
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Ses ses ses …!
Bzoss!
Ki Kumis Elang melesatkan sinar-sinar hijau tipis dari kibasan-kibasan kedua tangannya. Sinar-sinar itu berlesatan menyerbu sosok Baling Sosor yang melesat maju di udara dengan kedua kaki lurus ke depan. Kedua ujung kaki itu memunculkan api besar yang berbentuk payung raksasa.
Serangan sinar hijau tipis-tipis Ki Kumis Elang mengenai payung api yang padat berlapis-lapis. Meski jelas itu api, tapi payung api itu seolah keras karena sinar-sinar tipis seperti menghantam dinding keras.
Justru, Ki Kumis Elang yang yakin terhadap serangannya, tidak bisa menghindari ketika tendangan payung api itu begitu cepat menghantam dadanya.
Brusk!
“Akkk …!” jerit panjang Ki Kumis Elang dengan tubuh terpental balik setelah dihantam runcingan payung api dari ilmu Tombak Payung Neraka.
Bdukk!
“Akkrr!”
Tubuh Ki Kumis Elang jatuh dalam kondisi terbakar hebat seluruh tubuh. Karena tubuh dalamnya juga terluka, Ki Kumis Elang hanya bisa berguling-gulingan dalam kondisi semua apa yang ada di tubuh terbakar. Kain, kumis, rambut, kulit hingga daging, semua terbakar.
Baling Sosor sudah melompat di udara.
Wusss! Jbuur!
Satu angin pukulan Baling Sosor lepaskan kepada Ki Kumis Elang, membuat tubuhnya yang masih berselimut api terlempar lepas landas dari dermaga lalu jatuh ke air laut.
Api memang langsung padam, tapi tidak lama kemudian, muncul ke permukaan tubuh hitam hangus yang sudah mati.
Bukan hanya Ki Kumis Elang yang menghadapi kehebatan ilmu Tombak Payung Neraka. Satria Lahap juga harus kewalahan menghadapi tendangan api yang seperti lemparan tombak. Namun, Satria Lahap tidak mau bernasib sama seperti rekannya. Ia sempat melihat nasib buruk Ki Kumis Elang.
Satria Lahap menghadapi lesatan payung api Kuyang Wangi dengan ilmu Tampar Badai. Orang gendut itu mengibaskan kedua tangannya dari sisi kanan ke kiri.
Wuss!
Satu angin dahsyat tercipta yang menghantam lesatan payung api raksasa. Angin keras itu membuat api berbentuk payung tertiup ke samping dan berhasil menggeser laju tubuh Kuyang Wangi sehingga tidak mengenai sasaran.
__ADS_1
Api besar dan tubuh Kuyang Wangi lewat satu tombak dari tubuh Satria Lahap.
Namun, ketika Kuyang Wangi mendarat, kaki kanannya langsung melakukan tendangan setengah putaran.
Sess! Bset!
Selengkungan garis api melesat dari tendangan itu menyerang Satria Lahap. Pendekar gendut itu hanya bisa menangkis dengan kedua tangan di tekuk ke atas di depan dada dan wajah. Dua tangan itu bersinar kuning menahan keganasan serangan ilmu Tombak Payung Neraka.
Satria Lahap harus mengerenyit seraya memejamkan mata ketika lidah api yang menghantam menyengat kulit wajahnya.
“Hahaha …!” Tiba-tiba khalayak ramai tertawa melihat hasil pertarungan itu.
Satria Lahap memang tidak terdorong, tetapi wajahnya seketika bersih dari rambut. Kepalanya gundul, alisnya tandus hingga bulu matanya habis terbakar. Baju bagian atas pun hangus terbakar, menyisakan bagian bawah saja.
Menyadari kondisinya tidak baik-baik saja, Satria Lahap tidak mau menjadi bulan-bulanan jika hanya mengandalkan kesaktian tingkat rendahnya.
Pak!
Tanpa pikir lagi, Satria Lahap menepak bawah keranjangnya, membuat seluruh makanannya yang ada di dalam keranjang terloncat mengudara dalam kondisi yang sudah bersinar merah. Ada ubi rebus bersinar merah, ada jagung bakar bersinar merah, ada paha ayam goreng bersinar merah, ada biji durian rebus, timun, terong, sampai kue kukus yang bersinar merah. Yang pastinya di antara makanan itu tidak ada wafer cokelat atau permen lolipop.
Set set set …!
Setelah itu, Satria Lahap menggerakkan kedua tangannya bergantian seolah memberi kendali kepada makanan-makanan yang sedang melambung di udara. Sebelum Kuyang Wangi datang menyerang lagi, Satria Lahap lebih dulu melesatkan bekalnya satu demi satu.
Sambil melompat menghindari serangan berhawa panas itu, kedua kaki Kuyang Wangi yang bersinar ungu bergerak begitu lincah seperti baling-baling menangkis beberapa serangan makanan yang lain.
Dadak dadak!
Setelah menendang balik beberapa biji durian, Kuyang Wangi terus menghindari sejumlah makanan yang melesat menyusul.
Mendapat serangan balik oleh senjata makanannya sendiri, Satria Lahap menggerakkan kedua tangannya sedemikian rupa sehingga bisa mengambil kendali biji-biji durian tersebut. Setelah berhasil mengambil alih kendali, biji-biji durian itu kembali dibelokkan dan dilesatkan kembali menyerang Kuyang Wangi.
Pada akhirnya, Kuyang Wangi menyongsong serangan terakhir dengan ilmu Tombak Payung Neraka.
Ternyata, para biji-bijian itu tidak berguna ketika bertemu dengan payung api pada ujung kedua kaki Kuyang Wangi.
Wuss!
Lagi-lagi Satria Lahap mengulang cara yang sama, yaitu mengerahkan ilmu Tampar Badai.
__ADS_1
Angin dahsyat muncul dari kibasan kedua tangan Satria Lahap menghempas payung api dan tubuh Kuyang Wangi. Lagi-lagi lesatan tubuh Kuyang Wangi tergeser dari trek.
Namun, Kuyang Wangi sudah menduga bahwa lawannya akan mengulang kondisi yang sama.
Maka, ketika arah lesatan tubuhnya bergeser, dia langsung memainkan kedua kakinya sedemikian rupa, sehingga tercipta satu gerakan kaki mengibas ketika ia lewat sejajar dengan posisi Satria Lahap.
Dari kibasan kaki itu, melesat selengkungan api yang sangat panas.
West!
“Aaak!” Akhirnya Satria Lahap menjerit saat sabetan api mengenai tubuhnya.
Tidak hanya langsung membakar tubuh Satria Lahap, tapi juga menciptakan sayatan yang mengiris kulit dan daging.
Jburr!
Dengan tubuh yang dibakar api, Satria Lahap cepat berkelebat lepas landas dan terjung ke laut. Api langsung padam di tubuh Satria Lahap.
Tidak berapa lama, Satria Lahap timbul ke permukaan dalam kondisi luka bakar terendam air asin.
“Aakrr!” jerit Satria Lahap meronta-ronta di air laut karena menahan berbagai rasa pada luka parahnya.
“Tombaaak!” teriak seorang nelayan penombak ikan kepada rekan-rekannya. Ia kesal kepada anggota gerombolan yang membunuh dua rekan mereka sebelumnya.
Sejumlah nelayan penombak ikan segera berlarian ke pinggiran dermaga dengan membawa tombak ikan masing-masing.
Set set set!
Crub! Crub! Tsuk! Tsuk!
“Aaak! Akk!”
Sejumlah tombak ikan dilemparkan ke air, sengaja menargetkan Satria Lahap. Beberapa tombak tidak mengenai sasaran, sehingga terus menyelam menuju dasar. Namun, ada dua tombak yang mengenai tubuh Satria Lahap, membuatnya menjerit dua kali.
Saat itu, Satria Lahap sudah tidak berdaya tanpa mampu menghindar atau melakukan sesuatu. Luka bakarnya yang parah membuat Satria Lahap hanya bisa menerima nasib.
Darah seketika memerahi air laut dalam skala kecil setelah dua tombak ikan memangsa Satria Lahap. Setelah itu dia tidak bertahan lama. Dengan sangat terpaksa, Satria Lahap menyusul Ki Kumis Elang. Entah kemudian, apakah ia bisa mengejar Ki Kumis Elang atau ia salah memilih jalan.
Dengan tidak begitu sulitnya dua anggota keamanan Penendang Delapan membunuh dua pembunuh bayaran berkesaktian tinggi, menunjukkan bahwa kekuatan keamanan Kota Bandakawen itu tergolong tinggi.
__ADS_1
Tinggal satu pertarungan yang tersisa di ujung dermaga pelelangan ikan, yakni antara Pendekar Bola Cinta melawan Pendekar Sekilatan.
Sementara itu, Permaisuri Dewi Ara sudah tidak ada di area itu. Sosoknya sudah tidak terlihat melayang di atas laut dekat tanggul. (RH)