Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 17: Jalan Menjadi Penerbang


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


“Waaah! Kasur empuk!” sorak Arda Handara sambil melompat terjun ke atas tilam yang membuat tubuh bocah itu tenggelam.


Arda Handara kini berada di kamar Eyang Hagara.


Tanpa dikehendaki, pandangan sang pangeran terpaut pada sebuah tongkat warna merah berkepala kerbau biru yang tergantung di langit-langit kamar. Tongkat itu seperti tongkat terbang yang dipakai oleh para penerbang, tetapi tidak memiliki ekor.


“Eyang!” panggil Arda Handara.


“Ada apa? Bukankah kau lelah?” tanya Eyang Hagara sambil merapikan beberapa benda ke tempat yang pas dan enak dipandang.


“Apakah itu tongkat terbang?” tanya Arda Handara sambil menunjuk lurus ke langit-langit.


Eyang Hagara memandang pula ke langit-langit.


“Iya. Dulu waktu muda, Eyang adalah seorang penerbang nomor jawu. Namun kemudian, Dewan Tongkat Terbang membatasi ukuran tubuh penerbang. Jadi orang yang boleh jadi penerbang hanya Orang Separa dan ras lain yang tinggi badannya seperti Orang Separa. Seperti kau, masih bisa menjadi seorang penerbang. Namun, jika kau mulai tinggi melebihi tinggi Orang Separa, kau akan dilarang jadi penerbang,” jelas Eyang Hagara.


“Eh eh eh!” ucap Arda Handara sambil bangun duduk. “Eyang pernah menjadi penerbang nomor jawu? Berarti Eyang bisa mengajariku menjadi penerbang nomor jawu?”


“Bisa. Namun, untuk menjadi penerbang nomor jawu harus ikut kompetisi Pertandingan Tongkat Bola. Kau harus punya tim kesembilanan,” kata Eyang Hagara.


“Yang terpenting, Eyang harus mengajari aku dulu menaiki tongkat terbang. Aku ini pendekar, sejak masih menyusu kepada Ibunda, aku sudah berlatih, Eyang,” kata Arda Handara.


“Hahaha! Iya iya iya, Eyang percaya. Lalu mulai kapan kau akan berlatih?”


“Nanti malam, Eyang. Sekarang aku tidur dulu. Kebanyakan makan membuatku sangat mengantuk,” kata Arda Handara semangat. “Kata Resi Muda, lakukan dulu yang kita bisa, setelah itu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.”


“Hahaha! Iya iya iya,” tawa Eyang Hagara.


Setelah itu, terdengar dengkuran halus Arda Handara yang seolah-olah menunjukkan bahwa dia sangat lelah.

__ADS_1


Eyang Hagara hanya tersenyum melihat keponakannya sudah terlelap tenggelam dalam tilam yang empuk. Ia lalu memilih merapikan barang-barang di kamar yang lebih banyak adalah benda pajangan.


Tok tok tok!


Tiba-tiba ada ketokan di pintu depan. Eyang Hagara segera keluar kamar dan ke depan. Tampak di depan pintu berdiri Sempa Manyong, Kepala Penjaga di kediaman Gubernur Ilang Banyol.


“Ada apa, Sempa Manyong?” tanya Eyang Hagara.


“Gubernur memanggil Pendekar Hagara. Ada hal penting yang ingin dibicarakan,” jawab Sempa Manyong.


“Baiklah. Mari,” ucap Eyang Hagara sambil berjalan biasa.


Singkat waktu.


Eyang Hagara menemui Gubernur Ilang Banyol di ruangan kerja biasanya.


“Dalam beberapa bulan ini, ada pembunuh misterius yang hingga kini tidak bisa ditangkap oleh Pasukan Pelindung Ibu Kota. Tidak ada saksi yang pernah melihat wajahnya, tapi saksi melihat sosoknya lebih tinggi dari Orang Separa. Baru saja pembunuh misterius itu memakan korban lagi. Kali ini sudah keterlaluan, yang dibunuhnya adalah Kapten Pasukan Domba Merah,” kata Ilang Banyol.


“Benar. Aku akan berangkat ke markas Pasukan Pelindung Ibu Kota. Aku harap Pendekar mau ikut denganku ke sana,” kata Ilang Banyol.


“Pangeran Arda sedang tertidur di kamarku,” kata Eyang Hagara.


“Nanti aku minta Linting Kedot untuk mengawasinya,” kata Gubernur.


“Baiklah.”


Setelah menyampaikan tentang Arda Handara yang tertidur kepada Linting Kedot, Gubernur Ilang Banyol dan Eyang Hagara pergi mengendarai kereta burung botak ke markas Pasukan Pelindung Ibu Kota. Kereta burung botak itu dikawal oleh dua puluh prajurit cebol berseragam tanpa senjata. Sebenarnya mereka bersenjata, tetapi senjatanya tidak terlihat karena tersimpan di sebuah tabung kecil.


“Jika kapten Pasukan Domba Merah dalam kondisi yang buruk, berarti kesembilanan itu akan bertanding dalam kondisi lemah. Kemungkinan besar Pasukan Beruang Biru bisa menang dengan mudah,” kata Eyang Hagara dalam perjalanan.


“Aku rasa tidak juga. Pasukan Domba Merah masih memiliki banyak pemain handal. Menurutku Pelatih Banik Terong masih memiliki siasat rahasia untuk memenangkan pertandingan,” kata Gubernur Ilang Banyol.

__ADS_1


“Banik Terong?” sebut ulang Eyang Hagara.


“Iya. Aku tidak heran jika Pasukan Domba Merah dalam lima tahun bisa menjelma menjadi kesembilnan yang kuat. Selain karena pelatihnya adalah legenda tua Banik Terong, mereka juga memiliki kapten yang sekaligus pemburu handal,” kata Ilang Banyol. “Mereka juga memiliki penerbang benteng handal yang bernama Jangka Kolor.”


“Sepertinya Pangeran Arda akan menjadi lawan Hijau Kemot di babak pamungkas, Gubernur,” kata Eyang Hagara.


“Belelele!” kejut Ilang Banyol.


“Tapi, itu jika aku berhasil membujuk Banik Terong,” tambah Eyang Hagara.


“Apakah kau bisa menggembleng Pangeran Arda dalam waktu tujuh hari?” tanya Ilang Banyol ragu.


“Hahaha! Benar kata anak itu, tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Pangeran Arda itu anak ajaib. Aku bahkan takut kepadanya. Kau tidak akan rugi jika menjodohkan Hijau Kemot dengannya. Hahaha!”


Ketika Eyang Hagara tertawa, Ilang Banyol hanya mengangguk-angguk sambil otaknya berpikir.


Singkat cerita.


Eyang Hagara menjadi peserta terbesar dalam rapat genting sore itu di markas Pasukan Pelindung Ibu Kota. Selain Eyang Hagara dan Gubernur Ilang Banyol, ada sepuluh pejabat atau perwira Pasukan Pelindung yang ikut hadir. Mereka berdiri mengelilingi meja bundar besar setinggi perut Orang Separa dan setinggi bawah lutut Eyang Hagara.


Di atas meja bundar itu ada peta timbul yang menjadi miniatur Ibu Kota Omot Omong. Satu orang cebol berpakaian perwira sedang berbicara sambil memainkan tongkat kecil panjang tapi lentur, menunjuk-nunjuk pada peta.


“Pasukan Pelindung sudah dikerahkan di keempat pinggiran Ibu Kota. Dipastikan pembunuh misterius itu tidak akan bisa keluar dari Ibu Kota. Berdasarkan perhitungan antara waktu serangan dangan pengerahan Pasukan Pelindung, kemungkinan besar pembunuh itu bersembunyi di Lingkar Cimiot. Di lingkar ini, ada hutan jeruk, sungai selatan, lalat milik Pasukan Domba Merah, permukiman, serta pencipta (pabrik) kain dan roda,” papar Komandan Pasukan Pelindung yang bernama Rembes Begong.


“Jika demikian, pusatkan pencarian di Lingkar Cimiot. Bekali pasukan dengan tameng baja enteng. Jika penerbang sekelas Kadidat Colong saja bisa dibuat hampir mati, berarti pembunuh misterius itu memiliki kesaktian tinggi,” kata Ilang Banyol.


“Mohon maaf, Gubernur. Karena aku dilibatkan dalam pertemuan ini, jadi aku ingin memberi saran. Karena pembunuhnya adalah orang sakti, lebih baik kita menjebaknya. Tanpa bermaksud meremehkan Pasukan Pelindung, tapi aku khawatir jika pengerahan Pasukan Pelindung diperbanyak di lingkar yang diduga pembunuh itu berada, justru akan membahayakan para prajurit. Apalagi di waktu malam yang menjadi situasi andalan si pembunuh untuk membunuh. Jika disetujui, biarkan aku yang melakukan pengintaian di Lingkar Cimiot malam ini. Ciri badan yang bukan Orang Separa akan memudahkan aku untuk mencurigai seseorang. Bagaimana, Gubernur?” kata Eyang Hagara.


“Setuju!” seru beberapa perwira Pasukan Pelindung cepat dan bersamaan, membuat Eyang Hagara terkesiap.


Setelah pertemuan di markas Pasukan Pelindung Ibu Kota, Gubernur Ilang Banyol dan Eyang Hagara pergi ke bilik tabib untuk menjenguk dan melihat langsung kondisi Kadidat Colong.

__ADS_1


Di bilik tabib, mereka berdua bertemu dengan keluarga Kadidat Colong dan semua personel Pasukan Domba Merah, termasuk sang pelatih yang bernama Banik Terong. (RH)


__ADS_2