
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Seorang penunggang kuda yang mengenakan pakaian serba kuning, muncul tiba-tiba dari balik pepohonan yang tumbuh di daerah berumput, seolah sebelumnya dia sudah menunggu di sana.
Penunggang berkuda itu berlari menerabas rerumputan yang cukup tinggi dan kemudian masuk ke jalan dengan lari melawan arah rombongan Ketua Lima.
“Berhenti!” perintah Sarang Asugara.
Kusir pun menarik tali kekang kuda agar berhenti. Para pengawal pun menghentikan kudanya dengan tanda tanya bertengger di kepala masing-masing. Sebab, orang yang menghadang sangat mereka kenal, yaitu Kepala Kebersihan Perguruan Cambuk Neraka Pusat, Suwirak.
“Apa yang kau lakukan, Paman Suwirak?” tanya Gadra yang memutuskan maju lebih dulu menemui Suwirak, sehingga mereka berhadapan kuda.
“Aku ada keperluan penting kepada Ketua Lima,” jawab Suwirak agak dikeraskan agar Sarang Asugara juga mendengar perkataannya.
“Bukankah kau bisa menunggu kami tiba di Perguruan, Paman?” tanya Dagra tidak bersahabat.
“Gadra, biarkan Suwirak menemuiku!” seru Sarang Asugara.
Dengan tatapan yang tajam, Gadra menepikan kudanya dan membiarkan Suwirak maju mendekati kereta kuda Ketua Lima.
Sementara itu, kereta kuda yang dikendarai oleh Anik Remas bergerak maju ke sisi kereta Sarang Asugara.
“Tentunya kau tidak memiliki keperluan denganku, Suwirak?” tanya Anik Remas.
“Tidak, Ketua,” jawab Suwirak sambil menjura hormat dari kudanya.
“Jika demikian, aku lebih dulu pergi, Ketua Lima,” kata Anik Remas kepada Sarang Asugara.
“Silakan,” kata Sarang Asugara.
Kereta kuda Anik Remas pun mendahului rombongan Ketua Lima.
“Aku perlu berbicara hanya berdua dengan Ketua Lima,” ujar Suwirak.
“Hanya bertiga dengan istriku,” tawar Sarang Asugara.
“Baik,” setuju Suwirak.
“Kalian semua menjauhlah sejenak!” perintah Sarang Asugara.
“Baik, Ayah,” ucap Lirih Lambai.
__ADS_1
Semua pengawal segera menjauhkan kudanya dari kereta kuda. Kusir pun segera turun dan pergi menjauh.
“Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Suwirak itu?” gerutuh Gadra kepada Lirih Lambai sambil memandangi dari jauh ketiga orang tua di sekitar kereta kuda.
“Sepertinya Kakang sedang memendam kekesalan,” kata Lirih Lambai dengan tatapan sinis.
“Aku kesal kepadamu yang tersenyum kepada pemuda jelek yang merasa ganteng itu. Apa tujuanmu tersenyum kepada seorang pemuda asing seperti itu?” kata Gadra yang justru memarahi kekasihnya.
“Kenapa kau justru marah kepadaku, Kakang? Kau memang calon suamiku, tapi ingat, kita dijodohkan untuk menjaga hubungan antara orangtuaku dan orangtuamu. Maka itu, kau tidak berhak melarangku untuk tersenyum kepada pemuda manapun, apalagi pemuda yang lebih tampan darimu,” debat Lirih Lambai tidak kalah menusuk perasaan Gadra.
“Kau jangan berbuat macam-macam, Lirih. Ingat, kita sudah punya ikatan!” tandas Gadra dengan wajah memerah.
“Selagi kita belum menikah, kau tidak berhak melarang-larangku untuk berbuat apa pun!” tandas Lirih Lambai. “Jika kau keberatan, kau tinggal bicara kepada ayahku.”
Begitu memerah sepasang telinga Gadra mendengar perkataan pedas Lirih Lambai. Apalagi itu dilontarkan kepadanya di depan murid-murid yang lain. Murid-murid yang lain hanya memandangi pertengkaran itu. Itu bukan pertengkaran pertama yang mereka saksikan antara pasangan kekasih itu, sudah sering.
“Hea hea!”
Tiba-tiba Lirih Lambai menggebah kencang kudanya meninggalkan rombongan. Dia tidak berlari ke arah kereta kuda, tetapi pergi ke arah kepergian kereta kuda milik Anik Remas.
“Lirih!” teriak Gadra memanggil. Lalu katanya kepada dirinya sendiri, “Tidak akan aku biarkan dia mengejar pemuda asing itu. Hea hea!”
Ketua Lima dan istrinya mengalihkan pandangannya sebentar kepada pergerakan putrinya yang kemudian dikejar oleh Gadra, membuat Suwirak juga mengaalihkan pandangannya kepada kedua muda mudi itu.
Mereka bertiga lalu melanjutkan perbincangan rahasia tentang adanya pengkhianat di Perguruan Cambuk Neraka. Intinya, Suwirak meminta bantuan Ketua Lima untuk membela dugaan kuat adanya pemimpin yang bekerja sama dengan musuh, yang berujung dengan dirampoknya pusaka utama perguruan.
Lari kencang kuda Lirih Lambai membuat ia dalam waktu yang sebentar sudah bisa menyusul rombongan Ketua Empat Anik Remas.
Mendengar ada suara lari kuda mendekat dari arah belakang, membuat Anik Remas dan para pengawalnya menengok ke belakang. Mereka segera mengenali siapa wanita cantik yang datang, tetapi tentunya dengan pertanyaan di benak.
“Bibi Anik!” sapa Lirih Lambai seraya tersenyum kepada Anik Remas, tentunya termasuk kepada Bagang Kala yang hanya diam bersikap dingin.
Lirih Lambai memelankan lari kudanya mengimbangi lari kereta.
“Bibi Anik, siapa pengawal hebatmu ini?” tanya Lirih Lambai sambil menatap penuh makna kepada Bagang Kala.
“Kenapa, kau tertarik kepadanya dibanding calon suamimu yang pemarah itu?” tanya balik Anik Remas yang bisa menduga maksud pertanyaan Lirih Lambai. “Tidak akan aku biarkan pengawalku ini jatuh ke dalam pelukanmu, Lirih.”
“Hihihi!” tawa Lirih Lambai bermaksud menutupi hasratnya yang sebenarnya. “Jangan katakan bahwa Bibi yang jatuh hati kepadanya.”
“Jika memang seperti itu, apakah kau akan menertawakanku?” tanya Anik Remas menantang sikap Lirih Lambai, seraya tersenyum penuh tanda tanya.
__ADS_1
Drap drap drap!
Mereka kemudian mendengar suara lari kuda lain. Mereka melemparkan pandangan ke belakang. Dilihatnya Gadra datang dengan kencang bersama kudanya.
“Lirih!” panggil Gadra dengan teriakan yang kasar.
Lirih Lambai hanya menarik sudut bibirnya sambil menghempaskan napas kekesalan.
Gadra tiba dengan cepat. Ia memepetkan kudanya kepada kuda Lirih Lambai.
“Ayo, kita harus kembali ke rombongan!” kata Gadra sambil mencekal pergelangan tangan Lirih Lambai dengan cukup kasar.
“Apa yang kau lakukan kepadaku, Kakang?!” pekik Lirih Lambai lebih marah, sambil menarik keras tangannya agar lepas dari cekalan Gadra. Namun, “Akk!”
Lirih Lambai menjerit dengan tubuh tertarik balik, membuatnya hilang keseimbangan dalam duduknya di pelana kuda, membuatnya harus jatuh dari atas kuda.
Insiden itu terjadi karena ketika Lirih Lambai menarik tangannya, Gadra justru mengerahkan tenaga besar untuk menahan tarikan gadis cantik itu. Hal itu membuat Lirih Lambai terbetot dan jatuh.
Melihat apa yang dialami oleh Lirih Lambai, terkejutlah Anik Remas dan para pengawalnya. Tanpa yang lainnya ketahui, sikap kasar Gadra yang telah membuat Bagang Kala gusar, semakin marah melihat gadis secantik Lirih Lambai diperlakukan sedemikian kasarnya.
“Lelaki biadab!” maki Bagang Kala tiba-tiba yang mengejutkan Anik Remas, Gelisa dan Kelakar.
Dak! Blugk!
Tiba-tiba tubuh Bagang Kala melenting miring ke udara dengan kedua kaki merentang lebar. Gerakan cepat Bagang Kala mengejutkan semua, yang tahu-tahu satu kakinya telah mendarat keras di dada Gadra.
Lelaki berambut keriting itu terlempar dari atas kuda lalu jatuh keras di tanah jalanan.
“Kurang ajaaar!” teriak Gadra murka. Ia tidak terima dirinya mendapat serangan seperti itu.
Ia langsung melompat bangun untuk menunjukkan bahwa tendangan itu tidak berefek baginya.
Sleet! Ctas!
Gadra menatap tajam kepada Bagang Kala yang sudah berdiri dalam kuda-kudanya. Ia meloloskan cambuknya dan memecutnya di udara sekali.
“Bagus, rupanya tidak perlu menunggu tiba di perguruan untuk membuatmu tahu diri!” desis Gadra.
“Kakang, hentikan!” teriak Lirih Lambai kepada Gadra.
“Biarkan saja, Nisanak, karena aku akan membunuhnya!” kata Bagang Kala, yang mengejutkan Anik Remas, Lirih Lambai, Gelisa dan Kelakar. (RH)
__ADS_1