
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
“Nahkoda! Nahkoda! Nahkoda!” sebut para awak kapal saat Nahkoda Dayung Karat dan istrinya dibantu naik ke atas kapal Bajak Laut Malam.
Mereka menyambut nahkoda kesayangan mereka. Ada yang menjabat tangan Dayung Karat, ada yang memeluk pula, yang jelas tidak ada yang cium tangan atau cipika-cipiki. Dan yang jelas pula, tidak ada yang menyalami istri Nahkoda, apa lagi sampai memeluknya.
Nahkoda Dayung Karat dan Lenting Buai hanya tersenyum-senyum mendapat sambutan suka cita dan suka cinta dari para awak kapal.
Sementara Mimi Mama sudah naik ke atas dan langsung menemui Permaisuri Dewi Ara. Kali ini, Serak Gelegar tidak memilih menunggu atau memancing di perahu, dia ikut naik ke atas kapal.
“Hormatku, Bibi Permaisuri,” ucap Mimi Mama seraya tersenyum imut karena dia memang anak yang cantik.
“Apakah hanya mereka berdua yang bisa diberikan oleh para tetuamu, Nak?” tanya Dewi Ara.
“Benar, Bi. Tadayu dan Putri Uding Kemala memang tidak ada di pulau ini. Adapun Gandang Duko, dia dipenjara dan tidak akan diberikan,” jawab Mimi Mama.
“Baiklah, jika demikian, aku akan menjemput paksa Gandang Duko tepat ketika matahari pada puncaknya,” kata Dewi Ara.
“Jika Bibi Permaisuri dan kapal ini tidak pergi hingga matahari pada puncaknya, pasukan di pantai akan menenggelamkan kapal ini,” ujar Mimi Mama.
“Tidak mengapa, mereka semua bisa berenang jika kapal ini ditenggelamkan,” kata Dewi Ara enteng. Padahal perkataan itu membuat Bong Bong Dut cemas. Ia belum sempat belajar berenang, meski dalam sepekan terakhir area sekitarnya adalah air.
“Aku belum bisa berenang!” bisik Bong Bong Dut kepada Lentera Pyar.
“Tenang saja, Gejrot. Bukankah Gusti Permaisuri tidak pernah membiarkanmu tenggelam? Atau kau ingin belajar berenang sekarang juga sebelum pertempuran terjadi?” kata Lentera Pyar.
“Hehehe!” Bong Bong Dut hanya tersenyum malu.
“Tidak apa-apa, Kakang Setya akan mengajarimu berenang gaya genteng,” kata Lentera Pyar, membuat Setya Gogol agak mendelik karena gadis pujaannya menyebut namanya tanpa kesepakatan lebih dulu.
“Nanti saja. Hehehe!” jawab Bong Bong Dut.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri,” ucap Nahkoda Dayung Karat yang telah menghadap kepada Dewi Ara. Ia dan istrinya turun berlutut menghormat.
“Bangunlah!” perintah Dewi Ara.
“Terima kasih, Gusti,” ucap Dayung Karat, lalu bergerak berdiri. Sang istri hanya ikut-ikut.
“Yang aku butuhkan adalah cerita bagaimana kau bisa terlibat dalam penculikan Putri Kerajaan Lampara,” kata Dewi Ara.
“Sekitar lebih sepekan lalu, sebelum aku pergi berlayar ke Bandakawen, ada dua orang pemuda asing datang ke rumahku, Gusti. Mereka orang sakti. Meski mereka tidak kasar kepada kami, tetapi mereka mengancam kami. Mereka adalah Tadayu dan Gandang Duko. Tadayu berpura-pura menjadi keponakanku. Aku tetap dibiarkan pergi berlayar, tetapi mereka menyandera istriku. Namun, aku tidak tahu bahwa mereka memiliki rencana akan membakar Istana Puncak dan menculik Putri Uding Kemala. Karena katanya, Paduka Raja Bandelikan tahu bahwa Tadayu adalah keponakanku, mau tidak mau, aku dan istriku ikut kabur tadi malam, Gusti,” jelas Dayung Karat.
“Apakah kau tahu di mana Tadayu dan Putri Uding Kemala?” tanya Dewi Ara.
“Tidak tahu, Gusti. Waktu melarikan diri tadi malam, kami berbeda perahu. Aku dan istriku tiba di pantai Pulau Tujuh Selir, tapi kemudian kami ditangkap. Sejak dari pantai Pulau Gunung Dua, hamba belum bertemu lagi dengan mereka. Namun katanya, mereka ingin memperkosa Putri Uding Kemala,” jawab Dayung Karat.
__ADS_1
“Hah!” kejut Komandan Bengisan, Setya Gogol dan Bong Bong Dut.
“Mereka ingin membalas dendam karena Pangeran Bangir Kukuh telah menculik dan memperkosa adik Tadayu,” timpal Mimi Mama.
Kembali terkejut sebagian dari mereka.
“Kakak Putri Gunira itu adalah adik Tadayu!” kata Mimi Mama sambil menunjuk ke arah perahu yang sedang menuju ke kapal itu.
“Appa?!”
Kejut sebagian dari mereka lagi, lebih terkejut. Seketika itu mereka bisa menyimpulkan.
“Anak Cantik, maksudmu orang yang memperkosa kekasih Pangeran Rebak Semilon adalah adiknya sendiri?” tanya Setya Gogol dengan alis bertaut.
“Terima kasih, aku memang cantik. Hihihi!” ucap Mimi Mama, lalu ia tersadar dan terkejut, “Hah! Kekasih Pangeran Rebak Semilon? Maksud Kakang, Putri Gunira itu kekasih dari Pangeran Kerajaan Lampara yang satunya lagi?”
Tiba-tiba sosok Putri Gunira muncul melompat dari luar perahu dan mendarat di geladak. Menyusul lompatan tubuh Pangeran Rebak Semilon.
“Permaisuri!” sebut Putri Gunira bernada cukup tinggi.
Panggilan bernada kurang bersahabat itu cukup mengejutkan mereka yang sedang fokus kepada Dewi Ara.
Wuut!
“Putri Gunira!” teriak Pangeran Rebak Semilon saat tiba-tiba tubuh wanita cantik itu terlempar jauh ke belakang dan terjun jatuh ke luar kapal.
Putri Gunira pun akhirnya masuk ke dalam air laut. Pangeran Rebak Semilon yang masih kuyup segera berlari ke pinggir untuk melongoki kekasihnya.
Dilihatnya Putri Gunira sedang berenang menuju ke perahu milik Mimi Mama.
“Putri, apakah kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Rebak Semilon menunjukkan perhatiannya.
Putri Gunira tidak menjawab. Ia terus bergerak naik ke perahu lalu kembali melompat naik dengan wajah dan tatapan mata menunjukkan kemarahan.
“Siapa yang menyerangku?!” tanya Putri Gunira berteriak marah dengan wajah teraliri air dari rambutnya, membuat Pangeran Rebak Semilon khawatir.
“Coba kita lihat, apakah kesaktianmu lebih tinggi dari kekurangajaranmu!” gusar Tikam Ginting yang segera maju merapat ke hadapan Putri Gunira, sehingga kedua wanita cantik itu beradu ujung dada.
Ditantang oleh Tikam Ginting seperti itu, jelas akan jatuh gengsi bagi Putri Gunira jika sampai mundur setindak saja. Karena itu dia memilih tetap berdiri kukuh, meski dada mereka saling menekan dan wajah mereka hanya berjarak sejengkal, persis pose dua petarung MMA yang baru usai timbang berat badan.
Situasi itu jelas membuat Setya Gogol dan Bong Bong Dut tersenyum lebar. Jelas itu pemandangan yang sangat menarik bagi kaum batangan.
Melihat ketegangan itu, Pangeran Rebak Semilon semakin cemas. Ia takut kekasihnya itu akan dikeroyok ramai-ramai oleh kubu Permaisuri Dewi Ara. Ia lalu mengdekati kedua wanita yang saling tatap tajam dalam jarak super dekat itu.
“Eeeh, maaf …,” ucap Pangeran Rebak Semilon sambil mengulurkan tangannya ke antara leher kedua wanita itu, bermaksud memisahkan.
__ADS_1
Beg!
“Akh!” jerit Pangeran Rebak Semilon, ketika Tikam Ginting justru menonjok tengah wajahnya.
Kekasihnya ditonjok, jelas membuat Putri Gunira gusar bukan main. Ia pun melancarkan tinju kanannya yang berbahaya ke wajah Tikam Ginting.
Tap!
Cepat Tikam Ginting menangkap tinju itu dengan cengkeraman tangan kirinya. Tentunya cengkeraman yang mengandung tenaga dalam.
Dak!
Tiba-tiba Tikam Ginting mengantukkan jidatnya ke wajah Putri Gunira. Itu menjadi serangan yang tidak terduga bagi Putri Gunira, membuatnya langsung terdorong mundur dua tindak dan nyaris jatuh ke lantai kapal.
Adu kepala itu ternyata merobek kecil kulit kening Putri Gunira, membuat darah merembes keluar.
“Hentikan!” perintah Dewi Ara menengahi.
Tikam Ginting pun berhenti melakukan pergerakan.
Pangeran Rebak Semilon yang hidungnya mimisan karena tonjokan tadi, segera mendatangi Putri Gunira dan memeganginya.
“Kau berdarah, Sayangku,” ucap Pangeran Rebak Semilon.
“Lepaskan aku!” berontak Putri Gunira masih marah, membuat Pangeran Rebak Semilon berhenti berusaha memegangi kekasihnya yang sejak tadi marah-marah.
“Sampaikan apa yang kau inginkan, Putri. Selagi aku masih ada waktu untuk meladenimu,” ujar Dewi Ara.
“Aku hanya memintamu untuk tidak ikut campur dengan urusan dendamku kepada Pangeran Bangir Kukuh!” tandas Putri Gunira.
“Sebelumnya aku tidak kenal dirimu, Putri. Aku hanya ingin membawa pulang nahkodaku, Putri Uding Kemala yang diculik dan menangkap kedua penculik itu. Jika kau ingin membalas dendam, maka balaslah kepada orang yang bersalah kepadamu, jangan kau limpahkan dendammu kepada orang yang tidak tahu apa-apa,” kata Dewi Ara yang mengandung nasihat.
“Gusti Permaisuri, bisakah kita kembali? Aku harus membuat perhitungan kepada adikku!” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Tidak bisa. Karena kau menumpang ikut, kau harus mengikuti kehendak kapal. Jika kau tidak sepakat, kau bisa menggunakan perahu kecil. Jarak ke negerimu tidak jauh, Pangeran,” kata Dewi Ara.
“Eh, benar juga. Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana?” batin Pangeran Rebak Semilon.
Ia cepat beralih kepada Putri Gunira.
“Putri, lebih baik kita berdua menggunakan perahu kecil ke Gunung Dua,” kata Pangeran Rebak Semilon. “Kita jangan mengganggu Gusti Permaisuri.”
“Ayo, Kakak!” ajak Putri Gunira akhirnya mengalah. Ia pun berbalik dengan tatapan yang masih mengandung kemarahan, khususnya kepada Tikam Ginting.
“Bibi Permaisuri, matahari sudah tinggi, pasukan di pantai siap menembak,” kata Mimi Mama memberi tahu.
__ADS_1
Mereka semua segera mengalihkan pandangan ke arah pantai. Ternyata kesepuluh alat pelontar telah diisi batu berbentuk kotak.
“Bersiaplah!” perintah Dewi Ara kepada para pengikutnya. (RH)