
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
“Serang!” teriak Anik Remas lantang. Ia marah melihat satu murid perguruan dibunuh begitu mudahnya dengan kapak.
“Hea hea hea!” teriak murid-murid Perguruan Cambuk Neraka menggebah kudanya menuju kelompok orang bertopeng kain hitam yang notabene lelaki.
Tiga lelaki berkuda di depan dan empat wanita berkuda di belakang, berlari maju untuk bertarung hidup atau mati.
“Ayo maju, Kelakar!” perintah Anik Remas kepada kusir kereta kudanya. Ia juga ingin bertarung.
Bertarung bersama Bagang Kala adalah kondisi yang menyenangkan hati Anik Remas. Ia tidak akan melupakan rasa ketika dia ditolong oleh pemuda tampan itu.
“Hea hea!” gebah kusir yang bernama Kelakar.
Kereta kuda pun berlari kencang menyusul ketujuh kuda yang sudah maju lebih dulu.
Set set set! Ctas ctas ctas!
Sambil tangan kiri memegang tali kendali kuda, tangan kanan para murid perguruan meloloskan cambuk-cambuk putihnya yang disisipi satu lecutan di udara, memperdengarkan suara lecutan bersusulan yang nyaring.
Meski terdengar hebat, tapi itu tidak menciutkan nyali kelompok penghadang.
Di sisi depan, kedua puluh lelaki bertopeng telah siap dengan kapak-kapaknya.
Wut wut wut …!
Sambil berlari maju, kedua puluh lelaki bertopeng melemparkan kapak-kapaknya secara berjemaah menyambut kelompok berkuda.
Ctas ctas ctas …!
Seb seb!
“Akk! Akh!”
Blugk! Blugk!
Murid-murid Perguruan Cambuk Neraka menyambut kapak-kapak itu dengan lecutan cambuk-cambuk mereka. Ada yang berhasil melecut dua kapak dan ada juga yang dapat satu. Namun, ada juga yang lolos dan menancap di jidat dan dada dua orang murid perguruan. Seorang lelaki dan seorang wanita. Keduanya tidak luput lagi dari kematian.
Beberapa kapak juga justru menargetkan kuda tunggangan, membuat tiga kuda jatuh tersungkur, melempar penunggangnya, tapi tidak membuatnya mati.
Tap tap tap …!
Kapak-kapak yang terpental kembali tertarik seperti magnet ke tangan-tangan pemiliknya lagi, lalu kembali melanjutkan pertarungan.
Semua murid Perguruan Cambuk Neraka sudah meninggalkan kudanya dan bertarung langsung melawan para lelaki bertopeng.
Senjata cambuk tidak sekedar melecut semata memberi luka merah atau merobek kulit, tapi juga bisa langsung membunuh seperti senjata lawan.
Blet!
“Akk!” pekik tertahan satu lelaki bertopeng ketika lehernya dibelit oleh cambuk milik Gelisa.
Sekali tarikan menghentak, maka leher yang dililit mengalami patah tulang. Itulah salah satu tingkat kehebatan ilmu Perguruan Cambuk Neraka secara umum, selain ilmu Cambuk Api Neraka.
Namun, kalah jumlah membuat murid-murid Perguruan Cambuk Neraka cepat terdesak, jumlah mereka tinggal tujuh orang.
__ADS_1
Kekhawatiran mereka tidak berlangsung lama. Ketika kereta kuda datang mendekat, dua sosok telah berkelebat cepat ikut masuk ke dalam pertarungan. Sosok itu adalah si janda cantik Anik Remas yang telah berbekal cambuk putih bersinar di tangan kanannya. Sosok lainnya adalah Pendekar Angin Barat yang datang dengan putaran tubuh seperti putaran as mesin dengan kaki melebar ke mana-mana.
Ctas ctas!
Cambuk putih Anik Remas langsung memakan dua orang korban. Cambuk Anik Remas mengandung kekuatan api, sehingga langsung memunculkan kobaran api.
Dak dak!
Tendangan liar Bagang Kala pun langsung mendapat dua subyek sasaran, mementalkan dua lawan yang membuatnya kesakitan.
Setelah itu, Bagang Kala bertarung seperti harimau mengamuk, tetapi mengandalkan ilmu angin.
Wus wus! Wus wus!
Setiap tinju Bagang Kala mengandung angin padat, sehingga ketika ia menonjok, lawan sudah akan terhantam angin padat meski jarak tinju masih sehasta jauhnya. Meski tidak membuat masuk angin, tapi angin tinju itu membuat sesak napas, sehingga mengurangi kebugaran tubuh dalam bertarung.
Wut wut wut!
Wusss! Wusstt!
Ketika datang lemparan kapak berjumlah tiga buah, Bagang Kala menahan laju ketiga kapak itu di udara dengan hadangan kekuatan angin, lalu ia hentakkan kedua lengannya, membuat ketiga kapak yang melayang diam melesat pulang menyerang balik tuannya sendiri.
Namun, para lelaki bertopeng itu juga dengan sigap menangkap kembali kapak-kapaknya. Setelah itu, Bagang Kala langsung menyerang dengan dahsyat.
“Akh! Akh!” Terdengar dua jeritan murid Perguruan Cambuk Neraka saat mereka menjadi korban kapak yang dengan cepat menamatkan riwayat hidup mereka.
Ketika Anik Remas menengok melihat tumbangnya kedua pengawalnya, ia justru mendapat serangan lima kapak terbang.
Wut wut wut!
Ctas ctas ctas!
Anik Remas melecutkan cambuknya dengan liukan yang sedemikian rupa, sehingga bisa mengenai empat kapak sekaligus, sementara satu kapak lolos, tetapi bisa dielaki oleh kepala Anik Remas.
Pada saat yang sama, Bagang Kala terkejut melihat kedatangan lima anak panah bersinar merah yang muncul dari kejauhan. Rombongan anak panah bersinar itu terbang tidak seperti panah biasa, mereka bisa berbelok seperti jet tempur dan arahnya sepertinya ingin membokong Anik Remas.
Mengetahui hal itu, sedangkan Anik Remas belum menyadari kedatangan lima anak panah yang berombongan, Bagang Kala cepat bertindak.
Bagang Kala cepat melompat lebih mendekatkan jarak kepada majikannya.
Wusss!
“Ak!” pekik terkejut Anik Remas saat mendapati tubuhnya tiba-tiba diterpa segulung angin, lalu terangkat dari pijakannya dan tertarik keras.
Seet! Teptep!
“Aaak!”
Kejadian itu membuat Anik Remas terhindar dari serangan anak panah, tapi juga membuat dua murid Perguruan Cambuk Neraka jadi sasaran salah target. Dua murid pun kembali tumbang, kian menghabisi para pengawal Anik Remas. Tinggal Gelisa yang tersisa.
Agar Anik Remas yang diterbangkan dengan ilmu Angin Gulung Lembah tidak jatuh menghantam tanah, maka Bagang Kala cepat menangkap tubuh Anik Remas dengan lembut, membuat wanita itu terkejut tapi berdesir-desir seperti aliran listrik putus-putus.
Laksana di film-film fantasi negeri antah berantah, adegan itupun memberi efek kembang api asmara di hati kedua insan tersebut. Meski darurat, tapi posisinya Bagang Kala memeluk erat tubuh Anik Remas dan kedua wajah mereka nyaris bersentuhan. Ditambah harum tubuh Anik Remas begitu mempengaruhi isi pikiran lelaki Bagang Kala.
Namun, keindahan yang menyulut kebahagiaan di dalam hati itu hanya seumur toge karena sudah datang serangan kapak-kapak terbang.
__ADS_1
Ctas ctas ctas!
Dalam kondisi tubuh masih dalam timangan, Anik Remas melecutkan cambuk putihnya, menangkis semua kapak yang menyerang.
Setelah itu, buru-buru Bagang Kala menurunkan tubuh Anik Remas. Wanita itupun langsung beralih mengamuk marah karena para pengawalnya tersisa satu seorang.
“Bentengi aku dengan ilmu anginmu, Bagang Kala!” seru Anik Remas.
“Baik, Ketua!” sahut Bagang Kala.
Anik Remas lalu mengerahkan salah satu ilmu pamungkasnya yang bernama Cambuk Menusuk Bintang. Sementara Bagang Kala berposisi di dekatnya sebagai operator pertahanan.
Semisal ketika datang serangan sepuluh kapak terbang, angin pukulan Bagang Kala menjadi benteng yang melempar jauh kapak-kapak itu, sehingga sulit ditarik kembali oleh pemiliknya.
Sama ketika datang lagi serangan lima anak panah bersinar merah oleh orang-orang yang tidak terlihat keberadaannya. Bagang Kala menggunakan ilmu anginnya untuk membelokkan kelima anak panah itu sehingga justru mengenai para lelaki bertopeng.
Ctas! Sest! Ctas! Sest!
“Aak! Akh! Akh!”
Setiap kali Anik Remas melecutkan cambuk bersinar putihnya, dari buntut cambuk melesat sebatang sinar putih seperti mata tombak. Arah serangan yang sulit diduga dan kecepatannya yang sulit dihindari, membuat para pengeroyok itu sulit lolos dari kematian. Sebab, sebatang sinar itu membuat tubuh berlubang besar saat terkena.
Secara perlahan, satu demi satu orang-orang bertopeng bertumbangan dengan tubuh yang jebol berlubang hangus.
Duet antara Anik Remas dan Bagang Kala berjalan apik dan kuat. Benteng angin Bagang Kala terlalu kuat untuk ditembus oleh serangan kapak dan panah. Pada saat yang sama, serangan cambuk Anik Remas begitu mematikan dalam menyerang.
“Munduuur!” teriak seorang lelaki bertopeng saat anggota kelompoknya tinggal enam orang.
Keenam orang bertopeng kain cepat berlari menjauh untuk melarikan diri.
West! Set set set!
“Aaak! Akk! Akh!”
Melihat keenam lawannya melarikan diri, Bagang Kala cepat mengibaskan tangan kanannya. Segelombang angin setajam pedang berembus dan menyambar punggung tiga lelaki bertopeng. Tiga lelaki itu terlempar dengan punggung yang luka sayatan cukup dalam.
Dua orang segera tewas, sementara satu orang masih hidup, tapi tidak bisa ke mana-mana lagi. Tiga rekan lainnya berhasil semakin menjauh menyelamatkan diri.
Gelisa cepat berkelebat mendapati satu lelaki bertopeng yang belum mati.
Seet!
“Hekrrr!”
Terkejut Gelisa karena melihat lelaki bertopeng itu mengiris lehernya sendiri dengan sebuah pisau kecil yang dimilikinya.
“Orang gila!” maki Gelisa melihat kenekatan orang itu dengan memilih bunuh diri.
Di saat Gelisa sibuk memeriksa kondisi tubuh lelaki bertopeng, Anik Remas menyempatkan diri memeluk Bagang Kala yang hanya bisa diam mendelik dengan jantung berdebar cepat dan darah lelakinya mengalir deras.
“Terima kasih, Bagang Kala,” ucap Anik Remas berbisik lembut di telinga Bagang Kala, bahkan bibir bergincunya menyentuh daun telinga pemuda itu.
Bisikan lembut dan sentuhan halus itu menciptakan rasa sensasi yang memporak-porandakan kenormalan perasaan dan pikiran Bagang Kala. Ia tetap mematung saat Anik Remas melepaskan pelukannya.
Kejadian itu luput dari penglihatan Gelisa, tapi tidak bagi Kelakar yang teguh duduk di kereta kuda sejak tadi. (RH)
__ADS_1