Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 8: Tawaran Janda Cantik


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


Anik Remas akhirnya menyempurnakan riasan wajahnya. Ia mematut dirinya di depan cermin kusam yang ada di meja riasnya.


Anik Remas sudah mandi sebersih-bersihnya, pakai air kembang dan sabun merek Putri Awan, sabun tanpa busa yang merupakan sabun khusus keluarga Istana. Anik Remas membeli sabun itu dengan harga mahal dari orang dalam Istana Baturaharja.


Ia pun telah mengenakan minyak wangi khusus wanita yang harumnya lembut dan memanjakan penciuman lelaki, bahkan bisa memancing ilustrasi bayang-bayang asmara. Saat itu ia mengenakan pakaian bagus warna biru terang, sewarna dengan permata biru-biru yang terpasang pada berbagai perhiasan emasnya. Baju pada bagian dadanya cukup terbuka, membuat leher dan sebagian dadanya yang bersih cemerlang terpampang higienis.


Anik Remas sendiri memiliki kamar yang cukup besar dan mewah, tapi tanpa perlengkapan elektronik. Di satu dinding kamarnya ada dua cambuk berwarna putih yang ditempel sebagai hiasan yang bagus.


Seorang wanita muda berpakaian putih dan berambut digelung, muncul di pintu kamar yang tidak tertutup. Pada bagian pinggangnya ada seutas cambuk berwarna putih melingkar.


“Ketua Empat, Bagang Kala sudah datang dan menunggu di depan,” ujar wanita itu melapor.


Anik Remas tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari duduknya dan agak mundur agar sebagian besar tubuhnya terbayang di dalam cermin.


“Gelisa, apakah aku sudah terlihat cantik?” tanya Anik Remas kepada pengawalnya itu.


“Memang dasarnya Ketua Empat adalah wanita yang cantik, tidak berdandan saja sudah cantik, apalagi berdandan,” puji pengawal yang bernama Gelisa itu, singkatan dari “geli-geli sayang”.


“Hihihi!” tawa Anik Remas senang. Karena dia sudah bukan gadis belia, jadi pujian itu tidak membuatnya tertawa malu, tapi sama-sama ada rasa bahagia.


Pujian cantik memang tidak mengenal kata jujur atau bohong. Nenek-nenek peot saja senang disebut cantik meski dia tahu itu bohong. Hal yang sama, wanita cantik pun senang dipuji cantik, meski dia tahu, tanpa dipuji pun dia tetap cantik.


“Tapi pada kenyataannya aku sekarang seorang wanita bekas. Ternyata kecantikan tidak menjamin lelaki akan melekat selamanya,” kata Anik Remas.


Gelisa hanya tersenyum mendengar perkataan junjungannya.


Anik Remas melangkah anggun dan berwibawa keluar dari kamarnya. Gelisa memberinya jalan, lalu ia mengikuti di belakang menuju ke depan rumah.


Mereka melewati pintu depan yang ternyata dijaga oleh dua orang lelaki berseragam putih. Pada pinggang keduanya ada cambuk putih yang melilit.

__ADS_1


Di teras yang luas, yang memiliki pagar bambu setinggi pinggang, tampak seorang pemuda tampan sedang berdiri membelakangi kedatangan Anik Remas dan Gelisa. Ia berdiri memandangi halaman rumah yang tanpa pagar dengan pemandangan sungai yang indah. Ada sejumlah lelaki berseragam putih yang berjaga.


Rumah itu memang besar dan termasuk mewah karena terbuat dari kayu-kayu kuat berkualitas.


Tidak jauh dari posisi pemuda itu berdiri, ada satu set kursi dan meja.


Melihat keberadaan pemuda berpakaian putih bertepian biru itu, Anik Remas tersenyum kecil sendiri. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, meski hanya dia yang tahu rasa itu.


Mendengar ada langkah kaki yang halus mendekat, pemuda itu lalu berbalik. Ketika melihat wajah dan sosok Anik Remas, pemuda itu terpukau yang membuatnya terpaku dengan mulut sedikit terbuka. Namun, dia cepat tersadar dan tersenyum kepada Anik Remas. Pemuda itu tidak lain adalah Bagang Kala.


Anik Remas semakin tersenyum manis, sebab ia bisa melihat ketertegunan Bagang Kala yang tersirep oleh pesona kecantikannya. Itu artinya ada pintu yang terbuka lebar di hati Bagang Kala.


“Cantik sekali. Baru kali ini aku melihat wanita secantik ini,” ucap Bagang Kala, tetapi di dalam hati. “Aku tidak boleh terpana, Guru sudah mengingatkan untuk tidak terjebak oleh wanita. Aku hanya sekedar berpura-pura, sampai aku tahu di mana para pembunuh itu berada.”


“Silakan duduk, Bagang Kala,” kata Anik Remas.


“Terima kasih, Ketua,” ucap Bagang Kala seraya mengangguk dan tersenyum. Ia lalu duduk setelah Anik Remas duduk di kursi yang lain, bukan pada kursi yang sama.


Sementara Gelisa berdiri agak jauh di belakang kursi Anik Remas. Ia tidak mau keberadaannya mengganggu selera ketuanya.


Meski saat itu Anik Remas sebagai Ketua Empat Perguruan Cambuk Neraka bisa melawan para pengeroyoknya, tetapi bantuan Bagang Kala sangat membantunya. Jangankan terbunuh, terluka pun dia tidak alami, kecuali sedikit lecet di tangan karena jatuh tersungkur bersama kuda di jalanan.


Dari tujuh orang pengeroyok, sebanyak tiga orang berhasil dibunuh oleh Bagang Kala dan empat lainnya lari menyelamatkan diri.


Bagang Kala dan Anik Remas pun berkenalan. Anik Remas bercerita kronologi kejadian sehingga ia sampai dikejar seorang diri. Ternyata sebelumnya, sepuluh murid perguruan yang mengawalnya tewas saat disergap.


Ketika Anik Remas menyebutkan bahwa dirinya adalah Ketua Empat dari Perguruan Cambuk Neraka, Bagang Kala terkejut. Namun, buru-buru dia pura-pura terbatuk untuk menunutupi keterkejutannya.


Melihat sosok Bagang Kala yang adalah seorang pendekar muda tampan dan lumayan sakti, ada rasa naksir yang tumbuh dadakan di sudut hati Anik Remas. Maklum janda.


Sore itu, mereka berdua tidak banyak bercakap, karena Bagang Kala ternyata pemalu. Maklum 15 tahun hanya hidup di hutan bambu dan tidak pernah lagi bertemu dengan yang namanya wanita. Kalau bertemu yang namanya betina sering, yaitu ayam piaraan gurunya yang beranak pinak.

__ADS_1


Ketika ditanya oleh Anik Remas, Bagang Kala hanya menjawab dengan jujur tapi terbatas. Ia mengaku baru hari itu diizinkan keluar dari hutan tempatnya berguru.


Karena hal itulah, Anik Remas menawari Bagang Kala untuk tinggal sementara di sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahnya.


Karena tahu bahwa Anik Remas adalah petinggi Perguruan Cambuk Neraka, Bagang Kala tidak mau banyak bicara dan banyak cerita. Namun, di dalam hati, Bagang Kala terpesona oleh kecantikan Anik Remas yang belum pernah ia lihat di dalam mimpi pun. Kini, jika ia sedang menghayalkan seorang wanita, ia sudah memiliki referensi, yaitu kecantikan Anik Remas.


Perasaan Bagang Kala saat itu melambai-lambai saat penciumannya menghirup aroma tubuh Anik Remas. Wangi itu dengan cepat menggoda pikirannya untuk berkhayal sesuatu yang sifatnya lebih pribadi.


“Bagian tubuh Anik Remas yang mana yang seharum ini?”


Itulah contoh salah satu ilustrasi yang tercipta di dalam otak lugu Bagang Kala. Ia tidak tahu dengan apa seorang wanita membuat harum tubuhnya.


“Bagang Kala, selagi kau belum memiliki tujuan yang pasti, aku menawarimu untuk bekerja sebagai pengawalku. Aku butuh pendekar kuat untuk menjadi pelindungku. Aku akan membayarmu nanti. Kau pun butuh uang untuk bisa bertahan hidup dengan mudah,” ujar Anik Remas.


Agak melebar sepasang mata Bagang Kala. Ia kemudian tersenyum canggung menyikapi tawaran tersebut.


“Eee …,” dengung Bagang Kala seolah berat atau sedang berpikir dan menimbang.


“Apakah kau tidak berminat?” tanya Anik Remas sambil agak memajukan badannya lebih mendekat kepada pemuda itu.


Tindakan wanita itu membuat sepasang mata Bagang Kala jadi kedap-kedip. Bagaimana tidak? Dirinya yang masih perjaka tong-tong disuguhi pemandangan indah bersifat pribadi dalam jarak yang sangat dekat. Mungkin, seorang resi pun akan tergoda ketika hidung dicucuk keharuman dan mata dihidangkan makanan pemanis.


“Ti-ti-tidak. Bu-bu-bukan seperti itu, Ketua,” jawab Bagang Kala mendadak gagap dengan arah pandangan tidak berani agak turun, meski pada ujungnya ia tetap memandang kecantikan wajah Anik Remas dengan begitu dekat. Lalu katanya begitu santun, “Aku hanya khawatir, ji-ji-jika pekerjaanku tidak bisa memuaskan, Ketua.”


“Oooh! Hihihi!” desah Anik Remas lalu tertawa merdu, karena ada sisipan nada-nada genit, meski tidak kental. Tawa itu jelas menunjukkan hati yang sedang senang.


Anik Remas menarik kembali badannya hingga punggungnya bersandar. Lega perasaan Bagang Kala, meski hatinya menyayangkan.


“Aku sudah sangat yakin dengan kemampuanmu, Bagang. Kesaktian? Kau memilikinya. Ketampanan? Kau sangat meyakinkan. Kejantanan? Tubuhmu yang kekar memberi penjelasan. Kebaikan? Aku sudah melihatnya pada dirimu. Dan kau lelaki yang baik kepada wanita, jadi aku merasa terlindungi jika kau ada di dekatku,” tandas Anik Remas.


“Baiklah, Ketua. Aku bersedia,” jawab Bagang Kala akhirnya.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Anik Remas. Bukan sekedar tawa biasa, tapi tawa bahagia yang disamarkan.


Bagang Kala pun tersenyum lebar seiring ada debar-debar di dalam hatinya. (RH)


__ADS_2