
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Sudah dua hari lamanya Kapal Bintang Hitam berlayar meninggalkan Pulau Gunung Dua. Pelayaran Permaisuri Dewi Ara dan para pengikutnya berlangsung aman tanpa gangguan. Laut pun bersahabat tanpa ada badai. Jika hanya sekedar angin kencang, sudah biasa.
Selama dua hari itu, pelayaran lebih cenderung seperti liburan kapal pesiar. Ada acara makan-makan. Meski anak buah Nahkoda Dayung Karat kaum batangan semua, tetapi mereka paham betul tentang lada, merica dan jahe. Jika urusan asin, mereka sudah pakar dalam memberi takaran.
Waktu luang pun mereka isi dengan berbagai kegiatan, dari berbagi cinta, berbagi belaian, balapan uyut-uyut, sampai memancing sambil ngabuburit.
Sesekali suasana kapal dihiasi pertengkaran rival baru dunia persilatan, yaitu Arda Handara dengan Mimi Mama. Tidak jarang tiba-tiba Arda Handara terbang dengan Tongkat Kerbau Merah demi lolos dari kejaran Mimi Mama.
Namun, mereka berdua tetaplah anak-anak. Meski mereka memiliki pemikiran dewasa sebelum waktunya, tetapi karakter anak-anak mereka tetap mendominasi. Usai bertengkar, tidak lama kemudian mereka terlihat kembali akur dan tertawa bersama. Pada masa-masa itu, Arda Handara dan Mimi Mama bersama kedua anak Komandan Bengisan menjadi sahabat sepermainan.
Seringkali Bayu Kikuk dan Cicirini bertanya kepada Arda Handara dan Mimi Mama tentang tips-tips menjadi pendekar sakti di usia anak-anak.
“Kalian harus mengorbankan waktu bermain kalian. Aku baru diizinkan bermain setelah aku menguasai banyak kesaktian,” itu jawaban Mimi Mama.
“Ah tidak juga,” bantah Arda Handara mendengar jawaban Mimi Mama. “Aku tetap banyak bermain. Modal utamanya adalah kecerdasan. Karena Anak Cantik adalah anak yang otaknya sebanyak lemak kepiting, jadi dia harus mengorbankan masa bermainnya. Sangat tidak asik.”
“Apa kau bilang. Aku anak tolol?” sergah Mimi Mama dengan mata mendelik kepada Arda Handara.
“Eh, aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya mengatakan otak sebanyak lemak kepiting,” tangkis Arda Handara yang saat itu sedang menggendong bajing bernama Brojol.
“Iya, kau bilang seperti itu, tetapi itu maknanya sama!” bentak Mimi Mama.
“Hahaha!” tawa Arda Handara akhirnya. Lalu katanya kepada Bayu Kikuk dan Cicirini, “Ingat, syarat utama adalah cerdas dan lucu seperti aku, jangan suka marah-marah seperti Anak Cantik.”
“Aku marah-marah hanya kepadamu, Ulat Bulu!” bentak Mimi Mama lagi, tapi kali ini kakinya sengaja menginjak kaki kiri Arda Handara.
“Bebek lele!” pekik Arda Handara kesakitan sambil angkat kaki kirinya dan memeganginya, membuat Brojol terlepas dan segera berlari.
Arda Handara terkejut.
“Cepat kejar dan tangkap Brojol!” teriak Arda Handara panik. “Nanti dia bunuh diri lompat ke laut!”
Seketika pertengkaran terlupakan. Mereka pun bersatu dalam mengejar Brojol. Orang-orang dewasa memilih membiarkan keempat anak itu riuh berteriak-teriak.
“Cegat dari kiri, jangan sampai lolos!”
“Brojol naik ke anjungan!”
“Yah, lolos!”
“Dia masuk ke kabin!”
“Tangkap pakai selimut!”
“Aku dapat ini!”
“Itu cawat Kakang Gejrot sedang dijemur!”
“Iya, kalau diberi ini, Brojol pasti pingsan!”
Itulah teriakan-teriakan di antara mereka berempat yang berisik, tidak peduli bahwa Bong Bong Dut sedang pedekate dengan Tabib Zoang.
Sementara itu, Nahkoda Dayung Karat datang menghadap kepada Dewi Ara.
“Gusti, kita baru saja melewati Pulau Binal, sebentar lagi kita akan melihat Pulau Geleng dan Pulau Galang,” lapor Dayung Karat.
“Berarti kita akan tiba di selat sebelum malam dan kapal kita akan terlihat,” kata Dewi Ara menyimpulkan.
“Benar, Gusti,” kata Dayung Karat.
__ADS_1
“Turunkan jangkar, kita berhenti untuk menunggu gelap!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti,” ucap Dayung Karat patuh.
Dayung Karat lalu pergi untuk memberi perintah kepada anak buahnya. Dua jangkar pun diturunkan ke air dalam dan semua layar digulung. Maka kapal pun berhenti pada titik tersebut.
Di sisi lain, Brojol yang terposisi seperti buronan anak manusia sedang berhenti. Dia dikepung oleh Arda Handara dan Mimi Mama. Ia terpojok di pojokan kabin.
“Tiga!” hitung Arda Handara. “Enam!”
“Hei, itu hitungan macam apa?” hardik Mimi Mama sambil menengok kepada Arda Handara yang bersiap di sisinya.
“Ini hitungan di Negeri Orang Separa,” jawab Arda Handara.
“Tapi kenapa kau pakai di sini?” debat Mimi Mama.
Melihat kedua anak manusia yang ingin menangkapnya itu sedang berdebat tentang hitung-menghitung, Brojol pun tersenyum setan. Dia langsung berlari tiba-tiba menerobos keempat kaki di depannya.
“Tangkap!” teriak Arda Handara terkejut.
Bdak!
Kedua anak itu sama-sama membungkuk hendak menangkap tubuh mungil Brojol yang lewat di kolong kaki mereka. Namun, mereka manangkap angin dan kepala mereka saling beradu.
“Ah, ini gara-gara kau banyak protes!” tukas Arda Handara.
“Kau yang berlaku tidak jelas, tapi kau menyalahkanku. Untung bukan wajahku yang dicium,” gerutu Mimi Mama pula.
“Eh, bibirku terlalu mahal mau mencium Anak Cantik sepertimu!” kata Arda Handara sambil pergi berlari mengejar ke arah Brojol kabur.
“Bukannya bibirmu seperti paruh bebek yang menyosor apa saja di lumpur?” ejek Mimi Mama.
“Sembarangan! Aku cium kau nanti, agar wajahmu bengkak semua!” ancam Arda Handara.
“Hihihi! Memangnya kau berani? Biasanya kau yang lari terbirit-birit aku kejar!” balas Mimi Mama yang didahului tawa mengejek.
Mimi Mama terkejut, dia lalu buru-buru lari menjauhi Arda Handara.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara melihat Mimi Mama melarikan diri. Lalu kembali memonyongkan bibirnya dengan senang hati.
“Bibi Permaisuri! Bibi Permaisuri!” teriak Mimi Mama yang lari mendatangi Dewi Ara. “Ulat Bulu itu mau memperkosaku!”
Dia segera berlindung di belakang punggung Dewi Ara sambil menunjuk Arda Handara yang datang dengan mulut monyong.
“Apa yang kau lakukan, Arda?” tanya Dewi Ara datar.
“Mau menciumnya agar wajahnya bengkak-bengkak. Hahaha!” jawab Arda Handara jujur lalu tertawa. Dia berhenti di depan ibundanya.
“Jangan lakukan!” larang Dewi Ara dengan nada agak membentak.
“Iya, Ibunda,” ucap Arda Handara patuh, jadi berhenti tertawa.
“Jangan pernah mencium wanita yang bukan istrimu,” kata Dewi Ara lagi, kali ini lebih lembut.
“Iya, Ibunda,” ucap Arda Handara lagi.
“Tapi jika sebaliknya, kau yang dicium wanita, tidak apa-apa. Agar bibirmu tidak dibilang paruh bebek,” kata Dewi Ara lagi.
“Hihihi!” tawa Mimi Mama di belakang sang permaisuri.
“Cepat tangkap Brojol, jangan sampai lompat ke laut tanpa diketahui!” perintah Dewi Ara lagi.
“Iya, Ibunda,” ucap Arda Handara lagi. Lalu katanya kepada Mimi Mama, “Ayo, kita tangkap Brojol!”
__ADS_1
“Tapi jangan mengancam ingin menciumku lagi!” syarat Mimi Mama.
“Hehehe! Iya,” jawab Arda Handara.
Kedua anak itu kembali bersama pergi untuk mencari Brojol.
“Setya Gogol, coba kau pelajari cara kerja alat itu!” perintah Dewi Ara kepada pemomong putranya. Alat yang dimaksud Dewi Ara adalah alat pelontar Kapak Penghancur.
Di kapal itu masih ada dua bilah kapak raksasa.
“Baik, Gusti,” ucap Setya Gogol yang sudah kembali menyebut Dewi Ara “gusti”.
Singkat waktu.
Akhirnya malam pun menjelang, gelap pun menyelimuti alam.
“Lanjutkan pelayaran!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti,” ucap Nahkoda Dayung Karat.
Sauh kembali ditarik naik dan layar pun kembali dikembangkan. Namun, kapal dibuat sengaja tanpa pelita. Dalam kegelapan itu, para penumpang lebih banyak diam.
Arda Handara sudah merapat ke dalam pelukan ibunya, sedangkan Mimi Mama juga memilih dekat kepada Dewi Ara, seolah-olah menjadi anak tiri. Bayu Kikuk dan Cicirini sudah berkumpul bersama ayah ibunya.
Sementara itu, Bong Bong Dut sedang bergerilya. Awalnya, dia duduk di pinggir haluan. Sekitar tiga tombak di sisi kanannya, Tabib Zoang sedang duduk mengulek-ulek beras pilihan. Wanita cantik itu memilih bekerja di luar agar mendapat sedikit cahaya dari bintang-bintang.
Setelah malam benar-benar gelap, Bong Bong Dut menggeser duduknya sedikit demi sedikit ke kanan dan sebisa mungkin tanpa suara. Ia bermaksud pergi ke dekat Tabib Zoang.
Akhirnya perjuangan Bong Bong Dut berhasil, sisi kanan tubuhnya akhirnya menabrak pelan tubuh seseorang. Ada aroma herbal yang harum tercium oleh hidungnya. Aroma harum khas tubuh Tabib Zoang.
“Tabib Zoang!” bisik Bong Bong Dut sambil meraba mencari tangan Tabib Zoang yang terdengar sedang mengulek di cobekan.
Tangan Bong Bong Dut yang meraba di dalam gelap gulita akhirnya mendapatkan tangan lembut seorang wanita.
“Akk! Siapa kau?!” jerit kaget wanita yang dipegang tangannya oleh Bong Bong Dut.
Alangkah terkejutnya Bong Bong Dut mendengar jeritan si wanita yang dari jenis suaranya itu bukanlah suara Tabib Zoang, tetapi suara Tabib Loang, sang kakak.
Dak dak dak …!
Terdengar suara lari yang kencang di atas geladak, dari sisi Tabib Loang menjauh ke arah ujung haluan. Di dalam gelap itu, pucat pasi wajah Bong Bong Dut dan banjir keringat.
“Kenapa bisa ganti orang?” tanya Bong Bong Dut kepada dirinya sendiri.
“Ada apa, Kak?” tanya satu suara perempuan lagi yang adalah suara Tabib Zoang.
“Hahaha!” Terdengar pula suara tawa para lelaki di sisi lain. Mereka tahu apa yang terjadi dan siapa pelakunya.
Benar kata Nahkoda Dayung Karat, tidak lama setelah mereka berlayar lagi di dalam kegelapan, mereka bisa melihat beberapa titik cahaya api di kejauhan.
Jauh di depan tapi cenderung ke arah kiri, ada sekumpulan titik cahaya api. Demikian pula jauh di depan tapi cenderung ke arah kanan, ada sekumpulan titik api.
“Cahaya api di ujung kanan adalah pelabuhan Kerajaan Walet Biru, Gusti. Adapun yang di ujung kiri adalah pantai pulau Kerajaan Burugur. Daerah gelap di antara keduanya ada Pulau Geleng dan Pulau Galang yang dipisahkan oleh Selat Gurita. Kita sedang menuju ke sana,” kata Dayung Karat.
“Tidak ada cahaya di Selat Gurita,” kata Dewi Ara.
“Itu karena Pulau Galang dan Pulau Geleng tidak boleh dihuni oleh orang,” jelas Dayung Karat.
“Pangeran!” sebut Dewi Ara.
“Hamba, Gusti,” sahut Bewe Sereng.
“Kirim panah lebahmu untuk melihat apakah di Selat Gurita ada kapal yang bersembunyi!” perintah Dewi Ara.
__ADS_1
“Baik, Gusti,” ucap Bewe Sereng patuh.
Di dalam kegelapan itu, Bewe Sereng lalu melakukan satu gerakan. Yang lainnya tahu-tahu melihat satu garis sinar hijau pendek telah melesat dari tangan Bewe Sereng, terbang menuju lurus ke arah depan. Bewe Sereng telah melepas ilmu Panah Lebah Pembaca. (RH)