
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Bolong Jungkal. Itulah nama si kakek bungkuk yang sudah berusia nyaris seratus tahun itu. Maka pantaslah jika seluruh rambut miliknya berwarna putih. Dari rambut kepala, alis, ketiak, hingga rambut kaki berwarna uban.
Meski bungkuk, dia tidak menggunakan alat bantu untuk berjalan. Tidak ada tongkat ataupun skuter. Dia memilih berdiri di atas kaki sendiri daripada di atas tangan sendiri.
Kakek berpakaian warna cokelat lusuh itu kini sedang berdiri di atas sedahan pohon yang tumbuh memanjang menjorok ke atas air sungai yang mengalir deras. Jarak antara air dan dahan hanya setinggi satu hasta.
Kedua kaki Bolong Jungkal berdiri mengangkang di dahan dengan tubuh membungkuk. Mata tuanya masih cukup awas untuk memerhatikan pergerakan-pergerakan di dalam air sungai. Pada genggaman tangan kirinya ada banyak lidi-lidi bambu, artinya lebih besar dari lidi daun kelapa. Sementara tangan kanannya memegang sebatang lidi bambu.
Inilah cara Bolong Jungkal menafkahi dirinya, yaitu dengan cara berburu ikan. Ia lebih suka berburu daripada memancing. Giginya yang sudah tidak ada membuatnya harus makan ikan. Jikapun mau makan ayam, ayamnya harus direbus lama sampai dagingnya hancur.
Dia baru mulai. Ia berdiri diam dengan sabar mematung di atas dahan tanpa takut jatuh, meski tanpa pegangan hidup. Matanya awas mengamati air yang mengalir.
Cukup lama si kakek diam mematung, sampai kelopak matanya perlahan turun karena berubah berat. Saat sadar dari kantuknya, Bolong Jungkal terkejut dan segera geleng-gelengkan kepalanya dalam ritme cepat untuk mengembalikan kekuatan matanya. Ia kembali fokus.
Namun, tidak berapa lama fokus kepada air sungai, kelopak mata si kakek kembali berubah sangat berat. Sepertinya tadi malam dia usai begadang menonton pertandingan sepak bola.
Tubuh bungkuk yang awalnya bergeming, mendadak oleng perlahan ke depan.
Jbur!
Berhasil. Bolong Jungkal berhasil jatuh ke air. Ia pun gelagapan dan segar seketika. Dengan mulut yang megap-megap seperti mulut ikan koki, si kakek segera berenang ke pinggir.
Kejadian seperti itu bukan pertama kali terjadi, tapi sering, jika ikan yang diburu tidak kunjung lewat.
Bolong Jungkal naik ke darat dengan kondisi kuyup, tetapi itu tidak terlihat jadi masalah baginya. Untung lidi-lidinya tidak terlepas dari genggaman seperti lepasnya mantan kekasih dari lamaran. Jadi, si kakek tidak perlu membuat lidi baru.
Ia kembali naik ke pohon dengan hati-hati. Kedua tangannya aktif berpegangan pada dahan-dahan. Ia kembali untuk berdiri di tempatnya semula.
__ADS_1
Seet! Cleb!
Baru saja berdiri di dahan semula, tiba-tiba Bolong Jungkal melihat bayangan ikan berenang. Sontak ia melesatkan lidi pada tangan kanannya. Lidi itu melesat tidak terlihat karena terlalu cepatnya. Tahu-tahu ada titik riak pada air sungai.
Saat memastikan bahwa lesatan lidinya mengenak seekor ikan, si kakek bungkuk segera melompat jauh mengejar buruannya. Sebab, ikan yang terpanah langsung menjauh terbawa arus.
Si kakek berenang cepat mengejar ikan tangkapannya. Dan berhasil. Seekor ikan berukuran lebar dua telapak tangan berhasil ia tangkap dalam kondisi sudah almarhum. Ada sebatang lidi bambu menancap tembus pada bagian kepala ikan.
Bolong Jungkal lalu melempar ikannya begitu saja ke darat.
Ia kembali berenang ke tepi dan naik ke darat, lalu pergi kembali ke dahan pohon yang menjorok hampir ke atas tengah sungai.
Singkat cerita, sebanyak tiga ikan berhasil Bolong Jungkal dapat. Caranya sama, ketika mangsa lewat, dibidik dengan lidi bambu yang dilesatkan dengan bantuan sedikit tenaga dalam. Lalu si kakek melompat terjun memburu ikan yang hanyut.
Pada percobaan yang keempat, terjadi sesuatu yang mengejutkan si kakek.
“Ikan besar!” pekik Bolong Jungkal begitu gembira saat melihat bayangan besar lewat di bawah permukaan air.
Si kakek segera mengayunkan tangannya yang memegang lidi bambu.
Setelah terdiam sejenak dengan tatapan tajam memandangi sosok tubuh anak kecil yang hanyut tanpa gerakan kehidupan, Bolong Jungkal segera melompat terjun yang langsung jatuh di dekat objek tersebut.
Bolong Jungkal segera menyambar tangan anak yang hanyut tersebut. Ia langsung memeriksa denyut nadi pada pergelangan si anak.
“Jika orang biasa yang menemukan anak ini, pasti sudah disangka mati,” ucap si kakek dengan kening mengerut serius, seolah sedang memikirkan perkara yang super rumit.
Bolong Jungkal lalu membawa si anak ke tepi agar ia pun tidak terganggu oleh kencangnya arus air.
Bolong Jungkal mengangkat sedikit tubuh si anak usia sebelas tahun itu agar badan atasnya keluar dari air. Sementara kedua tangan dan kaki si anak terjuntai tanpa daya.
Cess!
__ADS_1
Tangan kiri Bolong Jungkal yang tadi memegangi kumpulan lidi tiba-tiba bersinar hijau pada ujung-ujung jarinya. Lidi-lidi sengaja ia biarkan terlepas dan hanyut di bawa air. Kelima jari tangan tua itu lalu ditempelkan pada dada si anak dan menekannya.
Proses itu bertujuan untuk mengamankan nyawa si anak agar tidak lepas dari raga.
Maka, bermodal tangkapan tiga ekor ikan dan satu anak manusia, Bolong Jungkal pulang ke rumahnya yang terpencil di pinggir sebuah hutan bambu. Posisi rumah pun letaknya tersembunyi, tidak mudah untuk dilihat jika ada orang yang lewat di sekitar tempat itu.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Bolong Jungkal setelah si bocah siuman dari pingsannya selama tiga hari. Tidak mudah untuk bisa terus menjaga anak itu agar tetap bernyawa.
“Bagang Kala, Kek. Aku di mana, Kek? Huuu huuu …!” jawab bocah lelaki itu lirih lalu bertanya dan mulai menangis.
“Kau di rumahku. Panggil saja aku Kakek Bolong,” jawab Bolong Jungkal.
Ingin rasanya Bagang Kala tertawa mendengar nama si kakek, tetapi kesedihan lebih mendominasi dalam perasaannya.
“Kenapa kau bersedih? Ceritakanlah kepada Kakek apa yang membuatmu hanyut di Sungai Tulang Ular!” tanya Bolong Jungkal.
Sambil terus menangis karena teringat apa yang telah terjadi terhadap ayah, ibu dan kakak perempuannya, Bagang Kala bercerita terpatah-patah. Namun, pada akhirnya dia bisa mengkhatamkan kisah nyatanya.
Mendengar kisah itu, terbakar api amarah Bolong Jungkal, hal itu terlihat dari wajah keriputnya yang memerah dan tatapannya yang berubah galak.
“Perguruan Cambuk Neraka!” ucapnya gusar.
Namun kemudian, si kakek menarik napas dalam-dalam.
“Namun, setahuku Perguruan Cambuk Neraka adalah perguruan aliran putih di dalam dunia persilatan. Ah, mungkin juga penilaianku selama ini keliru,” kata Bolong Jungkal.
“Mereka sangat jahat, Kek!” tandas Bagang Kala.
“Iya iya iya. Jika seperti itu perbuatan mereka, mereka memang sangat jahat. Mereka harus dibasmi dari muka bumi agar tidak ada korban lain lagi. Kebanyakan manusia itu, jika sudah diberi kekuasaan, mereka suka bertindak semaunya,” kata Bolong Jungkal.
“Aku ingin membunuh mereka semua, Kek!” desis Bagang Kala mendendam.
__ADS_1
“Eeeh, tunggu, tunggu!” sergah Bolong Jungkal. Lalu katanya kepada bocah yang masih terbaring itu, “Dengan usiamu yang masih semuda ini dan kekuatanmu yang masih selemah ini, itu sama saja kau akan membunuh dirimu sendiri. Kakek menawarkanmu untuk mengajarimu ilmu olah kanuragan dan kesaktian sampai nanti kau bisa membalas kematian orang-orang yang kau cintai. Bagaimana, Bagang?”
“Aku sangat mau, Kek!” jawab Bagang Kala cepat dan antusias. Dia langsung mengusap banjir air matanya dengan punggung tangannya, sekaligus menyeka ingusnya. (RH)