
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Empat lawan tiga, itulah yang terjadi pada pertemuan antara Katak Songong, Borok Bentol, Talas Sewot, dan Tarik Cebong dengan Jangka Kolor yang dikawal oleh Kucang Tongol dan Balak Molor.
Dengan kekuatan tiga lawan empat, jelas di atas kertas kelompok Pasukan Beruang Biru lebih unggul. Hal itu membuat Katak Songong dan rekan-rekannya semakin optimis akan unggul. Namun, Jangka Kolor sudah memiliki strategi untuk pertemuan itu, berapa pun lawan yang akan mereka songsong.
Dari arah utara, empat penerbang Pasukan Beruang Biru melesat kencang. Demikian pula dari arah selatan, tiga penerbang Pasukan Domba Merah melesat kencang dengan kecepatan yang seimbang. Laksana dua pasukan kecil yang siap bertemu di medan perang, semua penerbang telah menggenggam bola warna merah, untuk memastikan dengan satu timpukan lawan akan langsung jatuh.
Ketika jarak kedua kelompok itu tinggal sejauh dua lemparan biji durian, tiba-tiba ….
“Lakukan!” teriak Jangka Kolor keras.
Set set set!
Tiba-tiba Jangka Kolor bersama Kucang Tongol dan Balak Molor menambah kecepatan tongkatnya dengan kecepatan maksimal, tetapi arah terbang mereka berubah seperti melakukan manuver formasi. Jangka Kolor tiba-tiba terbang menanjak tinggi lewat di atas kepala rombongan Katak Songong.
Sementara Kucang Tongol dan Balak Molor melakukan lesatan terbang saling menyilang bertukar posisi tanpa bertabrakan.
“Belelele!” kejut Katak Songong dan ketiga rekannya.
Perubahan kecepatan dan arah terbang yang mendadak membuat Katak Songong terkejut dan dibuat agak bingung. Perhatian mereka jadi terpecah, antara Jangka Kolor yang terbang ke atas atau kepada dua musuh yang bergerak berpola ular saling menyilang, tapi siap menabrak di tengah-tengah mereka.
Set set set! Dak! Bdak!
“Akh!” jerit Borok Bentol saat dadanya terhantam satu bola merah yang datang dari sisi atas depan.
“Akh!” pekik Balak Molor dan Talas Sewot bersamaan karena mereka saling bertabrakan.
Posisi di atas membuat Jangka Kolor dengan mudah menemukan target empuk. Jangka Kolor terus terbang jauh, sementara Borok Bentol terjengkang lepas dari tongkatnya, membuatnya meluncur jatuh.
Pada saat yang bersamaan, Balak Molor dan Talas Sewot yang bertabrakan juga terlempar lepas dari tongkatnya dan meluncur jatuh menuju ke lautan kapas.
__ADS_1
Sementara Kucang Tongol yang lewat dengan cepat di tengah-tengah rombongan Pasukan Beruang Biru bisa lolos dengan selamat. Dua bola merah yang dilempar oleh Katak Songong dan Tarik Cebong kepadanya, semuanya meleset.
“Borok Bentol Pasukan Beruang Biru guguuur!” teriak Hakim Langit. Lalu lanjutnya lagi, “Talas Sewot Pasukan Beruang Biru guguuur! Balak Molor Pasukan Domba Merah guguuur!”
“Yeaaah!” teriak bersorak para pendukung Pasukan Domba Merah karena penerbang musuh gugur lebih banyak.
Teriakan Hakim Langit itu jelas mengejutkan Galang Ocot dan rekan-rekannya, karena baru saja pertandingan dimulai, dua rekan mereka sudah gugur.
Dengan wajah marah, Katak Songong dan Tarik Cebong menengok ke belakang. Dilihatnya, ternyata Jangka Kolor dan Kucang Tongol terus melesat terbang ke arah posisi Bujang Cendol yang sedang mengejar Cumi Bentol selaku penerbang pengumpan.
Melihat hal itu, terkejutlah Katak Songong dan Tarik Cebong.
“Cepat putar balik, Cebong!” teriak Katak Songong sambil cepat terbang memutar lebih dulu.
Keduanya cepat berputar arah dan terbang secepat mungkin mengejar Jangka Kolor dan Kucang Tongol yang jelas menargetkan Bujang Cendol.
Bujang Cendol sendiri yang mengetahui Jangka Kolor dan Kucang Tongol mendekat dengan cepat ke arahnya, berubah panik. Jelas dia tidak mungkin menghadapi dua penerbang yang datang dari samping. Jika ia maju cepat pun, di depan sana ada Cumi Bentol yang juga terbang sambil sesekali menengok ke belakang. Mundur tidak mungkin. Terbang ke samping kanan pun tidak mungkin karena itu udara di atas tribun.
Karena posisinya terpojok, jalan terbaik menurut Bujang Cendol adalah terbang tinggi ke atas. Ia pun menarik kepala tongkat terbangnya mendongak, membuatnya terbang naik melangit.
Katak Songong dan Tarik Cebong terus berusaha mengejar Jangka Kolor dan Kucang Tongol untuk menyelamatkan Bujang Cendol. Namun, jarak mereka dengan Jangka Kolor lebih jauh dibandingkan dengan jarak Jangka Kolor dengan Bujang Cendol.
“Habisi Cendol! Habisi Cendol!” teriak para pendukung Pasukan Domba Merah sangat bersemangat.
Menariknya, Jangka Kolor dan Kucang Tongol mengejar dengan gerakan seperti ulir bor.
Set set set!
Sebagai bentuk paniknya karena Jangka Kolor dan Kucang Tongol kian dekat di bawahnya, Bujang Cendol melakukan tiga lemparan bola merah ke belakang atau ke bawah. Namun, tidak ada yang mengenai sasaran.
Tidak mungkin terbang lurus ke langit terus, sampai-sampai para penonton merasa silau oleh kecerahan langit.
Akhirnya, Bujang Cendol berbelok dan terbang horizontal.
__ADS_1
“Kenaaa!” teriak para penonton pendukung Pasukan Domba Merah serentak, ketika tahu-tahu Cumi Bentol datang mendekati Bujang Cendol dari samping.
“Belelele!” kejut Bujang Cendol melihat kedatangan Cumi Bentol yang tahu-tahu sudah sangat dekat.
Dak!
“Akk!” pekik Bujang Cendol ketika satu bola hijau menghajar pelipisnya dengan sangat keras.
Kepanikan dan fokus terhadap kedua pengejarnya, membuat Bujang Cendol tidak menyadari pergerakan dari Cumi Bentol yang dia pikir masih berada di area bawah.
Bujang Cendol pun meluncur deras dari posisi yang begitu tinggi menuju lautan kapas.
“Wooow!” desah para penonton berjemaah sambil mendongak dan perlahan menurunkan wajahnya mengikuti arah jatuh Bujang Cendol.
“Bujang Cendol Pasukan Beruang Biru guguuur!” teriak Hakim Langit.
Pengumuman itu kembali membuat enam personel Pasukan Beruang Biru terkejut, terutama Galang Ocot. Begitu cepat anggota mereka berguguran.
“Apa yang terjadi dengan Pasukan Beruang Biru, kenapa mereka begitu mudahnya dijatuhkan satu per satu?” tanya Raja Titah Bang-or yang juga terkejut melihat performa pasukan juara bertahan itu. Dia memang menjagokan Pasukan Beruang Biru.
“Hamba rasa, itu karena Kapten Galang Ocot terbawa dendam terhadap penerbang baru, sehingga dia melupakan tanggung jawabnya sebagai kapten. Sementara Pasukan Domba Merah memiliki penerbang baru yang cerdas,” jawab Gubernur Ilang Banyol. Lalu tambahnya, “Penerbang baru itu seorang pangeran, Paduka Raja.”
“Belelele! Seorang pangeran?” kejut Raja Titah Bang-or dan Permaisuri Mekar Ni-or.
“Babi-or!” sebut Raja Titah Bang-or.
“Iya, Ayahanda Raja,” sahut wanita bercadar merah muda dan bergaun merah muda pula. Sepasang matanya begitu bening dengan bulu yang lentik dan sekitar lingkar mata berwarna jingga kejingga-jinggaan. Matanya saja begitu cantik. Rambutnya ditata rapi dengan sanggul dan asesoris menarik. Wanita cebol bercadar itu adalah Putri Babi-or, salah satu putri Raja Titah Bang-or dan Permaisuri Mekar Ni-or.
“Apakah kau tidak tertarik dengan penerbang baru itu? Bagaimana jika kau Ayahanda jodohkan dengannya? Dia tampan, cerdas dan seorang pangeran,” tanya Raja Titah Bang-or menawarkan.
Mendengar tawaran sang raja kepada putrinya itu, membuat Gubernur Ilang Banyol terkejut. Meski belum sah, tetapi Arda Handara sudah menjadi calon menantunya. Namun, apa hendak dikata, tidak mungkin dia memblokir keinginan rajanya, terlebih Arda Handara belum resmi sebagai menantunya.
“Aku menggemari dan mengagumi Galang Ocot. Aku mau dijodohkan dengan pangeran itu jika dia bisa menggugurkan Galang Ocot,” jawab Putri Babi-or.
__ADS_1
“Baiklah, kita akan lihat hasilnya sebentar lagi,” kata Raja Titah Bang-or.
Gelisahlah Gubernur Ilang Banyol. Ia jadi berharap Arda Handara kalah dari Galang Ocot agar Putri batal mau dijodohkan. (RH)