
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Tepat ketika sang surya terbit di timur dan cahayanya menerpa wajah-wajah para prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota, apa yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
“Pasukan Sanggana Kecil sudah dataaang! Pasukan Sanggana Kecil sudah dataaang!” teriak seorang prajurit yang berdiri di pucuk pohon jengkol.
Deg!
Jantung-jantung para prajurit itu seolah digebuk palu selingkuh saat mendengar teriakan si prajurit yang memantau di ketinggian.
Sebenarnya mereka sudah tegang sejak malam, karena kabar yang beredar bahwa pasukan Sanggana Kecil yang akan mereka hadapi adalah pasukan besar dan sulit terkalahkan. Bahkan banyak dari warga yang termasuk personel Pasukan Rakyat tegang sejak bersama istrinya.
Teriakan si prajurit pemantau juga membuat jantung Panglima Tarikurat seolah terbetot. Ia juga tegang seolah asam uratnya kambuh.
Tarikurat segera melompat naik ke pohon jengkol. Dengan mengandalkan ilmu peringan tubuhnya, cukup dua kali tolakan kaki, ia pun sampai di dekat posisi si prajurit pemantau. Pandangannya langsung ia lemparkan jauh ke depan sana.
Jauh di depan sana. Terlihat serombongan pasukan berkuda yang tidak berlari kencang. Mereka mengenakan pakaian warna-warni yang tidak seragam. Jarak yang masih jauh tidak membuat jelas wajah-wajah mereka. Di belakang pasukan berkuda ada bendera biru terang dan sejumlah panji warna-warni yang berkibar tinggi.
Yang cukup mengejutkan, pasukan pejalan kakinya yang berseragam hijau gelap, mengular panjang jauh ke belakang, sampai-sampai ujung ekornya tidak terlihat karena terhalang kontur bumi.
“Setan gila, banyak sekali pasukan Sanggana Kecil!” maki Tarikurat lirih kepada dirinya sendiri. Tatapannya tegang. “Pasukan berpakaian warna-warni itu seperti pasukan pendekar. Gila, kita disuruh bertarung melawan pasukan pendekar.”
Untuk sementara, Tarikurat diam berpikir di dalam ketegangan, seolah-olah menunggu pasukan Kerajaan Sanggana Kecil semakin mendekat. Satu hal dari banyak hal yang membuatnya penasaran adalah dia ingin melihat ujung dari ekor pasukan yang panjang itu. Namun, hingga pasukan itu lebih mendekat, akhir dari ekor pasukan belum juga terlihat.
Semakin dekatnya jarak posisi pasukan Kerajaan Sanggana, maka kini mulai terlihat wajah-wajah para penunggang kuda, terutama yang berkuda paling depan. Wajah yang putih bersih ditambah terpaan sang surya pagi, membuat wajah Permaisuri Mata Hijau dan Permaisuri Tangan Peri terlihat cemerlang, seolah-olah sudah digosok dengan sabun pencuci piring. Bentuk tubuh yang indah tidak bisa mengelabui mata Panglima Tarikurat bahwa kedua penunggang terdepan adalah wanita.
“Pemimpinnya dua wanita. Jangan-jangan …,” ucap Panglima Tarikurat lalu terputus sendiri.
Ia mengerenyit sendiri sebagai ekspresi dari isi pikirannya. Ia lalu menonjok pelan pelipisnya sendiri.
“Kenapa, Gusti?” tanya prajurit pengintai. Ia heran melihat tingkah pemimpinnya.
“Pasukan Sanggana Kecil pasti dipimpin oleh dua permaisuri. Bakalan masuk kubur kita. Jika masuk sarung, tidak apa-apa. Tapi ini masuk kubur, masuk ke dalam liang lahat. Kau mengerti?” jelas Panglima Tarikurat dengan mata mendelik-delik kepada prajuritnya sebagai ekspresi dari kegalauannya terhadap Malaikat Maut.
“I-i-iya, Gusti Panglima,” jawab tergagap si prajurit seraya mengerenyit jelek, meski tidak ada yang berdenyut, kecuali jantung.
Memang, bahan dan model pakaian berbeda yang dikenakan oleh kedua permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, membuat mereka sudah terlihat lebih menonjol dari jauh. Sudah pasti bisa dibayangkan jika mereka tiba di depan mata para kaum batangan itu, pasti akan terlihat lebih menonjol.
Kini bisa terlihat bahwa bendera biru terang yang dibawa pasukan tamu memiliki gambar kepala burung rajawali emas, yang sedang melihat ke arah atas dengan paruh yang terbuka lebar. Kepala burung rajawali emas itu adalah lambang bendera Kerajaan Sanggana Kecil. Sebagai bendera kerajaan, tiangnya terbuat dari kayu khusus dan berukir.
Dalam perjalanan kejayaan Kerajaan Sanggana Kecil, gambar lambangnya beberapa kali mengalami revisi. Sekarang model itulah lambang kenegaraan Kerajaan Sanggana Kecil.
Selain itu ada bendera besar lainnya yang berwarna putih dengan gambar seekor ular hitam yang kepalanya berdiri dan badannya meliuk zigzag di belakang. Itu adalah bendera resmi Pasukan Ular Gunung. Sementara yang lainnya adalah panji-panji kesatuan di dalam Pasukan Ular Gunung.
__ADS_1
“Beri tanda kepada prajurit di atas bukit!” teriak Panglima Tarikurat keras.
Tidak jauh dari jalan masuk ke Ibu Kota yang kini dipadati oleh pasukan, ada sebuah menara pendek karena tingginya hanya dua kali tinggi kepala prajurit. Di atasnya berdiri seorang prajurit yang kedua tangannya memegang bendera kecil seperti tukang parkir pesawat terbang.
Perintah sang panglima membuatnya segera menghadap ke arah sebuah bukit kecil yang ada di sisi timur jalan. Jika melihat ke aras sana, maka pandangan akan langsung berhadapan dengan sinar matahari yang ada di belakang bukit.
Sambil menyipitkan mata karena silau, prajurit di menara menunjukkan bendera di tangan kirinya ke arah puncak bukit yang tidak berumput, sementara bendera di tangan kanan diangkat tinggi lalu digerak-gerakkan. Itu bukan tanda bahwa orang yang memegang bendera adalah orang hidup, tetapi tanda bagi prajurit yang ada di atas bukit untuk bersiap.
Maka, satu pasukan yang ada di atas bukit segera bersiap. Yang mereka persiapkan adalah memasang batu bulat sebesar gajah di pinggiran tanah bukit. Ada balok kayu yang dipasang sebagai pengganjal batu agar tidak menggelinding jatuh ke arah jalanan di bawahnya. Jika balok kayu itu ditarik, bisa dibayangkan ke mana batu raksasa itu akan berguling ria. Sebagai awalan, ada dua bola batu besar yang dipasang.
“Pasukan panah, maju lima puluh langkah!” teriak Panglima Tarikurat lagi dari atas.
“Siap!” teriak pasukan panah serentak, memberi atmosfir pemanggang semangat bagi mereka. Suara mereka bahkan samar-samar sampai di telinga Pasukan Ular Gunung dan pemimpinnya.
Drap drap drap!
Sebanyak seratus pasukan panah segera berjalan maju bersama-sama, karena bersama-sama itu indah.
Setibanya pada langkah kelima puluh, mereka berhenti dan memasang formasi siap dengan anak panah sudah dipasang dibusur, tapi belum ditarik.
Semua jantung prajurit panah itu berdetak kencang, sekencang lari domba balap. Sebab, merekalah pasukan pertama yang akan berhadapan langsung dengan pasukan Sanggana Kecil.
Semakin dekat jarak pasukan Sanggana Kecil, justru membuat pasukan Ibu Kota Kerajaan Baturaharja semakin terkagum sekaligus semakin gentar. Apa sebab?
Melihat pasukan tuan rumah sudah bersiap di beberapa titik dalam menyambut, wajah-wajah para pemimpin dan prajurit Kerajaan Sanggana Kecil tidak menunjukkan rona kegelisahan.
Akhirnya pasukan Kerajaan Sanggana Kecil telah mendekat.
“Kirim panah pembatas!” perintah komandan pasukan panah kepada anak buah.
Seorang prajurit panah segera menarik senar busur dan melepas anak panahnya sejauh mungkin.
Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari membiarkan satu anak panah melesat ke arah mereka.
Set! Teb!
Anak panah itu jatuh menukik dan menancap tiga tombak dari depan kaki kuda sang permaisuri. Kiriman anak panah itu sebagai tanda agar pasukan musuh berhenti dan jangan maju lagi. Jika tetap maju melewati posisi panah menancap, maka akan dipanah oleh satu pasukan.
Permaisuri Kerling Sukma mengangkat tangan kanannya, memberi tanda kepada pasukannya agar berhenti. Namun, sebelum Panglima Bidar Bintang berteriak memberi perintah kepada pasukannya di belakang, Permaisuri Kerling Sukma sudah memberi perintah lagi.
“Pasang pasukan panah jauh! Kepung ibu kota Jayamata!” perintah wanita jelita berpupil mata hijau terang tersebut.
“Pasukan panah jauh! Kepung ibu kota Jayamataaa!” teriak Panglima Bidar Bintang melanjutkan perintah sang permaisuri.
__ADS_1
“Pasukan Ular Gunung! Pantau, patuk, lilit, telan! Huwaaa!” teriak semua prajurit Pasukan Ular Gunung yang mendengar perintah Panglimanya.
“Kepung ibu kota Jayamataaa!” teriak komandan pasukan yang agak di belakang, menyambungkan perintah kepada pasukannya yang barisannya mengular di belakang.
Para komandan yang berada di belakang terus bersahutan menyambung perintah untuk pasukan yang mengekor di belakang.
“Pasukan Ular Gunung! Pantau, patuk, lilit, telan! Huwaaa!” teriak prajurit Pasukan Ular Gunung yang baru mendengar perintah.
Selain teriakan perintah yang bersahut-sahutan sampai ke prajurit terbelakang, teriakan yel-yel dari prajurit juga bersahut-sahutan, sehingga terdengar begitu ramai dan susul-menyusul.
Kesolidan Pasukan Ular Gunung yang terdengar membahana dan kompak membuat pasukan Baturaharja semakin down mentalnya.
“Pasukan panah jauh, maju!” teriak komandan pasukan panah jauh di sela-sela teriakan mayoritas pasukan.
“Majuuu!” teriak sekelompok pasukan yang membawa beberapa komponen senjata perang.
Drap drap drap!
Seorang prajurit pembawa panji kesatuannya berlari lebih dulu tanpa membawa senjata apa-apa, kecuali tiang panjinya. Di belakangnya mengikuti satu pasukan yang berjumlah sekitar tiga ratus prajurit.
Mereka berlari dan berbaris di depan kuda dua permaisuri dengan menghadap ke arah Ibu Kota. Para prajurit itu segera bekerja kelompok. Komponen-komponen kayu yang mereka bawa kemudian dirakit dalam waktu singkat dan dengan gerakan yang cekatan. Maka terciptalah sebuah busur besar dari kayu, yang setiap busur dipasang di atas bahu dua prajurit yang berlutut satu kaki sambil memegangi busur sedemikian rupa agar tidak goyah. Sementara satu prajurit berdiri di belakang sebagai pemanahnya. Dia memegang sebatang anak panah berukuran tiga kali lipat dari ukuran normal. Itulah pasukan panah jauh.
Jika satu panah membutuhkan tiga orang prajurit, maka ada seratus panah yang siap dioperasikan. Pasukan itu membentang satu saf memanjang ke kanan dan kiri.
Melihat model pasukan panah Kerajaan Sanggana Kecil yang unik, semakin ciutlah nyali pasukan panah Kerajaan Baturaharja. Mereka bisa melihat bahwa senjata pasukan lawan lebih besar, yang pastinya jarak jangkauannya lebih jauh.
“Pasukan Ular Gunung! Pantau, patuk, lilit, telan! Huwaaa!”
Pasukan Ular Gunung yang bergerak tanpa henti terus meneriakkan yel-yel pasukan mereka.
Ada sekitar dua ribu pasukan yang berhenti bersama pasukan dua permaisuri. Sementara sisanya yang jauh lebih banyak, bergerak ke samping menempuh perjalanan mengelilingi tanah Ibu Kota.
“Mau ke mana pasukan itu, Gusti?” tanya prajurit yang masih bersama Panglima Tarikurat di atas pohon jengkol.
“Sepertinya mereka ingin mengepung Ibu Kota,” jawab Panglima Tarikurat.
Benarlah dugaan Panglima Tarikurat. Sebagian besar dari Pasukan Ular Gunung bergerak mengelilingi wilayah Ibu Kota dengan maksud mengepung. Itu adalah perwujudan dari kata “lilit” dalam yel-yel mereka. Sepertinya mereka akan membuat pagar betis.
Butuh waktu lama untuk menunggu pasukan ekor berhenti bergerak dalam rangka mengepung Ibu Kota. Pergerakan Pasukan Ular Gunung yang seakan-akan tidak habis-habis itu menambah tekanan bagi mental pasukan Ibu Kota.
Namun, Permaisuri Kerling Sukma tidak mau menunggu pasukan di belakang habis dan berhenti bergerak.
“Kirim panah peringatan!” perintah Permaisuri Kerling Sukma.
__ADS_1
“Baik, Gusti!” sahut komandan pasukan panah jauh. (RH)