
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Tepat ketika sisi bawah sang surya menyentuh permukaan laut.
Permaisuri Turi Kumala bergegas menyongsong kedatangan putra sulungnya yang pulang dengan berkuda. Pangeran Rebak Semilon hanya didampingi oleh Komandan Kucup Pucuk.
Dua ratus pasukannya dia tinggalkan di pelabuhan dengan pertimbangan “kasihan”. Jika diperintahkan ikut hanya untuk bolak-balik, dikhawatirkan para prajurit itu menderita loyrah syndrome, yaitu penyakit loyo sebelum bergairah, yang bisa mengancam pertumbuhan generasi masa depan.
“Kenapa kalian hanya kembali berdua, putraku? Mana pasukanmu?” tanya Permaisuri Turi Kumala dengan perasaan yang tak kunjung lepas dari kecemasan sejak mendengar kabar bahwa Pangeran Bangir Kukuh terjebak.
Pangeran Rebak Semilon turun dari kudanya yang segera dipegangi talinya oleh seorang prajurit. Komandan Kucup Pucuk juga ikut turun.
Raja Bandelikan segera merapat ke dinding bola sinar abu-abu dengan langkah terpincang. Panglima Kumbiang dan Lembing Girang juga mendekat ke dinding, seolah-olah sudah tidak sabar ingin mendengar kabar dari Pangeran Rebak Semilon.
“Permaisuri itu terlalu sakti, Ibunda,” kata Pangeran Rebak Semilon dengan ekspresi susah hati.
“Lalu bagaimana untuk mengeluarkan ayah dan adikmu? Jika yang terkurung hanya panglima kambing itu, Ibunda tidak mungkin secemas ini,” kata Permaisuri Turi Kumala.
Panglima Kumbiang hanya bisa mengelus punggung mendengar perkataan sang permaisuri yang merendahkan dirinya.
“Bagaimana Ayahanda Raja bisa ikut masuk ke dalam?” tanya Pangeran Rebak Semilon terkejut sambil buru-buru mendatangi ayahnya.
“Tidak usah kau tanyakan itu. Kenapa kau kembali hanya berdua, Rebak?” kata Raja Bandelikan yang tidak mau malu karena keteledorannya.
“Permaisuri itu akan melenyapkan kesaktiannya ini, tapi dengan syarat, Ayahanda,” ujar Pangeran Rebak Semilon.
“Apa syaratnya?” tanya Raja Bandelikan cepat.
“Harus Ayahanda yang datang kepada permaisuri itu dan memohon untuk melenyapkan penjara ini,” jawab Pangeran Rebak Semilon.
“Apa?!” pekik Raja Bandelikan terkejut dan langsung tersinggung. “Permaisuri kurang ajar. Aku adalah raja di sini. Dia menyuruhku menjadi pengemis di depannya. Tidak akan aku lakukan!”
“Jika Kanda Raja tidak melakukannya, kalian akan selamanya terkurung di penjara aneh ini,” kata Permaisuri Turi Kumala menentang sikap suaminya.
“Lagi pula aku juga terjebak di penjara ini. Mana mungkin aku datang kepada wanita asing itu!” kata Raja Bandelikan bernada marah.
“Jika begitu, biar aku yang datang kepada permaisuri itu untuk meminta penjara ini dilenyapkan,” kata Permaisuri Turi Kumala.
“Jangan!” bentak Raja Bandelikan cepat. “Aku teringat dengan Tadayu yang memadamkan kebakaran di Istana. Dia pasti bisa berbuat sesuatu terhadap penjara ini.”
“Kanda Raja yakin? Hari sudah mau malam. Pemuda itu belum jelas apakah dia bisa melenyapkan penjara ini. Aku khawatir akan seperti Panglima Kumbiang yang tidak bisa diandalkan. Jika kita memohon kepada permaisuri itu, hasilnya sudah jelas dan kita bisa menjalin persahabatan antara dua kerajaan,” kata Permaisuri Turi Kumala.
__ADS_1
“Tidak! Tetap tidak bisa!” tegas Raja Bandelikan. “Jika bukan karena dia, kita semua tidak akan mempermalukan diri di tengah-tengah rakyat seperti ini!”
“Jadi bagaimana, Ayahanda?” tanya Pangeran Rebak Semilon.
“Komandan Kucup, cepat pergi ke rumah Nahkoda Dayung Karat di Desa Konengan, untuk meminta bantuan pemuda yang bernama Tadayu!” perintah Raja Bandelikan.
“Baik, Gusti Raja!” sahut Komandan Kucup Pucuk.
Dia segera kembali naik ke kudanya, tanpa mengajak seseorang pun sebagai teman karena dia sudah besar. Sang komandan segera menggebah kencang kudanya untuk pergi ke Desa Konengan.
“Hea hea hea!” gebah Komandan Kucup Pucuk.
Barikade prajurit segera membuka memberi sang komandan jalan.
Akhirnya, Raja Bandelikan dan keluarganya harus melalui kesuntukan dalam menunggu.
Sementara itu, seorang pemuda pemilik kumis sedang berkelebat cepat mendatangi Istana Puncak. Kelihaian si pemuda yang bernama Gandang Duko itu membuat dirinya tidak terdeteksi oleh indera penjaga para prajurit.
“Em e mem!” pekik tertahan seorang prajurit saat tiba-tiba mulutnya dibekap oleh satu tangan kasar dan lehernya juga dicekik dari belakang. Ia ditarik merapat ke balik dinding papan tebal agar tidak terlihat oleh prajurit lainnya.
“Di mana Putri Uding Kemala berada?” tanya berbisik orang yang mencekik.
“Di-di-di rumah biru!” jawab prajurit itu saat bekapan di mulutnya di pelonggar, sementara tangannya menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu bercat warna biru mayoritas.
Lelaki pencekik yang adalah Gandang Duko itu justru mematahkan leher prajurit tersebut hingga tewas. Pemuda berkumis itu lalu meletakkan tubuh si prajurit di tanah, lalu dia dorong ke kolong bangunan.
Clap!
Tiba-tiba Gandang Duko menghilang, kemudian tahu-tahu muncul di samping bangunan kayu warna biru terang. Beberapa prajurit yang berjaga di area depan tidak menyadari bahwa ada penyusup tidak jauh dari posisi mereka.
Gandang Duko lalu menempelkan telinganya di dinding papan. Dari pengupingan itu, dia bisa mendengar sura aktivitas di dalam bangunan kayu tersebut.
Setelah menentukan koordinat sumber aktivitas di dalam rumah, Gandang Duko lalu mencelat naik ke atap dan mendarat tanpa suara sedikit pun. Maklum orang sakti. Ketika berjalan di atas atap pun tanpa suara.
Sementara di dalam rumah.
Seperti cerita-cerita penculikan terhadap wanita cantik, penculik selalu datang ketika calon korbannya sedang mandi. Namun kali ini, Putri Uding Kemala si calon korban tidak sedang mandi, tetapi baru saja selesai mandi. Rupanya budaya mandi sore sudah berlaku bagi kelurga Istana Puncak.
Saat itu, sang putri sedang menggaruk bokognya yang hanya berbalut kain sedada atas sebawah paha warna putih. Rambutnya terurai lembab. Ia berdiri di depan cermin yang kusam, maklum zaman dahulu.
Melihat kondisi Putri Uding Kemala, berseleralah Gandang Duko yang mengintip. Ia bahkan membasahi bibirnya dengan sapuan lidah yang lebay. Lalu tersenyum karena di dalam kepalanya sudah tergambar situasi seru bagi seorang lelaki.
__ADS_1
Brak!
“Aak!” jerit kencang Putri Uding Kemala saat dari atas tiba-tiba ada tikus besar yang terjatuh.
Itu bukan tikus, Tuan Putri, tapi itu seorang penculik berkumis.
Gandang Duko yang tidak sabar lagi, langsung menghancurkan atap untuk turun tepat di sisi Putri Uding Kemala.
Tuk tuk!
“Siapa kau?!” tanya Putri Uding Kemala berteriak, saat totokan mendarat melumpuhkan tubuhnya, tapi tidak dengan suaranya.
“Aku adalah penculik dan pemerkosamu,” jawab Gandang Duko dengan tatapan bernafsu dan senyum menyeringai.
“Nyam nyam nyam.” Gandang Duko tiba-tiba mengecupi area leher Putri Uding Kemala yang harum sambil bersuara seperti sedang menyantap makanan lezat.
“Aaaa! Tolooong!” jerit kencang Putri Uding Kemala ketakutan.
Sejumlah prajurit yang sudah berlarian masuk sejak suara ribut pertama, muncul mendobrak pintu kamar sang putri.
Wuss! Beludak beludak!
Dengan entengnya Gandang Duko mengibaskan tangan kanannya. Serangkum angin pukulan menderu dan menghempas berantakan empat prajurit pertama yang muncul. Mereka kira akan mendapat doorprize jika datang pertama, tetapi justru mendapat angin yang tidak berteman.
Keempat prajurit itu bergelimpangan keluar dan menghantam dinding kayu yang keras.
Soss! Blarr!
Gandang Duko melesatkan sebola sinar hijau ke dinding samping, menciptakan kehancuran. Lubang besar tercipta pada dinding samping rumah.
Gandang Duka lalu memanggul tubuh Putri Uding Kemala dengan posisi wajahnya di belakang bokong dan rambut menjuntai ke bawah. Sementara tangan kanan Gandang Duko memeluk dua paha yang terbuka.
“Lepaskan aku, Bajingan! Lepaskan!” teriak Putri Uding Kemala melengking-lengking tanpa bisa bergerak meronta.
“Hahaha!” Gandang Duko hanya tertawa sambil menepak bokong sang putri di dekat wajahnya.
Gandang Duko lalu berkelebat melewati lubang besar pada dinding, yang ternyata muat dilalui satu tubuh.
Jleg!
Drap drap drap!
__ADS_1
Ketika Gandang Duko mendarat di tanah, belasan prajurit telah datang berlari cepat mengepung posisi Gandang Duko.
Pemuda itu hanya tersenyum melihat dirinya di kepung belasan prajurit bertombak. Puluhan prajurit lainnya posisinya masih dalam perjalanan ke lokasi. (RH)