Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 27: Pemimpin Pengkhianat


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Seorang wanita dari bagian dapur umum datang berbisik kepada Guna Wetong.


“Ketua Empat sudah melewati batas luar,” bisik wanita itu.


“Cepat bersiap!” perintah Guna Wetong berbisik pula.


Wanita dari dapur umum itu mengangguk lalu segera berbalik pergi meninggalkan pusat pertemuan terbatas pra acara.


Kasak kusuk Guna Wetong tertangkap mata oleh Kepala Latih.


“Ada apa, Mak Guna?” tanya Jenang Kolo kepada Guna Wetong yang baru saja berdiri dari kursinya.


Pertanyaan itu membuat Ketua Dua Tolak Berang dan petinggi lainnya memandang kepada wanita gemuk berwajah bengis itu.


Guna Wetong jadi cukup terkejut karena ia menjadi pusat perhatian, bukan berarti ia cantik di mata para lelaki berusia mulai tua-tua tersebut.


“Aku ingin menangkap seorang pengkhianat,” tandas Guna Wetong.


“Kau tahu siapa pengkhianat di perguruan ini?” tanya Tolak Berang dengan tatapan serius.


“Antek pengkhianat yang aku siksa telah mengaku siapa yang menjadi junjungannya. Tunggu saja sebentar,” kata Guna Wetong. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan pertemuan nonresmi itu.


“Lapor, Ketua! Rombongan Ketua Empat sedang menuju ke mari!” lapor seorang murid yang datang menghadap dengan tergesa-gesa.


“Pergilah!” perintah Tolak Berang.


“Baik, Ketua,” ucap murid itu. Ia lalu berbalik pergi usai menjura hormat.


“Apakah pengkhianat yang dimaksud oleh Mak Guna adalah Anik Remas?” duga Jenang Kolo, tapi tidak mendapat tanggapan dari yang lain.


Tolak Berang mendahului bangkit dan berjalan menuju ke depan pendapa. Di depan, mereka harus menunggu sejenak hingga akhirnya mereka melihat kedatangan sebuah kereta kuda yang dikawal hanya satu ekor penunggang kuda.


Kereta kuda yang dikendarai oleh si janda cantik itu harus berhenti di depan gapura kecil yang telah dihias. Di gapura itulah batas kendaraan. Setelah itu, tamu harus berjalan belasan tombak jauhnya untuk sampai ke pendapa.


Para murid perguruan yang berjaga di gapura itu menjura hormat kepada Ketua Empat.


Kali ini, tanah lapang sepi oleh atraksi murid-murid. Sejak kasus ketahuan tipu-tipu, tidak ada lagi acara aksi-aksi.


Sejenak Anik Remas memandang jauh ke arah pendapa di mana berdiri Tolak Berang dan para petinggi. Setelah itu ia bergerak hendak turun dengan Bagang Kala sudah siap menyambut tangan junjungannya.


Namun, baru saja Anik Remas hendak menurunkan kakinya, tiba-tiba ….


“Kepuuung!” teriak satu suara wanita membahana.

__ADS_1


Hal itu mengejutkan Anik Remas saat setelah teriakan itu, belasan wanita berseragam kuning muncul berlarian dari balik bangunan-bangunan kayu yang kemudian berhenti membentuk formasi mengepung posisi kereta kuda. Belasan wanita itu berbekal senjata cambuk warna kuning.


Pergerakan para wanita anggota pegiat dapur umum itu juga mengejutkan Tolak Berang dan para petinggi yang lain. Mereka segera berjalan cepat untuk sampai ke gapura.


Dari samping, muncul berjalan sosok besar Guna Wetong dan berhenti dua tombak dari sisi kereta.


Sementara Anik Remas turun menyempurnakan niatannya. Gelisa juga turun dari kudanya. Kelakar tetap setia di tempat duduknya dan Bagang Kala menjadi orang yang paling dekat mengawal Anik Remas.


Pembelaan Anik Remas untuknya membuat Bagang Kala semakin suka dengan wanita itu, entah suka dalam arti cinta atau suka memiliki majikan semodel itu.


“Apa yang kalian lakukan, Mak Guna?!” tanya Anik Remas marah kepada Guna Wetong.


“Kau telah mengkhianati Perguruan Cambuk Neraka, Ketua Empat!” jawab Guna Wetong lantang.


Melebar sepasang mata Anik Remas dan Gelisa. Anik Remas jadi mengalihkan pandangan marahnya kepada Tolak Berang yang baru mau tiba di gapura itu.


“Ketua Dua! Apakah kau menuduhku sebagai pengkhianat?” teriak Anik Remas tanpa menunggu Tolak Berang dan para pembantunya tiba sampai ke hadapannya.


Terkejut Tolak Berang ditanya seperti itu. Namun, ia menunggu tiba lebih dulu di gapura sebelum menjawab pertanyaan Ketua Empat.


Puluhan murid-murid Perguruan Cambuk Neraka jadi terpancing berdatangan karena ada rasa bela kelompok. Jangankan mereka di pihak yang benar, di pihak yang salah pun mereka punya keterikatan sebagai keluarga besar. Rasa setia level bawah biasanya lebih kuat daripada para pemimpin yang lebih sering mementingkan kepentingan pribadi, seperti di “Negeri Wakanda”.


Keributan itu menarik perhatian Curiasa dan para pengawalnya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke gapura.


Di sisi lain dari pendapa, muncul pula Ketua Tiga Citari Lenting yang dikawal oleh dua orang wanita berseragam merah. Sebagai Ketua Tiga, ia sudah semestinya harus tahu apa yang terjadi di depan sana. Maka ia pun pergi menyusul ke gapura.


“Aku tidak pernah mencurigaimu sebagai pengkhianat, Ketua Empat!” bantah Tolak Berang setibanya di gapura.


“Lalu apa ini?” tanya Anik Remas.


“Aku telah menangkap seorang pengkhianat dan dia menyebut namamu sebagai pemimpinnya,” kata Guna Wetong.


“Bawa ke sini orang itu, biarkan aku yang memeriksa mulut dustanya. Berani-beraninya dia memfitnahku!” bentak Anik Remas, benar-benar menunjukkan kemarahannya.


“Bong Bong Dut, bawa pengkhianat itu ke sini!” perintah Guna Wetong kepada Bong Bong Dut yang posisi berdirinya menunjukkan keberpihakan kepada Guna Wetong, meski tidak ikut mengepung.


“Baik, Mak!” sahut Bong Bong Dut. Ia lalu segera berbalik dan berlari pergi dengan lemak berguncang-guncang, seolah tugasnya begitu darurat.


Sementara itu, sambil berdiri gagah di belakang Anik Remas, pandangan Bagang Kala aktif seperti radar. Ia mencoba mencari wajah-wajah masa lalu yang sangat berdosa kepada keluarganya. Sopo ngiro jika teman-teman Gadra ada di antara puluhan orang-orang Perguruan Cambuk Neraka itu.


Dan Bagang Kala menemukan dua wajah yang ciri-cirinya mirip dengan wajah pendosa masa lalu, yaitu sosok jangkung beralis tebal dan yang satu lagi berkumis. Dua wajah itu adalah milik Deming Joyo dan Suragawa yang berdiri di belakang Curiasa.


Melihat wajah kedua orang itu, seketika di dalam benak Bagang Kala ada slide visual memori yang tertayang.


“Kurang ajar, dia bunuh diri!” teriak Suragawa muda, saat Juminah yang ingin mereka perkosa ramai-ramai memilih bunuh diri, 15 tahun yang lalu.


“Aaah! Gagal! Biarpun secantik ini, tapi kalau sudah mati, aku tidak sudi!” teriak Deming Joyo muda pula. Ia juga marah karena batal menikmati tubuh Juminah yang sudah tanpa pakaian.

__ADS_1


Itulah di antara file memori yang terlintas di benak Bagang Kala saat melihat dua wajah mesum Suragawa dan Deming Joyo.


“Aku harus menunggu peluang,” batin Bagang Kala. Siapa tahu hari ini dia beruntung dan dapat door prize.


“Ketua Dua!” sebut Anik Remas lantang, masih dalam posisi dikepung. “Kau tahu kenapa aku datang hanya dikawal oleh dua orang dan satu orang kusir?”


Setelah bertanya seperti itu, Anik Remas terdiam sejenak sambil memandang tajam kepada Tolak Berang dan para petinggi lainnya, agar nuasa dramanya dapat.


“Sebanyak dua kali aku dalam perjalanan, sebanyak dua kali pula aku diserang oleh dua kelompok pembunuh. Belasan murid yang ikut denganku mati dibunuh. Saat di perjalanan, aku diserang oleh kelompok tidak dikenal. Jika aku pemimpin pengkhianat itu, apakah masuk akal jika aku menjadi target orang suruhanku sendiri?” ujar Anik Remas yang mengajak semua orang untuk berpikir, supaya IQ-nya bertambah.


Masih terdiam mereka, terutama Guna Wetong.


“Kita akan tahu sebentar lagi, apakah pengkhianat itu berdusta atau tidak,” kata Guna Wetong akhirnya menanggapi.


“Jika pengkhianat itu ada di sini, seharusnya tersangka besarnya adalah kau, Ketua Dua,” kata Anik Remas.


Tudigan memancing itu membuat Tolak Berang terkejut. Seketika pandangan matanya jadi tidak tenang, seperti orang yang menjadi tersangka utama.


“Kenapa pula kalian tidak curiga kepada Ketua Tiga yang putranya memiliki uang banyak dan kekuasaan yang luas?” tanya Anik Remas lagi sambil menatap tajam kepada bekas madunya, yaitu Citari Lenting.


Pertanyaan Anik Remas itu kali ini menyudutkan Citari Lenting dan menantunya, Curiasa.


“Jaga ucapanmu, Perempuan Sundal!” hardik Ketua Tiga memaki sambil menunjuk marah kepada Anik Remas.


“Kenapa, Citari? Apakah kau takut terbongkar? Menurutmu, siapa orang yang bisa membayar orang banyak untuk membunuhku? Aku juga tahu harga dari kelompok Penguasa Dunia untuk membunuh orang. Ketua Dua tidak akan mampu membayarnya, perguruan ini bergantung dari aliran uang pemerintah kadipaten,” kata Anik Remas ceplas-ceplos.


“Bibi! Apakah Bibi Anik menuduh Gusti Adipati?” Curiasa yang mendengar kata-kata Anik Remas jadi terpancing pula untuk marah dan bersuara.


“Hihihi! Ke mana adipati penggarap perempuan itu?” tanya Anik Remas kalem yang didahului dengan tawa mengejeknya.


Disinggung tentang perempuan, Suragawa dan Deming Joyo juga jadi tersulut sumbu amarahnya, sebab mereka pada dasarnya satu paket dengan Adipati Kuritan.


“Ketua Empat, bicaramu sudah keterlaluan terhadap Gusti Adipati!” teriak Deming Joyo gusar.


“Hiaaat!” pekik Suragawa sambil melompat berlari di udara melewati atas kepala para wanita yang mengepung.


Seolah lupa dengan status dan posisinya, Suragawa nekat menerjang Anik Remas.


Bubuk!


“Hukh!” keluh Suragawa dengan tubuh terlempar balik, ketika satu kelebatan lelaki berpakaian putih melesat lebih cepat dan mendaratkan dua tendangan beruntun pada dadanya saat di udara.


Blugk!


“Hekh!” keluh Suragawa lagi saat punggungnya menghantam tanah dekat gapura.


Semua terkejut, kecuali Anik Remas dan Gelisa.

__ADS_1


Semua mata seketika tertuju kepada Pendekar Angin Barat alias Bagang Kala. Ia kini berdiri dengan kuda-kudanya di depan junjungannya. (RH)


__ADS_2