
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
“Setelah melewati dua hutan, kalian akan sampai di Ibu kota Tanah Hitam. Istana Kabut Kuning ada di tengah-tengah Ibu Kota,” kata Tangan Kanan Putri Mahkota Seser Kaseser kepada Eyang Hagara.
“Apakah kau sudah siap, Pangeran?” tanya Eyang Hagara kepada Arda Handara.
“Sebentar, Eyang. Pijitan Tabib Zoang begitu enak,” jawab Arda Handara dengan nada keenakan.
Mereka tidak tahu bahwa saat itu Bong Bong Dut sedang merengut seperti ikan buntal yang sedang mengembang. Maklum kondisi di atas kapal tanpa cahaya.
Memang sebelum terbang menjalankan misi, Dewi Ara memerintahkan Tabib Zoang untuk memijit putranya agar bisa lebih rileks.
Tidak berapa lama.
“Aku siap!” teriak Arda Handara. “Ayo, Eyang! Kita tumbangkan Pangeran Tolol!”
West!
Setelah itu, Arda Handara telah terbang dengan Tongkat Kerbau Merah-nya.
Sementara Arda Handara terbang di udara langit yan gelap, Eyang Hagara melesat dari atas kapal dan mendarat di tepian tebing karang, padahal jarak antara keduanya belasan tombak.
Bagi seorang Eyang Hagara, mungkin tidak ada satu medan pun yang bisa menghalanginya. Jangankan sekedar dua bentangan hutan, lautan tanpa perahu pun bisa dengan mudah ia arungi. Karena itulah Dewi Ara menjadikannya pendamping bagi Arda Handara yang menyerang lewat jalur udara. Eyang Hagara akan mengikuti Arda Handara lewat jalur darat.
Kapal Bintang Hitam dan Kapal Bintang Emas terus berlayar menuju Pelabuhan Pintu Kabut.
Singkat berlayar.
Akhirnya kedua kapal besar milik Bajak Laut Malam itu telah dekat dengan Pelabuhan Pintu Kabut. Kedua kapal lalu bersauh dan menurunkan layar. Mereka berhenti masih di dalam kegelapan.
Meski masuk dalam jarak pandang, Dewi Ara dan pasukan pendekarnya tidak perlu khawatir karena saat itu belum ada menara suar.
Meski malam, Pelabuhan Pintu Kabut terlihat terang. Ada banyak obor-obor penerangan, baik itu di atas kapal-kapal militer yang berjejer maupun di atas pelabuhan dan benteng tinggi sepanjang pantai karang.
Namun, dilihat dari jauh, tidak terlihat ada aktivitas di pelabuhan itu. Para prajurit atau pasukan marinir banyak yang tertidur di kapal. para pekerja pembangunan benteng pelabuhan pun sedang terlelap tenggelam dalam kelelahannya di penjara, setelah bekerja keras dari pagi hingga gelap tanpa upah. Para pekerja proyek semuanya memang berstatus budak.
“Ketua Genggam Garam!” sebut Dewi Ara.
“Dewi Centil! Eh, Dewi Centing!” pekik Genggam Garam terkejut karena tiba-tiba Dewi Ara telah menyebut namanya dari sisi kanannya, tanpa ada tanda-tanda atau suara-suara pembukaan.
Dewi Ara tahu-tahu telah berpindah kapal ke Kapal Bintang Emas.
“Coba kau hitung jumlah kapal perang yang ada di pelabuhan itu!” perintah Dewi Ara.
“I-i-iya, Gusti,” ucap Genggam Garam. Dia agak grogi karena orang tercantik yang pernah dia lihat dalam hidupnya berdiri hanya beberapa jengkal dari lengannya.
Genggam Garam lalu menghitung jumlah kapal yang berciri-ciri kapal perang, yang warna hijaunya masih jelas terlihat di bawah keremangan cahaya api obor yang bergoyang liar oleh angin.
“Satu, tiga, lima ….”
“Kau bisa menghitung atau sengaja melompat dalam menghitung?” tanya Dewi Ara menyela.
“Hahaha! Bajak Laut Malam suka hitungan ganjil,” jawab Genggam Garam dengan tawa canggungnya. Padahal dalam hati dia memaki dirinya sendiri karena menjadi seperti lelaki culun di depan seorang wanita jelita.
__ADS_1
“Hitunglah. Yang terpenting kapal yang paling besar untukku, jangan sampai kau bakar atau tenggelamkan. Jatahmu hanya tiga kapal, jika kau ambil lebih, kapal hitam akan aku tenggelamkan,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti,” jawab Genggam Garam.
Clap!
Tahu-tahu Dewi Ara ia rasakan telah hilang. Berarti permaisuri sakti itu sudah kembali ke Kapal Bintang Hitam.
“Anak-anakku!” teriak Genggam Garam pelan kepada seluruh anak buahnya yang berjumlah tiga puluh orang lebih.
“Siaaap!” teriak semuanya, tapi suaranya ditekan sepelan mungkin, sehingga terdengar lucu seperti sekawanan tikus terjepit ramai-ramai.
“Selain kapal paling besar dan tiga kapal perang paling ujung di dermaga, tenggelamkan semua!” perintah Genggam Garam dengan suara dipelankan, tapi masih terdengar jelas di telinga-telinga anak buahnya.
“Siaaap!” jawab mereka serentak, tapi suaranya ditekan terjepit.
“Rampok semua kapal!” perintah Genggam Garam lagi.
“Siaaap! Hihihik!” jawab mereka lalu tertawa cekikikan sendiri seperti rampok yang siap merampok banyak harta.
“Laksanakan!” perintah Genggam Garam.
Jbur jbur jbur …!
Puluhan anggota bajak laut segera berlompatan ke laut seperti sekumpulan pinguin. Mereka langsung berenang di dalam air laut yang gelap dengan berbagai gaya tanpa takut jam atau hp mereka rusak oleh air garam. Itu artinya mereka berenang tanpa beban pikiran.
Puluhan anggota Bajak Laut Malam itu dibagi tiga kelompok, masing-masing dipimpin oleh Tangan Kanan selaku tangan kanan, Raga Ombak selaku tangan kiri, dan Keong Gelap selaku bukan tangan.
Di kapal lain, Dewi Ara dan orang-orangnya menunggu hasil dari aksi pasukan tambahan itu.
Di Pelabuhan Pintu Kabut yang berkabut, ada dua puluh satu kapal perang berwarna hijau. Ada tiga ukuran kapal dengan rincian sebagai berikut: kapal perang ukuran terkecil adalah kapal yang dinahkodai oleh seorang kapten, tiga kapal yang lebih besar dinahkodai oleh seorang laksamana muda, adapun satu kapal terbesar dan termegah adalah kapal milik Laksamana Galala Lio.
Posisi kapal-kapal perang itupun ada dua kelompok. Sebagian merapat di dermaga, sedangkan sebagian lagi jatuh jangkar agak menjauh dari dermaga. Ada sepuluh kapal perang yang tidak merapat di dermaga pelabuhan.
Pada pelaksanaan operasi penenggelaman, para bajak laut itu memecah diri menjadi per kelompok tiga orang. Tugas mereka yaitu membocorkan kapal. Jika memungkinkan, mereka boleh naik merampok barang berharga yang ada di dalam kapal.
Kapal-kapal yang bersauh terpisah dari dermaga adalah target pertama dari pasukan penenggelam.
Ketika mereka telah merapat di bawah kapal-kapal, para bajak laut itu memiliki beberapa cara untuk membocorkan kapal.
Seperti yang dilakukan oleh Tangan Kanan dan Raga Ombak. Dengan kesaktiannya, mereka cukup menghantam bawah kapal dengan tinju yang mengandung tenaga sakti.
Bugk! Bugk!
Cukup dua sampai tiga kali tinju, maka dinding bawah kapal sudah retak atau bolong.
Anggota yang lain yang tidak punya tenaga dalam tinggi, mereka menggunakan sarana, seperti golok atau pedang, atau tombak.
Dug! Dug!
Salah seorang prajurit yang tertidur di dalam perut kapal terbangun. Ia diam menyimak ketika mendengar suara hantaman di kapal yang ditempatinya. Ia menengok sejenak kepada teman-temannya sesama prajurit yang tidak terbangun.
Dug! Dug!
__ADS_1
Kembali terdengar suara hantaman pada kapal itu. Ternyata suara hantaman itu tidak membangungkan rekannya yang lain.
Si prajurit berinisiatif bangun lalu melangkahi rekan-rekannya. Dia keluar dari kabin yang berpenerang remang-remang. Ia melihat ke lingkungan sekitar. Aman-aman saja. Ia pun pergi ke pinggiran kapal untuk melongok ke bawah perahu, tetapi dia tidak menemukan hal mencurigakan, terlebih suara itu sudah tidak terdengar lagi.
Si prajurit kembali ke pinggiran lain dan melongok.
“Ah, pasti kayu hanyut menabrak kapal,” ucap si prajurit, setelah tidak ada hal mencurigakan yang dia temukan. Ia pun memutuskan kembali ke tempatnya tidur.
Sementara itu di bawah kapal yang lain.
“Raga Ombak, ada prajurit yang sedang berak di buritan!” bisik bajak laut yang bernama Arik Bengal.
“Tarik saja. Tidak sopan. Di saat kita berenang, dia justru memberi makanan memabukkan,” perintah Raga Ombak.
Arik Bengal lalu berenang ke bawah prajurit yang sedang buang hajat di pinggiran buritan.
Plung!
“Akk!”
Jbur!
Tepat ketika sebatang kotoran lunak jatuh ke air laut, Arik Bengal menggapai belakang baju si prajurit, membuat prajurit itu menjerit tertahan seiring tubuhnya yang jatuh tanpa celana. Suaranya hilang seketika oleh air dan cekikan Arik Bengal pada lehernya.
Jeritan tertahan dan suara sesuatu yang jatuh ke air ternyata membangunkan seorang prajurit yang sedang tidur di area buritan kapal. Prajurit itu menyimak sebentar.
“Ah, kalau pun ada yang jatuh, pasti naik lagi. Semua prajurit bisa berenang,” pikir si prajurit itu. Dia lalu kembali memejamkan matanya yang dengan cepat terlelap.
Bahkan oleh orang yang melek pun kondisi kapal terlihat tidak ada masalah, meski sebenarnya ada pergerakan pelan posisi kapal yang lebih ke dalam air.
Namun, justru orang yang pertama kali menyadari bahwa kapalnya menuju tenggelam adalah prajurit yang tidur perut kapal. Kakinya yang menjuntai dari papan tempat tidurnya tersentuh oleh air, tepat ketika dia sedang bermimpi berenang di kolam emas bersama ikan-ikan yang dianggapnya istri yang banyak.
“Eh, kok ada banyak air?” ucapnya terkejut.
Ia diam sejenak menunggu pikirannya loading dalam mencerna kondisi. Setelah sukmanya terkumpul semua, maka terkejutlah dia. Dasar kapal itu sudah terisi oleh air sedalam pinggang. Ia pun langsung menyimpulkan.
“Kapal bocor!”
Buru-buru dia melompat turun ke air. Dan benar, kedalaman air sampai pinggang.
“Kapal bocooor! Kapal bocooor!” teriak si prajurit sambil pergi ke tangga.
Dia segera naik ke kabin, di mana banyak rekan-rekannya sedang tidur.
Brak brak brak …!
“Banguuun!” teriak si prajurit sambil menepak-nepak dinding kabin dengan kencang.
Sontak para prajurit yang tidur berbangunan seperti diteriaki malaikat di alam kubur.
“Cepat kuras air! Kapal kemasukan air!” teriak si prajurit.
Para prajurit itu segera berlompatan dan berlari ke bawah.
Si prajurit melanjutkan naik ke anjungan untuk melapor ke kaptennya. Ternyata si kapten baru saja bangun.
__ADS_1
Itulah kapal pertama yang heboh karena kapal mereka kemasukan air laut yang banyak. (RH)