Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 3: Bincang Keluarga


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Arda Handara terbang dengan gembira mengendarai Tongkat Kerbau Merah-nya. Dia terbang di antara awan-awan putih yang tidak mengandung air seperti popok bayi.


Terbang di dalam dan di atas awan adalah hal yang lebih hebat dan menakjubkan bagi Arda Handara. Itu belum pernah ia rasakan saat berada di Negeri Orang Separa.


Jleger!


Tiba-tiba, tanpa salam dan tanpa deheman, sebuah petir muncul dari sela-sela awan yang lidahnya nyaris menyentuh tubuh Arda Handara. Namun, kekuatan petir yang membuat telinga Arda Handara seketika senyap itu, juga membuat sang pangeran terpental berpisah dengan tongkat terbangnya.


“Aaak …!” jerit Arda Handara panjang. Bahkan dia tidak bisa mendengar suara jeritannya sendiri efek dari bentakan petir tersebut.


Arda Handara meluncur deras menuju ke bumi. Kejadian ini mirip dengan peristiwa yang terjadi pada Prabu Dira ketika masih bujangan tong-tong. Saat itu, Prabu Dira yang masih bernama single Joko Tenang, jatuh dari langit dan mendarat seperti meteor di kamar mandi Putri Negeri Jang, tepat ketika sang putri sedang mandi.


Namun, jika ayahnya jatuh dalam kondisi tidak sadar, maka anaknya jatuh dalam kondisi sadar.


“Pangeran suamikuuu!”


Tiba-tiba terdengar teriakan kencang suara anak perempuan memanggil dari arah lain, mengejutkan si bocah ganteng.


Arda Handara berhenti menjerit panjang dan berusaha melihat ke mana saja, mencari anak perempuan yang memanggilnya.


Dan ketika Arda Handara bisa melihat anak perempuan yang memanggilnya, ….


“Putri Babi-or!” sebut Arda Handara terkejut plus girang. Terkejut karena kok bisa Putri Babi-or nongol saat itu. Girang karena kedatangan Putri Babi-or yang adalah gadis jelita nan cebol itu pasti untuk menolongnya.


Putri Babi-or memang muncul tiba-tiba di angkasa. Dia melesat terbang dengan tongkat terbang.


Pluk!


Begitu cepat Putri Babi-or terbang dan langsung menyambar tubuh Arda Handara yang meluncur menuju daratan di bawah.


Sebelumnya telah diketahui bahwa putri berwajah mirip Ratu Tirana itu memiliki dua tangan yang pendek. Namun entah bagaimana tehniknya, sehingga satu tangan Putri Babi-or bisa menyambar tubuh Arda Handara dan merangkulnya. Sulit menjelaskannya dengan rumus apa pun.


Pada umumnya, tongkat terbang sulit mengangkut dua tubuh orang. Akibat dari sambaran itu, Putri Babi-or dan Arda Handara jadi berputar-putar seperti putaran mesin cuci bersama tongkatnya. Terbang mereka jadi tidak terkendali dan juga meluncur turun.


Meski belum menjamin keselamatan, tetapi Arda Handara merasa bahagia karena Putri Babi-or yang cantik jelita muncul sebagai superheronya. Ia memeluk erat tubuh Putri Babi-or karena tidak mau jatuh sendirian. Tentunya jatuh bersama lebih indah meski ujung-ujungnya harus mati berdua.


“Aku akan bahagia jika aku harus mati bersama suamiku,” ucap Putri Babi-or berbisik kepada Arda Handara yang wajahnya menempel erat di pipinya.


“Tapi aku tidak mau mati, Putri!” teriak Arda Handara.


Posisi hamparan bumi semakin dekat dan dipastikan mereka berdua akan menjadi telur mentah yang menabrak batu.


“Aaak!” jerit Arda Handara dan Putri Babi-or bersamaan pada detik-detik mereka menghantam daratan.

__ADS_1


Jbuur!


Keajaiban terjadi. Tahu-tahu daratan berubah menjadi lautan. Kedua orang pendek itupun masuk ke dalam air yang luas, membuat Arda Handara gelagapan lalu terbangun dari tidurnya.


Sontak Arda Handara bangun berdiri sambil mengusap wajahnya yang basah. Dilihatnya Tikam Ginting berdiri di sisi ranjang kayunya dengan tangan kanan memegang sebuah mangkok kayu yang tadi berisi air laut.


“Bangun, Pangeran. Sudah siang. Kau dipanggil ibumu,” kata Tikam Ginting sebelum Arda Handara marah karena telah disiram air asin.


Tikam Ginting lalu berlalu pergi begitu saja tanpa penjelasan, kenapa membangunkannya harus dengan siraman.


“Awas kau, Kak. Aku laporkan nanti kepada Ibunda,” kata Arda Handara menggerutu. “Mimpi indahku jadi tenggelam.”


Dengan gestur yang menunjukkan kekesalan Arda Handara melangkah pergi, setelah melakukan gerakan mengulet atau peregangan. Tidak lupa dia membawa Tongkat Kerbau Merah miliknya.


Ketika Arda Handara keluar dari kabin, ternyata hari sudah siang.


Setelah pagi-pagi kapal dimuati oleh berbagai macam bahan makanan, dari bebumbuan sampai kambing dan ayam yang masih hidup, kapal hitam Bajak Laut Malam itupun berlayar meninggalkan Pelabuhan Manisawe untuk menuju langsung ke Pulau Kabut, negeri asal Pangeran Bewe Sereng.


Perjalanan akan memakan waktu lima hari empat malam, itu jika tidak ada hambatan seperti badai atau serangan bajak laut.


Pagi itu, Permaisuri Dewi Ara sedang duduk santai di atas atap anjungan bersama kakaknya Eyang Hagara. Mereka duduk berjemur tanpa buka-bukaan. Para pendekar pada masa itu sudah tahu bahwa sinar matahari pagi sangat baik bagi kulit. Terlebih saat itu lapisan ozon belum robek.


Arda Handara datang menaiki tangga ke atap anjungan dalam kondisi muka yang kusut. Cincin Mahkota Separa sedang tidak ada di kepalanya, tertinggal di tempat tidurnya. Kalung Peri Mimpi masih melingkar di lehernya.


“Ibunda, Kakak Tikam keterlaluan, aku disiram air saat sedang tidur!” adu Arda Handara dengan bibir yang bisa monyong mengerucut seperti cecurut.


“Apa salahku, Ibunda?” ucap Arda Handara lemah lalu seenaknya saja dia merebahkan diri menjadikan paha ibunya sebagai bantal.


“Salahmu adalah kau belum bangun di waktu sudah terik,” jawab Dewi Ara.


“Padahal aku sedang mimpi indah,” kata Arda Handara.


“Celanamu basah atau tidak?” tanya Dewi Ara.


“Tentu tidak, Ibunda. Aku selalu kencing sebelum tidur,” jawab Arda Handara tanpa memahami maksud Dewi Ara.


Eyang Hagara hanya tersenyum mendengar jawaban Arda Handara.


“Kau mimpi apa?” tanya Dewi Ara.


“Jatuh dari langit, lalu aku ditolong oleh Putri Babi-or. Sungguh hebat calon istriku itu, Ibunda,” cerita Arda Handara bersemangat.


“Berapa calon istrimu, Nak?” tanya sang ibu.


“Baru tiga, Ibunda.”


“Apa tujuanmu mau punya istri yang banyak?”

__ADS_1


“Mau buat anak sebanyak-banyaknya,” tandas Arda Handara.


“Untuk apa punya banyak anak?”


“Ah, Ibunda pura-pura tidak tahu. Jika aku punya banyak anak, aku bisa dengan mudah mengeroyok anak lain dan menang,” jawab Arda Handara tanpa ragu.


“Kau sudah tahu cara membuat anak?” tanya Dewi Ara tanpa senyum sedikit pun mendengar jawaban putranya yang justru membuat pamannya senyum-senyum.


“Tahu, Ibunda,” jawab Arda Handara yang kali ini membuat ibunya agak melebar lingkar matanya. Lalu katanya lagi dengan lugu, “Seperti yang Ayahanda Prabu dan Ibunda lakukan, berpelukan tidak pakai baju. Hahaha!”


“Tukang mengintip!” rutuk Dewi Ara sambil memencet hidung anaknya.


“Hahaha!” tawa Arda Handara.


“Eyang Hagara sudah cerita tentang tiga gadis cebol cantik itu. Kau yakin akan menjadikan mereka semua sebagai istri?”


“Tentu, Ibunda,” jawab Arda Handara sambil bangun dari rebahannya dan duduk bersila dengan punggung yang tegak lurus. “Aku sudah menjadi Pendekar Ketapel Naga. Pantang bagiku untuk ingkar janji.”


“Baiklah. Setelah urusan di Pulau Karang Hijau selesai, Ibunda akan pergi bertamu ke Negeri Orang Separa itu,” kata Dewi Ara.


“Nah, jika seperti ini, Ibunda begitu cantik! Hahaha!” puji Arda Handara senang.


“Kapan Ibunda terlihat tidak cantik?” kata Dewi Ara, tetap dengan wajah yang dingin.


“Waktu aku tidak melihat Ibunda,” jawab Arda Handara tidak mau kalah.


“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.


Kali ini Dewi Ara pun tersenyum.


“Tapi kau sepertinya suka menggoda Mimi Mama?” tanya Dewi Ara.


“Anak kambing itu, Ibunda? Hahaha! Lihat uyut-uyutku saja takut, bagaimana bisa menjadi calon istriku?”


“Pembunuh Kedua kau sebut anak kambing?” kata Dewi Ara.


“Bebek lele!” pekik Arda Handara terkejut.


“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.


“Oh iya, Eyang. Jarum Bintang itu ada di mana?” tanya Arda Handara yang teringat salah satu syarat Hijau Kemot kepadanya.


“Ada di Negeri Ketiga, di Negeri Sembunyi,” jawab Eyang Hagara.


“Di mana itu?” tanya Arda Handara.


“Jauh.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2