
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
“Hahahak …!” tawa terbahak Arda Handara.
“Hihihi …!” tawa termehek Ratu Wilasin dan Anik Remas.
Ketiga orang itu tertawa-tawa di atas kereta kuda yang berjalan karena Ratu Wilasin dan Arda Handara sedang bermain permainan Kuku Genit.
Cara permainannya mudah. Ratu Wilasin dan Arda Handara duduk berhadapan. Salah satu lima jari tangan mereka dipertemukan ujungnya, yang jelas hanya ujung jari tengah yang bertemu jika jari-jari itu diluruskan. Mereka masing-masing memiliki separuh batok kelapa kering yang berisi cairan arang kental.
Ketika roda kereta terguncang karena melindas batu jalanan atau potongan kayu kecil di jalan, maka mereka harus memukul kuku jari lawan. Mengenai kuku jari tengah bernilai satu poin, kuku jari telunjuk atau jari manis bernilai dua poin, dan kuku emak jari atau kelingking bernilai tiga poin. Satu poin berarti satu olesan jari tinta arang.
Wajah Ratu Wilasin dan Arda Handara sudah seperti monyet hitam. Wajah Arda Handara hampir semuanya tertutup oleh coretan air arang. Sementara Ratu Wilasin masih cantik separuh wajah, menunjukkan dia lebih banyak mencoret wajah Arda Handara.
Setiap siapa pun yang menang, mereka pasti tertawa. Anik Remas hanya ikut tertawa melihat pertunjukan anak kecil dan anak besar itu.
Jdug!
Setelah menunggu sepuluh tarikan napas, roda kereta kuda melindas timbulan batu di tanah jalan, membuat kareta terguncang. Arda Handara cepat memukul kuku jari telunjuk Ratu Wilasin. Kena.
“Kena telunjuk. Dua coretan! Hahaha!” teriak Arda Handara girang lalu tertawa kencang.
Anak itu mencelupkan jari tangan kirinya ke dalam air arang di batok kelapanya. Namun, Arda Handara tidak langsung menggaruk wajah Ratu Wilasin, tetapi ia memberi kode mata kepada sang ratu lalu melirik kepada Bagang Kala yang fokus berkusir.
“Yaaa!” sorak Ratu Wilasin dan Arda Handara kompak sambil tangannya yang belepotan air arang kental menyergap wajah Bagang Kala dari belakang.
“Akk!” pekik Bagang Kala terkejut bukan main.
Hal itulah yang membuat Ratu Wilasin, Arda Handara dan Anik Remas tertawa kencang, sementara Bagang Kala hanya tersenyum getir menengok kepada mereka yang tertawa.
Sementara Bewe Sereng yang terbaring lemah di sisi belakang hanya bisa menikmati kebisingan tersebut.
Tawa ramai yang meledak itu juga membuat Dewi Ara dan lainnya yang berkuda di depan jadi menengok.
“Kenapa aku yang dicoret, Gusti Ratu?” tanya Bagang Kala.
“Kalau hanya kami yang mukanya hitam, nanti orang mengira kami berdua korban penculikan, karena mukanya hitam sendiri. Hihihi!” jawab Ratu Wilasin lalu tertawa melengking menyayat sukma.
“Hahaha! Iya iya iya, benar itu!” sepakat Arda Handara sambil tertawa, padahal dia yang punya ide jahil.
__ADS_1
“Berarti, Kakak Anik Remas juga harus hitam wajahnya,” kata Ratu Wilasin sambil menunjuk wanita di sisinya.
“Hamba tidak mau, Gusti Ratu. Ampuni hamba!” tolak Anik Remas cepat.
“Eh, Bibi berani membantah keinginan Gusti Ratu? Tidak boleh. Hahaha!” kata Arda Handara mengintimidasi.
“Tapi ….”
Kata-kata Anik Remas terhenti saat tangan Ratu Wilasin suah mengusap di wajah cantiknya. Maka seketika itu juga, hilangnya cantik di wajah Anik Remas.
“Hihihi …!” Ratu Wilasin kembali tertawa kencang menyayat ubun-ubun.
“Hahaha …!” Kali ini bukan hanya Arda Handara yang tertawa, tapi juga Bagang Kala.
Anik Remas hanya tersenyum getir.
“Dia juga, dia juga!” kata Ratu Wilasin sambil menunjuk Bewe Sereng dengan semangat.
“Hahaha! Biar aku, Kakak Ratu!” teriak Arda Handara bersemangat sambil bergerak melewati antara badan Ratu Wilasin dan Anik Remas yang bersebelahan.
Arda Handara menjulurkan badan dan tangannya untuk menjangkau wajah Bewe Sereng. Lelaki berkumis biru itu hanya bisa mendelik pasrah ketika Arda Handara dengan bebas semaunya mengobok-obok wajahnya.
Meski sudah menghitamkan wajah Bewe Sereng dengan beberapa kali usapan, Arda Handara belum mau kembali ke tempat duduknya.
Bewe Sereng diam dengan satu ekspresi, yaitu pasrah seperti orang yang mau masuk ke neraka.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara dan Bagang Kala.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin dan Anik Remas.
Tikam Ginting, Lentera Pyar, Setya Gogol dan Bong Bong Dut hanya tertawa kecil melihat dan mendengar keramaian di belakang mereka. Sementara Dewi Ara bersikap abai.
“Brojol harus dikasih juga, jangan sampai kita dituduh menculik Brojol karena wajahnya ganteng sendiri!” kata Ratu Wilasin.
“Betul!” pekik Arda Handara sepakat.
Arda Handara segera kembali ke tempat duduknya di sisi Bagang Kala. Ia meraih sangkar.
“Kakak Ratu, Brojol ini wanita, bukan lelaki. Jadi jangan sebut dia ganteng, nanti dia malah senang,” ralat Arda Handara.
“Hihihi! Jadi aku tidak bisa jatuh cinta kepadanya?” tawa Ratu Wilasin lalu bertanya dengan maksud berkelakar.
__ADS_1
“Oh pasti, Kakak Ratu. Hanya aku yang berhak menjodohkannya dengan Uyut-Uyut,” kata Arda Handara sambil membuka pintu sangkar dan memasukkan tangannya untuk menangkap si bajing yang sejak tadi panik karena kebisingan.
“Apakah Uyut-Uyut lelaki?” tanya Ratu Wilasin yang sebelumnya sudah berkenalan dengan si ulat bulu.
“Bukan, wanita juga, Kakak Ratu,” jawab Arda Handara.
“Bagaimana bisa betina menikah dengan betina?” tanya Anik Remas menyela.
“Bisa, Bibi. Dalam dunia perhewanan, semuanya bisa. Hahaha!” jawab Arda Handara seperti seorang pakar.
“Hihihi!” Anik Remas menanggapi hanya dengan tawa.
“Tenang, Brojol. Ayah membedakimu agar semakin cantik,” kata Arda Handara sambil menjepit kulit tengkuk Brojol dengan tangan kanan dan tangan kiri bergerak mengusap-usap wajah Brojol dengan ujung jarinya yang hitam.
Hal itu membuat Brojol merontah-rontah, menunjukkan penolakannya. Namun, apalah daya, wajahnya tidak bisa melompat ke mana-mana.
“Hihihi …!” tawa Ratu Wilasin dan Anik Remas melihat pemerkosaan itu.
Setelah membuat wajah Brojol menghitam, Arda Handara kembali memasukkan hewan itu ke dalam sangkar.
“Uyut-Uyut juga, Uyut-Uyut juga!” kata Ratu Wilasin lagi.
“Tenang saja, Kakak Ratu. Semua Uyut-Uyut akan aku bedaki,” kata Arda Handara.
Bdrak!
“Aaa …!” jerit semua penumpang kereta kuda saat tiba-tiba kereta itu terjungkal naik ke depan.
Bagian belakang bak kereta terangkat cepat lebih dulu lalu naik ke udara, melempar semua orang yang ada di atasnya. Lontaran itu membuat mereka semua mengudara tanpa kendali, berpisah dari bak kereta.
Suss! Bluar!
Ketika posisi bak kereta berdiri melayang di udara, sementara kedua kudanya masih di tanah, tiba-tiba dari arah belakang melesat sebola sinar hijau gelap berekor dan menghantam bak kereta.
Tak ayal lagi, badan kereta kuda itu hancur berantakan seperti terkena rudal perceraian. Selain membuat kereta berpentalan dalam bentuk serpihan-serpihan, daya ledak yang kuat itu juga sampai mementalkan dua kuda yang masih tertaut dengan kereta.
Sementara Ratu Wilasin, Arda Handara, Anik Remas, Bagang Kala, dan Bewe Sereng yang tubuhnya sedang mengudara, juga terkena daya ledakan, membuat tubuh mereka terlempar lebih cepat.
Namun, hanya tubuh Bagang Kala yang menghantam tanah, tapi ia berhasil bencapai tanah dengan roll depan beberapa putaran.
Sementara tubuh Ratu Wilasin, Arda Handara, Anik Remas, dan Bewe Sereng terhenti meluncur di udara. Mereka diam melayang di udara seolah ada kekuatan yang menahannya.
__ADS_1
Dewi Ara dan pengawal berkuda lainnya hanya mengalami kuda tunggangan yang panik. Mereka semua telah menghadap ke arah belakang, di mana mereka melihat sesosok tubuh melesat terbang dengan mengendari sebatang kayu bulat, seperti orang yang sedang berselancar di udara.
Mereka yakin orang yang datang itulah pelaku penyerangan yang membokong kereta kuda. (RH)