
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Para pemimpin Perguruan Cambuk Neraka dan murid-muridnya dibuat terkejut bergelombang.
Setelah dikejutkan oleh perkara saling tuduh-menuduh siapa menjadi pemimpin pengkhianat, kemudian pengakuan Tulang Karang yang menyebut nama Adipati Kuritan sebagai pemimpin dari pengkhianat perguruan, mereka kembali dikejutkan berita yang dibawa oleh Lunar Maya, istri Ketua Dua.
Tamu yang diabaikan oleh Ketua Dua selaku pemimpin di perguruan pusat itu, ternyata adalah seorang permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil. Karena Kerajaan Baturaharja adalah kerajaan binaan dari Kerajaan Sanggana Kecil, maka kedudukan seorang permaisuri Sanggana Kecil bisa lebih tinggi dari Raja Kerajaan Baturaharja. Lalu apalah artinya kedudukan seorang adipati yang saat itu dinilai sebagai orang berpangkat tertinggi yang hadir?
Ternyata keterkejutan semakin menjadi ketika si adipati mesum dilempar ke luar lewat atap bangunan dalam kondisi buto, tanpa sehelai benang atau segaris tato pun.
Tidak berhenti sampai di situ. Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil yang dimaksud oleh Lunar Maya akhirnya muncul dalam kondisi sedang pamer kesaktian. Dia muncul dengan sangat memukau. Dia terbang melayang seperti dewi-dewi yang turun dari kahyangan berniat mandi di irigasi sawah.
Tidak hanya itu, Adipati Kuritan yang buto, Permaisuri kurung dengan lesatan belasan batang bambu yang memutari posisi sang adipati tanpa henti, sehingga sang adipati tidak bisa ke mana-mana dan orang lain pun tidak bisa mendekat.
Orang yang paling sedih dan cemas melihat kondisi Adipati Kuritan yang ditertawakan orang banyak, adalah Ketua Tiga Citari Lenting sebagai ibunya dan Curiasa sebagai istrinya.
Permaisuri Dewi Ara berhenti melayang di udara agar posisinya lebih mudah untuk dilihat oleh semua orang dan lebih gampang melihat semua orang.
Karena orang-orang perguruan sudah tahu jati diri Dewi Ara yang sebenarnya, maka Garda Tadapan cepat turun berlutut dan menghormat dalam lebih dulu.
“Sembah hormatku, Gusti Permaisuri!” serunya.
“Sembah hormatku, Gusti Permaisuri!” Guna Wetong dan Bong Bong Dut yang juga sudah tahu siapa Dewi Ara adanya, segera ikut berlutut menghormat.
“Sembah hormatku, Gusti Permaisuri!” Akhirnya, semua orang turun berlutut menghormat, termasuk para ketua.
Demikian pula Pendekar Angin Barat. Ia juga turun menjura hormat mengikuti majikannya. Sejak melihat sosok Permaisuri Dewi Ara muncul begitu anggun memesona di udara, bahkan kini melayang tanpa pijakan, dia begitu takjub. Saat itu juga referensinya tentang wanita tercantik di dunia beralih dari sosok Anik Remas kepada Dewi Ara. Ketinggian ilmu kesaktian Dewi Ara jelas membuatnya tidak berani berpikir aneka ragam.
Sementara itu, keterkejutan baru menghinggapi diri Adipati Kuritan. Ia syok berat saat baru tahu bahwa wanita cantik yang seenaknya mau dia bajak adalah seorang permaisuri, terlebih kesaktiannya tidak tanggung-tanggung. Saat itu juga dia menyimpulkan sendiri nasibnya ke depan.
“Apakah kalian semua sudah mengetahui siapa aku?” tanya Dewi Ara datar kepada khalayak, tapi terkesan menusuk ke dalam jantung, membuat semua orang berdebar-debar.
“Ka-ka-kami tahu, Gusti Permaisuri!” jawab Tolak Berang lantang tapi tergagap. Sebagai ketua tertinggi di Perguruan Cambuk Neraka itu, ia yang harus menjawab pertanyaan Dewi Ara.
“Ya sudah jika demikian, bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.
Maka bangkit berdirilah ratusan orang yang berlutut menghormat itu.
Dari sisi lain, muncul berjalan Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol, tanpa ada Bewe Sereng dan Arda Handara. Mereka berhenti pada satu titik untuk memerhatikan apa yang terjadi di tempat itu.
__ADS_1
“Ampuni hamba, Gusti Permaisuri! Hamba mengaku sangat bersalah karena telah lancang kepada Gusti!” teriak meratap Adipati Kuritan tiba-tiba sambil turun bersujud.
“Lihat pantatnya! Hahaha!” celetuk seorang murid wanita separuh baya yang merasa diberi bokong oleh Adipati Kuritan. Memang, jika ditarik garis lurus, bokong sang adipati menghadap ke wajah wanita yang merupakan bagian divisi dapur umum.
“Hahaha …!” tawa murid-murid perguruan.
Sedangkan para pemimpin perguruan tidak ada yang berani tertawa dalam situasi seperti itu, apalagi yang mereka tertawakan adalah seorang adipati yang kejam. Jikapun ada yang terlalu lucu, mereka harus tahan tertawanya.
“Siapa lelaki tidak punya malu ini?” tanya Dewi Ara, meskipun dia sudah tahu siapa adanya Adipati Kuritan.
“Dia adalah … dia adalah Adipati Kuritan, Adipati Kadipaten Bojongkolot, Gusti,” jawab Tolak Berang.
“Apa kesalahannya?” tanya Dewi Ara lagi.
“Dia … dia telah menjadi pemimpin pengkhianat dan bersekutu dengan musuh!” teriak Tolak Berang emosional dengan sedikit ragu.
“Itu artinya, orang-orang yang bersamanya juga tahu tentang pengkhianatan itu. Tangkap semua orang yang bersamanya!” perintah Dewi Ara.
Terkejutlah Ketua Dua dan para petinggi mendengar perintah itu, terutama Ketua Tiga Citari Lenting dan para anggota rombongan Adipati Kuritan.
“Tangkap Ketua Dua! Tangkap istri Adipati dan orang-orangnya!” teriak Ketua Latih Perguruan Cambuk Neraka, Jenang Kolo.
Maka seluruh murid Perguruan Cambuk Neraka bergerak sambil meloloskan cambuk-cambuknya. Mereka mengepung posisi Ketua Tiga Citari Lenting dan pengawalnya, Curiasa dan para prajuritnya, serta Suragawa dan Deming Joyo.
“Kelancangan kalian tidak akan aku biarkan!” teriak Citari Lenting murka sambil meloloskan pula cemeti warna merahnya.
Ctas ctas ctas …!
“Aak! Ak! Akk …!”
Citari Lenting menjadi Ketua Tiga bukan sekedar karena dulu dia adalah istri Ketua Satu, tetapi karena memang dia termasuk berkesaktian tinggi.
Terbukti, baru saja murid-murid Perguruan Cambuk Neraka mengepung Citari Lenting, murid-murid itu sudah langsung terkena lecutan berapi dari cambuk merah.
Murid-murid itu berjeritan saat mendapat luka yang merobek baju dan membakar kulit hingga menusuk ke daging.
Berbeda dengan Curiasa dan para prajurit kadipaten. Curiasa bukanlah pendekar cambuk. Cambuk biru yang dimiliki oleh Curiasa tidak lebih dari sekedar hiasan penampilan belaka. Istilah kasarnya adalah “buat gaya-gayaan” saja. Curiasa aslinya adalah putri dari seorang pengusaha di kadipaten tetangga. Meskipun ia tahu ilmu kanuragan, itu hanya sebatas tingkat dasar atau lebih tinggi sedikit karena dia rajin minum susu tajin.
Maka, untuk meringkus Curiasa dan para prajuritnya, murid-murid Perguruan Cambuk Neraka tidak begitu kesulitan. Curiasa dan para prajuritnya memilih menyerah daripada badan dan wajah mereka rusak oleh cambukan.
__ADS_1
Sementara untuk meringkus Suragawa dan Deming Joyo, yang bergerak adalah para murid senior yang dipimpin oleh Tampar Bayu, mantan sahabat Adipati Kuritan juga. Namun, dia tidak senasib dengan Tulang Karang yang dipiara sebagai pengkhianat oleh Adipati Kuritan.
Untuk menebus kesalahannya tadi gegara atraksi tipu-tipu, meski sedang menderita cambukan dari Ketua Dua, Tampar Bayu memilih turun jasa untuk meringkus dua mantan sahabatnya itu. Bersama murid-murid tingkat atas, dia mengeroyok Suragawa dan Deming Joyo.
“Apa yang kau lakukan, Tampar Bayu? Kau mau mencelakakan sahabat sendiri?” hardik Deming Joyo kepada Tampar Bayu.
“Inilah keberuntunganku karena kalian melupakanku!” seru Tampar Bayu sambil menghindari cambukan balasan Suragawa.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Tampar Bayu. Sejak dulu kau kalah dari kami!” teriak Deming Joyo.
“Kita buktikan. Sejak kalian ikut Gusti Adipati, kalian jarang berlatih!” balas Tampar Bayu.
Dewi Ara hanya diam melayang di atas sana menyaksikan pertarungan antarsaudara seperguruan itu.
Tiba-tiba Bagang Kala melompat dan mendarat di tanah lapang. Ia tidak menyerang atau melawan siapa-siapa.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” seru Bagang Kala setelah turun berlutut dan menghormat, menirukan cara hormat orang-orang tadi. Maklum dia buta tentang adab kepada pembesar kerajaan.
“Siapa kau?” tanya Dewi Ara dengan tatapan ke depan bawah, terpusat kepada Bagang Kala.
“Hamba bernama Bagang Kala berjuluk Pendekar Angin Barat,” jawab si pemuda.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Dewi Ara.
“Lima belas tahun yang lalu, Adipati Kuritan dan kelima temannya telah membunuh kedua orangtuaku dan kakak perempuanku. Mereka juga memperkosa kakakku. Bahkan Adipati memperkosa mayat kakakku,” ujar Bagang Kala dengan nada sedih penuh kepedihan.
Alangkah terkejutnya Adipati Kuritan mendengar kisah pemuda asing itu. Hal yang sama terjadi pada Suragawa dan Deming Joyo. Mereka juga mendengar pengakuan Bagang Kala kepada sang permaisuri.
Keterkejutan Suragawa dan Deming Joyo membuat mereka sedikit lengah, sehingga beberapa cambukan berbahaya langsung masuk mendera tubuh mereka secara serentak.
Ketika Ketua Dua dan Ketua Empat terkejut mendengar penjabaran Bagang Kala, Dewi Ara menunjukkan wajah yang tetap dingin. Mungkin semua hal gila di dunia ini pernah Dewi Ara saksikan atau mungkin dia lakukan. Jadi ia tidak terkejut lagi mendengar hal-hal gila dari cerita seseorang.
“Hamba minta izin untuk membunuh Adipati Kuritan sebagai keadilan bagi mendiang orangtuaku dan kakak perempuanku, Gusti,” tambah Bagang Kala.
“Baik, asalkan kau bisa melakukannya, kau aku beri kebebasan untuk membunuh adipati mesum itu dan teman-temannya yang telah menghancurkan keluargamu. Kekejaman buah kelamin adipati mesum itu harus diakhiri. Hanya kematian yang memalukan yang pantas untuknya,” kata Dewi Ara memutuskan.
“Terima kasih, Gusti Permaisuri. Hamba tidak akan mengecewakan Gusti Permaisuri!” ucap Bagang Kala girang, tetap tidak berani mendongak menatap langsung wajah bidadari di atas.
Bagang Kala lalu bangkit berdiri dan menghadap ke arah Adipati Kuritan yang kondisinya masih sama, buto.
__ADS_1
“Adipati Biadab!” seru Bagang Kala memanggil Adipati Kuritan. (RH)