Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 4: Duet Anak Cantik dan Tampan


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Laksamana Muda Gulolo Bio kini berposisi di udara tinggi. Sementara Eyang Hagara yang berdiri di atas air laut yang berbentuk kubangan, mendongak siap menghadapi serangan.


Surss!


Gulolo Bio menghentakkan kedua tangannya ke arah bawah, tepatnya ke posisi Eyang Hagara. Dua slot sinar putih keperakan melesat memanjang kepada Eyang Hagara.


Sass! Kretek!


Eyang Hagara menghentakkan lengan kirinya yang langsung mengeluarkan kembangan sinar biru besar, menahan kedua ujung sinar putih.


Namun, bukan ledakan adu tenaga sakti yang terjadi, tetapi sinar putih seketika membekukan energi biru Eyang Hagara menjadi kristal es yang besar. Bahkan kristal es dengan sangat cepat menyelimuti tubuh si kakek.


Breet! Bakr!


Begitu cepat bentrokan itu berlangsung. Kejap berikutnya Gulolo Bio telah melakukan gerakan tangan kanan membelah bongkahan besar kristal es yang di baliknya ada sosok Eyang Hagara.


Namun, pembekuan itu ternyata tidak membuat Eyang Hagara mati gaya atau mati kutu. Meski tubuhnya diselimuti lapisan es tebal, tetapi tenaga saktinya bisa memecahkan lapisan es dan ia mendorong tongkatnya ikut menghancurkan lapisan es, sekaligus melawan tenaga belahan tangan Gulolo Bio.


Satu peraduan dua tenaga sakti tingkat tinggi terjadi. Jika Gulolo Bio terlempar balik mengudara lalu jatuh ke air yang lebih dulu membeku selebar satu petak kandang ayam, maka Eyang Hagara terdorong langsung masuk ke dalam air laut.


Laksamana Muda segera memasang kuda-kuda di atas bidang es yang mengapung.


Bruss!


Tiba-tiba dari dalam air ada putaran air yang naik mengudara seperti monster air laut berwujud ular raksasa. Putaran air itu keluar naik mengudara lalu menukik kepalanya hendak mencaplok tubuh Gulolo Bio.


Laksamana Muda cepat melompat naik mengudara, membiarkan bidang es yang dia pijak hancur.


Cuuur! Seeet!


Namun, bersamaan dengan naiknya Gulolo Bio ke udara, dari dalam air mencelat keluar pula sosok Eyang Hagara ke udara tinggi, berseberangan posisi dengan Laksamana Muda. Dengan tubuh yang kuyup, Eyang Hagara mengangkat tangan kirinya mengarah Gulolo Bio.


Tiba-tiba muncul satu kekuatan penyedot yang menarik kencang tubuh Gulolo Bio kepada Eyang Hagara.


Set! Duks!


“Aaak!” jerit kencang Gulolo Bio saat lesatan tubuhnya yang tertarik kepada Eyang Hagara disambut lemparan tongkat kayu pada tangan kanan.


Gulolo Bio tidak kuasa menolak dan mencegah kepala tongkat menghantam dada kekarnya. Selain kejadiannya berlangsung begitu cepat, Gulolo Bio juga tidak siap menangkal serangan hebat tersebut.


Jbur! Seet! Bruaks!


Ketika tubuh Laksamana Muda masuk ke dalam air laut, di belakangnya ternyata ada bola sinar ungu yang langsung menyusul masuk ke dalam air, tepat di koordinat jatuhnya tubuh Gulolo Bio.


Masuknya bola sinar ungu ke dalam air dan kemudian meledak dahsyat di dalamnya, membuat air laut bergolak keras dan menciptakan gelombang besar ke segala arah.


Eyang Hagara yang masih berada di udara, melesatkan tongkatnya ke bawah dengan ujung lancipnya lebih dulu.

__ADS_1


Sleb! Tsuk!


Seperti pemburu yang sedang menombak ikan di air bening, itulah perumpamaan yang terjadi. Tongkat Eyang Hagara menusuk masuk ke dalam air seperti tombak dan menusuk tepat tubuh Gulolo Bio yang berada di kedalaman air.


Tongkat Eyang Hagara menusuk tembus dada Gulolo Bio, membuat cairan merah dengan cepat larut ke permukaan air.


Setinggi-tingginya kesaktian Laksamana Muda, dia masih belum bisa mengalahkan kesaktian Eyang Hagara yang lebih matang puluhan tahun lamanya.


Broaks! Broaks! Broaks …!


Sementara itu, Arda Handara kembali melakukan bombardir dari udara terhadap dua kapal perang. Dia telah banyak menggunakan ulat bulunya sebagai peluru.


Adapun Mimi Mama, dia naik ke Kapal Taring Udang dan menari di sana.


Laksana seorang pesulap, tiba-tiba saja ia memiliki banyak kuntum bunga mawar berwarna merah. Padahal, dalam perjalanannya sehari-hari dia tidak membawa-bawa bunga mawar, meski sekuntum saja.


Set set set …!


Namun faktanya, kini Mimi Mama sedang melesatkan puluhan lembar kelopak bunga mawar yang melesat seperti benda padat yang keras lagi tajam.


“Akk! Akh! Akk …!” Para prajurit marinir berseragam biru terang di Kapal Taring Udang berjeritan, ketika helai-helai kelopak bunga mawar itu membeset dan menusuk tembus leher-leher mereka.


Dalam waktu singkat, lantai kapal banjir air merah.


Dak! Wuss!


Sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai geladak, membuat papan yang dipijaknya berpatahan seperti kerupuk udang, Mimi Mama mengibaskan kedua tangan lentik mungilnya ketika sejumlah prajurit melemparkan tombak-tombak.


“Panah!” perintah Kapten Jangga Boe.


Set set set …!


Sejumlah prajurit panah melepaskan panahnya kepada Mimi Mama. Namun, gadis kecil cantik berdarah dingin itu dengan gesit menghindar sambil melesatkan dua sinar merah berbentuk piringan.


Dua sinar itu melesat menebas tubuh-tubuh prajurit yang ditemuinya. Para prajurit yang menjadi korban harus tewas dengan tubuh tersayat dalam dengan kondisi luka yang hangus berasap.


Tidak tahan melihat pasukannya mati dengan cepat dan banyak, Kapten Jangga Boe segera turun tangan.


Kapten Jangga Boe cepat pasang panah bersinar biru di busurnya.


Broaks!


Namun, belum lagi sang kapten melepas anak panahnya, tiba-tiba sebola api dari langit jatuh meledak di dekat kakinya.


“Ak!” pekik tertahan Kapten Jangga Boe yang terpental menabrak tiang kapal.


Namun, Jangga Boe cepat bangkit berdiri.


“Kepala ular harus dipenggal lebih dulu!” teriak Mimi Mama sambil berkelebat menerjang Jangga Boe.


Sang kapten bisa mengelak lalu balas menyerang balik Mimi Mama dengan pedang pendek berselimut listrik merah.

__ADS_1


Mimi Mama bergerak lincah menghindar sambil ia mengeluarkan piringan sinar merah lagi di kedua telapak tangannya.


Ses! Ses! Ses …!


Berulang kali pedang berlistrik Kapten Jangga Boe beradu dengan piringan sinar merah di kedua tangan Mimi Mama.


Crass!


“Aaak …!” pekik Kapten Jangga Boe panjang melengking dengan kedua kaki tidak bisa melangkah lagi.


Semua isi perutnya tumpah seperti air terjun setelah tubuh bawahnya dirobek oleh piringan sinar merah Mimi Mama.


Pada satu ketika, gadis kecil itu bergerak sangat cepat menyusup dan melintas di kolong kaki Jangga Boe, sambil menyayatkan piringan sinarnya yang berdiameter dua jengkal jarinya. Tubuh bawah yang robek lebar langsung mengucurkan darah dan menumpahkan isi perut.


Kapten Jangga Boe pun mencetak rekor, yakni kapten pertama yang mati di tangan seorang gadis kecil.


“Waaah! Kau kejam sekali, Anak Cantik!” teriak Arda Handara yang melintas di atas Mimi Mama saat melihat cara mati sang kapten yang mengerikan.


“Apa bedanya dengan dirimu? Kita sama-sama membunuh orang!” teriak Mimi Mama.


“Aku pulang! Uyut-uyutku habis!” teriak Arda Handara lagi sambil berbalik melintas lagi.


“Aku ikut!”


Tidak berapa lama, Arda Handara berbalik dan terbang merendah sambil merunduk mengulurkan tangannya. Mimi Mama cepat menyambar tangan sang pangeran. Tubuh kecilnya pun tertarik ikut terbang, meninggalkan kapal yang telah terbakar dengan pasukan yang kebingungan.


Bedanya kali ini, terbang Arda Handara tidak terganggu oleh beban berat tubuh Mimi Mama.


“Kenapa kau jadi enteng, Anak Cantik?” tanya Arda Handara.


“Begitulah jika aku usai banyak membunuh orang, dosa-dosaku jadi berkurang, Anak Tampan!” sahut Mimi Mama.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara.


“Hihihi …!” tawa Mimi Mama pula.


“Kau mulai berani melamarku!” kata Arda Handara.


“Aku tidak melamarmu. Dasar Ulat Bulu!” bantah Mimi Mama kesal.


Gadis kecil itu lalu menaikkan satu tangannya dan menarik celana Arda Handara.


“Eh eh eh! Jangan tarik celanaku!” teriak Arda Handara saat terbangnya berubah oleng.


“Aku mau naik!” kilah Mimi Mama.


Bruss!


Sementara itu, dua gunungan ombak ciptaan Eyang Hagara menghempas dua kapal perang yang terbakar. Nasib kedua kapal itupun harus mengikuti kapal yang sudah ditenggelamkan lebih dulu.


Arda Handara dan Mimi Mama akhirnya melakukan pendaratan darurat di pasir pantai.

__ADS_1


Curangnya Mimi Mama, sebelum mereka benar-benar menabrak pasir, dia lebih dulu melompat dan mendarat dengan baik di pasir. Berbeda dengan Arda Handara yang harus tersungkur keras di pasir pantai. Untung pasirnya berjenis halus, sehingga tidak begitu menyakiti Arda Handara. (RH)


__ADS_2