
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Permaisuri Geger Jagad kini berhadapan dengan Pembunuh Pertama di atas dermaga, yang sebagian sudah rusak tanpa lantai dan sebagian lagi hangus menghitam setelah terbakar dalam waktu yang cepat.
“Pasti kaulah pembunuh semua anggota Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas?” terka Pembunuh Pertama.
“Tidak semua, tapi hampir semua,” ralat Dewi Ara dingin. “Kali ini kau pun harus mati di tanganku. Kau telah melukai orang-orangku dan sudah beberapa kali nyaris membunuh Ratu Wilasin.”
“Jika aku harus mati di tanganmu, maka berakhirlah Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. Namun, jika aku masih hidup, maka Sepuluh Pembunuh akan tetap ada,” kata Pembunuh Pertama. “Siapa sebenarnya kau, Nisanak?”
“Aku Permaisuri Geger Jagad dari Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Dewi Ara.
Melebarlah sepasang mata Pembunuh Pertama mendengar identitas Dewi Ara. Meski tidak pernah bertemu dengan seorang pun ratu atau permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, tapi Pembunuh Pertama sangat tahu cerita tentang mereka.
“Tetap ada dan hidup dari kematian orang lain. Tidak adakah cara hidup yang lebih terhormat daripada membunuh orang?” kultum sekalimat Dewi Ara.
“Percuma kau bernasihat kepada orang yang ingin membunuhmu dan ingin kau bunuh, Permaisuri,” kata Pembunuh Pertama.
“Baiklah. Tidak guna banyak berbincang dengan orang yang pasti akan aku bunuh. Lagi pula tidak ada lelaki dan anak yang akan menangisi kematianmu,” kata Dewi Ara datar tapi menohok hati.
Meski seorang pembunuh bayaran nomor satu, tetapi Pembunuh Pertama tetaplah seorang manusia yang berhati. Maka, masih wajar jika ia tersinggung mendengar kalimat terakhir dari Dewi Ara. Memerahlah wajah Pembunuh Pertama karena marah, tetapi karena kulitnya gelap, jadi warna merahnya kalah warna.
“Aku tahu bahwa kau wanita cantik yang setiap lelaki memandangmu akan jatuh sakit, tetapi kau tidak perlu menghinaku seperti itu!” teriak Pembunuh Pertama gusar.
“Hihihi!” tawa Dewi Ara kencang tapi pendek. Ia merasa lucu mendengar kata “jatuh sakit”. “Kau pandai melucu juga di saat kau sedang marah.”
“Iya, dan aku juga pandai membunuh di saat aku marah besar!” teriak Pembunuh Pertama lagi, tapi kali ini dengan kedua tangan terangkat seperti dewi penguasa alam. Lalu muncullah dua api besar berwarna hijau.
“Maka matilah,” kata Dewi Ara pelan, tapi retinanya menguat karena mengirimkan satu kekuatan.
Beg!
“Hukh!” keluh Pembunuh Pertama dengan tubuh terlempar mundur lepas landas dari lantai dermaga. Dadanya yang membusung tegas dihantam keras oleh kekuatan Tatapan Ratu Tabir.
Posisinya yang membelakangi lautan membuat Pembunuh Pertama terlempar ke laut.
Wess! Wess!
__ADS_1
Namun, sebelum dirinya betul-betul jatuh ke air asin, kedua tangannya masih bisa melemparkan dua bola api hijaunya menyerang Dewi Ara.
Jbur! Bras bras!
Pembunuh Pertama tidak bisa menolak dirinya masuk ke dalam air. Sementara dua bola api hijaunya menghantam dinding sinar merah yang muncul di depan Dewi Ara. Kedua bola api itu hancur dan raib dengan sendirinya. Sementara Dewi Ara terdorong setengah langkah saja.
Di genggaman Dewi Ara sudah tergenggam tombak sinar biru. Ia menunggu sesuatu.
Cprac!
Tiba-tiba dari dalam air laut melompat keluar sesosok tubuh berpakaian kuning yang di tangan kanannya telah bercokol sinar merah.
Sets!
Dewi Ara langsung saja melesatkan tombak sinar birunya yang melesat. Pembunuh Pertama yang tampil dalam kondisi rambut lurus berurai air asin seperti usai rebonding itu, terkejut. Sinar merah di tangannya yang ingin ia serangkan kepada Dewi Ara, terpaksa dia pakai untuk menangkis serangan tombak yang terlanjur lebih dekat kepadanya.
Bluar!
Satu ledakan tenaga sakti terjadi di udara ketika dua sinar kesaktian itu bertemu lebih dekat dari Pembunuh Pertama.
Rupanya posisi ledakan berpengaruh bagi kedua pendekar. Posisi ledakan yang lebih dekat kepada Pembunuh Pertama, membuatnya terpental kembali dan jatuh ke laut untuk kedua kali. Sementara Dewi Ara tidak mundur sejari pun dari tempatnya berdiri.
Tiba-tiba air laut, tepat di sekitar titik jatuhnya Pembunuh Pertama, bergerak berputar membentuk pusaran air. Awalnya bergerak pelan, tapi sebentar kemudian bergerak cepat. Hal itu membuat sebagian besar penonton heran, kenapa tiba-tiba ada pusaran di air yang bisa dibilang di kedalaman yang dangkal. Sebagian mengira itu adalah kesaktian dari Pembunuh Pertama. Padahal bukan.
Pusaran itu adalah kesaktian dari kekuatan mata Dewi Ara. Maksudnya hanya sekedar untuk membuat Pembunuh Pertama mabuk di dalam air, seperti ikan buntal yang diberi makan nasi basi.
Memang, di dalam air, tubuh Pembunuh Pertama terseret arus yang berputar. Namun, itu tidak lama dan tidak membuatnya mabuk kecubung.
Sambil membiarkan dirinya terbawa arus yang memutar, Pembunuh Pertama melakukan gerakan bertenaga di dalam air. Dalam hitungan jari, seluruh tubuh Pembunuh Pertama bersinar kuning. Sinarnya bahkan sampai menyeruak keluar dari air, memberi gerakan sinar yang indah antara di dalam air dan di permukaan.
“Waaaw!” Sampai-sampai sebagian warga bersuara terpukau.
Bagi pendekar berkesaktian tinggi seperti Dewi Ara dan Santra Buna, mereka bisa merasakan betapa tingginya energi yang dikeluarkan oleh kesaktian Pembunuh Pertama.
Maka itu, Dewi Ara sebagai lawan tarung, tidak mau bermain tanggung.
Bruss!
Tiba-tiba seluruh tubuh Dewi Ara diselimuti sinar merah yang menyembur ke atas. Kedua lengannya bersinar merah menyilaukan mata, membuat mata biasa sulit memandangnya dengan jelas, apalagi sampai jatuh cinta.
__ADS_1
Itulah ilmu Inti Api Suci, salah satu kesaktian tertinggi Dewi Ara. Baru dua orang yang pernah mengalahkan ilmu itu dalam pertarungan, yakni buyut Prabu Dira yang bernama Dewa Kematian dan madunya yang bernama Nara alias Permaisuri Mata Hati.
Bsarrss!
Pada akhirnya, dari dalam pusaran air yang terus berputar tanpa lelah, sumber sinar kuning bergerak melesat naik mengudara, keluar menembus permukaan air laut. Maka terlihatlah sosok Pembunuh Pertama yang begitu indah oleh kurungan sinar kuning. Ia naik mengudara dengan meninggalkan air laut yang berubah berombak besar secara tidak teratur, seperti sedang ada badai.
“Menjauuuh!” teriak Santra Buna keras kepada khalayak ramai. Sepertinya dia sudah memprediksi apa yang akan terjadi.
Sorss!
Wez wez wez …!
Pembunuh Pertama yang mengudara tinggi menghentakkan kedua lengannya. Pada saat yang bersamaan, Dewi Ara juga menghentakkan kedua tangannya.
Dari kedua tangan Pembunuh Pertama melesat dua sinar kuning besar yang suaranya menderu keras.
Sementara dari dua lengan Dewi Ara melesat dua puluh sinar merah berekor menyilaukan. Kedua puluh sinar itu melesat menyebar dengan dua tujuan target, yaitu sinar kuning yang dilepas Pembunuh Pertama dan Pembunuh Pertama sendiri.
Sebelum pertemuan dua kesaktian itu, para pendekar dan warga yang menonton segera berlesatan mundur dan berlari menjauhi tepian dermaga.
Bluar bluar bluar …!
Akhirnya, dua kesaktian bertemu. Sepuluh sinar merah menyilaukan menabrak bersamaan kedua sinar kuning. Sepuluh sinar lagi menghantami tubuh Pembunuh Pertama di udara.
Pertemuan dua jenis sinar itu menciptakan dua ledakan dahsyat, mengguncang air laut menjadi beriak liar dan menghancurkan bagian dermaga terdekat cukup luas. Dermaga yang dipijak oleh Dewi Ara bahkan musnah tidak tersisa, tetapi sang permaisuri tetap di tempatnya tanpa pijakan.
Sebagian warga harus terdorong jatuh dengan berbagai gaya karena gelombang dari ledakan tenaga sakti yang menyebar. Sejumlah perahu nelayan yang ditambatkan di berbagai tiang dermaga pecah berantakan.
Di sisi lain, sepuluh sinar merah menyilaukan lainnya menghantami tubuh Pembunuh Pertama. Semua sinar merah itu hancur dan terlihat bahwa tubuh Pembunuh Pertama begitu kokoh. Ia bahkan tidak terdorong.
Namun, meski demikian, setelah sepuluh ledakan sinar merah habis, sinar pada tubuh Pembunuh Pertama padam, sehingga terlihat bahwa wajahnya penuh darah yang keluar dari semua lubang di kepalanya. Hanya lubang di kepala.
Tubuh Pembunuh Pertama meluncur turun seperti orang yang pasrah.
Seet! Kbelet!
Sebelum tubuh berpakaian kuning itu masuk ke air, justru dari dalam air melesat lima belalai hijau yang menyambut tubuh tersebut dengan lilitan yang begitu kencang, lalu menariknya masuk ke dalam air laut.
Sepertinya itu adalah senjata milik Raja Akar Setan. (RH)
__ADS_1