Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 30: Berlatih Keras


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


“Aku serahkan Kerbau Merah ini kepadamu, Arda,” ucap Eyang Hagara ketika secara resmi mewariskan tongkat terbangnya yang bernama Kerbau Merah kepada Arda Handara.


Setelah kejadian tadi malam yang bisa dibilang cukup kacau itu, Eyang Hagara menyimpulkan bahwa tongkat terbangnya yang sangat bersejarah tersebut harus dia wariskan kepada keponakannya. Jika pun ia pertahankan sebagai benda pusaka antik, tongkat itu hanya akan menjadi benda pajangan yang berdebu.


Terbangnya Arda Handara dengan Kerbau Merah membuat anak berotak dewasa itu sudah memiliki dasar ilmu terbang, setidaknya dasar-dasarnya tinggal disempurnakan.


Setelah malam itu, keesokan paginya Arda Handara mulai berlatih. Latihan pertama yang harus dia lakukan adalah meningkatkan tenaga dalamnya.


Secara normal, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meningkatkan tenaga dalam ke level di mana bisa mengaktifkan tongkat terbang. Namun, memang dasarnya Arda Handara anak pintar yang beruntung.


Arda Handara beruntung sudah memiliki cikal bakal tenaga dalam, sehingga akan mudah bagi Eyang Hagara untuk melatihnya. Sebagai orang sakti yang bisa dikatakan sangat sakti, Eyang Hagara pastinya memiliki cara instans, agar Arda Handara bisa cepat mengaktifkan tongkat terbangnya dengan tenaga dalam.


Dan cara instans itu ternyata membutuhkan latihan selama sehari semalam. Latihannya berbentuk olah pernapasan dengan posisi kaki berlutut, sementara badan menekuk ke belakang dan bertopang pada kedua siku dan kepala ditarik mendekati punggung, seperti posisi kayang, tetapi dengan lutut dan siku sebagai tumpuan.


Arda Handara harus melakukan olah pernapasan dalam posisi sulit seperti itu. Itupun harus sehari semalam, dipotong masa isoma.


Menurut ilmu yang dikuasai oleh Eyang Hagara, itu adalah tekhnik tercepat untuk meningkatkan tenaga sakti. Namun tidak cukup sekedar itu, Eyang Hagara juga membantu dengan mentransfer tenaga saktinya sebagai energi pemasak agar tenaga dalam Arda Handara cepat matang.


Sebenarnya itu, sangat berat bagi Arda Handara yang tidak memiliki tubuh lentur. Risikonya, setelah latihan itu, Arda Handara menderita kram di mana-mana. Mungkin bisa disebut Arda Handara sedang bucin ingusan, sampai-sampai ia rela berkorban fisik demi memenuhi syarat yang diberikan oleh Hijau Kemot.


Setelah berlatih olah pernapasan secara ekstrem, Arda Handara terus mengerang kesakitan. Eyang Hagara segera melakukan tindakan terhadap keponakannya untuk mengobati kram pada otot-otot tubuhnya. Karena itulah, ketika malam berganti pagi, Arda Handara sudah dalam kondisi segar bugar kembali, apalagi setelah minum ramuan penyegar stamina khas Negeri Orang Separa. Untung yang memberi minuman tidak tertukar dengan ramuan penambah stamina Perkasa Malam Keseratus.


Di Negeri Orang Separa ada satu budaya bagi pengantin baru yang namanya Perkasa Malam Keseratus. Pada malam itu, suami harus memberi pelayanan super maksimal kepada istrinya. Jika sang istri merasa tidak puas, maka suami harus mengulang di malam kelima ratus. Namun jika puas, maka istri tidak perlu mendeklarasikan malam kelima ratus. Nah, pada waktu menjelang malam Perkasa Malam Keseratus, adalah hal yang biasa jika suami minum banyak ramuan penambah stamina Perkasa Malam Keseratus.


Ketika latihan terbang dengan tongkat terbang pada pagi hari, ternyata Arda Handara bisa mengaktifkan tongkat Kerbau Merah tanpa mengandalkan ketapel Ki Ageng Naga. Terbukti bahwa latihan pernapasan Arda Handara berhasil.


“Hahaha …!” Arda Handara hanya tertawa terbahak-bahak ketika genggamannya pada leher tongkat merah berkepala kepala kerbau biru itu berhasil menerbangkan tongkat.


Satu hari satu malam Eyang Hagara menargetkan Arda Handara harus sudah bisa menguasai keseimbangan dalam terbang.


Awalnya Arda Handara selalu terbang dalam posisi menggantung, bukan menunggangi, itu karena dia belum bisa bertahan lama dalam posisi menunggang.


“Arda! Kau yang menunggangi tongkat, atau tongkat yang menunggangimu?! Hihihi!” teriak Hijau Kemot kepada Arda Handara yang terbang dengan posisi menggantung seperti monyet di bawah sebatang dahan.


Saat itu Hijau Kemot sedang lewat dan melihat latihan Arda Handara di halaman samping.


“Seperti ini gaya terbangku!” teriak Arda Handara menjawab. Ia tidak merasa risih ditertawakan, ia justru suka mendengar Hijau Kemot tertawa karena dirinya. Seperti seorang komedian yang justru senang jika dirinya ditertawakan.


Namun, berkat tips-tips yang diberikan oleh Eyang Hagara, Arda Handara bisa cepat belajar karena ia memang ditunjang oleh kecerdasan di atas rata-rata.

__ADS_1


“Tidak begitu mengecewakan,” komentar Eyang Hagara setelah melihat hasil akhir latihan Arda Handara pada malam harinya.


Setelah berlatih sehari semalam, akhirnya Arda Handara bisa tidak jatuh terbalik ketika terbang. Hanya saja, gestur tubuhnya di atas tongkat masih kaku, sehingga jauh dari kata menyatu dengan tongkat.


“Besok latihan apa lagi, Eyang?” tanya Arda Handara lemah karena ia memang merasakan kelelahan.


“Untuk meyakinkan Pelatih Pasukan Domba Merah, kau harus bisa tampil meyakinkan ketika duduk di tongkat terbang. Besok akan menjadi hari yang jauh lebih berat, kerena kita akan berlatih di hutan. Jika kau merasa tidak sanggup untuk latihan berat besok, katakan saja. Tidak perlu malu.”


“Hahaha! Eyang jangan meremehkanku. Aku punya seribu semangat untuk tidak diremehkan oleh orang-orang Separa,” tandas Arda Handara.


“Bagus jika begitu. Istirahatlah yang kenyang. Eyang akan membugarkan tubuhmu saat kau tidur,” kata Eyang Hagara.


Tidak sampai sepeminuman susu jahe merah, Arda Handara sudah terlelap, bahkan mendengkur halus. Saat anak itu tidur pulas, Eyang Hagara menyalurkan ilmu pemulihan untuk menjaga kondisi fisik Arda Handara, yang sebenarnya belum bisa menerima pelatihan seberat itu.


Singkat waktu. Keesokan paginya.


Eyang Hagara dan Arda Handara berjalan kaki pergi ke sebuah hutan di luar Ibu Kota. Terlihat bahwa Arda Handara baik-baik saja, seolah-olah tidak ada tanda-tanda bahwa ia mengalami pegal-pegal atau terkena encok.


Di tengah jalan, sebuah kendaraan mewah melintas dan berhenti di depan mereka berdua. Sebuah kereta burung botak yang dikendarai oleh Galang Ocot dan rekannya yang bernama Katak Songong.


“Hei, Anak Setan! Hahaha!” panggil Galang Ocot sambil melongokkan kepalanya dan tertawa yang terkesan meledek.


“Eh, Anak Burung dan Anak Buluk!” balas Arda Handara sambil tersenyum pura-pura ramah.


Saat itu, Eyang Hagara dan Arda Handara masing-masing membawa tongkat penerbang yang mereka sandang di punggung.


“Aku mau mematangkan keahlian terbangku untuk membuatmu menjadi penerbang yang malang dan bisa melupakan Hijau Kemot untukku,” kata Arda Handara.


“Hahaha …!” tawa kencang Galang Ocot. “Kau sudah bisa terbang? Dalam hitungan beberapa hari saja? Aku tidak percaya.”


“Hahaha! Itulah begonya dirimu, Anak Burung!” balas Arda Handara. “Kau hanyalah penerbang yang handal jika bersama teman-temanmu. Jika kau sendirian, kau tidak ada hebatnya sama sekali.”


“Belelele! Susu basi kau, Kisawak Pendek!” maki Galang Ocot setelah terkejut mendengar tudingan Arda Handara.


Galang Ocot menjadi marah, terlihat dari reaksi dan matanya yang memerah.


“Maksudmu, aku tidak hebat jika terbang sendirian, hah?! Kau mau menantangku adu terbang satu lawan satu? Jangan menjadi kura-kura yang ingin memetik buah kelapa!” kata Galang Ocot gusar, lalu bergerak hendak turun dari kereta setelah meraih tongkat terbangnya.


“Kau jangan buat masalah, Ocot. Kita mau menghadiri acara Panggung Penerbang Pujaan Wanita Ibu Kota. Nanti kita telat,” kata Katak Songong sambil memegangi satu tangan rekannya itu, mencoba menahannya agar tidak turun.


“Lebih baik kau segera pergi ke undanganmu, Ocot. Jika tidak, kau akan kehilangan para wanita,” saran Eyang Hagara. Dia tahu bahwa acara Panggung Penerbang Pujaan Wanita Ibu Kota adalah acara yang dihadiri banyak wanita cebol cantik dan bergengsi. Sebab, Eyang Hadara muda pernah merasakan posisi sebagai penerbang nomor jawu yang sangat dipuja-puja oleh kaum wanita Orang Separa.


“Tidak bisa, ini masalah harga diri. Aku harus membungkam mulut Anak Setan ini!” tandas Galang Ocot yang masih sebatas pinggir kereta, antara mau turun dan tidak karena dipegangi oleh Katak Songong.

__ADS_1


“Jika Ayahanda dan Ibundaku tahu kau menyebutnya Setan, bisa habis kau dibuat burung botak panggang!” kata Arda Handara lalu tiba-tiba melempar.


Puk!


Terkejut Galang Ocot ketika merasakan hidungnya ditemploki sesuatu.


“Belelele! Wuaaah!” jerit Galang Ocot terkejut bukan main.


Sangat jelas dia melihat keberadaan seekor makhluk berbulu bertengger anggun di hidungnya, sangat dekat di depan matanya.


Buru-buru Galang Ocot menampar hidungnya sendiri, membuat ulat bulu yang dilempar oleh Arda Handara terpental jatuh ke tanah.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara terpingkal-pingkal.


“Anak Setan cebol!” maki Galang Ocot menyebut makian yang dibenci Orang Separa, yaitu sebutan “cebol”.


Pasalnya, Galang Ocot sudah pernah merasakan efek dari ulat bulu itu. Jika sekarang hidungnya yang terkena ulat bulu, pastinya hidungnya akan gatal dan agak membengkak, seperti yang dialami pelatihnya. Hasilnya, ketampanannya akan dipertaruhkan di depan banyak wanita dalam acara Panggung Penerbang Pujaan Wanita Ibu Kota.


Melihat Galang Ocot melompat dari kereta ke arahnya, Arda Handara cepat berlari kencang terbirit-birit meninggalkan Eyang Hagara yang lebih banyak diam menyaksikan pertengkaran itu.


Galang Ocot mendarat di tempat kosong di sisi Eyang Hagara. Ia segera menyelipkan batangan tongkatnya ke sela kedua pahanya.


“Ocot, kau akan melanggar hukum. Jangan buat masalah!” teriak Katak Songong cepat mengingatkan.


Mendengar peringatan dari rekan setimnya itu, Galang Ocot jadi bingung tingkat dewa. Selain prajurit penerbang, warga atau pejabat dilarang terbang di jalan umum atau di lingkungan masyarakat. Itulah karenanya, seorang penerbang jika ingin ke mana-mana mereka menggunakan kendaraan lain, seperti debur, kereta burung atau domba.


Jika Galang Ocot mengejar Arda Handara dengan terbang, ia berisiko akan ditindak oleh prajurit Pasukan Pelindung. Jika itu terjadi, acaranya akan berantakan dan dia tidak akan dapat kesempatan pada tahun depan, karena penerbang yang dipilih untuk Panggung Penerbang Pujaan Wanita Ibu Kota tidak boleh dipilih dua tahun berturut-turut.


“Kakek Hidung Tengkorak, katakan kepada cucumu itu, aku akan mencarinya dan membuat perhitungan kepadanya!” teriak Galang Ocot kepada Eyang Hagara.


Sekedar pemberitahuan, banyak penerbang dan warga yang tidak mengetahui bahwa Eyang Hagara adalah penerbang veteran, bahkan seorang legenda. Maklum, di era itu belum ada koran atau jejak digital.


“Ternyata kau berperangai buruk, Ocot. Padahan aku termasuk pemujamu sebagai seorang penerbang,” kata Eyang Hagara.


“Aku tidak peduli!” teriak Galang Ocot. Dia lalu kembali naik ke atas kereta burung botaknya sambil menggaruk hidungnya yang mulai gatal.


“Kau tidak tahu sedang bersaing dan bertengkar dengan siapa, Ocot,” ucap Eyang Hagara lirih seiring kereta burung dijalankan oleh sais.


Clap!


Tahu-tahu Eyang Hagara menghilang dari tempatnya berdiri. Ia pergi menyusul Arda Handara.


“Hahahak!” tawa Arda Handara ketika melihat kemunculan Eyang Hagara di dekatnya.

__ADS_1


Meski telah berlari terbirit-birit, terlihat Arda Handara tidak begitu kepayahan dalam bernapas. (RH)


__ADS_2