
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Menyaksikan keenam caping putihnya hangus semua oleh ilmu Gelombang Api Harapan milik Pangeran Bewe Sereng, Anyam Beringin kembali mencoba dengan ilmu yang sama, tapi level lebih tinggi.
“Istri cantikku!” seru Anyam Beringin.
Nima Sukarsih lalu menghentakkan satu lengannya ke bawah. Maka, sebanyak sepuluh caping putih bergerak naik ke udara keluar dari dalam keranjang di punggung si wanita cantik.
Zeng!
Anyam Beringin segera menarik kesepuluh caping putih itu bergerak ke sekitar tubuhnya.
Wes wes wes …!
Selanjutnya, Anyam Beringin kembali menerbangkan kesepuluh capingnya susul-menyusul menyerang Pangeran Bewe Sereng. Bedanya kali ini, setiap caping memiliki manuver sendiri-sendiri, sehingga mereka menyerang sang pangeran tua dari berbagai arah.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Pangeran Bewe Sereng berani menangkis serangan caping tersebut dengan tangan yang telah bersinar biru.
Des des des …!
Begitu bunyinya setiap kali Pangeran Bewe Sereng menangkis serangan caping. Ia cukup harus bekerja keras, karena tidak semua serangan bisa ia tangkis. Dia juga harus banyak-banyak menghindar.
Sementara Anyam Beringin tetap berdiri di tempatnya, hanya kedua tangannya yang tidak berhenti bergerak mengendalikan terbang caping-capingnya.
Pada satu ketika, Pangeran Bewe Sereng punya peluang melesat maju, langsung menyerang Anyam Beringin dengan tinju bersinar merah.
Seeet! Bluar!
Namun, kesepuluh caping putih lebih cepat melesat pulang dan membentuk dinding dua lapis di depan tubuh majikannya, ketika tinju sinar merah Pangeran Bewe Sereng datang menghantam.
Ledakan keras terjadi hebat yang ternyata bisa menghancurkan perisai caping Anyam Beringin, bahkan membuatnya terdorong nyaris terjengkang. Sementara Pangeran Bewe Sereng termundur dan mendarat dengan kokoh di tanah.
Habis kesepuluh capingnya karena hancur oleh ilmu Tinju Pemarah Pangeran Bewe Sereng, Anyam Beringin mengerahkan dua puluh capingnya yang tersisa di dalam keranjang istrinya.
Namun kali ini, kedua puluh caping tersebut bersinar merah pada lingkaran tepiannya. Pastinya level serangan caping-caping itu jauh lebih berbahaya dari yang sebelumnya.
Kedua puluh caping itu saling susul-menyusul melesat menyerangi Pangeran Bewe Sereng. Jumlah yang lebih banyak membuat kerapatan serangannya lebih padat.
Juss!
Tiba-tiba Pangeran Bewe Sereng telah melindungi tubuhnya dengan bola sinar merah bening transparan.
Sing sing sing …!
Seperti itu bunyinya, setiap kali tepian caping menghantam dinding ilmu Bulan Sebening Merah, ilmu perisai berkekuatan tinggi.
__ADS_1
Tingginya tenaga sakti yang terkandung dalam ilmu Serangga Caping Merah, ternyata tidak berefek apa pun terhadap Pangeran Bewe Sereng yang berlindung di dalam. Pangeran Bewe Sereng bergerak duduk bersila di dalam bentengnya.
Mendapati ilmu Serangga Caping Merah-nya tidak berdaya, Anyam Beringin akhirnya memutuskan menyerang langsung.
“Cobalah kekuatan Tapak Penghancur Benteng!” teriak Anyam Beringin sambil melompat dengan telapak tangan kanan bersinar hijau terang.
Sementera kedua puluh caping diam melayang di udara.
Clap!
Sebelum serangan Anyam Beringin sampai, tiba-tiba dinding bola sinar merah lenyap begitu saja, membuka pertahanan Pangeran Bewe Sereng. Bersamaan dengan itu, Pangeran Bewe Sereng menghentakkan kedua lengannya yang bersinar merah besar berwujud kelopak bunga ke atas.
Terbukanya pertahanan Pangeran Bewe Sereng, membuat Anyam Beringin melesatkan kedua puluh capingnya menyerang serentak kepada sang pangeran.
Set set set! Brus! Bluarr!
Ketika pukulan bersinar Anyam Beringin dan kedua puluh caping datang, sinar merah berwujud kelopak bunga bergerak membesar dan meledak dahsyat.
Tanah jalanan terbongkar hebat ke udara. Bersamaan dengan itu, tubuh Anyam Beringin terpental keras dan jatuh menghantam tanah jalanan yang keras.
Kedua puluh caping Anyam Beringin sudah hancur musnah.
Sedangkan Pangeran Bewe Sereng, hebatnya, dia masih duduk bersila di tempatnya, meski ada darah yang merembes melalui sela bibirnya. Tanah di sekelilingnya berlubang-lubang tidak beraturan.
“Kakang Anyam!” pekik Nima Sukarsih sambil berlari kepada tubuh suaminya.
“Tidak apa-apa, Sayangku,” ucap Anyam Beringin yang sudah bangun terduduk sambil mengerenyit dan menyeka darah yang mengotori bibir dan dagunya.
Set set set!
Anyam Beringin dan semua penonton terbeliak saat melihat Pangeran Bewe Sereng melepaskan tiga anak panah ke tiga arah yang berbeda, tapi tidak membidik seseorang. Anehnya, ketiga anak panah itu dilepas menggunakan busur yang tidak terlihat tapi seolah-olah ada dan berfungsi.
Ketiga anak panah itu melesat jauh dan kemudian hilang di kejauhan.
Anyam Beringin dan yang lainnya tidak mengerti maksud dari pelepasan tiga anak panah itu.
“Menepilah, Sayang. Aku tidak akan kalah!” kata Anyam Beringin.
“Hati-hati, Kakang. Aku masih mencintaimu,” kata Nima Sukarsih dengan wajah cemas.
“Iya,” angguk Anyam Beringin.
Wanita cantik itu lalu menjauh.
Clap!
Dek dek!
__ADS_1
Tiba-tiba Anyam Beringin berpindah tempat seperti setan. Tahu-tahu dia telah berada di depan tubuh Pangeran Bewe Sereng dalam satu jangkauan. Serangan tangan bertenaga dalam tinggi langsung menyerang Pangeran Bewe Sereng.
Dengan kokoh Pangeran Bewe Sereng menangkis serangan tersebut. Namun kemudian, sepasang mata Pangeran Bewe Sereng agak melebar. Ia bisa merasakan tenaga pukulan itu begitu besar, membuat tulang kedua tangannya yang menangkis terasa ngilu dan sakit.
Pangeran Bewe Sereng harus melangkah mundur-mundur ketika Anyam Beringin menyerang tanpa henti dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat Pangeran Bewe Sereng terdesak.
Buk buk!
Hanya masalah waktu, pada akhirnya dua tinju keras Anyam Beringin masuk menghantam dada dan wajah Pangeran Bewe Sereng. Itu membuat lelaki berkumis biru itu terhuyung nyaris jatuh.
Bress!
Ketika Anyam Beringin hendak menyusulkan pukulan berikutnya, Pangeran Bewe Sereng telah lebih dulu menghentakkan tangannya. Buru-buru Anyam Beringin menarik jauh tubuhnya.
Serangkum api biru dari ilmu Gelombang Api Harapan muncul hendak menelan tubuh Anyam Beringin. Namun, sebagai Dewa Seribu Tameng, Anyam Beringin tidak kehabisan ilmu perisai. Satu dinding sinar hijau berwujud pola payung, telah terpasang di depan tubuhnya, menghandang api biru dari menjangkau tubuh Anyam Beringin.
Seet! Tseb!
“Aaak!” jerit Anyam Beringin tiba-tiba.
“Kakang Anyam!” pekik Nima Sukarsih terkejut.
Entah usai jalan-jalan ke mana, tiba-tiba satu dari tiga anak panah yang dilepaskan Pangeran Bewe Sereng datang dari arah samping Anyam Beringin. Anak panah itu tahu-tahu telah datang begitu cepat dan menancap di paha sisi luar Anyam Beringin.
Anyam Beringin seketika terpincang.
Set! Tek!
Dan tiba-tiba lagi, dari arah yang berlawanan dari panah yang pertama, muncul melesat panah yang kedua.
Ilmu perisai Payung Penghadang langsung Anyam Beringin pasang, menghadang anak panah itu. Ternyata anak panah tersebut tidak sanggup menembus sinar hijau berwujud payung mengembang. Anak panah jatuh ke tanah.
Anyam Beringin waspada terhadap anak panah ketiga yang kemungkinan besar akan datang juga. Kemungkinan besar dari arah yang berbeda, bisa saja dari belakangnya.
“Kau kalah, Pendekar,” kata Pangeran Bewe Sereng seraya tersenyum kepada Anyam Beringin.
“Awas, dari belakang musuh!” teriak Perwira Batas Gurah memperingatkan Anyam Beringin yang tidak langsung mengerti maksud dari peringatan itu.
Pangeran Bewe Sereng memiringkan sedikit badan atasnya.
Set! Jbus!
“Aaakh!” jerit Anyam Beringin keras dan panjang.
Dari balik punggung Pangeran Bewe Sereng melesat anak panah bersinar biru. Kedatangannya yang terlindungi oleh tubuh sang pangeran, membuat Anyam Beringin terkejut.
Anyam Beringin langsung memasang ilmu perisai Payung Penghadang. Namun, tidak ada waktu untuk terkejut lagi bagi Anyam Beringin, karena anak panah bersinar itu bisa dengan mudah menembus dinding perisai yang juga menembus rusuk kiri.
__ADS_1
Anyam Beringin terlempar dengan darah yang langsung tercecer di udara.
“Kakang Anyaaam!” pekik Nima Sukarsih terkejut. (RH)