
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Kedai Ibu Ibu adalah sebuah kedai makan dan minum yang terbesar di Desa Berunuk. Posisi desa yang berbatasan langsung dengan pelabuhan, membuatnya menjadi tujuan utama para penumpang kapal atau para pedagang yang sedang singgah di pulau tersebut. Maka wajar jika kedai itu selalu ramai, tapi tidak sampai overload.
Selain menu makanan dan minuman yang beraneka ragam memberi banyak pilihan, para pengunjung yang kebanyakan lelaki di buat nyaman dengan para pelayan yang semuanya adalah wanita cantik di bawah umur. Maksud di bawah umur adalah usia di bawah kepala tiga.
Para pelayan pun diwajibkan berpenampilan seksmal, yaitu seksi maksimal. Baju hanya pinjung merah ketat sedada, itupun sengaja direndahkan di bawah ambang batas lima puluh persen, membuat si gunung tercekik sehingga mengembung maksimal di atas. Pakaian bawah pun hanya kain setengah paha yang bagian tengahnya diikat agar tertarik sedikit. Sampai pusing setiap lelaki memikirkannya.
Meski demikian, aturan “dilihat boleh, disentuh jangan” berlaku wajib. Bagi yang melanggar, akan berurusan dengan keamanan yang adalah prajurit kerajaan. Kedai Ibu Ibu adalah milik Keluarga Kerajaan.
Penampilan para pelayan itulah yang melatarbelakangi nama “Ibu Ibu” pada kedai itu.
Kini, Dewi Ara dan rombongannya bersama dengan Komandan Bengisan, sudah duduk manis di kedai yang posisinya di pinggir laut, tapi agak tinggi di atas tebing karang. Posisi itu membuat pengunjung kedai bisa menikmati pemandangan laut bebas dengan angin yang kencang.
Keberadaan Komandan Bengisan dalam rombongan Dewi Ara membuat para prajurit keamanan kedai menjura hormat, tapi hanya kepada sang komandan.
“Hahahak!” tawa jumawa Bong Bong Dut ketika mendapat layanan dari salah satu pelayan. Saking gemasnya, sampai-sampai ia ingin mencubit paha mulus pelayan tersebut.
Tak!
Namun, cepat Komandan Bengisan memukul tangan Bong Bong Dut sebelum kulit paha si pelayan tersentuh.
“Aw!” pekik Bong Bong Dut terkejut sambil mendelik kepada Komandan Bengisan. Ia mendelik bukan karena marah, tapi murni karena terkejut.
“Dilihat boleh, disentuh jangan,” kata Komandan Bengisan mengingatkan.
“Hehehe. Iya,” ucap Bong Bong Dut nyengir kuda.
“Hihihi! Jika kau ingin menyentuh, itu ada Tikam Ginting yang punya bola,” celetuk Mimi Mama setelah menertawakan Bong Bong Dut.
“Jangan bicara macam-macam kau, Anak Kecil!” hardik Tikam Ginting sembari melirik tajam.
“Hihihi!” Mimi Mama hanya tertawa menyikapi hardikan Tikam Ginting.
Beberapa pelayan datang membawa pesanan kopi yang sudah terwadah di dalam sebuah guci keramik warna kuning emas, bukan kuning telur. Pelayan yang lain meletakkan cangkir-cangkir keramik di hadapan Dewi Ara dan para abdinya. Selanjutnya, pelayan wanita lainnya menciduk kopi dari guci dan dituangkan ke setiap cangkir dengan gerakan yang lembut agar kopi tidak tumpah ke mana-mana.
Aroma kopi gunung panas itu begitu harum memanjakan penciuman.
“Harumnya sungguh lembut,” ucap Bong Bong Dut.
“Aroma kopi gunung panas khas Pulau Gunung Dua memang sangat lembut, bisa diadu dengan aroma kopi mana pun di dunia ini,” kata Komandan Bengisan.
“Maksudku pelayannya sangat wangi,” ralat Bong Bong Dut.
“Hahaha!” tawa para lelaki mendengar perkataan pemuda gemuk itu.
“Hihihi!” tawa para wanita, kecuali Dewi Ara. Kali ini Tikam Ginting ikut tertawa.
Sementara para pelayan hanya tersenyum-senyum ramah.
Kopi gunung panas sudah disuguhkan, tinggal ikan bakar jeruk yang akan segera menyusul.
__ADS_1
“Mimi Mama, kenapa kau selalu mengikuti kami?” tanya Bewe Sereng kepada anak kecil ajaib itu. Ajaib karena masih kecil sudah menjadi pembunuh berdarah dingin dan ajaib karena tidak bisa diterka maksudnya.
“Hihihi! Tenang saja, Paman Kumis Laut. Kesaktian Paman cukup untuk menangkal kesaktianku, tidak seperti Kakang Bong Bong Dut,” jawab Mimi Mama yang memang satu meja dengan mereka.
Agak terkejut Bong Bong Dut namanya disebut, seolah-olah ia dalam ancaman.
Dewi Ara dan rombongannya memang satu meja lebar. Tidak ada yang duduk di meja lain, termasuk Komandan Bengisan.
“Dewi, di mana kita akan bermalam?” tanya Tikam Ginting.
“Di kapal. Jangan lupa, kita meninggalkan Brojol di sana,” jawab Dewi Ara.
“Kira-kira, bagaimana nasib Ketua Anik Remas?” ucap Bong Bong Dut, teringat kepada mantan ketua cantik Perguruan Cambuk Neraka.
“Tidak perlu khawatir, Bong Bong. Mereka berdua orang yang memiliki kesaktian. Jikapun mereka berdua tercebur ke laut, mereka tidak akan mati dimakan ikan gendut,” kata Bewe Sereng.
“Hahaha!”
“Hihihi!”
Mereka tertawa santai.
“Dewi, apakah benar Pangeran Arda tidak akan kenapa-kenapa?” tanya Lentera Pyar.
“Kau ingin jawabannya?” tanya Dewi Ara datar.
“Iya. Aku sangat khawatir,” jawab Lentera Pyar.
“Kakang Setya juga ingin tahu, Dewi,” kata Lentera Pyar.
Terkesiap Setya Gogol karena ia dibawa-bawa, padahal ia tidak pernah bicara itu.
“Habiskan kopi kalian, nanti aku beri tahu satu rahasia,” kata Dewi Ara lalu meneguk kopinya untuk kedua kalinya dengan suara “sruuup”, membuat minum kopi itu bukan hanya tercium harum, tapi juga terdengar nikmat.
“Ayo kita habiskan!” ajak Lentera Pyar kepada Setya Gogol sambil menepak punggung tangan pemuda itu.
“I-i-iya,” ucap Setya Gogol tergagap.
Pasangan pemomong yang belum berakad itu lalu segera mengangkat cangkirnya masing-masing. Sejenak keduanya meniup pelan permukaan air kopi yang masih mengepulkan asap halus.
“Sruuup!” Lentera Pyar menyeruput lebih dulu kopinya. Namun, tiba-tiba, “Frukrt!”
Tiba-tiba Lentera Pyar terkejut. Karena dia berseberangan meja dengan Dewi Ara, ia menahan kopi di dalam mulutnya agar tidak tersembur. Karena tidak bisa menahan dan Setya Gogol ada di sebelah kanannya, akhirnya Lentera Pyar menengok ke kiri dan menyemburkan kopi di dalam mulutnya.
Tersiramlah wajah Bong Bong Dut yang duduk di sisi kiri Lentera Pyar. Sementara pendekar bercambuk itu hanya diam pasrah.
“Uhhuk uhhuk!” Setya Gogol justru tersedak dan batuk-batuk saat pertama menyeruput kopinya.
“Hahahak …!” Meledaklah tawa mereka semua melihat wajah Bong Bong Dut, termasuk Lentera Pyar sendiri. Gadis itu tidak sedikit pun merasa bersalah telah menyembur wajah Bong Bong Dut.
Adegan itu ternyata berhasil membuat Dewi Ara tersenyum, membuatnya semakin cantik. Kecantikan berhias senyum adalah pemandangan yang sangat mahal. Mungkin akan banyak lelaki bermata bakul yang rela membeli tiket VVIP hanya untuk melihat senyum Dewi Ara, jika mereka tahu tentang kemahalan senyum Permaisuri Geger Jagad.
__ADS_1
“Sebagai permintaan maafku, biar aku seka wajah tampanmu, Bong Bong,” kata Lentera Pyar sambil menyeka wajah Bong Bong Dut dengan kain lengan bajunya.
Tindakan Lentera Pyar di depan orang banyak itu membuat Bong Bong Dut tersipu malu dan hatinya berbunga-bunga meski tidak ada tanaman yang tumbuh.
“Kenapa kau, Lentera?” tanya Tikam Ginting.
“Kopinya manis,” jawab Lentera Pyar.
“Aku pun terkejut karena kopinya manis,” timpal Setya Gogol.
“Minumlah, nanti kau akan terbiassa minum kopi manis semanis kumisku,” kata Bewe Sereng.
“Uhhuk! Hihihi!” Tikam Ginting tersedak mendengar perkataan Bewe Sereng, tetapi ia hanya tersedak ludah, bukan kopi. Setelahnya dia tertawa kencang.
Tawa riuh mereka menjadi pusat perhatian pengunjung yang lain. Maklum, di dalam kelompok itu ada wanita yang terlalu cantik.
Hingga akhirnya, suasana kembali damai dan terkesan serius.
Lentera Pyar dan Setya Gogol memutuskan untuk menghabiskan kopi manisnya dengan beberapa kali seruputan. Maklum kopi panas.
“Tadi malam di tengah lautan, Kakang Hagara mengirim pesan kepadaku. Dia memberi sedikit kabar tentang Arda,” kata Dewi Ara yang membuat semuanya langsung antusias dan serius.
“Siapa itu orang yang bernama Arda?” tanya Mimi Mama penasaran.
“Putra Gusti Permaisuri,” jawab Tikam Ginting.
“Oooh,” desah Mimi Mama tanda mengerti.
“Di sebuah negeri yang saat ini Arda berada, ada dua wanita cantik yang sedang memperebutkan cintanya,” kata Dewi Ara.
“Waaah! Hahaha!” desah sebagian besar mereka serentak menyikapi kabar itu, lalu tertawa.
Mimi Mama yang tidak ikut tertawa karena tidak mengenal Arda yang mereka maksud, mendadak fokus memandang ke kejauhan, tepatnya ke depan kedai tersebut.
Mimi Mama mencolek kakeknya dan menunjuk dengan mata. Serak Gelegar segera memandang ke arah yang dimaksud cucunya.
“Kakek kenal dengan orang itu?” tanya Mimi Mama.
Perkataan Mimi Mama membuat para pengikut Dewi Ara turut melemparkan pandangannya ke luar jauh.
Orang yang mereka lihat adalah seorang pemuda yang sedang berjalan melintas agak jauh di depan Kedai Ibu Ibu. Pemuda berbaju biru bercelana cokelat itu tidak lain adalah Tadayu.
Turun dari Istana Puncak, dia harus melewati Desa Berunuk untuk sampai ke Desa Konengan tempat dia dan Nahkota Dayung Karat tinggal.
“Sepertinya itu pangeran dari Tetua Penjaga Telur,” jawab Serak Gelegar.
“Aku izin, Gusti Permaisuri,” ucap Mimi Mama kepada Dewi Ara.
“Hamba pun izin, Gusti!” ucap Serak Gelegar.
Kakek cucu itu lalu beranjak pergi setelah sama-sama meneguk kopi panas mereka. Sepertinya mereka berdua ingin mengikuti Tadayu. (RH)
__ADS_1