
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Langit mulai memutih di timur.
Pelabuhan itu terang benderang oleh api di tiga kapal. lima kapal yang sebelumnya terbakar hebat sudah karam ke dasar laut.
Kapal Bintang Hitam yang di atasnya ada Permaisuri Dewi Ara, Putri Mahkota Putri Keken, Tangan Kanan Seser Kaseser, Komandan Bengisan, Bong Bong Dut, serta dua tabib dan nahkoda bersama awaknya, bergerak pasti menuju pelabuhan utama.
“Sudah,” ucap Tabib Loang sambil menepuk dua kali kulit pinggul Bong Bong Dut yang selesai dibaluri ramuan.
“Terima kasih, Tabib,” ucap Bong Bong Dut sambil menaikkan kembali celananya.
Bong Bong Dut hanya bisa melirik kepada Tabib Zoang di dalam kegelapan. Ia harus ikhlas kecewa, karena awalnya dia berharap lukanya ditangani oleh Tabib Zoang. Namun, apa boleh buat, Tabib Loang yang lebih dulu memegang lukanya dan tanpa sungkan menyentuh pinggul berlemaknya.
Meski layar tidak berkembang, tetapi tim dayung kapal hitam itu bekerja kompak dan kuat dalam mendayung, membuat kapal melaju kencang siap menabrak dermaga utama.
Kepastian itu membuat para pemimpin prajurit segera memobilisasi pasukannya yang masih tersisa.
Pasukan panah segera siap dua saf di tepian dermaga. Berbeda dari sebelum-sebelumnya, kali ini mereka lebih tegang. Mungkin karena yang ingin mereka panah adalah pemimpin musuh, apalagi pemimpinnya itu seorang wanita cantik jelita tanpa peduli masalah usia.
Bukan hanya pasukan yang ada di dermaga yang bersiap menyambut kedatangan sang permaisuri, tetapi juga pasukan yang ada di Kapal Raja Karang.
Laksamana Galala Lio telah memerintahkah pasukan panah di kapalnya juga bersiap. Bukan hanya pasukan panah, tetapi ada tiga mesin panah jauh yang juga siap. Uniknya, ujung anak panah dari ketiga mesin panah itu adalah bola sinar hijau. Tentunya itu bukan panah biasa.
Berss!
Tiba-tiba ombak di depan kapal hitam naik menggunung lebih tinggi dan berlari lebih cepat menuju dermaga dan Kapal Raja Karang.
Kemunculan ombak besar itu jelas mengejutkan pasukan Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera. Mereka seolah-olah dipaksa melawan alam.
Set set set!
Sebelum pihak musuh menyerang, Seser Kaseser melepaskan tiga panah sinar biru ke sembarang arah. Laksamana Galala Lio dan pasukannya tidak mungkin hanya memandangi ke mana ketiga panah sinar itu pergi di saat musuh utama pun menyerang.
“Panaaah!” teriak Laksamana Galala Lio sebelum ombak besar menghantam mereka.
Set set set …!
Brusss!
__ADS_1
Namun, seiring semua pemanah melepaskan panahnya, ombak besar justru kian meninggi, seolah-olah disengaja, lalu menerkam seperti monster yang melahap.
Semua panah kecil terhadang oleh ombak yang sekaligus menghempas dermaga dan juga Kapal Raja Karang. Pasukan panah di dermaga dan di kapal terhempas porak poranda. Banyak yang jatuh ke laut.
Laksamana Galala Lio dan anggota Kekasih Laut cepat melompat mengudara seiring ombak besar menghempas kapal, sehingga mereka terhindar dari hantaman ombak. Kapal sendiri tidak karam atau terbalik, masih bertahan meski kemasukan banyak air.
Set set set! Blar blar blar!
Hanya tiga panah jauh yang bersinar hijau pada ujungnya bisa menerobos ombak dan melesat menyerang ke arah kapal hitam. Namun, dari arah lain, tiga panah sinar biru muncul kembali dan beradu mulut dengan ketiga panah jauh. Tiga ledakan keras terjadi di udara dan menangkal serangan panah.
Ada hal yang tidak diduga, para prajurit yang jatuh ke air, segera mendapat serangan dari para anggota bajak laut yang mempertahankan diri di dalam air.
Sementara di atas benteng, Keong Gelap dan rekan-rekannya mengeroyok Komandan Balit Lir yang ternyata cukup tangguh.
Awalnya, Lulug Ohe dan Kemangi Yom ingin naik ke benteng untuk membantu Komandan Balit Lir, tetapi karena kapal hitam datang mendekat, jadi mereka memutuskan menunggu di pelabuhan.
Brakr!
Akhirnya Kapal Bintang Hitam menabrak dermaga utama yang kokoh. Namun, kekuatan yang ada di haluan kapal bukan hanya kekuatan dari kuatnya dan cepatnya kapal, tetapi juga berbekal tenaga sakti milik Dewi Ara. Hasilnya, dermaga utama itu benar-benar hancur tanpa berefek kepada kapal.
Pecahan papan-papan lantai kapal sampai jatuh di depan kaki Lulug Ohe dan Kemangi Yom.
Bersamaan dengan tabrakan itu, dari atas Kapal Bintang Hitam melesat terbang sosok Putri Keken, Seser Kaseser, Komandan Bengisan dan Bong Bong Dut. Mereka berempat diterbangkan oleh Dewi Ara untuk mendarat di pelabuhan.
Set set set …!
Pada saat yang sama, Permaisuri Dewi Ara juga mengudara dengan segala kecantikan dan keanggunannya.
Inilah momentum yang ditunggu-tunggu oleh Laksamana Galala Lio dan istrinya, juga pasangan Kekasih Laut lainnya.
Laksamana Galala Lio, istrinya Liliur Poi, Waring Cin dan kekasihnya Cemuyu Angi, berkelebat berlari di udara dengan masing-masing kedua tangan membawa sinar hijau. Keempatnya menyongsong Dewi Ara dengan niat memusnahkan, meski sebenarnya hati Laksamana dan Waring Cin dilanda ketertarikan terhadap kecantikan yang langka itu.
Ses ses ses …!
Blar blar blar …!
Sebanyak delapan sinar hijau melesat menyerbu kedatangan Dewi Ara. Namun, ada dinding sinar merah bening yang melindungi tubuh Dewi Ara. Delapan ledakan keras terjadi pada lapisan luar dinding sinar dari ilmu Perisai Dewi Merah.
Wusss!
Dewi Ara mengganti perisainya dengan serangan angin dahsyat berhawa sangat panas kepada keempat lawan yang menghadang di pelabuhan.
__ADS_1
Seperti satu guru, keempatnya menantang angin panas itu dengan cara yang sama, yakni dua perisai sinar hijau di kedua telapak tangan.
Keempat orang sakti itu berlindung di balik dua perisainya masing-masing sambil mengerenyitkan wajah karena menahan panas yang membakar.
Hasilnya sungguh merugikan keempat orang itu. Sebagian dari rambut di wajah dan kepala mereka terbakar oleh api yang menyala. Bahkan ada pakaian mereka yang terbakar.
Masih untung angin panas Napas Murka Dewi Ara segera berakhir, sehingga mereka buru-buru memadamkan api di kepala dan pakaian mereka. Namun kemudian, penampilan Laksamana Galala Lio dan istrinya demikian lucu karena alis dan sebagian kepala mereka botak terbakar.
Kondisi yang sama dialami oleh Waring Cin dan Cemuyu Angi. Kondisi itu jelas membuat mereka gusar bukan main kepada Dewi Ara yang telah berdiri dingin lima tombak di depan mereka.
“Heaaa!” teriak Cemuyu Angi yang melesat maju lebih dulu dengan kedua tangan membawa sinar hijau yang lebih besar dari sebelumnya.
Bag!
“Hekh!” keluh Cemuyu Angi saat satu kekuatan menghantam dadanya tanpa terlihat.
Tahu-tahu Cemuyu Angi terlempar mundur dan jatuh di lantai pelabuhan.
Melihat kekasihnya dipentalkan, semakin lengkap alasan bagi Waring Cin untuk mengamuk.
“Hiaaat!” teriak Waring Cin panjang sambil meliukkan pinggangnya dengan kedua tangan di atas. Dia bukan bermaksud menari karena marah, tetapi ingin mengeluarkan ilmu tertingginya.
Wursss!
Tubuh Waring Cin diselimuti sinar merah dari pinggang ke atas.
“Panah Hitam!” kata Laksamana Galala Lio kepada istrinya.
Maka mereka berdua pun menyiapkan ilmu Panah Hitam.
Wursss!
Waring Cin mengibaskan kedua tangannya, membuat sepusaran sinar merah melesat dari kedua tangannya langsung menyerang Dewi Ara.
Kali ini Dewi Ara memilih menghindar dengan naik mengudara, membuat pusaran sinar merah Waring Cin menghancurkan ujung dermaga yang sudah hancur. Di sana sudah tidak ada kapal hitam karena sudah meninggalkan pelabuhan kembali ke perairan.
Set set!
Pada saat Dewi Ara menghindar, Laksamana Galala Lio dan Liliur Poi melepaskan panah gaib. Maka energi berwujud panah hitam melesat menyerang Dewi Ara yang mengudara dengan cepat. Dewi Ara membentengi dirinya dengan ilmu Perisai Dewi Merah.
Blar blar!
__ADS_1
Dua ledakan keras terjadi. Meski benteng sinar merah Dewi Ara tidak hancur, tetapi tubuh permaisuri itu terpental jauh ke arah laut. (RH)