
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Denting Kematian alias Pembunuh Ketiga merasa dirinya sudah berhari-hari berada di dalam kurungan sinar hijau yang berbentuk ruang kotak. Ia tidak melihat apa-apa selain warna hijau.
Denting Kematian sudah mengerahkan semua kesaktiannya untuk menghancurkan dinding sinar tersebut, dari ilmu Setan Colek Bidadari hingga ilmu Penghancur Mahkota Dewa dikerahkan, tetapi tidak satu juapun berhasil. Jangankan untuk menghancurkan dinding sinar itu, membuatnya lecet saja tidak terjadi.
Lelaki itu memutar hingga memeras otaknya untuk mencari jalan cerdas cara keluar dari kurungan tersebut. Jika arah depan, belakang, samping dan atas tidak bisa dijebol, mungkin arah bawah ada jalan.
Namun kemudian, meski lantai batu yang dipijak tidak bersinar hijau, tetapi kekuatannya tetap sama dengan dinding sinar hijau yang mengurung. Berulang kali Denting Kematian mencoba menghancurkan area yang dipijaknya, tetapi kekuatannya sama.
Hingga akhirnya Denting Kematian duduk lemas. Selain dia pasrah, dia memang juga sudah kehabisan tenaga, setelah beberapa hari dia telah berusaha. Meski dia tidak melihat adanya siang dan malam, tetapi dia yakin bahwa hari-hari telah berganti.
Setelah menguras tenaga dalam dan lahirnya, Denting Kematian semakin cepat melemah karena ia tidak memiliki makanan dan minuman. Bahkan ia harus kencing di kurungan itu dan sempat menjadikan air seninya sebagai minuman demi energinya kembali bersemi.
Namun, air seni pendekar sama saja dengan air seni orang biasa. Itu tidak membantu banyak.
Rasa lemas terus menguras habis energi pendekar itu. Hingga ia kemudian hanya bisa tergeletak terkapar di kamar sinar yang berbau sangat pesing. Hilangnya tenaga, membuatnya terpaksa harus pipis di celana tanpa pembalut.
Secara perlahan, kumis dan jenggot Denting Kematian tumbuh seiring lamanya waktu yang berlalu. Demikian pula dengan kukunya yang memanjang sebagai bukti bahwa ia sudah melalui waktu berhari-hari, mungkin berpekan telah berlalu di dalam kurungan itu. Namun, kurungan itu tidak kunjung lenyap.
“Kenapa ada kesaktian bisa dikerahkan hingga berpekan lamanya tanpa dicabut atau dihentikan?” batin Denting Kematian di saat kondisinya sudah kritis dengan perut yang benar-benar kempis dan wajah yang tirus.
Itulah hal yang ia tidak habis pikir. Sebab menurutnya, untuk tetap menjaga ilmu itu tetap aktif, tentunya diperlukan pengerahan energi yang terus-menerus. Rasa-rasanya, itu adalah hal yang sulit jika harus mengerahkan tenaga sakti dalam durasi yang sangat lama.
Pada puncaknya, akhirnya Denting Kematian mengembuskan napas terakhirnya dalam kondisi sebatang kara dengan tubuh yang kurus dan tempat sangat jorok.
Namun, kematian sang pendekar tetap tidak membuat kamar sinar hijau itu lenyap. Masih ada waktu yang lebih panjang harus dilalui oleh mayat Denting Kematian, yang kemudian berproses menuju pembusukan.
Barulah sekitar tiga bulan kemudian, akhirnya kurungan sinar itu lenyap dengan sendirinya.
Namun, jika di dalam kurungan mengalami perjalanan waktu sekitar tiga bulan, maka berbeda di luar kurungan yang hanya berlangsung sekejap saja.
Setelah Dewi Ara melepaskan sinar hijaunya yang kemudian mengurung posisi Denting Kematian, ia tinggal bernapas sebanyak lima kali tarikan normal. Setelah itu, sinar ilmunya lenyap dengan sendirinya karena memang durasinya hanya sekitar lima detik.
Dengan lenyapnya sinar itu, maka terlihatlah seonggok mayat yang sudah berwujud tulang dan dalam balutan celana saja. Tengkorak kepalanya yang sudah tidak berkulit dan berdaging masih memiliki rambut yang panjang.
__ADS_1
Tembus Mimpi yang masih berada di tempat itu hanya bisa terkejut melihat kekejaman ilmu Dewi Ara.
Seperti itulah cara kerja ilmu Dewi Bunga Lima, yaitu menciptakan perputaran waktu yang sangat cepat di dalam kurungan sinar. Lima detik berbanding tiga bulanan.
Dewi Ara lalu menengok kepada Letus Mimpi yang terlihat wajah bengongnya.
“Giliranmu,” ucap Dewi Ara.
“Iya, Gusti Permaisuri,” ucap Letus Mimpi sambil mengangguk.
Dewi Ara lalu berjalan pergi dengan langkah biasa. Ia melanjutkan agenda jalan-jalan wisata malamnya. Tinggallah Letus Mimpi yang harus mengurus sisa-sisa dari pertarungan itu.
Sementara itu di satu tempat pada waktu yang sama di tengah malam.
“Eyang, ayo main lagi. Aku belum berhasil mengenai jidat Eyang!” teriak Arda Handara masih semangat di tengah malam itu.
Pada kedua genggaman tangan Arda Handara ada sejumlah buah duku.
Kini, Arda Handara berdiri di dalam lingkaran pagar bambu setinggi pinggangnya. Di kedua sisinya ada keranjang bambu yang berisi banyak buah duku.
Sementara di salah satu dahan pohon, ada sesosok tubuh kakek yang menggantung terbalik, dengan kaki diikat dan digantung menggunakan tali. Bahkan kedua tangan si kakek berhidung tanpa daging itu ikut terikat bersama badannya, sehingga dia tergantung seperti kepompong.
Kakek yang tergantung itu tidak lain adalah Hagara, kakak kandung Dewi Ara yang konon menurut sang permaisuri bahwa dia sudah mati ketika masih usia muda.
Di tempat itu ada beberapa tiang obor yang dipasang sebagai penerangan.
Angin bertiup cukup kencang dan ada suara debur ombak menghantam pantai. Meski pantainya tidak terlihat, tapi suara itu menunjukkan bahwa mereka berada di tempat yang tidak jauh dari laut.
Namun, kondisi si kakek Hagara menimbulkan pertanyaan. Jika orang yang melakukan pengikatan adalah Arda Handara, rasanya sulit dipercaya jika ikatannya bisa serapi dan sekuat itu. Apalagi sampai bisa menggantung tubuh si kakek yang jauh lebih berat.
Tubuh Hagara mengayun ke kanan dan ke kiri. Jika dilihat dari buah duku yang berserakan, bisa diduga kuat bahwa Arda Handara telah menjadikan si kakek sebagai target lemparan buah duku dari dalam lingkaran pagar bambu.
“Ini sudah malam tengah. Sudah waktunya kau tidur, Arda!” sahut Hagara.
“Aku tidak akan bisa tidur, Eyang, jika aku masih punya utang!” kata Arda Handara.
“Apa utangmu?” tanya Hagara.
__ADS_1
“Ya itu, menimpuk jidat Eyang. Hahahak!”
“Baiklah,” ucap Hagara lemah, mengalah kepada bocah itu. Tubuhnya masih berayun ke kanan dan ke kiri tanpa henti.
Arda Handara lalu mengeluarkan ketapel Ki Ageng Naga. Mendeliklah kakek berhidung tengkorak itu melihat apa yang dilakukan oleh Arda Handara.
“Apa yang kau lakukan, Arda?” tanya Eyang Hagara cepat. “Jangan main-main dengan senjata itu, berbahaya!”
“Hahaha!” Arda Handara malah tertawa.
Kondisi itu bisa terjadi bermula ketika beberapa waktu sebelumnya, Arda Handara tidak mau percaya dengan cerita Eyang Hagara.
Eyang Hagara sebelumnya menceritakan siapa dirinya sebenarnya.
“Aku tidak percaya dengan cerita Eyang. Ibunda adalah wanita tercantik di seluruh alam, tapi Eyang adalah orang terlucu di dunia. Ibunda begitu muda, tapi Eyang begitu tua,” kata Arda Handara.
“Jika kau tidak mau percaya, lalu bagaimana caranya Eyang bisa membuatmu percaya?” tanya Eyang Hagara dengan ekspresi pura-pura putus asa.
“Hehehe!” kekeh Arda Handara dengan pandangan licik. Lalu katanya, “Jika Eyang mau aku percaya, Eyang harus digantung terbalik di pohon, lalu aku menimpuk Eyang dengan batu dari jauh. Bagaimana, Eyang?”
“Baiklah,” ucap Eyang Hagara menurut, meski ia belum paham betul apa maksud dari keinginan anak itu.
Ide Arda Handara terinspirasi ketika dia dan Ratu Wilasin main Lempar Terong di depan Penginapan Niring Jelita.
Eyang Hagara mengikuti semua kehendak Arda Handara demi manjalin keakraban dengan keponakannya tersebut. Namun, setelah tergambar jelas apa yang Arda Handara inginkan, kakak dari Dewi Ara itu minta keringanan.
“Arda, bagaimana jika batunya diganti dengan buah gadis?” tawar Eyang Hagara.
“Buah gadis itu seperti apa, Eyang?”
“Ayo, Eyang punya kebun buah gadis.”
Ternyata, buah gadis yang dimaksud oleh Eyang Hagara adalah buah duku. Ia menemukan sebuah kebuh buah duku yang sedang panen. Kebun yang tidak berpemilik itu ia klaim sebagai miliknya.
Akhirnya, memanen buah duku menjadi kegembiraan tersendiri bagi Arda Handara yang pastinya juga membuat Eyang Hagara bahagia karena melihat keponakannya gembira.
Demi memenuhi permintaan sang ponakan, Eyang Hagara lalu mengikat dirinya sendiri dengan tali, termasuk menggantung sendiri dirinya. Jangan tanya bagaimana Eyang Hagara melakukan itu semua. Orang sakti mah serba bisa pokoknya. (RH)
__ADS_1