
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Ketika tahu bahwa Desa Bulukempis diamiri oleh pendekar tua Domba Hidung Merah, Dewi Ara cukup mengutus Tikam Ginting untuk menemui kakek kekar itu secara khusus. Domba Hidung Merah cukup diberi tahu tanpa perlu dipanggil.
Dewi Ara hanya minta jangan diusik dan jangan dimuliakan oleh pihak penguasa desa. Cukup diabaikan seolah orang biasa.
Namun, untuk menghindari terjadi kesalahpahaman yang bisa dilakukan oleh para centengnya, Domba Hidung Merah tetap memberitahukan kepada Kepala Centeng bahwa wanita yang cantiknya keterlaluan itu adalah anggota keluarga istana, tanpa memberi tahu nama dan dari istana mana.
Jadi, ketika Dewi Ara memerintah kepada Kepala Centeng Sangar Weteng, lelaki kekar berperut gendut itu patuh dan menghormat takzim.
Bong Bong Dut digotong beramai-ramai naik ke rumah makan yang tinggi lantainya hanya setinggi lutut kambing.
Gadis cantik jelita yang terkesan jauh dari pekerjaan bersawah atau mencuci baju itu, diarahkan untuk naik ke rumah makan. Meski rumah makan itu tanpa dinding, tetapi si gadis tetap diarahkan lewat tangga yang pendek.
Setelah melaksanakan permintaan Dewi Ara, Sangar Weteng lalu pamit bersama belasan anak buahnya yang sudah menyarungkan goloknya masing-masing.
Gadis berpakaian hijau muda berjalan perlahan di lantai papan mendekat ke depan Dewi Ara. Namun, pandangannya tajam menatap Dewi Ara dengan kening berkerut.
“Eh eh eh! Hihihi …!” ucap gadis itu dengan suara khasnya yang lebih muda dari usianya, lalu tertawa cekikikan dan berani menunjuk-nunjuk kepada Dewi Ara.
Mendengar suara tawa gadis itu, terkesiap Arda Handara, Anik Remas, Bagang Kala, Lentera Pyar dan Setya Gogol. Bong Bong Dut yang sedang terduduk lemas, jadi kerjap-kerjapkan mata. Dewi Ara sendiri dan Tikam Ginting tidak terkejut lagi, karena sebelumnya mereka berdua sudah pernah bertemu dan berinteraksi dengan gadis itu.
Suara tawa si gadis yang melengking seperti tawa kuntilanak itu juga mengejutkan para pengunjung lain di rumah makan tersebut. Sontak mereka menengok ke arah si gadis sambil mengerenyitkan wajahnya, sebab suara tawa itu membuat rambut-rambut yang tersembunyi jadi merinding.
“Duduklah, Wilasin!” perintah Dewi Ara sebelum gadis itu menyebut status dan namanya dengan kencang sekencang tawanya.
“Hihihi …!” Gadis yang memang adalah Ratu Wilasin adanya itu, kian tertawa senang sambil segera duduk berseberang meja dengan Dewi Ara.
“Minum dulu, kau pasti haus setelah dikejar-kejar,” kata Dewi Ara datar sambil menyodorkan gelas bambu kepada Ratu Wilasin.
“Iya, terima kasih, Gusti,” ucap Ratu Wilasin seraya tersenyum lebar.
Sementara itu, Arda Handara berdiri di sisi kanan Ratu Wilasin. Ia sedikit merasa penasaran dengan keunikan wanita yang tidak dikenalnya itu.
“Kakak, Kakak!” panggil Arda Handara sambil menepuk-nepuk bahu kanan Ratu Siluman.
“Hmm!” gumam Ratu Wilasin sambil menengok kepada Arda Handara.
“Kenapa suara tawa Kakak terdengar menyeramkan?” tanya Arda Handara apa adanya.
“Hah? Hihihi! Tawaku adalah yang paling merdu di dunia. Sebab, kau tidak akan menemukan lagi tawa yang semerdu tawaku,” jawab Ratu Wilasin yang sudah hilang perasaan takutnya, karena sudah merasa aman, apalagi jika bersama dengan Permaisuri Dewi Ara.
__ADS_1
“Oooh. Hahaha!” tawa Arda Handara mendengar jawaban wanita yang tidak seperti ratu itu.
“Eeeh! Ada bajing,” ucap Ratu Wilasin seraya tersenyum saat melihat ada binatang di dalam sangkar, seolah kenal dengan Brojol.
“Namanya Brojol, Kakak,” kata Arda Handara memperkenalkan binatang tawanannya.
“Oh, namanya Brojol. Tapi Brojol bisa melompat berputar?” tanya Ratu Wilasin serius.
“Jangankan melompat berputar, Kakak, pura-pura mati Brojol juga bisa,” jawab Arda Handara, juga antusias.
“Hahaha!”
“Hihihi!”
Mereka semua tertawa mendengar jawaban Arda Handara, kecuali Dewi Ara. Tawa cekikikan Ratu Wilasin yang mendominasi, karena memiliki warna yang sangat unik.
“Wilasin, kenapa kau ada di sini?” tanya Dewi Ara.
“Aku mau dibunuh, Gusti Permaisuri,” jawab Ratu Wilasin berbisik, sambil serius memajukan wajahnya lebih dekat kepada wajah Dewi Ara. Setelah itu dia menengok ke kanan dan ke kiri, seolah takut ada yang mendengar.
“Jika ada yang mau membunuhmu, bukankah kau punya prajurit, punya pasukan, dan punya kakek?” tanya Dewi Ara.
“Orang yang mau membunuhku adalah pengawalku sendiri dan pengawal kakekku,” bisik Ratu Wilasin dengan kerut wajah yang serius. “Karena itu aku mau pergi sejauh-jauhnya.”
“Lautan seperti Telaga Fatara?” tanya Ratu Wilasin antusias seraya tersenyum lebar. Kali ini dia tidak berbisik lagi.
“Lebih luas lagi,” jawab Dewi Ara.
“Aku mau, aku mau. Aku mau ikut, Gusti. Hihihi!” ucap Ratu Wilasin bersemangat, lalu tertawa cekikikan lagi, membuat Arda Handara mengerenyit, seolah ada yang ngilu di pendengarannya. Ia lalu berkata kepada bocah itu, “Nanti si Brojol bisa kita ajarkan menyelam.”
“Apakah bisa?” tanya Arda Handara serius.
“Ikan saja bisa belajar menyelam, bajing pun pasti bisa,” kata Ratu Wilasin serius.
“Hihihi …!” tawa Anik Remas kencang sendirian, sementara yang lain hanya tersenyum lebar. Ia bingung, sebenarnya siapa yang waras. Apakah iya, sekelas seorang ratu memiliki daya pikir selugu itu, jika tidak mau disebut “serendah itu”?
“Apakah kau bisa sebutkan satu nama dari orang yang ingin membunuhmu itu?” tanya Dewi Ara, kembali menarik Ratu Wilasin ke topik utama.
“Komandan Kumbang Draga dan Komandan Bengal Banok. Mereka orang sakti, Gusti,” jawab Ratu Wilasin.
“Jika mereka orang sakti, lalu bagaimana kau bisa meloloskan diri?” tanya Dewi Ara lagi.
“Hihihi! Aku tahu jalan rahasia di Istana yang tidak diketahui oleh semua pengawalku,” jawab Ratu Wilasin seraya tertawa-tawa kecil.
__ADS_1
“Kau ikut aku jalan-jalan. Nanti ketika kau pulang ke Istana, semua tikus-tikus jahat itu sudah tidak ada yang tersisa di Istana,” tandas Dewi Ara.
“Iya iya iya, aku suka cara seperti itu,” sepakat Ratu Wilasin senang.
“Sekarang makan dan minumlah. Kau aman bersama kami. Pendekar yang bersamamu adalah orang-orang sakti, termasuk pemuda gendut yang membelamu tadi,” kata Dewi Ara. Lalu perintahnya kepada Tikam Ginting, “Perkenalkan diri kalian kepada Gusti Ratu!”
“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.
Tikam Ginting lalu memperkenalkan dirinya kepada Ratu Wilasin yang selalu tersenyum.
“Gusti Ratu, perkenalkan namaku Tikam Ginting, julukanku Pendekar Bola Cinta. Aku seorang Pengawal Bunga. Di sebelah kananku Lentera Pyar dan di sebelah kiriku Setya Gogol,” kata Tikam Ginting seperti juru bicara regu kuis Cerdas Cermat.
Mereka yang disebut namanya menghaturkan hormat secukupnya kepada Ratu Wilasin.
“Hihihi!” Ratu Wilasin hanya tertawa terus mendengar perkenalan itu, tapi tidak sampai melengking.
“Wanita yang cantik itu adalah Anik Remas, mantan Ketua Empat Perguruan Cambuk Neraka. Sedangkan yang tampan itu bernama Bagang Kala, berjuluk Pendekar Angin Barat dan calon suami Anik Remas. Yang kecil ini ….”
“Aku Arda Handara. Pangeran Kerajaan Sanggana Kecil yang paling tampan, yang bercita-cita 15 tahun lagi akan membuat anak,” kata Arda Handara yang mengambil alih kata-kata Tikam Ginting.
“Hihihi …!” tawa mereka berjemaah mendengar kalimat akhir Arda Handara.
“Aku bernama …,” ucap Bong Bong Dut lemah, tapi kemudian kata-katanya dipotong oleh Arda Handara.
“Namanya Gejrot!” kata Arda Handara.
“Hihihi!” tawa Anik Remas seorang diri, karena baru kali ini dia mendengar nama lain dari Bong Bong Dut.
“Gejrot, sepertinya kau mengejar kami?” tanya Dewi Ara kepada pemuda gemuk yang baru kembali pulih sukmanya, setelah menderita sengatan rantai Gulalu Ireng, pendekar yang ingin menangkap Ratu Wilasin.
“Aku … aku ingin ikut Gusti Permaisuri yang cantik,” jawab Bong Bong Dut sambil nyengir karena takut membuat Dewi Ara marah.
“Ingat, suamiku seorang raja. Jika kau sampai jatuh hati kepadaku, kau pasti akan dibunuh oleh satu pasukan kerajaan,” kata Dewi Ara.
“Ampuni hamba, Gusti. Hamba tidak berani tertarik kepada Gusti!” ucap Bong Bong Dut setelah buru-buru bersujud di lantai.
“Kau boleh ikut,” ucap Dewi Ara yang tidak bisa diterka apakah dia marah kepada Bong Bong Dut atau sekedar menggodanya.
“Terima kasih, terima kasih, Gusti Permaisuri,” ucap Bong Bong Dut gembira.
“Tikam Ginting, panggilkan Domba Hidung Merah!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting Patuh. (RH)
__ADS_1