
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Letus Mimpi buru-buru berjalan terpincang menjauh dari titik pertarungan, ketika Denting Kematian mengeluarkan ilmu Lonceng Kematian.
Ilmu Lonceng Kematian yang merupakan salah satu ilmu andalan Denting Kematian, berwujud puluhan lonceng sinar hijau yang terlihat menyeramkan, tapi terkesan indah juga. Entah yang benar yang mana? Seram atau indah?
Puluhan sinar hijau sebesar jambu air itu melayang di udara mengepung area tubuh atas Dewi Ara.
Klining klining neng! Klining klining neng!
Kira-kira seperti itulah bunyinya ketika lonceng-lonceng sinar itu sudah diaktifkan oleh Denting Kematian. Namun, bunyi itu dalam jumlah puluhan gelombang suara yang berbunyi dalam satu waktu. Demi, sulit digambarkan dengan tulisan.
Suara puluhan lonceng itu terdengar sangat berisik, seolah-olah memenuhi ruang udara di kota tersebut. Dan, kepala Dewi Ara berada di tengah-tengah sumber suara yang tercipta dari tenaga sakti Denting Kematian. Namun ternyata, serangan suara itu hanya berlaku kepada Dewi Ara sebagai orang yang ditarget oleh kesaktian itu.
Letus Mimpi yang ada di sana tidak mendengar suara lonceng sedikit pun. Dia hanya melihat visual, seperti menonton film bioskop tanpa speaker.
Perlu diketahui. Ketika denting pertama berbunyi, wajah Dewi Ara tersentak samar. Ternyata, gelombang suara dentingan itu mempengaruhi isi kepala sang permaisuri. Jadi, gelombang suara lonceng itu jelas-jelas bisa menyerang isi kepala Dewi Ara.
Jika dentingan pertama saja sudah memberi efek, apalagi ketika semua lonceng itu menyerangkan gelombang suaranya terhadap pendengaran Dewi Ara.
“Hahaha! Rasakan! Itu karena kau terus memaksa!” maki Denting Kematian yang didahului dengan tawa mengejeknya, ketika ia melihat wajah jelita Dewi Ara mengerenyit, menunjukkan bahwa lawannya menderita kesakitan oleh suara lonceng yang begitu pengang.
Laksana seorang operator sound system, Denting Kematian lalu mengangkat kedua tangannya dengan gerakan yang berat, seolah sedang mengangkat seorang gadis gemuk.
Klining klining neng! Klining klining neng!
Seiring naiknya tangan Denting Kematian, volume lonceng ternyata ikut meninggi dan memberi serangan yang lebih masif pada pendengaran, syaraf-syaraf di kepala dan otak Dewi Ara.
Dewi Ara pun mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan serangan gelombang suara, yang menurut rumus fisika sangat bisa memecahkan gendang telinga, syaraf dan otak. Namun ini bukan pertarungan akademisi, tapi pertarungan orang sakti. Dewi Ara punya cara untuk menahan efek maut dari suara bising itu dan membentengi indera pendengarannya. Namun, itu hanya bisa mengurangi, tidak bisa menolak secara total.
Terlihat, sambil mengerenyit, Dewi Ara menatap tajam kepada Denting Kematian yang tertawa seolah ia di ambang kemenengan. Rasa sakit itu membuat amarah Dewi Ara tersulut.
Blass! Syaaaf!
__ADS_1
Maka, untuk mengatasi serangan yang tidak biasa itu, Dewi Ara memilih ilmu Pecah Nyawa. Ketika ilmu itu dikerahkan, muncul ledakan sinar biru menyilaukan mata dari dalam tubuh indah Dewi Ara.
Hasilnya, semua sinar hijau berwujud lonceng-lonceng ambyar dan sirna setelah terkena gelombang ledakan sinar biru.
“Appa?!” pekik terkejut Denting Kematian, saat melihat semua loncengnya raib dan orkestra ciptaannya berakhir.
Wuut! Clap!
Setelah terkejut seperti itu, Denting Kematian tiba-tiba menghilang. Itu dia lakukan karena ada satu kekuatan besar tanpa wujud dilepaskan oleh Dewi Ara menyerangnya.
Sets! Pes! Brusr!
Namun, ketika melepaskan serangan Tatapan Ratu Tabir, Dewi Ara menyusulkan lemparan tombak sinar biru ke arah lain. Ternyata tombak sinar itu menyerang keberadaan Denting Kematian. Sebab, pada satu titik di udara yang agak jauh, ujung tombak sinar biru menghantam sinar merah yang muncul tiba-tiba berwujud bola.
Pertemuan dua sinar tenaga sakti itu ternyata menelan habis tombak sinar biru dan juga menghancurkan sinar merah. Namun, di kordinat udara yang lain, tahu-tahu muncul lesatan mundur tubuh Denting Kematian lalu jatuh bergulingan di jalan berlapis batu.
Denting Kematian bisa buru-buru bangkit berdiri.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Denting Kematian yang melahirkan gumpalan darah.
“Kesempatan terakhir aku berikan kepadamu, Denting. Pulanglah ke rumahmu dan menikahlah dengan wanita yang kau cintai di desamu. Lalu punyalah anak secepatnya,” kata Dewi Ara datar dan tenang, meski secara diam-diam dia menahan rasa berdenyut pada kedua gendang telinganya. Cukup dia yang tahu, Denting Kematian tidak perlu tahu.
“Tidak semudah itu aku menyerah. Aku adalah pendekar sejati. Aku adalah pembunuh bayaran sejati. Ayo kita terus bertarung. Aku masih punya kesaktian hebat!” seru Denting Kematian.
“Apa boleh buat. Ilmu Lonceng Kematianmu sulit dicari tandingannya. Namun sayang, ilmu hebat itu harus hilang bersama nyawamu yang melayang.”
“Bersiaplah!” teriak Denting Kematian, lalu ….
Plak!
Denting Kematian bertepuk tangan sekali. Lalu muncullah sebuah kurungan sinar kuning berwujud tabung yang mengurung tubuh lelaki bertelanjang dada itu.
Bang!
Terdengar satu suara hantaman pada dinding sinar itu. Sepertinya Dewi Ara telah mengirimkan serangan tenaga saktinya, tetapi tertolak oleh kuatnya benteng dari ilmu pamungkas Denting Kematian.
__ADS_1
Sementara di dalam kurungan setinggi dua tombak itu, Denting Kematian melakukan gerakan tangan yang cepat, sebagai proses menuju puncak dari pengerahan ilmunya.
Zurss!
Saat berikutnya, Dewi Ara bisa melihat, di balik dinding sinar kuning itu, tubuh Denting Kematian telah diselimuti kobaran sinar ungu seperti api yang sedang disemprotkan ke atas.
Wess!
Karena serangan Tatapan Ratu Tabir-nya gagal terhadap kesaktian lawan, Dewi Ara lalu melanjutkan dengan melempar seberkas sinar hijau.
Sinar yang dilempar dengan santai itu melambung seiring wujudnya yang melebar di udara, lalu jatuh mengurung kurungan sinar kuning dan Denting Kematian yang mulai mencapai puncak keperkasaannya. Sinar hijau itu menjadi kamar bagi Denting Kematian.
Meski demikian, Denting Kematian tetap melakukan gerakan yang membuat sinar ungunya kian membesar.
“Hiaaat!” teriak Denting Kematian dengan keras sambil menghentakkan kedua lengannya lurus ke depan.
Zurss!
Dua gelombang sinar ungu menyilaukan mata melesat dari kedua tangan Denting Kematian.
Sebelum dua gelombang sinar ungu melesat, kurungan sinar kuning lenyap dengan sendirinya. Kedua sinar ungu melesat menghantam dinding sinar hijau.
“Appa?!” pekik terkejut Denting Kematian begitu syok, saat menyaksikan bahwa ilmu tertingginya yang berkekuatan tidak main-main, tidak mampu menembus ataupun merusak dinding sinar hijau.
Akhirnya sinar ungu yang menyelimuti tubuh Denting Kematian lenyap dengan sendirinya. Sinar hijau yang mengurung posisinya secara total terlihat pekat, sehingga ia tidak bisa melihat objek apa pun di luar kurungan sinar hijau pekat itu.
“Aku tidak boleh menyerah,” ucap Denting Kematian lirih, memberi sugesti kepada dirinya sendiri.
Pembunuh Ketiga lalu mencoba kembali mengaktifkan ilmu pamungkasnya yang barusan padam. Setelah melalui proses dan pada puncaknya sinar ungu menyelimuti tubuhnya, dia kembali menghentakkan kedua tangannya.
Zurss!
Kembali, dua gelombang sinar ungu menyilaukan mata melesat menghantam dinding sinar hijau.
Namun sayang, hasilnya tetap sama. Gatot. Gagal total.
__ADS_1
Gagal dengan ilmu tertingginya, Denting Kematian tidak menyerah. Dia mencoba dengan ilmu lainnya yang bersifat penghancur. (RH)