
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Permaisuri Dewi Ara memang percaya bahwa Arda Handara akan baik-baik saja di tangan kakaknya, terlebih kakaknya tidak memiliki alasan untuk menyakiti anak itu. Namun, ketidakadaan sang putra tersayang di dekatnya atau di dalam jangkauan radar kesaktiannya, tetap membuat wanita sakti itu tidak bisa memejamkan mata di tengah malam.
Akhirnya Dewi Ara memilih keluar dari kamarnya yang kini gratis karena sudah dijamin biayanya oleh Syahbandar Santra Buna.
Mendengar pintu kamar junjungannya terbuka, Tikam Ginting yang berdiri bersandar di dinding depan kamar, tapi tertidur, jadi terbangun tanpa menunjukkan keterkejutan.
“Dewi, mau ke mana?” tanya Tikam Ginting.
“Kau tidurlah di dalam, tidak perlu menjagaku. Aku tidak bisa tidur,” kata Dewi Ara.
“Aku akan mengawal Dewi,” kata Tikam Ginting sambil melangkah hendak mengikuti junjungannya.
“Apa yang aku perintahkan?” tanya Dewi Ara tanpa berpaling kepada Tikam Ginting.
“Baik, Gusti,” ucap Tikam Ginting akhirnya sambil berhenti melangkah.
Tikam Ginting lalu berbalik dan pergi masuk ke kamar Dewi Ara. Sementara Dewi Ara pergi ke pintu balkon.
Wuss!
Ketika dua daun pintu dibuka tanpa sentuhan, angin laut langsung menyeruak masuk mengibarkan rambut dan pakaian Dewi Ara.
Brak!
Saat Dewi Ara sudah berada di balkon lantai tiga itu, pintu kembali tertutup tanpa terlihat ada yang menutup, memberi kesan horor di malam yang dingin itu.
Dewi Ara berdiri memandang jauh ke dalam kegelapan lautan. Suara debur ombak yang menghantam tanggul di laut sana dan yang menghantam lembut di bawah lantai papan pelabuhan, menjadi musik alam yang nyaring di kala keramaian manusia tidak terdengar.
Di beberapa kapal besar yang berlabuh, menyala sejumlah lampu kecil.
“Hahahak!”
Terngiang suara tawa terbahak Arda Handara di telinga Dewi Ara. Seolah-olah bocah jahil itu sedang bermain di antara gulungan ombak yang hitam kelam. Namun, itu hanya ilusi belaka.
Dewi Ara lalu memutuskan mengudara hingga melewati pagar balkon. Dia kemudian melayang turun dengan ringan ke depan pintu utama penginapan yang selalu terbuka 24 jam.
Dua orang penjaga yang tidak tidur hanya bisa mendelik karena agak terkejut oleh kemunculan sosok wanita berpakaian merah gelap.
“Aku kira hantu lautan,” ucap salah satu dari penjaga itu kepada rekannya dengan berbisik, setelah dia mengenali siapa sosok wanita tersebut.
“Husy!” hardik rekannya sambil melototi rekannya. Matanya seakan berkata, “Jangan cari penyakit!”
__ADS_1
Hanya dalam beberapa jam saja, Dewi Ara menjadi populer di kalangan para keamanan Kota Bandakawen, termasuk di kalangan personel keamanan para pengusaha.
Kemunculan Dewi Ara di pelabuhan yang hanya sebentar ketika mengejar putranya, ditambah pembunuhannya terhadap Ketua Kelompok Ronggo Keling, membuat Dewi Ara seketika menjadi buah bibir, bukan buah anggota tubuh yang lain.
Kematian Putri Tompel memang berhasil membuat Rowo Kejang dan anggota Ronggo Keling yang tersisa menarik diri dari Kota Bandakawen.
Dewi Ara melangkah pergi meninggalkan depan penginapan. Dia tidak memilih untuk menikmati kegelapan laut di malam itu, tetapi memilih untuk pergi ke pusat kota.
Jalanan pusat kota yang berlapis lempengan batu rata terlihat indah di malam itu. Pada sisi-sisi jalan ada tiang lampu minyak yang dikurung dinding kertas khusus, sehingga apinya tidak berjoged ketika angin laut menerpa. Lampu boleh bergoyang, tapi api haram menari erotis.
Sesekali sampah terbang tertiup angin kencang, memberi seni lukis yang hidup. Maklum, di masa itu belum ada penghargaan adipura untuk kota paling bersih. Sampah pun masih kebanyakan dedaunan kering, belum ada sampah plastik atau sampah popok bayi, apalagi popok lansia.
Di kala malam, pemandangan pusat kota lebih indah dibandingkan pantai dan lautan.
“Hahaha!”
“Hihihi!”
Namun, pada satu area yang penerangannya remang-remang, ada suara tawa laki-laki dan wanita. Nada tawa si lelaki terdengar nakal, sementara tawa si wanita begitu genit dan manja.
Bukan hanya satu lelaki, tapi empat lelaki. Bukan hanya satu wanita, tetapi lima wanita. Mereka berkumpul di bawah penerangan satu lampu minyak di depan sebuah toko yang sudah tutup. Mereka duduk melingkar dengan posisi satu lelaki memangku dan merangkul satu wanita. Sementara satu wanita lainnya duduk di lantai pinggir jalan, di tengah-tengah lingkaran. Wanita yang tidak dapat jatah pelukan lelaki itu, melayani menuangkan tuak ke gelas-gelas bambu para lelaki yang terus tertawa-tawa, sambil sesekali menciumi leher wanitanya dan tangannya rajin bermain kendi dan perosotan.
“Aw! Pelan-pelan sayang, jarimu kapalan semua. Nanti kalau lecet, bisa menangis siang malam diriku,” kata salah satu wanita yang tubuhnya menjadi area penjelajahan ekspedisi lima jari.
“Maklum, tangan para pelaut sejati, tiap hari menarik jangkar dan membelai ikan berduri. Hahaha!” kata lelaki yang tangannya suka menjelajah ke area lembah bercelah. Ia berbicara bahasa lokal dengan aksen yang aneh, seperti orang yang tidak fasih berbicara. Itu lantaran dia memang bukan orang pribumi atau negeri sekitar.
Dewi Ara yang mendengar dialog-dialog cabul itu bergeming. Dia terus berjalan tanpa mengindahkan kelompok lelaki berwajah negeri asing dan para wanita, yang memang adalah penghibur dan pemuas lelaki yang haus belaian dan kenyotan.
Dewi Ara lewat begitu saja yang tidak terlalu jauh dari posisi para penikmat asmara gelap itu.
Meski para lelaki itu mabuk, tetapi mereka masih memiliki kesadaran sebanyak 90 persen.
“Hei hei hei!” ucap lelaki besar berambut pirang dan berhidung besar lagi mancung. “Lihat itu!”
Lelaki yang juga kedua alisnya berwarna kuning itu, menunjuk ke arah Dewi Ara yang nyaris berlalu.
Ketiga teman si lelaki cepat menengok ke arah sosok Dewi Ara yang menyampingi posisi mereka.
“David, wanita itu sangat cantik!” pekik lelaki kurus berhidung mancung seperti paruh burung kakektua. Namun, dia berbicara bahasa asing yang tidak dimengerti oleh para wanita malam dan Dewi Ara sendiri.
“Wellam, jika kau berani menariknya ke mari, aku akan memberimu sekantong kepeng perak yang aku punya,” tantang lelaki besar berambut pirang yang tadi disebut bernama David.
“Oh, tidak masalah. Hahaha!” kata Wellam lalu tertawa.
__ADS_1
Wellam lalu mendorong wanita dalam pelukannya agar bangun dari pangkuannya. Lelaki itu segera berdiri. Maka terlihatlah bahwa dia begitu jangkung untuk ukuran orang Tanah Jawi.
“Hei, Nisanak!” teriak Wellam cukup keras memanggil Dewi Ara. Aksennya benar-benar terdengar aneh di telinga Dewi Ara, bahkan terkesan lucu.
Panggilan itu membuat Dewi Ara berhenti melangkah. Ia menengok kepada Wellam yang berjalan agak sempoyongan ke arahnya. Para lelakai asing itu memang sedang mabuk. Terlihat lelaki berpakaian dekil dan tebal itu menyandang pedang di pinggang kirinya.
“Hei, Cantiiik!” sapa Wellam sambil tangan panjangnya berusaha meraih bahu Dewi Ara.
Tak!
“Aaakk!” jerit panjang Wellam saat satu jari tangannya disentil oleh Dewi Ara. Jeritan itu tidak menggunakan bahasa asing, sebab Dewi Ara mengerti bahwa orang itu sedang kesakitan.
Jerit kesakitan Wellam membuat ketiga rekannya dan para wanita malam itu terkejut.
Buk!
“Akk!” erang Wellam lagi saat tubuh jangkungnya terduduk di lantai jalanan, setelah satu kekuatan tanpa wujud mendorongnya.
“Dia wanita berbahaya!” seru David marah, dengan bahasa ibunya. Ia mencabut pedang lebih dulu yang diikuti oleh kedua rekannya.
Terlihat jelas bahwa para lelaki itu bertubuh besar-besar. Semuanya serba besar. Bahkan pedang mereka yang dihunus tergolong pedang besar, berbeda dengan model pedang buatan empu-empu Tanah Jawi.
Set!
Tiba-tiba satu sekilatan sinar kuning tipis melengkung lewat dalam sekejap mata. Hebatnya, Dewi Ara tidak melihat awal kemunculan sinar yang menyerang David dan kedua rekannya.
Duk duk duk!
Kejap berikutnya, tiga biji kepala berambut jatuh ke lantai jalanan, satu bahkan menggelinding beberapa kaki. Jatuhnya tiga kepala itu terjadi di saat ketiga badannya masih berdiri, meski tidak lama kemudian bertumbangan.
“Aaak …!” jerit kencang kelima wanita malam setelah yakin bahwa yang mereka lihat jatuh adalah tiga kepala dari lelaki yang baru saja mereka layani tangan dan bibirnya. Terlebih mereka melihat darah keluar dari potongan leher seperti air mancur.
Para wanita itu segera berlarian terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.
“Haaa …!” jerit histeris Wellam saat melihat ketiga rekannya sudah menjadi mayat yang terpisah kepalanya dari leher.
Wellam berlari sempoyongan, bahkan sekali ia jatuh tersungkur. Kemudian bangkit lagi dan berlari menuju ke arah pelabuhan.
Sementara itu, Dewi Ara mengalihkan pandangannya ke arah ujung jalan di depan sana.
Di bawah tiang lentera minyak, ada seorang lelaki berambut panjang terurai sedang berdiri. Bentuk otot badannya yang tidak berbaju menunjukkan bahwa orang bercelana putih itu adalah lelaki, meski rambut lurusnya seperti rambut wanita yang sesekali berkibar tertiup angin laut.
Dewi Ara bisa merasakan bahwa lelaki yang belum terlalu jelas terlihat wajahnya itu membawa aura membunuh. Sorot matanya kepada Dewi Ara begitu tajam, meski tidak setajam komentar netizen. (RH)
__ADS_1