
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Untuk meminimalisir jatuhnya korban, Prabu Dira Pratakarsa Diwana menempatkan seratus prajuritnya hanya di kisaran pinggiran Hutan Timur. Sementara lima puluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga dilibatkan dalam pencarian Pangeran Arda Handara dan teman perempuannya.
Hanya lima serigala hewan tunggangan yang bisa masuk ke dalam lebatnya hutan menyeramkan itu. Dengan ikut sertanya mereka, rombongan bisa langsung memastikan bahwa Arda Handara telah jatuh ke jurang.
Hal itu membuat Prabu Dira dan Permaisuri Dewi Ara kian cemas.
Mereka semua berdiri di sepanjang bibir jurang yang gelap, karena memang sang surya baru saja tenggelam. Sebagian dari pendekar Pasukan Pengawal Bunga menyalakan obor.
“Jurang sedalam ini, kecil kemungkinan Pangeran Arda akan selamat jika terjatuh,” kata Permaisuri Kerling Sukma.
“Arda Handara tidak akan mati, dia anak istimewa,” kata Permaisuri Dewi Ara yakin, meskipun ada kekhawatiran yang menggelayut di hatinya.
“Benar, waktu lahir dia memiliki tanda-tanda keturunan Dewa Kematian. Dia tidak akan mati di usia kecil,” kata Prabu Dira pula menguatkan keyakinan Permaisuri Dewi Ara.
“Kita bisa memastikan itu jika sudah berada di dasar,” kata Permaisuri Sandaria.
Sess!
Permaisuri Kusuma Dewi lalu melempar sebola sinar kuning terang ke dasar jurang. Sinar itu seketika menerangi suasana jurang yang gelap menjadi terang benderang.
Sebelum bola sinar yang bersifat hanya menjadi penerang itu mencapai dasar, Permaisuri Sandaria lalu memerintahkan Satria untuk turun ke dasar jurang.
Satria berlari menuruni tebing jurang yang dilapisi tanaman rambat.
“Gusti Ratu!” panggil Permaisuri Dewi Ara yang sudah naik melayang di udara meninggalkan punggung serigala yang bernama Kemilau.
Ratu Tirana yang mengerti maksud Permaisuri Dewi Ara segera berkelebat dan mendarat duduk di punggung Kemilau.
“Permaisuri Pedang!” panggil Permaisuri Sri Rahayu pula kepada Permaisuri Kusuma Dewi. Ia lalu melompat naik ke udara malam dengan tubuh bawah yang seketika diselimuti oleh asap merah beracun. Ia pun terbang dengan asap merahnya.
Permaisuri Kusuma Dewi lalu berkelebat dan duduk di punggung serigala yang bernama Bintang.
Zersss!
__ADS_1
Kiiik!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Ratu Tirana melesat sinar merah besar yang berbentuk burung raksasa bersayap capung. Makhluk sinar itu memekik nyaring mengejutkan para pendekar Pengawal Bunga.
“Kakang Prabu!” panggil Ratu Tirana sambil tersenyum dan menggerakkan alisnya melirik kepada Riskaya, pengawal pribadi Prabu Dira.
Prabu Dira memahami kode yang diberikan oleh Ratu Tirana. Maka, seraya tersenyum, Prabu Dira meraih tangan Riskaya.
“Ayo!” ajak Prabu Dira lalu mengajak Riskaya untuk melompat bersama ke dalam jurang.
Terkejut Riskaya saat tangannya dipegang oleh sang prabu, tapi setelah itu adalah kebahagiaan yang menyeruak di dalam hatinya. Ia pun tidak ragu untuk melompat ke jurang bersama sang prabu yang dicintainya.
Burung sinar merah penghuni Cincin Langit Ratu Tirana lalu menukik cepat dan menyambar tubuh Prabu Dira dan Riskaya dengan punggungnya. Keduanya turun menggunakan jasa burung sinar merah.
Sementara itu, keempat serigala sudah berlari turun menjadikan tebing jurang sebagai trek berlari.
Permaisuri Ginari atau Permaisuri Tangan Peri, melompat jauh ke depan dan terjun bebas ke dasar jurang.
Dulu, Permaisuri Ginari ternama dengan ilmu terbangnya, sehingga ia dijuluki Pendekar Tikus Langit. Setelah kesaktiannya musnah, Permaisuri Nara yang mengangkatnya sebagai murid, memberikannya ilmu terbang yang hebat. Jangan ragukan ilmu terbang yang dimiliki oleh Permaisuri Nara, bahkan bersenggama di udara pun bukan hal yang sulit baginya.
Tidak mau kalah dengan para junjungannya, para pendekar Pengawal Bunga segera menyusul turun ke dasar jurang dengan berbagai cara, tentunya tidak sekeren cara Prabu Dira, para permaisuri dan kelima serigala. Jika boleh dibandingkan, seperti cara otomatis dan cara manual.
Dalam waktu singkat, dasar jurang di sekitar sungai sudah dalam kondisi terang oleh pencahayaan puluhan obor.
Satria dan keempat serigala lainnya segera berjalan menyusuri pinggiran sungai.
“Jejak bau Pangeran Arda dan perempuan yang bersamanya terus menjauh,” kata Permaisuri Sandaria.
“Teruskan!” perintah Prabu Dira yang sudah berada di tanah. Riskaya selalu berada di dekatnya, seolah dia juga bagian dari istri sang prabu.
Para pendekar membagi diri, sebagian berjalan di pinggiran kanan sungai dan sebagian lagi di pinggiran kiri. Medan yang sulit dan masih perawan ting-ting tidak menyulitkan para pendekar itu untuk bergerak.
“Cukup aneh, jatuh dari atas jurang yang tinggi, tapi Pangeran Arda dan perempuan itu bisa selamat dan pergi jauh dari titik jatuhnya,” kata Ratu Tirana.
“Mungkin wanita yang bersamanya adalah seorang berkesaktian tinggi,” duga Prabu Dira.
Sementara itu, Permaisuri Sri Rahayu tetap mengendarai asap merahnya di udara.
__ADS_1
Kelima serigala tidak sungkan-sungkan turun ke air sungai ketika jalan mereka terhalang tebing jurang yang menjorok.
Setelah berjalan cukup jauh menyusuri hilir sungai, pada akhirnya mereka tiba di ladang tanaman biru. Lahan berdaun biru yang gelap menjadi terlihat ketika cahaya obor menerangi bagian pinggir yang dekat dengan pinggir sungai.
Namun, pada bagian lahan yang gelap, banyak terlihat cahaya-cahaya jingga yang kecil, yang menempel indah di dedaunan yang gelap.
“Itu Ulat Bulu Petang,” kata Permaisuri Sri Rahayu dari sisi atas.
“Berarti benar, Pangeran Arda mencari ulat bulu,” kata Permaisuri Getara Cinta.
“Apakah wanita itu yang menuntunnya datang ke tempat ini?” tanya Permaisuri Ginari yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.
Sess!
Permaisuri Kusuma Dewi kembali melemparkan bola sinar kuning ke lahan tanaman biru, sehingga mereka bisa melihat dengan lebih jelas ladang tanaman biru tersebut.
“Pangeran Arda putraku!” teriak keras Prabu Dira tiba-tiba. Teriakan itu sedikit mengandung tenaga dalam sehingga menggema luas ke atas.
Setelah teriakan itu, suasana hening yang tercipta. Suara hewan malam yang tadi terdengar ramai, mendadak diam, seolah mereka terkejut dan ikut menunggu apa yang akan terjadi.
“Arda, kami tahu kau masih hidup!” teriak Prabu Dira lagi.
“Kakang Prabu, jika Pangeran Arda sudah dekat dengan kita dalam kondisi hidup, aku pasti bisa merasakan keberadaannya,” kata Permaisuri Sandaria, menenangkan suaminya.
“Anakku tidak pernah tidur malam di alam liar seperti ini, dia pasti tidak nyaman,” kata Permaisuri Dewi Ara.
“Pangeran Arda anak yang sangat pemberani, Kakak. Karena itu pula dia berani datang ke sini,” kata Ratu Tirana menghibur.
“Kita telah dikepung!” seru Permaisuri Sri Rahayu tiba-tiba.
Seruan wanita beracun itu mengejutkan semuanya, terutama para pendekar.
“Berkumpuuul, itu Cumi Hutan!” teriak Sugigi Asmara cepat kepada rekan-rekannya sesama Pengawal Bunga.
“Cepat berkumpul, cepat berkumpul!” teriak Surya Kasyara, meski wujud dan tanda-tanda keberadaan Cumi Hutan belum mereka lihat dan rasakan.
“Cepat berkumpul, para pendekar!” perintah Permaisuri Sandaria kepada para pendekar. Lalu tambahnya, “Jangan sampai ada di antara kalian yang hilang diculik Cumi Hutan!”
__ADS_1
Joko Tenang dan para istrinya memang bisa merasakan kehadiran banyak makhluk di sekeliling mereka, meski puluhan makhluk itu tidak berjantung. Keberadaan makhluk-makhluk asing itu terasa ketika Prabu Dira dan para istrinya fokus mendeteksi kehadiran musuh di sekeliling mereka. (RH)