Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 15: Dua Pemuda Tujuh Selir


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Mimi Mama dan Serak Gelegar tahu bahwa pemuda yang mereka kenal bernama Tadayu yang bergelar Pangeran Tangan Kuasa, putra dari Tetua Penjaga Telur, memiliki kesaktian yang tinggi. Karena itulah, dalam mengikutinya perlu hati-hati dan harus pakai kesaktian.


Cukup jauh jarak yang mereka tempuh dalam mengikuti Tadayu. Hingga ke luar Desa Berunuk. Selama perjalanannya, Tadayu tidak menunjukkan gelagat bahwa ia mencurigai sesuatu di belakangnya. Itu tandanya pembuntutan Mimi Mama dan Serak Gelegar sejauh ini aman.


Hingga akhirnya, Tadayu sampai di sebuah hutan kecil yang masih berada di kaki Gunung Ibu. Di dalam hutan itu, di tempat yang cukup tersembunyi, ada sebuah gubuk kecil yang bahan-bahannya menunjukkan kebaruan. Itu artinya bahwa gubuk itu belum lama dibangun.


Tak! Tak! Tak!


Terdengar suara kayu dipukul. Namun, Mimi Mama dan kakeknya tidak bisa melihat aktivitas yang dilakukan oleh orang yang bukan Tadayu. Pohon besar yang memiliki akar gantung yang lebat menghalangi pandangan mereka. Ada orang lain yang ditemui oleh Tadayu di tempat itu.


Tadayu terlihat sedang berbicara kepada seseorang di balik batang pohon yang tidak jauh dari gubuk.


Orang yang diajak bicara oleh Tadayu adalah seorang pemuda berkumis yang usianya sederajat. Lelaki itu tidak berbaju, memperlihatkan tubuhnya yang eksotis dengan otot-otot kekar, tapi tidak terlalu besar. Ia hanya bercelana hitam selutut. Ia sedang mengapak potongan-potongan kayu untuk dijadikan kayu bakar. Sekedar bocoran, pemuda berambut gondrong ala Raja Dangdut tahun 80-an itu bernama Gandang Duko.


“Sepertinya ada yang mengikutimu, Tadayu,” kata Gandang Duko, menunjukkan kelasnya sebagai seorang pendekar muda.


“Iya. Namun, posisinya yang jauh tidak akan mendengar percakapan kita,” kata Tadayu santai, lalu ia duduk di tumpukan bilah kayu yang sudah dibelah dan disusun.


“Lalu bagaimana rencanamu di atas? Berhasil?” tanya Gandang Duko sambil tangannya tidak berhenti mengayunkan kapak bermata satu, bergagang pendek.


“Sesuai perkiraan. Kelurga Raja Bandelikan jadi menyukaiku dengan bantuanku. Bahkan aku diundang besok pagi ke Istana Puncak bersama Dayung Karat. Apakah kau mau ikut, Gandang?”


“Jika aku ikut, aku berlakon sebagai apa?” tanya Gandang Duko.


“Sebagai pengawalku atau abdiku,” jawab Tadayu.


“Monyong!” maki Gandang Duko sambil melempar sebatang kayu kepada sahabatnya itu.


“Hahaha!” tawa Tadayu tanpa berusaha mengelak dari lemparan. Namun, kayu itu terpental sebelum mengenai wajahnya. Lalu katanya, “Di Desa Berunuk ada mainan. Mungkin kau tertarik.”


“Ada apa? Jangan kau bilang main Keong Bangkit Dari Kubur. Aku lempar kapak dirimu nanti,” kata Gandang Duko sewot duluan.


“Hahaha!” tawa terbahak Tadayu.


Sebagai sama-sama anak pulau yang tumbuh di pantai, mereka berdua sering bermain Keong Bangkit Dari Kubur sewaktu kecil, di sela-sela latihan yang berat.


“Ketika aku turun dari Istana Puncak, aku melihat Pangeran Bangkai itu dikurung oleh sebuah bola sinar kesaktian. Entah kesaktian siapa. Ingin rasanya aku langsung membunuhnya, tapi biarkan dia menikmati deritanya. Dia dan para prajuritnya kebingungan untuk menghancurkan bola sinar itu. Aku dengar prajurit sedang naik untuk melapor ke raja tentang perkara itu. Aku bisa saja tampil kembali sebagai penyelamat di depan raja, tetapi nantinya justru akan mencurigakan. Bukankah kau bisa berpura-pura sebagai orang yang singgah di pelabuhan dan sekedar lewat?”


“Setelah membakar Istana, aku suntuk juga hanya membelahi kayu dan merebus telur,” kata Gandang Duko yang dengan sendirinya mengungkap siapa sebenarnya pembakar Istana Puncak.

__ADS_1


Gandang Duko lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju gubuk. Dengan demikian, Mimi Mama dan Serak Gelegar bisa melihat sosok orang kedua. Keduanya hanya manggut-manggut tanpa bersuara saat mengenali sosok Gandang Duko.


Tadayu lalu bangkit berdiri dan mendongak memandang ke arah buah sawo di atas pohonnya.


“Sawomu sepertinya sudah matang-matang!” teriak Tadayu kepada sahabatnya yang sudah ada di dalam gubuk.


Teriakan itu membuat Mimi Mama dan Serak Gelegar bisa mendengar perkataan Tadayu.


“Lempar saja jika kau mau!” teriak Gandang Duko yang mengerti maksud sahabatnya itu.


Tadayu lalu memungut satu batang kayu. Lalu ia lempar seperti masa kecil ketika melempar mangga tetangga.


Tas!


Kayu itu melesat dan memutus tangkai segerombolan buah sawo. Maklum sawo zaman dulu pohonnya jangkung-jangkung.


Jika setangkai buah sawo jatuh lurus ke bawah, maka kayu yang dilempar terus melesat berputar-putar lalu jatuh di kerimbunan semak-semak, tepat di mana Mimi Mama dan kakeknya mengintai. Keduanya terkejut. Nyaris saja kayu itu mengenai kepala Serak Gelegar.


Hal itu membuat Mimi Mama cepat memberi kode alis kepada kakeknya.


Clap clap!


Kedua orang itu tahu-tahu menghilang dari posisinya.


Dari gubuk keluar Gandang Duko yang sudah mengenakan baju warna hitam yang belum digosok. Wajahnya terlihat basah dan rambutnya lembab, tapi harum kayu yang wangi. Entah kayu apa namanya.


“Aku harus kembali ke Desa Konengan,” ujar Tadayu.


“Baiklah. Aku akan mengejar pengintai itu,” kata Gandang Duko.


“Lebih baik jangan berurusan dengan mereka jika tidak perlu. Sepertinya kesaktiannya cukup mumpuni,” pesan Tadayu.


“Aku hanya ingin tahu, siapa mereka sehingga tertarik untuk mengikutimu. Mungkin saja mereka orang kerajaan yang di depanmu mereka baik, tapi di belakang berniat menikam,” kata Gandang Duko.


“Baiklah,” ucap Tadayu.


Clap!


Tahu-tahu Tadayu menghilang begitu saja. Meski demikian, tetapi Gandang Duko tahu ke arah mana sahabatnya itu pergi.


Clap!

__ADS_1


Selanjutnya, Gandang Duko yang menghilang seperti dedemit hutan. Mungkin dia memang dedemit hutan tersebut.


Sementara itu, dalam perjalanan pulangnya menuju Kedai Ibu Ibu, Mimi Mama dan Serak Gelegar berbincang membahas kedua pemuda yang mereka kenal.


“Apakah Tadayu dan Gandang Duko tahu bahwa kita mengintai mereka, Kek?” tanya Mimi Mama.


“Sepertinya tahu. Kau pikir, untuk apa dia melempar buah sawo jika bisa melompat memetiknya? Tapi, sepertinya mereka tidak tertarik untuk tahu siapa yang mengintai,” jawab Gandang Duko.


“Mereka pasti merencanakan sesuatu di pulau ini,” terka Mimi Mama.


“Atau mungkin ada hubungannya dengan Putri Garis Lurus,” duga Serak Gelegar.


“Ada apa dengan adiknya?”


“Sekitar kurang dari sepurnama lalu, Tujuh Selir digemparkan kabar bahwa Putri Garis Lurus telah diculik dan diperkosa. Namun, belum diketahui siapa yang melakukannya. Mungkin saja keberadaan Tadayu dan Gandang Duko di sini terkait dengan masalah itu,” kata Serak Gelegar.


“Kenapa aku tidak dapat kabar tentang itu, Kek?” tanya Mimi Mama.


“Karena kau masih anak kecil.”


“Kecil barangku, tapi besar pikiranku,” protes Mimi Mama.


“Hahaha!” Serak Gelegar hanya tertawa mendengar perkataan cucunya.


“Tapi aneh, bukankah Putri Garis Lurus kesaktiannya cukup tinggi, meski masih di bawahku. Bagaimana mungkin dia bisa diperkosa tanpa tahu siapa yang melakukannya?” tanya Mimi Mama.


“Itu karena dia dibuat tidak sadarkan diri lebih dulu,” jawab Serak Gelegar.


“Pemerkosa itu harus dipotong. Berani memperkosa tapi begitu pengecut memperlihatkan wajahnya,” kecam Mimi Mama.


Hingga akhirnya, tak terasa mereka telah kembali ke Kedai Ibu Ibu. Ketika mereka mencari keberadaan Dewi Ara dan rombongan, ternyata mereka sudah tidak ada.


“Hah! Kita ditinggal, padahal kita belum makan ikan bakar jeruk,” kata Mimi Mama terkejut.


“Lebih baik kita bungkus saja ikannya, lalu kita pulang ke Tujuh Selir,” saran Serak Gelegar.


“Baiklah,” sepakat Mimi Mama.


Meski Mimi Mama berstatus cucu, tetapi anak kecil itu memiliki kedudukan lebih tinggi daripada kakeknya. Jangan ditanya kenapa itu bisa terjadi.


Tanpa sepengetahuan kakek cucu itu, ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka dari jauh. Orang itu tidak lain adalah Gandang Duko.

__ADS_1


Pemuda berkumis itu bahkan menunggui aktivitas Mimi Mama dan Serak Gelegar di Kedai Ibu Ibu.


Setelah menerima pesanan ikan bakar jeruk, Mimi Mama dan Serak Gelegar pergi meninggalkan kedai dan menuju ke arah pelabuhan. Gandang Duko mengikuti. (RH)


__ADS_2