Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 11: Bola-Bola Jebakan


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Lima ekor sinar hijau melesat berjemaah menyerang Tikam Ginting yang baru saja menangkap bola kayunya di udara.


Blar blar! Ctar ctar!


“Hukh!” keluh Tikam Ginting.


Baru saja kakinya menyerntuh tanah, Tikam Ginting langsung melompat dengan gerakan sedemikian rupa dan kedua tangan berbekal perisai ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta. Dia melompat di dekat salah satu bola sinar abu-abunya.


Dua sinar hijau berhasil dia hindari yang kemudian meledakkan tempat kosong. Satu sinar hijau lagi mengenai bola sinar abu-abu yang masuk lalu meledak di dinding dalamnya.


Sementara dua sinar hijau lagi ditangkis oleh kedua telapak tangan yang berbekal ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta.


Ternyata kekuatan sinar hijau berekor lebih tinggi dari perisai sinar hijau si gadis, membuatnya mengeluh dengan tubuh terlempar dan bergulingan di tanah.


“Uhhuk uhhuk!” batuk Tikam Ginting karena dadanya terasa sesak, tetapi tidak sampai ia menderita luka dalam.


Sets!


Tikam Ginting cepat melempar bola kayunya yang kali ini bersinar merah, ketika melihat Laksamana Kamboja Hua hendak datang mendekat dengan serangan.


Suut! Bluarr!


Kamboja Hua kembali menghantam lemparan bola kayu bersinar itu dengan seberkas sinar merah pula. Peraduan itu menimbulkan ledakan keras.


Kali ini, Kamboja Hua terlempar ke belakang beberapa langkah. Meski jaraknya pendek, tetapi dia sampai terlompat. Entah sengaja lompat atau memang demikian nasibnya.


Sets!


Sambil tangan kirinya mengeluarkan ilmu Penjara Bola Cemburu yang berwujud bola sinar abu-abu yang terus membesar, tangan kiri Tikam Ginting mengendalikan senjata bola kayunya yang masih bersinar.


Bola itu dikendalikan dari jarak jauh oleh Tikam Ginting dan kembali melesat menyerang Kamboja Hua setelah memantul.


Untuk sementara, Kamboja Hua disibukkan menghindari bola kayu bersinar lawannya yang berulang kali menyerang. Pada masa itu, ternyata Tikam Ginting bisa menelurkan dua bola sinar abu-abu besar.


Sudah ada lima bola sinar besar di jalanan itu dengan posisi menyebar, membuat arena pertarungan menyempit, terlebih Kamboja Hua tidak mau dekat-dekat dengan bola sinar yang membuat kondisi lebih terang.


Akhirnya Kamboja Hua bisa menaklukkan bola kayu bersinar yang mempermainkannya.


Set! Bluar!


Pada satu kesempatan, Kamboja Hua melesatkan satu panah sinar hijau ke sembarang arah. Panah sinar itu melesat berkeliling area itu dengan cepat dan tahu-tahu menabrak bola kayu yang sedang melesat.


Ledakan hebat terjadi yang ternyata menghancurkan senjata bola Tikam Ginting. Hal itu membuat Tikam Ginting terkejut. Itu menyimpulkan, betapa hebatnya ilmu panah gaib Kamboja Hua.


Set set!


Tiba-tiba dari kejauhan muncul dua sinar hijau yang merupakan dua dari lima panah sinar hijau Kamboja Hua yang sudah keliling pulau. Tikam Ginting menghindar dengan gesit. Meski bisa menghindar, tapi serangan itu tidak berhenti karena kedua panah sinar itu berbelok dan berbalik yang kembali menyerang.


Blar blar!

__ADS_1


Tikam Ginting berlari dan melompat menyelinap di antara bola-bola sinarnya, membuat kedua panah sinar itu harus menembus masuk ke bola sinar. Kedua panah sinar hijau itu bisa masuk ke dalam bola sinar, tetapi kemudian keduanya meledak di dalam ketika mencoba menembus dindingnya dari sisi dalam.


Kamboja Hua agak mendelik melihat kehebatan bola-bola sinar itu.


Lepas dari incaran kedua panah itu, Tikam Ginting langsung melesat kepada Kamboja Hua dengan menerobos bola-bola sinar penjaranya tanpa ada halangan sedikit pun. Ia bisa dengan bebas keluar masuk bola sinarnya. Dengan kedua tangan berbekal sinar putih dari ilmu Telapak Perawan Awan, Tikam Ginting mengagresi Kamboja Hua.


Das das das …!


Kali ini, Kamboja Hua meladeni serangan Tikam Ginting dengan kedua tangan yang menyala hijau seperti lampu neon. Lebih sepuluh kali adu pukulan terjadi, yang setiap peraduan terjadi memberi hantaman bagi raga keduanya.


Namun, ada yang berbeda dari Tikam Ginting. Dari ujung kakinya keluar gelembung-gelembung sinar bening seperti gelembung sabun dalam jumlah banyak.


Fokusnya terhadap agresi lawan membuat Kamboja Hua telat sadar. Ia baru tahu ketika gelembung sinar bening itu sudah ramai melayang rendah di sekelilingnya.


“Apa ini?” Sampai keluar ucapan keterkejutan dari bibir Kamboja Hua.


Buru-buru Kamboja Hua mengeluarkan ilmu perisai andalannya, yaitu dua perisai sinar biru putih berwujud penggorengan tanpa kuping, mirip tameng superhero negeri Paman Sam. Dan sebelum sesuatu terjadi, Kamboja Hua mendesak Tikam Ginting dengan hantaman-hantaman perisai sinar di kedua tangannya.


Meski Tikam Ginting bersifat menyerang, tetapi tangkisan kedua perisai besar itu membuatnya terpukul mundur. Akhirnya Tikam Ginting melesat mundur menghindari area bergelembung.


Mundurnya Tikam Ginting membuat Kamboja Hua bisa menerka. Ia pun cepat melompat untuk keluar dari zona gelembungan.


Ctar ctar ctar …!


Namun, tindakan Kamboja Hua cukup terlambat.


Gelembung-gelembung itu berledakan nyaring persis petasan pengantin sunat. Ledakan yang nyaris bersamaan menimbulkan suara yang sangat bising, membangunkan warga yang posisi rumahnya tidak jauh dari Gerbang Kepeng.


Ketika ledakan berjemaah itu terjadi, posisi tubuh Kamboja Hua masih di pinggiran wilayah gelembung. Meski dia melindungi tubuhnya dengan katupan dua perisai sinar, tetap saja tubuhnya terdorong tanpa terkendali.


Ternyata Kambopja Hua jatuh di dekat salah satu bolah sinar abu-abu.


Melihat posisi Kamboja Hua, Tikam Ginting cepat berkelebat maju sambil melesatkan dua sinar putih terang dari ilmu Telapak Perawan Awan.


Sess! Zuzz! Bluarr!


Kamboja Hua yang sudah bangun dengan menahan sakit pada seluruh tubuhnya, cepat mengerahkan salah satu ilmu pamungkasnya untuk mengadu sakti.


Ia hentakkan satu lengannya dengan telapak tangan mengepal. Maka selonjong sinar hijau besar melesat yang langsung mengadu dengan kedua sinar putih kiriman Tikam Ginting.


Satu ledakan tenaga sakti terjadi dahsyat yang langsung berefek pada kedua petarung.


“Hakr!” pekik Tikam Ginting dengan tubuh terpental balik dan jatuh berguling-guling.


Ketika tubuhnya berhenti, posisi Tikam Ginting dalam pose tengkurap. Tubuh indah itu terdiam sejenak. Terlihat masih ada pergerakan samar dari arus pernapasannya.


Lima harakat kemudian, Tikam Ginting bergerak bangun dengan berat, seolah ada genderuwo yang duduk di punggungnya. Saat kedua lengannya lurus mengangkat bahunya, tiba-tiba ….


“Hoekh!” Tikam Ginting Muntah darah.


Namun, dia jadi bertanya-tanya. Seharusnya lawannya sudah melakukan serangan susulan. Karena itulah dia segera menengok di saat ia masih separuh bangkit.


Ternyata, peraduan dua ilmu kesaktian tadi mendorong Kamboja Hua masuk ke dalam Penjara Bola Cemburu yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Sebenarnya dia unggul di dalam peraduan tadi, tetapi dia tidak bisa menahan tubuhnya dari dorongan gelombang ledakan tenaga sakti.


Melihat lawannya sudah masuk dalam perangkap yang dipasang, Tikam Ginting bangkit berdiri dengan mengerenyit. Ia lalu berjalan terhuyung mendekat ke bola sinar besar yang mengurung Kamboja Hua.


Sementara itu, Laksamana Muda Kamboja Hua terlihat panik ketika dia berulang kali menghantam dinding kurungan dari dalam, tetapi tidak bisa menjebol atau menghancurkannya.


Zuzz! Bluar!


Kamboja Hua bahkan mencoba dengan ilmu pamungkasnya yang berupa sinar hijau lonjong. Namun, ketika sinar itu meledak, justru mementalkan Kamboja Hua hingga menabrak dinding bola sinar dan jatuh ke lantainya. Sementara dinding yang dihantam ilmunya tidak cedera sedikit pun.


“Hihihi!” tawa pendek Tikam Ginting yang sudah berdiri dua tombak dari Penjara Bola Cemburu itu.


“Hoekh!” Kamboja Hua justru muntah darah karena hantaman dari kekuatan ilmunya sendiri. Namun, dia cepat bangkit, meski dengan gerakan yang berat dan wajahnya menahan sakit.


Set set!


Tiba-tiba dari dua arah yang berbeda muncul dua garis sinar hijau melesat menyerang Tikam Ginting.


Tikam Ginting yang sempat terkejut, cepat melompat gaya kucing dan jatuh bergulingan di balik Penjara Bola Cemburu.


Bluar!


Satu panah sinar hijau milik Kamboja Hua yang baru pulang dari pelesiran, melintas masuk ke salah satu Penjara Bola Cemburu dan meledak di dalam. Sementara satu panah sinar lagi lolos dan berbalik kembali memburu Tikam Ginting.


Pendekar Bola Cinta segera bangkit dan berlari tertatih karena ia sudah terluka dalam. Ketika sampai di dekat Penjara Bola Cemburu yang mengurung Kamboja Hua, Tikam Ginting berhenti sejenak dengan napas tersengal sambil terbungkuk, seolah dia tidak kuat lagi berlari.


Tanpa ampun, panah sinar hijau melesat kepadanya. Tepat ketika panah sinar hijau itu tiba kepadanya, Tikam Ginting melakukan satu gerakan tiba-tiba, yaitu menarik ke samping tubuh atasnya, sehingga panah lewat tipis di depan dada bulatnya.


Tseb! Bluar!


“Hekrr!” pekik tertahan Kamboja Hua di dalam kurungan.


Kejadiannya begitu cepat.


Ketika Tikam Ginting berhasil mengelak, otomatis panah sinar itu masuk ke dalam Penjara Bola Cemburu dan langsung menusuk tembus dada Kamboja Hua, lalu terus menabrak dinding sisi dalam kurungan tersebut.


Setelah ditusuk tembus oleh panah sinarnya sendiri, Kamboja Hua harus terpental pula ke depan oleh daya ledak yang terjadi di belakangnya.


Kamboja Hua jatuh tanpa kata-kata lagi.


Set! Blar!


Sebelum, laksamana muda wanita itu mengembuskan napas terakhir, satu panah sinar hijaunya yang terakhir muncul dari perjalanannya.


Tikam Ginting yang menduga bahwa pertarungan telah usai dengan tumbangnya Kamboja Hua, terkejut. Dia tidak siap untuk menghindar.


Dengan cara semampu dirinya, dia berusaha menghindar dengan cara melompat mundur sejauh mungkin, sambil telapak tangan kanannya mengeluarkan selapis sinar hijau dari ilmu perisai Pertahanan Keutuhan Cinta.


Dalam posisi tubuh melesat mundur di udara, Tikam Ginting menangkis panah sinar dengan sinar hijaunya. Ledakan keras terjadi yang langsung mementalkan tubuh Tikam Ginting.


Tikam Ginting jatuh tepat masuk ke dalam salah satu Penjara Bola Cemburu miliknya yang kosong.


“Hoekh!” Tikam Ginting kembali muntah darah yang cukup banyak.

__ADS_1


Di Penjara Bola Cemburu yang lain, Kamboja Hua sudah tanpa ruh lagi. (RH)


__ADS_2