Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 14: Cempaka


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Blast!


Glegaarr!


Ketika kilat kembali memotret yang disusul dengan gelegar petir, sosok berpakaian merah yang hujan-hujanan di bawah pohon jambu berbiji telah hilang.


Meski demikian, Dewi Ara tidak bisa dibohongi, ia tahu ke mana pindahnya wanita asing itu, yakni ke atas atap teras, tepat di atas posisi Dewi Ara.


Wanita berpakaian merah terang itu adalah seorang wanita berusia separuh baya, tidak kurang, tidak lebih, seperti iklan susu. Karena rambutnya terurai tanpa ikatan, air hujan membuat tampangnya seperti kucing Persia tersiram air terjun. Ada pedang bagus warna ungu keungu-unguan di punggungnya, menunjukkan dia adalah seorang pendekar pedang. Ia memiliki bentuk tubuh langsing. Kuyup dan tali pedang yang melintang lewat dadanya membuat badan depannya memiliki daya pelet yang tinggi, meskit tidak sampai ke tahap memaksa.


Sebut saja pendekar wanita itu bernama Cempaka, karena memang namanya adalah Cempaka.


Muncul tiba-tiba di dalam hujan dan di bawah kilat, Cempaka bermaksud menunjukkan gaya misterius kepada Dewi Ara dan kelompoknya. Kemudian dia melesat pergi di saat kembali gelap dan mendarat di atap teras penginapan tanpa suara, karena suaranya tertutupi oleh suara derasnya hujan.


“Hihihi! Biar mereka mengerti bahwa lawannya adalah pendekar sakti,” batin Cempaka yang sebelumnya tertawa seperti orang licik. Tawanya pun di dalam hati.


Buk!


“Ak!” pekik tertahan Cempaka saat tiba-tiba dari bawah atap yang dipijaknya ada satu hantaman kekuatan besar, yang tidak merusak atap, tetapi membuat tubuhnya terlempar jauh.


Dewi Ara dan para pengikutnya bisa mendengar suara jerit Cempaka yang pendek. Dalam waktu yang begitu cepat mereka sudah bisa melihat kemunculan Cempaka.


Tubuh Cempaka terlempar jauh ke depan seperti dipentalkan oleh trampolin sirkus. Meski terkejut, tetapi sebagai seorang pendekar yang mengaku sakti, Cempaka harus menunjukkan pendaratan berstandarisasi internasional.


Dalam lontaran tubuhnya ke halaman penginapan, Cempaka berusaha mengatur posisi tubuhnya agar ketika mendarat bukan kepala duluan.


Sleet! Bcrak!


“Aww!”


Sering kali hasil selalu jauh dari espektasi. Itulah yang dialami oleh Cempaka. Yang mendarat lebih dulu memang kedua kakinya, tetapi kondisi halaman yang sudah becek oleh air hujan membuatnya terpeleset. Namun masih untung, Cempaka hanya jatuh terduduk dengan bokong menjadi busa pengaman.


“Hahahak …!”


“Hihihik …!”


Namun, tetap saja adegan itu menjadi perkara yang paling komedi bagi Arda Handara dan rekan-rekannya di hari itu, padahal jatuhnya tidak buruk-buruk amat.


“Ibunda, ada buah langit jatuh ke bumi!” teriak Arda Handara memberi tahu ibunya sambil tertawa terpingkal-pingkal, padahal jatuhnya Cempaka adalah ulah sang ibu.


“Iya, Ibunda yang membuatnya jatuh,” jawab Dewi Ara datar.


“Hahahaaak! Ibundaku memang paling yuhui!” puji Arda Handara setelah semakin tertawa mengikuti gaya tawa mendiang Penembak Bambu.


Sambil menanggung malu, Cempaka buru-buru bangkit berdiri. Dia sengaja tidak memegangi bokongnya, meski bokongnya itu berdenyut tidak asik.

__ADS_1


Tikam Ginting cepat melangkah maju ke pinggiran panggung teras, tapi tidak begitu pinggir seperti orang mau bunuh diri, agar air hujan tidak menyiramnya.


“Nisanak, siapa kau? Apa maksudmu bertingkah seperti setan?” tanya Tikam Ginting setengah galak.


Mendelik terkesiap Cempaka disebut bertingkah seperti setan.


“Sembarangan kau, Bocah Jahe!” bentak Cempaka lantang sambil menunjuk Tikam Ginting. Lalu katanya dengan sinis setelah mengusap wajahnya, “Kau pasti tidak tahu siapa aku? Karena kau baru lahir kemarin malam. Dengarkan baik-baik karena suara hujan sangat keras. Namaku Cempaka. Gelar membahanaku Wanita Pedang. Dan yang paling penting harus kau ketahui, aku adalah Pembunuh Kesembilan di Tanah Jawi ini.”


“Hihihi!” tawa Tikam Ginting singkat. Lalu katanya meremehkan, “Jika kau pembunuh nomor sembilan, maka aku adalah Pembunuh Pertama.”


“Cari mati jika meremehkan Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas!” tandas Cempaka yang harus berteriak-teriak demi suaranya bisa mengalahkan kebisingan suara hujan.


“Siapa itu Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas? Aku tidak kenal,” kata Tikam Ginting enteng.


“Terlalu!” rutuk Cempaka dengan nada Raja Dangdut, sama seperti mendiang Penembak Bambu. “Dengarkan!”


Sambil mengusap wajahnya dari air hujan, Cempaka melangkah maju lebih mendekati teras.


“Eh eh eh! Siapa yang menyuruhmu maju?” hardik Tikam Ginting sambil mendelik cantik dan menunjuk Cempaka yang posisinya lebih rendah.


Hal itu membuat Cempaka berhenti maju sambil menelan air hujan yang masuk ke mulutnya. Ia kembali menunjukkan sikap gigihnya sebagai pendekar berkelas.


“Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas adalah sepuluh pembunuh bayaran paling mahal dan paling sakti di Tanah Jawi ini,” ujar Cempaka.


“Wanita Pedang, katakan saja, siapa yang ingin kau bunuh sampai hujan-hujanan pun kau mau berusaha!” kata Tikam Ginting.


Mendengar namanya disebut, Ratu Wilasin berubah takut dan bergerak lebih merapat kepada Bong Bong Dut, sampai-sampai dia memegangi lengan baju si gendut itu, bukan bagian yang lain.


“Tenang, Gusti Ratu. Ada aku,” ucap Bong Bong Dut setengah berbisik, mencoba menjadi obat penenang.


Ratu Wilasin hanya mengangguk samar.


“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya Tikam Ginting lagi.


“Itu rahasia. Kau pikir aku pembunuh kelas cebong?” kata Cempaka.


“Apakah orang yang ingin kau bunuh ada bersama kami?” tanya Tikam Ginting lagi, seolah sedang menginterogasi.


Cempaka kembali mengusap wajahnya dari air hujan agar penglihatannya lebih jelas. Ia lalu memandang wajah Dewi Ara dan yang lainnya. Ketika dia melihat wajah cemong Ratu Wilasin, ia terpaku sebentar, seolah sedang berpikir. Namun kemudian, dia kembali memandangi semua wajah yang ada di teras penginapan itu. Ia pun memandangi wajah-wajah pekerja penginapan yang menumpuk di ambang pintu sedang menonton, yang jelas bukan menonton pertandingan sepak bola.


Melihat Cempaka tidak kunjung menemukan hasil, Tikam Ginting tertawa pendek yang bertujuan mengejek.


“Pembunuh paling mahal dan paling sakti tidak bisa mengenali calon buruannya,” sindir Tikam Ginting. “Kau sama saja dengan Penembak Bambu.”


“Nah! Berarti benar, Ratu Wilasin ada dalam rombongan kalian. Kalian yang telah membunuh Penembak Bambu!”


“Bagaimana kau bisa tahu bahwa kami yang membunuh Penembak Bambu?” tanya Tikam Ginting.

__ADS_1


“Mayat Penembak Bambu memang tidak bisa dikenali, tetapi bambu merahnya bisa aku kenali, sama seperti aku sangat mengenali burung suamiku,” jawab Cempaka.


“Hahahak …!” Kali ini para lelaki tertawa mendengar kata-kata Cempaka, kecuali Bewe Sereng.


“Hihihik …!” Ratu Wilasin, Lentera Pyar dan Anik Remas juga ikut tertawa.


Cempaka tidak peduli dengan tawa ramai itu, Ia lalu menunjuk ke arah Dewi Ara, “Ratu Wilasin pasti dia!”


“Hihihik …!” Melihat Cempaka salah mengenali orang, Ratu Wilasin kembali tertawa nyaring.


“Kau salah. Ratu Wilasin adalah wanita yang tertawa itu,” ralat Tikam Ginting yang seketika membuat Ratu Wilasin berhenti tertawa.


“Hihihi!” tawa Cempaka. “Tikus parit mencoba mendustai kucing hutan. Jika dia adalah Ratu Wilasin, berarti baru kali ini aku bertemu seorang ratu seperti dedemit. Kau pikir aku bodoh ganda?”


“Jika kau Pembunuh Kesembilan, lalu Penembak Bambu pembunuh ke berapa?” tanya Tikam Ginting.


“Penembak Bambu adalah Pembunuh Keenam,” jawab Cempaka.


“Jika demikian, pulanglah ke suamimu ….”


“Suamiku sudah mati aku bunuh. Jadi jangan macam-macam kepadaku!” kata Cempaka memotong kata-kata Tikam Ginting.


“Hahaha!” tawa Setya Gogol mendengar kata-kata Cempaka yang galak tapi baginya lucu.


“Jika Pembunuh Keenam saja mati di tangan kami, lalu bagaimana Pembunuh Kesembilan bisa selamat jika membuat perkara dengan kami?” tanya Tikam Ginting.


Cempaka terkesiap karena pikirannya membenarkan perkataan lawan debatnya.


“Benar juga. Jika Penembak Bambu yang lebih sakti dariku bisa dibunuh, pastinya aku akan bernasib sama …,” pikir Cempaka.


Niring Kuwikuwi yang baru muncul di ambang pintu karena melihat para karyawannya bergerombol, segera berlari kecil ke teras. Dengan senyum mekar semekar hidungnya, ia datang ke sisi Tikam Ginting. Ia muncul sebagai orang yang tidak mengerti cerita yang tergelar saat itu.


“Aduh, Gusti Pendekar. Kenapa hujan-hujanan seperti itu? Ini sangat dingin, nanti masuk angin. Mari masuk menghangatkan diri dan bermalam di Penginapan Niring Jelita ini,” kata Niring Kuwikuwi seperti ibu yang khawatir karena anaknya main hujan-hujanan.


“Dia tamuku, Nyai. Ajak duduk satu meja denganku, Nyai,” kata Dewi Ara tiba-tiba.


Wanita padat lemak itu cepat menengok kepada Dewi Ara. Lalu jawabnya, “Baik, Gusti Pendekar.”


Niring Kuwikuwi kembali beralih kepada Cempaka.


“Mari, Gusti Pendekar!” panggil Niring Kuwikuwi tanpa mau menjemput dan berbasah ria.


Terdiam sebentar Cempaka, menunjukkan dia sedang menimbang.


“Jika aku menolak, itu tidak sopan. Jika aku menerima undangan Ratu Wilasin itu, berarti aku bisa membunuhnya dari dekat dan tiba-tiba …,” pikir Cempaka.


Setelah menimbang untung rugi plus peluang bisnisnya, Cempaka akhirnya berjalan ke tangga teras.

__ADS_1


“Mari, mari, Gusti Pendekar. Penginapan ini juga bisa menyediakan pelayan lelaki tampan tapi lembut,” ucap Niring Kuwikuwi senang sambil tertawa-tawa kecil. Ia pergi menyambut Cempaka dengan satu tawaran layanan bagi tante-tante. (RH)


__ADS_2