
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Tang tang tang …!
Pedang biru dan tongkat hitam beradu berulang-ulang, yang pastinya juga dua tenaga sakti dari senjata Adipati Siluman Merah dan Kenyot Gaib beradu berulang-ulang.
Namun, bukan kedua petarung tua yang berdebar-debar, tetapi justru orang-orang yang menonton yang menderita rasa debar-debar setiap mendengar dentuman peraduan itu.
Dari peraduan dua senjata berulang-ulang itu, sebenarnya secara garis besar keduanya sudah sama-sama tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah, kecuali salah satu di antara mereka memendam satu kesaktian tersembunyi yang lebih kuat.
Dalam hal ini, Adipati Siluman Merah merasa bahwa dia akan kalah melawan Kenyot Gaib yang memiliki tenaga sakti lebih tinggi tingkatannya. Namun, jika dia mundur demi selamat, maka dia tidak akan memiliki harga diri di depan keluarga besar yang memuja dan memujinya.
“Lebih baik menanggung risiko daripada malu di depan kerabat,” pikir Adipati Siluman Merah.
Pedang pusaka birunya sudah ia tebaskan dari segala arah semata-mata untuk melukai nenek ompong itu. Namun, benteng tongkatnya sangat kuat, tidak pernah meleng saat pedang besar biru gelap itu datang.
“Hihihik! Apakah hanya ini, Adipati?” tanya Kenyot Gaib menertawakan lawannya.
“Tidak, ini baru awal!” teriak Adipati Siluman Merah sambil terus menggencarkan agresi pedangnya.
“Jika demikian, keluarkanlah. Jika aku sudah mengenyotmu, maka kau tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk unjuk kesaktian,” kata Kenyot Gaib.
“Kita akan lihat!” teriak Adipati Siluman Merah.
Wuut! Zrass zrass!
Tiba-tiba Adipati Siluman Merah melempar lambung pedangnya yang berat ke udara tinggi. Setelah itu, kedua lengannya menghentak bersamaan ke kanan dan ke kiri, bukan langsung ke arah si nenek.
Dari kedua tangan Adipati Siluman Merah melesat sinar merah berpijar sebesar kelapa. Kedua sinar merah itu melesat melengkung yang kemudian berbelok menyerang Kenyot Gaib dari dua arah samping. Pada saat itu juga, Adipati Siluman Merah melompat naik ke udara menjemput pedang pusakanya dan langsung mengeksekusi.
Daripada menangkis yang mengandung risiko, Kenyot Gaib memilih naik ke udara menghindar. Namun, justru di udara dia disambut dengan tebasan pedang Adipati Siluman Merah yang datang dengan menderu dari sisi atas.
Bluar! Tek! Blass!
“Akhr!”
Ketika dua sinar merah bertemu tidak mengenai target dan menimbulkan ledakan tenaga di bawah posisi Kenyot Gaib, tebasan pedang datang kepada si nenek. Kembali Kenyot Gaib mengandalkan tongkat hitamnya.
Namun kali ini berbeda, ketika tongkat itu menerima tebasan dari mata pedang biru, sontak muncul ledakan sinar biru dari batang tongkat. Ledakan sinar itu menyerang Adipati Siluman Merah, membuatnya menjerit dengan tubuh terlempar ke belakang dan mulut memuncratkan beberapa gumpalan darah.
Bdukg!
__ADS_1
“Gusti Adipati!” pekik para kerabat di sekitar pintu rumah saat melihat sang adipati jatuh menghantam tanah keras halaman rumah.
“Ayaaah!” pekik Bening Mengalir pula. Hal itu membuatnya cemas pakai banget.
Adipati Siluman Merah tidak mengindahkan teriak kecemasan keluarga besarnya. Ia segera bangkit dan menyeka darah yang tercecer di bibirnya. Warna wajahnya kian memerah seperti udang rebus lantaran memendam kemarahan. Kemarahan itu harus segera dilampiaskan. Jika tidak, bahaya lainnya adalah akan muncul jerawat pasir.
Adipati Siluman Merah masih menggenggam pedangnya. Pedang itu dibuat bersinar agar terlihat lebih keren. Tangan kiri sang adipati lalu memegang pula gagang pedang, kemudian membawanya ke kiri tanpa menggeser pedang di tangan kanan.
Ternyata, tangan kiri Adipati Siluman Merah menarik sebuah pedang sinar biru dari tubuh pedang yang di tangan kanan.
Tanpa memberi penjelasan terlebih dulu kepada lawannya tentang keutamaan-keutamaan ilmu pedangnya yang bernama Pedang Kembar Biru, Adipati Siluman Merah langsung melancarkan agresi brutal kepada lawannya, tidak peduli jika lawannya adalah seorang wanita tua.
“Heaaat!” teriak sang adipati sambil menusuk dan menebaskan kedua pedangnya susul-menyusul, seolah tidak mau memberi kesempatan kepada Kenyot Gaib untuk bernapas.
Tektek! Tektek! Sing! Seeet!
Untuk memperkuat tongkat hitamnya, Kenyot Gaib memegang tongkatnya dengan dua genggaman agar lebih maksimal. Sering kali satu tongkat itu menangkis tebasan dua pedang sekaligus, sesekali si nenek harus melompat seperti sedang main lompat tali, hingga menangkis dengan gaya yang cool, membuat mata pedang menggesek batang tongkat di depan wajah si nenek yang bibir imutnya tidak berhenti bergerak seperti orang mengenyot susu.
Peningkatan serangan pedang Adipati Siluman Merah membuat ritme kenyotan bibir si nenek semakin kencang. Namun, sang adipati belum perlu khawatir karena itu kenyotan biasa, bukan kenyotan kesaktian.
Meski terlihat kerepotan dalam menghadapi dua serangan pedang, tampaknya si nenek masih belum berniat main kenyot kepada pihak lain.
“Buat repot saja!” maki Kenyot Gaib mulai kesal.
Teb! Ses! Bruss!
Ketika mendarat dari lompatan mundurnya, Kenyot Gaib langsung menancapkan tongkatnya dengan kuat di tanah. Saat itu pula, tongkat itu bersinar hijau gelap berhias kelap-kelip sinar putih berbentuk bola-bola kecil, sehingga terlihat indah, seolah mengajak untuk melamunkan keindahan masa muda bersama sang kekasih.
Setelah itu, si nenek hanya menghentakkan pelan telapak tangannya ke depan. Maka, laksana serbuan pasukan tawon, butir-butir sinar putih di sekitar tongkat melesat terbang menyerang Adipati Siluman Merah.
Adipati Siluman Merah bertindak cepat laksana master pedang. Kedua tangannya memutar-mutar kedua pedangnya sehingga terlihat seperti putaran baling-baling kipas yang menghadang serbuan sinar putih.
Ctar ctar ctar …!
Ramai ledakan sinar putih terjadi begitu rapat seperti suara ledakan merecon pengantin sunat, tetapi itu tidak berefek bagi sang adipati.
“Giliranku menyerang, Muka Rebusan!” teriak Kenyot Gaib yang sudah melambung bersama tubuhnya menuju posisi Adipati Siluman Merah. Tongkat bersinarnya sudah terangkat tinggi-tinggi siap gebuk.
Bess!
“Huakrr!” pekik Adipati Siluman Merah dengan tubuh terpental keras ke belakang, terpisah dari pedangnya, bukan dari kepalanya. Darah lebih banyak yang terlompat dari dalam tenggorokannya.
Gebukan tongkat si nenek begitu tinggi kekuatannya. Tangkisan dua pedang biru sang adipati tidak mampu membendung daya gedornya.
__ADS_1
Bdak!
Tubuh Adipati Siluman Merah jatuh keras tanpa daya di tanah becek yang tadi terbasahi oleh air gentong.
“Gusti Adipati!” pekik para kerabat di sekitar pintu rumah melihat ketumbangan sang adipati.
“Ayaaah!” pekik Bening Mengalir lagi. Ia semakin cemas.
Meski Adipati Siluman Merah segera bangkit dari ketumbangannya, tetapi gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya. Ia mengerenyit menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya, termasuk bagian dalam. Darah berlumuran di bibir dan dagunya.
Clap! Bukk!
Bugk!
“Akk!”
Tiba-tiba Kenyot Gaib melakukan gerakan seperti menghilang yang tahu-tahu sudah tiba sejangkauan di depan Adipati Siluman Merah. Si nenek langsung menusukkan dengan keras kepala tongkatnya ke perut Adipati Siluman Merah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Tubuh tinggi berperut gendut itu melesat deras ke belakang dengan punggung melengkung seperti udang, lalu menghantam batang pohon sawo. Adipati Siluman Merah mengerang keras, seolah itu adalah jeritan terakhirnya.
“Ayaaah!” jerit histeris Bening Mengalir sambil berlari menuju tubuh ayahnya. Dia tidak peduli dengan mayat-mayat prajurit yang mati dengan ekspresi totalitas. Rasa kekhawatirannya kepada sang ayah lebih tinggi.
Dengan lembutnya tubuh Kenyot Gaib terbang mendekat dan mendarat seperti burung dara tua.
“Hihihik!” tawa Kenyot Gaib tanpa menyerang. Lalu katanya kepada Adipati Siluman Merah yang sudah tidak bisa bangkit kembali, “Aku belum mengenyotmu, Adipati, tapi kau sudah tumbang. Hihihik!”
“Jangan bunuh ayahku!” pekik Bening Mengalir seraya menangis cantik.
“Hihihik! Cantik sekali kau, Bocah. Bagaimana jika kau yang aku kenyot?” kata Kenyot Gaib santai.
Seeet!
“Setan Laut!” maki si nenek tiba-tiba karena terkejut.
Tak!
Refleks ia menangkis batang tombak kayu yang terbang menyerangnya. Tangkisan itu membuat tombak kayu berbelok arah lesatan.
Tap!
“Aku lawanmu, Kenyot Gaib!” seru seorang wanita berpakaian kuning dan bercadar kuning sambil menangkap tombak kayu terbangnnya.
Siapakah wanit bercadar itu? (RH)
__ADS_1