
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Arda Handara dan Sulin Mamas berada berdua di tengah-tengah panggung yang biasa digunakan oleh murid-murid Perguruan Cambuk Neraka adu tanding. Namun, pada malam itu suasananya hening karena orang-orang perguruan sedang berpusat mengurus jenazah kerabat besar mereka untuk segera dimakamkan.
Panggung adu tarung itu diterangi oleh empat obor besar yang tinggi berdiri di empat sisi panggung yang berbentuk bidang lingkaran besar. Pada tiga arah sekeliling panggung ada tribun kayu yang membentuk letter C.
Sulin Mamas membawa sejumlah makanan yang dia ambil dari dapur umum, selain untuk mereka makan berdua seperti sepasang kekasih yang sedang makan malam di luaran, makanan itu juga akan diberikan kepada si bajing piaraan Arda Handara.
“Ini namanya Brojol. Aku mengangkatnya menjadi anak pungut karena majikannya yang jahat sedang dipenjara,” kata Arda Handara memperkenalkan si bajing kepada Sulin Mamas.
“Seharusnya dia dibiarkan menemani majikannya di penjara,” kata Sulin Mamas.
“Brojol tidak mau. Dia memilih ikut aku setelah aku tembak. Hahaha!” kata Arda Handara.
“Kau tembak pakai apa?” tanya Sulin Mamas.
“Pakai ketapel Ki Ageng Naga,” jawab Arda Handara apa adanya.
“Mana ketapelnya?” tanya Sulin Mamas.
“Tidak boleh kau lihat, nanti kau memintanya,” tolak Arda Handara.
“Mana mau aku dengan ketapel. Aku punya cambuk api yang lebih hebat.”
“Mana?”
“Ada di rumahku.”
“Pasti itu punya ayahmu. Jika milikmu, pasti bisa kau bawa ke mana-mana.”
“Itu cambuk pusaka, jadi tidak boleh sembarangan dibawa ke mana-mana.”
“Ini namanya Uyut-Uyut,” kata Arda Handara kembali memperkenalkan binatang piaraannya yang bersinar jingga di kala malam. Ulat bulu senja itu tengkurap nyaman di punggung tangan si bocah.
“Iiih!” pekik Sulin Mamas sambil mundur duduknya. “Itu ulat bulu!”
“Iya, ini ulat bulu, tapi namanya Uyut-Uyut!” tandas Arda Handara.
“Sudah, simpan saja. Biarpun dia indah, tetapi membuat ketiakku merinding!”
“Hahahak!”
__ADS_1
Arda Handara pun menyimpan uyut-uyutnya kembali sambil tertawa.
“Kemarikan cabai itu, Brojol pasti senang!” pinta Arda Handara.
Sulin Mamas memang membawa secomot cabai yang ia makan sebagai teman ubi rebus. Ia memberikan sejumlah cabai rawit kepada Arda Handara.
Cabai-cabai itu lalu ia sodorkan melalui celah-celah teralis sangkar. Ternyata, Brojol mau memakannya. Namun, baru saja memakan dua biji, Brojol langsung kepedasan dan bertingkah panik karena tidak ada air mineral di dalam sangkarnya.
“Hahahak! Suling, lihat, Brojol kepedasan. Hahahak!” tawa Arda Handara.
“Dasar kau, Arda. Tega-teganya kau memberinya cabai. Aku saja kepedasan, apalagi anak pungutmu itu!” kata Sulin Mamas.
“Hahahak!” Arda Handara hanya tertawa terus sambil memegangi perutnya menyaksikan derita yang dialami oleh Brojol. “Cepat ambil wedang panas! Hahaha!”
“Dia akan semakin tersiksa jika diberi wedang jahe panas. Aku akan mengambilkannya kopi dingin!” kata Sulin Mamas.
“Buruan, aku menunggu di sini!” kata Arda Handara.
Sulin Mamas lalu segera beranjak berlari pergi meninggalkan Arda Handara bersama Brojol yang masih belum tenang. Arda Handara benar-benar menjahili Brojol yang mau saja disuapi cabai rawit.
Sambil menunggu, Arda Handara memakan semua makanan yang ditinggal oleh Sulin Mamas.
Namun, ketika si gadis kecil datang dengan membawa segelas kopi dingin, ia tidak menemukan keberadaan Arda Handara. Namun, Brojol dan sangkarnya masih ada di tengah panggung.
Gadis cantik itu lalu mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan Arda Handara.
Setelah menengok ke sana dan ke sini, Sulin Mamas akhirnya melihat bayangan biru di dalam kegelapan di bawah tribun. Sosok anak kecil itu memunggungi arah pandangan Sulin Mamas. Arda Handara memang mengenakan baju berwarna biru terang.
“Itu dia. Sedang apa anak pendek itu?” ucap Sulin Mamas penasaran.
Gadis kecil itu segera meletakkan gelas kopinya begitu saja di lantai panggung, lalu ia pergi berlari mendatangi sosok yang ia yakini adalah Arda Handara.
Semakin mendekati sosok di dalam kegelapan kolong bawah tribun, Sulin Mamas semakin yakin bahwa itu adalah Arda Handara yang sedang mengintai sesuatu.
“Hei!” panggil Sulin Mamas sambil menepak bahu Arda Handara.
“Ssst!” desis Arda Handara sambil menengokkan wajahnya kepada Sulin Mamas.
“Ak!” pekik tertahan Sulin Mamas saat melihat wajah Arda Handara yang penuh cahaya redup warna jingga.
Entah apa yang ada di pikiran Arda Handara sehingga punya ide memenuhi wajahnya dengan ulat bulu senja, membuatnya terlihat seperti setan atau makhluk lain.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sulin Mamas sambil menepak keras punggung Arda Handara karena kesal dibuat kaget.
__ADS_1
“Aku menutupi wajahku agar tidak terlihat oleh orang yang mencurigakan itu,” jawab Arda Handara berbisik lalu menunjuk jauh ke depan.
“Justru itu akan membuatmu gampang terlihat, karena wajahmu jadi bersinar,” bisik Sulin Mamas pula.
“Eh iya ya. Hehehe!” ucap Arda Handara lalu tertawa cengengesan.
Pangeran kecil itu lalu mencomoti para ulat bulunya dari wajah dan meletakkannya di balik baju bagian belakang.
“Ulat bulumu banyak sekali,” kata Sulin Mamas seraya mengerenyit.
“Itu pasukanku jika ada perempuan jahat kepadaku,” jawab Arda Handara.
“Kau mengintai siapa, Arda?” tanya Sulin Mamas penasaran.
“Kau lihat di bawah pohon sana, yang ada di dekat pohon besar satunya,” tunjuk Arda Handara.
Sulin Mamas pun memfokuskan pandangannya ke arah yang dimaksud Arda Handara.
Mereka melihat ada dua orang sedang bertemu dan bercakap-cakap di bawah sebatang pohon. Namun, gelapnya area itu membuat kedua orang dewasa itu terlihat hanya seperti bayangan.
“Kita terlalu jauh,” kata Sulin Mamas.
“Ayo kita maju lagi,” ajak Arda Handara sambil main rangkul bahu Sulin Mamas yang lebih tinggi begitu saja.
Namun, ternyata Sulin Mamas tidak keberatan diperlakukan demikian. Otaknya masih bersih dari urusan cinta lutung. Berbeda dengan Arda Handara yang sudah bisa memikirkan rumah tangga bagi Brojol dan Uyut-Uyut.
Keduanya mengendap-endap di dalam kegelapan meninggalkan kolong tribun. Mereka bergerak senyap mendekati area bawah pohon.
Mereka kemudian berhenti dan bersembunyi di balik tumpukan potongan kayu-kayu. Dari tempat itu mereka berdua bisa melihat sedikit lebih jelas dua sosok lelaki dewasa.
Meski terlihat hanya berupa bayangan hitam, tetapi terlihat jelas bahwa pertemuan kedua lelaki di bawah pohon diakhiri dengan satu transaksi. Satu dari mereka memberikan sebuah benda kepada lelaki berambut gondrong. Setelahnya, keduanya berpisah tanpa lambaian tangan.
“Bagaimana, mereka berpisah?” tanya Sulin Mamas.
“Kau ikuti orang yang menuju ke dalam, aku mengikuti orang yang menuju ke luar perguruan,” atur Arda Handara.
“Iya.”
“Hati-hati, jangan sampai tertangkap. Jika kau tertangkap, aku tidak akan menolongmu, Suling,” kata Arda Handara.
“Iya.”
Sulin Mamas segera bergerak berlari pelan dan senyap mengikuti lelaki dewasa yang berambut pendek. Sementara Arda Handara mengikuti lelaki yang diberi sesuatu tadi. Ia segera mencabut ketapel Ki Ageng Naga. (RH)
__ADS_1