang Kala memutuskan menggenggam tangan calon istrinya untuk menenangkannya. Tidak lupa memberinya senyum.
“Penghulu, laksanakan saja pernikahannya, biar pembunuh kecil ini aku yang mengurusnya!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Pak Penghulu patuh.
Maka, Pak Penghulu, Bagang Kala dan Anik Remas fokus ke dalam urusan pernikahan. Pak Penghulu menyampaikan arahan lebih dulu.
Sementara itu, Mimi Mama melanjutkan serangannya.
__ADS_1
Set set set …!
Tangkai-tangkai mawar yang kini melesat dengan kecepatan lebih cepat dan lebih kuat dari serangan kelopak bunga sebelumnya.
Namun, tetap saja hasilnya sama, yaitu sama-sama tertahan di udara, tidak bisa mencapai Dewi Ara, Ratu Wilasin atau Santra Buna.
“Iiih!” pekik Mimi Mama kesal sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
Sess!
Tiba-tiba di telapak tangan kanan Mimi Mama yang menghadap ke atas, muncul sepiringan sinar merah. Namun, sebelum Mimi Mama melepaskan ilmu kesaktiannya, Santra Buna cepat berkata.
“Gadis Kecil, jangan hancurkan Istana Cinta milikku. Jika kau ingin bertarung, alangkah lebih baik dilakukan di luar,” kata Santra Buna dengan tenang.
“Aku ingin membunuh Ratu Wilasin, tapi dihalangi oleh Bibi Permaisuri. Terpaksa aku harus membunuh penghalangnya dulu. Aku tidak peduli dengan istana apa ini. Weeek!” kata Mimi Mama yang berujung melewek kepada Santra Buna.
Mendeliklah pemuda tampan berpakaian ungu keungu-unguan itu mendapat ejekan dari seorang bocah.
Clap!
Tiba-tiba sesosok tubuh berpakaian hitam telah muncul di belakang tubuh Ratu Wilasin. Wanita cantik itu sedikit pun tidak merasakan kemunculan sosok lelaki tua yang kemudian dengan cepat menggerakkan tangannya ke leher sang ratu. Sepertinya dia bermaksud berbuat sesuatu terhadap leher mulus Ratu Wilasin.
Namun, ….
Kakek berpakaian hitam yang muncul mengejutkan Bewe Sereng dan Santra Buna itu, tiba-tiba terlempar kencang ke belakang sebelum ia menyentuh leher Ratu Wilasin dengan tangannya. Kakek berambut putih panjang sepunggun itu menghantam dinding ruangan pernikahan, sehingga retak sedikit.
Ratu Wilasin yang tidak tahu apa yang hampir terjadi padanya hanya menengok dengan ekspresi wajah seperti gadis cantik yang bego.
Kejadian yang sangat cepat itu mengejutkan semua hadirin, termasuk kedua pengantin. Namun, Pak Penghulu kembali melanjutkan momen ijab kabulnya.
“Kakek!” teriak Mimi Mama terkejut.
Sess!
Mimi Mama akhirnya melesatkan piringan sinar merah ke arah Ratu Wilasin.
Set! Bluar!
“Aaak!”
Santra Buna yang bertindak mencegah serangan sinar piringan merah. Syahbandar menyentilkan sinar merah kecil sebesar biji semangka dari jarinya. Sinar merah kecil melesat memotong laju piringan sinar merah, menciptakan ledakan tenaga sakti yang keras.
Para hadirin menjerit bersama sambil kompak tiarap, ada yang full dan ada yang setengah tiarap, seolah-olah ada serangan pesawat kompeni.
__ADS_1
Clap!
Tiba-tiba kakek yang baru saja dilemparkan oleh Dewi Ara berpindah tempat seperti setan. Ia berpindah tempat dengan muncul tiba-tiba di sisi Mimi Mama yang baru saja terjengkang keras, karena beradu tenaga sakti dengan Santra Buna.
“Mimi, apakah kau tidak baik-baik saja?” tanya si kakek cemas.
“Aku baik-baik saja, Kek. Bibi Permaisuri itu terlalu sakti, Kek,” jawab Mimi Mama yang dengan cepat bangun.
“Kalian pasti Pembunuh Dua dan Pembunuh Pertama?” terka Dewi Ara.
“Hahaha!” tawa si kakek yang memiliki kotoran lalat besar di tengah batang hidungnya, membuatnya terlihat tidak tampan. Lalu katanya, “Apa boleh buat, Gusti Permaisuri Sanggana Kecil, aku harus turun tangan setelah kau membunuh delapan Sepuluh Pembunuh Kepang Emas.”
“Kakek lebih baik urus Bibi Permaisuri, biar aku yang membunuh Ratu Wilasin,” kata Mimi Mama.
“Aku beri tawaran kepada kalian berdua. Jika kalian bisa membunuhku, maka kalian bisa mengambil Ratu Wilasin tanpa penghalang,” kata Dewi Ara.
“Baik!” jawab si kakek dengan begitu bersemangat.
“Kalian boleh mengeroyokku, tapi kita bertarung di tanggul laut, jangan merusak kebahagiaan pasangan pengantin dan tamu-tamunya,” kata Dewi Ara.
“Baik. Kami sepakat!” tandas si kakek lagi.
“Gusti Ratu harus ikut aku ke laut,” kata Dewi Ara kepada Ratu Wilasin.
“Tapi …,” ucap Ratu Wilasin berat.
“Jika Gusti Ratu ingin mengakhiri pengejaran para pembunuh bayaran itu,” kata Dewi Ara.
Sebenarnya, Ratu Wilasin sangat ingin bergembira menyaksikan pernikahan Bagang Kala dan Anik Remas. Namun, jika dia tidak menurut, bisa-bia Dewi Ara tidak mau lagi melindunginya.
“Maaf, aku harus meninggalkan Syahbandar di sini,” ucap Dewi Ara.
“Tidak, aku akan ikut keluar menyaksikan kehebatan salah satu wanita yang aku cintai,” kata Santra Buna seraya tersenyum manis kepada Dewi Ara. Ingat senyumnya semanis gula aren.
Maka Dewi Ara berjalan biasa menuju ke pintu keluar. Ratu Wilasin buru-buru mengikuti Dewi Ara. Ia takut jika kedua pembunuh bayaran itu berbuat licik dan menyerangnya dari belakang.
Santra Buna pun mengikuti Dewi Ara dengan dikawal oleh para pengawalnya.
Clap! Clap!
Mimi Mama dan si kakek menghilang begitu saja meninggalkan ruangan tersebut. Mereka ingin pamer kesaktian.
Dengan demikian, pernikahan Pendekar Angin Barat dengan Anik Remas dapat dilanjutkan dengan lebih tenang dan kusyuk. (RH)
__ADS_1