
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Dalam kondisi kedua tangan terbelenggu oleh tali sinar ungu di belakang punggung, Gandang Duko kini berlutut di sebuah lantai, beberapa tombak di depan tangga batu.
Di atas tangga lima undakan itu ada lantai lebar yang memiliki satu kursi kayu hitam berukir. Duduk di atasnya Selir Kedua yang berjubah putih. Dia adalah ibu kandung Gandang Duko yang menjabat sebagai Tetua Penghukum.
Di belakang Tetua Penghukum masih ada tangga batu yang naik ke atas dengan tinggi sepuluh undak. Di atasnya ada kursi kayu yang lebih besar bercat kuning emas.
Di kursi itu duduk seorang wanita cantik tapi berusia separuh abad lebih sembilan tahun. Jubah merah terangnya jelas membuat sosoknya mudah menjadi pusat perhatian, terlebih posisinya yang paling tinggi. Rambutnya ditata rapi dengan hiasan tiara emas permata di kepala. Anting-antingnya berkilau, demikian pula lehernya yang berhias beberapa jenis kalung mutiara. Bibirnya merah terang dengan kelopak mata berwarna ungu kejingga-jinggaan.
Wanita itulah yang bernama Ratu Bunga Petir, pemimpin tertinggi Pulau Tujuh Selir. Nama aslinya jarang ada yang mengetahui. Begitu sakralnya kedudukannya, membuat nama aslinya jarang disebut dan hanya orang-orang penting yang tahu dan boleh menyebutnya.
Namun, ada dua kursi kecil di sisi kanan dan kiri kursi besar sang ratu. Di sebelah kanan diduduki oleh seorang gadis tanggung, tapi tidak tanggung-taanggung kecantikannya. Gadis berpakaian warna putih tanpa warna kuning telur itu bernama Sinai Kalbu, yang memiliki gelar kehormatan yang juga menjadi kedudukannya saat ini, yaitu Dewi Petir. Salah satu syarat untuk menjadi Dewi Petir adalah memiliki kecantikan yang tidak tanggung-tanggung. Kecantikan Sinai Kalbu memang begitu segar dan cemerlang.
Sementara di kursi sebelah kiri diduduki oleh seorang anak perempuan berusia kisaran masih di bawah tiga belas tahun. Anak perempuan yang juga berkecantikan tidak tanggung-tanggung itu tidak lain adalah Mimi Mama, mantan Pembunuh Kedua dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas.
Di lantai bawah yang sejajar dengan Gandang Duko, ada tiga kursi besar lain di sisi kanan dan tiga kursi di sisi kiri. Dua set tiga kursi itu posisinya saling berseberangan dan berhadapan.
Kursi pertama diduduki oleh seorang wanita berusia tua, tapi tidak setua-setuanya. Ia berjubah hitam dengan hiasan sulaman perak. Dia Selir Pertama yang bergelar Tetua Dewi Perisai Alam. Dialah yang mengendalikan keamanan pulau.
Kursi kedua diduduki oleh seorang wanita agak gemuk berpipi bakpao. Meski pipinya sudah mulai kendur, tetapi ia memiliki hidung yang cantik. Bisa dipikirkan sendiri seperti apa itu hidung yang cantik. Rambutnya disanggul dengan hiasan ring emas. Ia berjubah putih polos tanpa embel dan ember. Dia adalah Selir Ketiga yang bergelar Tetua Ibu Pulau. Gelar itu diberikan karena kedekatannya kepada generasi kecil Pulau Tujuh Selir.
Kursi ketiga kosong. Orang yang berhak duduk dikursi itu adalah Selir Keempat yang bergelar Tetua Perawan Suci.
Kursi keempat diduduki oleh seorang wanita separuh baya lebih satu tahun. Wanita berjubah biru muda itu adalah tetua atau selir yang paling muda. Selir Kelima itu masih memiliki sisa kecantikan, terlebih pupur dan gincu merahnya cukup tebal. Ia bergelar Tetua Tersayang, karena dialah selir yang paling disayang oleh mendiang Raja.
Kursi kelima diduduki oleh wanita bertubuh kurus berusia separuh abad lebih tujuh tahun. Ia memiliki sepasang alis yang tebal dan hidung yang mancung. Rambutnya yang ditata rapi sudah dua warna, hitam dan putih. Ia mengenakan jubah hijau terang dengan tepian warna perak. Dia adalah Selir Keenam yang bergelar Tetua Panjaga Telur Ambang Sakti. Dia ibu dari Tadayu. Alis dan hidungnya mewarisi model putra tertuanya. Karenanya, ibu dan anak itu akan mirip jika disandingkan.
Kursi keenam diduduki oleh Selir Ketujuh yang berusia separuh abad lebih lima tahun. Dia adalah seorang wanita bertubuh tinggi dan berbahu lebar. Meski demikian, wanita berjubah ungu itu memiliki bentuk tubuh yang aduhai meski usianya sudah demikian. Jubah ungu yang dibalut dengan sabuk hitam membuatnya terlihat seperti wanita kantoran. Selir Ketujuh digelari Tetua Juragan Selir.
Selain satu ratu dan enam selir yang hadir, anak-anak ratu dan para selir juga hadir dalam posisi berdiri.
“Gandang Duko, apa yang telah kau perbuat di Pulau Gunung Dua?” tanya Selir Kedua, yang sekali lagi diberitahukan bahwa dia adalah ibu kandung Gandang Duko sendiri.
“Ibu, aku mohon ….”
“Posisimu sekarang adalah sebagai tersangka, bukan sebagai anakku, Gandang!” bentak Selir Kedua keras dan tegas, memotong kata-kata putranya. “Jangan kau kira, kedudukanmu sebagai Pangeran Api Dewa bisa membuatmu melecehkan hukum Pulau Tujuh Selir yang agung!”
“Ingin rasanya aku berbohong, tetapi jika terungkap kemudian, bahaya lebih besar akan menimpaku. Lebih baik aku jujur, setidaknya jika Tadayu masih hidup, dia pasti sudah memperkosa Putri Uding Kemala,” pikir Gandang Duko.
__ADS_1
“Jawab, Gandang!” bentak Selir Kedua lagi.
“Aku dan Pangeran Tangan Kuasa pergi ke Gunung Dua untuk menculik Putri Kerajaan Lampara. Aku membakar Istana Puncak Kerajaan Lampara,” jawab Gandang Duko lancar, seolah-olah dia sudah mantap untuk menerima hukuman.
“Apa?!” kejut beberapa Tetua mendengar pengakuan anak muda pemilik kumis itu, terutama Selir Keenam karena nama putranya disebut dalam pengakuan itu.
“Itu pelanggaran berat!” seru Selir Ketujuh dengan wajah marah.
“Lalu di mana Pangeran Tangan Kuasa?” tanya Tetua Penghukum.
“Pangeran Tangan Kuasa dan Putri Kerajaan Lampara terjun ke dalam laut tadi malam. Aku tidak menemukan mereka setelah itu,” jawab Gandang Duko.
Kembali terkesiap para Tetua, khususnya ibu dari Tadayu.
“Maksudmu, Pangeran Tangan Kuasa tenggelam di lautan?” tanya Selir Keenam cepat.
“Aku tidak mengatakan tenggelam, Tetua. Aku hanya tidak menemukan mereka. Mungkin mereka tenggelam atau mereka berenang ke suatu tempat,” sanggah Gandang Duko.
“Jika sampai putraku tewas, aku akan menyalahkanmu, Pangeran!” ancam Selir Keenam.
“Tidak bisa seperti itu, Tetua. Pangeran Tangan Kuasa yang memiliki rencana ini,” protes Gandang Duko membela diri.
“Membalas dendam, Tetua,” jawab Gandang Duko.
“Siapa yang telah dibunuh oleh orang Kerajaan Lampara?” tanya Tetua Penghukum selaku hakim agung di negeri itu.
“Bukan dibunuh, tetapi diculik dan diperkosa,” jawab Gandang Duko.
Seketika riuhlah para tetua dan anggota keluarga besar pemimpin negeri. Mereka langsung bisa menerka siapa orang yang telah diculik dan diperkosa itu.
“Putri Gunira,” sebut beberapa orang yang bisa langsung menerka dendam siapa yang dimaksud.
Sementara itu, Tetua Penjaga Telur Ambang Sakti kini agak tertunduk dengan wajah merah, sedih bercampur marah.
Putri Gunira yang gelar Putri Garis Lurus-nya telah dicabut, tidak hadir di tempat itu seperti kehadiran putra dan putri dari para Tetua. Sejak gelarnya dicabut karena kemalangannya diperkosa, adik dari Tadayu itu diharamkan hadir di Ruang Keadilan Selir.
“Apakah pelakunya orang Kerajaan Lampara?!” tanya Selir Kedua marah, sampai-sampai dia berdiri dari duduknya.
Pertanyaan itu menunjukkan bahwa para Tetua atau pemimpin negeri belum tahu siapa penculik dan pemerkosa Putri Gunira.
__ADS_1
Sikap yang ditunjukkan oleh ibunya membuat Gandang Duko sumringah, karena itu tandanya dia berpeluang untuk bebas dari hukuman.
“Benar. Pangeran Bangir Kukuh telah membayar Tiga Setan Pulau Kutukan untuk melumpuhkan dan menculik Putri Gunira ke Pulau Bujang. Aku dan Pangeran Tangan Kuasa telah membunuh dua dari Tiga Setan Pulau Kutukan. Satu orang lagi kami tawan dan ikat di Pulau Bujang. Dari mulut merekalah kami mendapat nama Pangeran Bangir Kukuh, Pangeran Kerajaan Lampara,” jelas Gandang Duko.
Tiba-tiba Selir Keenam bangkit berdiri dengan wajah marah.
“Perbuatan Pangeran Kerajaan Lampara jelas-jelas adalah penghalalan perang. Maka demi kehormatan Pulau Tujuh Selir, Kerajaan Lampara harus kita perangi sampai hancur atau semuanya menjadi budak terhina!” seru Selir Keenam.
“Aku sepakat. Kerajaan Lampara harus kita perangi. Keterdiaman kita selama ini terhadap mereka sudah menjadi kebaikan kita kepada mereka. Namun, kita tidak bisa membiarkan jika diamnya kita membuat kita diinjak-injak oleh keong laut seperti itu,” kata Selir Pertama pula ikut bersuara.
“Aku setuju,” sahut Selir Kelima.
“Aku tidak setuju dengan perang, karena itu akan berdampak buruk pada anak-anak kita dan kebahagiaan kita yang selama ini tercipta. Aku hanya setuju memenggal kepala Pangeran Kerajaan Lampara di Kota Selir ini,” kata Selir Ketiga yang memiliki sifat lebih kasih sayang dibandingkan selir yang lain.
“Lapoaaar!” teriak seorang pemuda yang masuk dengan berlari. Ia berteriak selagi ia masih berlari. Mungkin karena terlalu pentingnya berita yang dia bawa, sampai-sampai teriakannya berimprovisasi menjadi “lapar”.
“Hihihi!” Terdengar tawa beberapa tetua mendengar gaya laporan si pemuda itu.
“Lapor! Sebuah kapal Bajak Laut Malam mendekat ke pulau!” lapor pemuda itu setelah dia berhenti berlutut dan menghormat.
“Apa?!” kejut sebagian besar Tetua dan yang lainnya.
Keterkejutan itu terjadi karena selama ini tidak ada kelompok bajak laut yang berani mendatangi pulau itu karena kesaktian para pemimpinnya.
“Tenang!” seru Ratu Bunga Petir tiba-tiba, membuat suasana seketika hening dan perhatian terpusat kepadanya. Lalu perintahnya kepada Selir Kedua, “Putuskan lebih dulu perkara Pangeran Api Dewa dan Pangeran Tangan Kuasa!”
Selir Kedua lalu turun dari duduknya dan berbalik menghadap ke atas belakang, di mana Ratu Bunga Petir duduk dengan penuh wibawa.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Selir Kedua sambil menghormat.
Setelah Ratu Bunga Petir mengangguk, Selir Kedua kembali naik ke kursinya dengan menghadap kepada hadirin, bukan menghadap ke belakang lagi.
“Aku putuskan. Penjarakan Pangeran Api Dewa! Keputusan untuk menyerang Pulau Gunung Dua baru akan ditetapkan setelah mendengar kesaksian Pangeran Tangan Kuasa dan anggota Tiga Setan Pulau Kutukan yang masih hidup. Silakan para Tetua menindaklanjuti keputusanku ini!”
“Baik, Tetua Penghukum!” sahut para Tetua yang duduk di kursi bawah.
“Persidangan ditutup!” seru Selir Kedua lebih lantang.
Beberapa lelaki berseragam biru gelap segera menghampiri Gandang Duko untuk membawanya ke penjara. Pangeran Api Dewa itu hanya bisa menurut tanpa menunjukkan perlawanan karena keputusan Tetua Penghukum sudah ditetapkan. (RH)
__ADS_1