
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Dermaga Tidur adalah dermaga kayu biasa di salah satu spot di pantai Pulau Gunung Dua. Dermaga itu dijadikan tempat sejumlah nelayan sekitar menambatkan perahunya. Posisi Dermaga Tidur cukup jauh dari Pelabuhan Manisawe.
Suasana dermaga di malam itu sangat sepi dan gelap. Jika Tadayu dan Gandang Duko tidak memerlukan nyala api untuk berjalan di dalam kegelapan, maka berbeda dengan Nahkoda Dayung Karat yang hanya pendekar jaga selamat, punya kemampuan bela diri hanya sekedar mempertahankan kehormatannya jika ada tante-tante agresif di pelabuhan lain.
Ada satu rahasia, kenapa Dayung Karat tidak suka dirayu oleh tante-tante girang seperti di Pelabuhan Bandakawen. Itu karena keperkasaannya menderita penyakit semiga syndrome, yaitu penyakit yang membuat lelaki atau wanita hanya memiliki separuh dari gairahnya, sehingga terlalu sulit untuk mencapai puncak saat berlayar. Istilah lain dari semiga adalah “separuh mikir untuk bergairah”. Namun, penyakit model itu akhirnya telah punah sebelum era Keshogunan Tokugawa Jepang berakhir.
Maka wajar saja jika sampai saat ini Dayung Karat tidak memiliki keturunan. Kondisi yang sebenarnya membuatnya memendam kesedihan. Namun, bagi Lenting Buai, istrinya, kondisi itu tidak begitu masalah, karena kemesraannya dengan suami tidak diganggu oleh panggilan atau rengekan seorang anak.
Malam itu, suami istri tersebut harus ikut mengamankan diri dengan cara meninggalkan Pulau Gunung Dua. Tadayu dan Gandang Duko menggunakan satu perahu dengan membawa Putri Uding Kemala, sedangkan Dayung Karang dan istrinya satu perahu.
Jarak Pulau Tujuh Selir dengan Pulau Gunung Dua tidak begitu jauh. Jika seandainya sudah ada lampu listrik, mungkin kedua penghuni pulau bisa saling melihat cahaya di pulau seberang.
Karena berpisah perahu, maka dua pengendara perahu itupun tidak saling tunggu. Mereka mendayung berpisah dan gelapnya malam membuat mereka masing-masing yang penting satu tujuan.
“Tadayu, ayo kita perkosa sekarang putri ini!” ajak Gandang Duko.
“Memperkosanya tanpa cahaya?” tanya Tadayu sambil mendayung perahu di dalam kegelapan laut.
“Tujuan utama kita adalah memperkosa Putri Uding dan membawa kepala Pangeran Bangir Kukuh untuk adikmu. Jadi tidak usah repot harus terang atau gelap. Selama perempuannya ada, gelap tidak masalah, yang penting bisa dipegang, bisa dirasa,” kata Gandang Duko, seperti seorang pemerkosa berpengalaman.
“Nanti saja jika kita tiba di Tujuh Selir,” tolak Tadayu.
“Kau sepertinya tidak berniat mau memperkosa. Jika kita lakukan di Tujuh Selir, kemudian ketahuan oleh Ratu Bunga Petir, bisa mati kita,” kata Gandang Duko.
Sementara itu, Putri Uding Kemala yang tertotok lengkap hanya mendengarkan perdebatan kedua pemuda itu. Ia terbaring setengah badan karena punggungnya bersandar pada buritan perahu yang cukup lega untuk tiga orang.
“Sini, aku yang mendayung, kau yang memerkosanya lebih dulu,” kata Gandang Duko sambil bergerak ke tempat duduk Tadayu. Dia merampas dayung pada tangan Tadayu. “Setelah kau, baru aku yang memerkosanya. Demi sahabat, sisa pun tidak masalah.”
Mau tidak mau, Tadayu bergeser ke dekat tubuh Putri Uding Kemala. Ia memandang wanita yang terbaring itu. Gelapnya malam membuat ia melihat wanita cantik itu tidak ubahnya makhluk hitam yang tidak terlihat sedikit pun kecantikannya.
“Jangan pikir banyak, ayo lakukan!” desak Gandang Duko.
“Tapi bagaimana cara memperkosanya?” tanya Tadayu lugu.
“Kenapa aku baru tahu, kau yang sesakti ini tidak mengerti cara mengerjai perempuan?” keluh Gandang Duko.
“Kau tahu sendiri, aku sejak kecil diasingkan untuk menempa ilmu kesaktian. Tidak ada waktu untuk bermain-main dengan perempuan, apalagi Guru sangat melarangku dekat dengan wanita di masa berguru. Apakah kau sudah pernah melakukan perbuatan seperti itu?” kilah Tadayu.
“Waktu kecil, waktu usiaku dua belas tahun aku pernah melakukannya,” jawab Gandang Duko.
“Hah! Siapa yang kau perkosa di usia seperti itu?” tanya Tadayu terkejut.
“Bukan aku yang memperkosa, tapi aku diajak,” jujur Gandang Duko.
__ADS_1
“Siapa yang mengajakmu?” desak Tadayu sangat penasaran.
“Wanita yang seusia ibumu,” jawab Gandang Duko pelan.
“Hah!” kejut Tadayu lagi. “Siapa?”
“Tidak boleh aku sebutkan namanya, nanti namanya tercemar. Ingat, ini rahasia. Namun, wanita itu sudah mati,” kata Gandang Duko.
“Ternyata, kau keterlaluan juga. Masih kecil tapi bermain dengan wanita seusia ibuku?”
“Eh sudahlah. Kenapa jadi membahas aku? Ayo perkosa putri itu. Atau aku yang memerkosanya lebih dulu?” desak Gandang Duko.
“Apanya yang harus aku pegang dulu?” tanya Tadayu.
“Apa saja boleh kau pegang. Ciumi dulu dia,” jawab Gandang Duko.
“Iya,” ucap Tadayu tanda mengerti.
Ia lalu mulai memperbaiki posisinya dengan berlutut di sisi tubuh Putri Uding Kemala. Wanita itu hanya bisa mendelik-delik panik tanpa bisa berbuat apa-apa dan berteriak. Mungkin dengan menjerit ada hantu laut yang datang menolongnya.
Tadayu lalu meraih tangan kanan Putri Uding Kemala. Lalu mulai menciuminya, tapi tidak pakai “nyam nyam nyam” seperti gaya Gandang Duko.
“Buat apa kau menciumi tangannya?” hardik Gandang Duko. “Cium bibirnya, lehernya, dadanya, perutnya, dan seterusnya!”
“Iya, iya, iya!” ucap Tadayu rada kesal. Memang, ia harus melakukannya, karena dialah yang punya niat dan rencana demi membalas dendam. Lalu ucapnya kepada Putri Uding Kemala, “Maaf, Gusti Putri.”
“Maaf, Gusti Putri,” ucap Tadayu lagi saat ingin memulai menempelkan bibirnya ke pipi sang putri yang menjerit setinggi langit sedalam samudera, tetapi hanya di dalam hati.
Di dalam kegelapan perahu itu, Tadayu menempelkan dua bibirnya ke wajah sang putri berulang kali, tapi hanya menempelkan seperti stemple, tidak ada gerakan bibir yang umumnya disebut mencium. Apalagi jilatan lidah, tidak ada jejak ludah sama sekali.
Namun, gelapnya malam membuat visualisasi adegan tersebut tidak tersedia. Bahkan Gandang Duko tidak melihat adegan mesum sedikit pun, selain satu bayangan hitam yang bergerak-gerak kecil di atas perahu.
“Buka bajunya, agar kau bisa mencium bau wangi tubuh Putri, bukan bau keringatku,” kata Gandang Duko.
“Iya,” sahut Tadayu patuh.
Tadayu lalu membuka baju pada badan Putri Uding Kemala sehingga gadis itu murni telanjang. Untung gelap.
“Kenapa kau buang baju itu ke laut, Tadayu?!” teriak Gandang Duko saat tahu bahwa Tadayu membuang baju itu begitu saja ke laut. Entah sadar atau tidak. “Itu bajuku!”
“Eh, maaf Gandang. Aku tidak konsentrasi,” ucap Tadayu.
“Ya sudah, sekarang buka baju dan celanamu!” kata Gandang Duko bernada kesal.
“Setelah itu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Tadayu sambil membuka bajunya.
__ADS_1
“Buka celanamu lalu masukkan!” tuntun Gandang Duko.
“Apanya yang dimasukkan?” tanya Tadayu lugu. Entah dia benar-benar lugu atau pura-pura lugu untuk memperlambat aksi pemerkosaannya.
“Tanganmu yang kau masukkan ke mulutnya!” jawab Gandang Duko kesal bukan main. “Apa perlu aku pegang pisangmu dan aku yang memasukkannya?”
“Ah, ti-ti-tidak usah. Iya, aku mengerti. Hehehe!” kata Tadayu.
Dia lalu berdiri dan melorotkan celananya, tetapi masih berbekal cawat yang sudah berusia tua.
“Tapi dia dalam kondisi tertotok,” kata Tadayu. “Yang pernah aku dengar, memperkosa itu akan lebih seru jika wanitanya memberontak.”
“Ya sudah, kau lepaskan totokannya, agar pemerkosaanmu lebih berkesan,” kata Gandang Duko.
Tuk tuk tuk!
“Tolong aku, Hantu Lauuut!” teriak kencang Putri Uding Kemala ketika ia bebas dari totokan.
“Jangan teriak!” bentak Tadayu sambil cepat berusaha membekap mulut Putri Uding Kemala.
Pak!
Putri Uding Kemala refleks menepis tangan Tadayu yang berada di atas tubuhnya. Namun, tepisan itu membuat Tadayu justru jatuh mencium bibir Putri Uding Kemala.
Bukannya menikmati ciuman bibir itu, Putri Uding Kemala memberontak sekuat tenaga.
“Bajingan setan, burungan setan, babian setan!” maki Putri Uding Kemala dengan menyebut nama-nama satwa jejadian.
“Hahaha! Ini baru pemerkosaan yang seru,” kata Gandang Duko tertawa sambil terus mendayung perahu.
Duk!
“Hekhr!” keluh Tadayu sedalam hati, setinggi ubuh-ubun yang kepanasan. Seperti tersengat petir saat lutut Putri Uding Kemala menghantam keras buah pangkal pahanya.
Ternyata, meski Tadayu berkesaktian tinggi, tapi gurunya tidak pernah mengajarkan dia bagaimana caranya menaklukkan pangkal paha wanita.
“Hahahak!” Mengetahui itu, Gandang Duko tertawa kencang terbahak-bahak.
“Lelaki bejat!” maki Putri Uding Kemala sambil mendorong tubuh Tadayu ke samping. Setelah itu, sang putri buru-buru bangkit dan langsung melompat keluar dari atas perahu.
Jbur!
“Tadayu, Putri melompat!” pekik Gandang Duko terkejut.
Tadayu pun terkejut. Sambil menahan sakit di pusat keperkasaannya, Tadayu cepat melompat menyusul terjun ke dalam air laut yang gelap.
__ADS_1
“Tadayu!” panggil Gandang Duko, tapi hanya bergerak berdiri.
Ternyata, ujung-ujungnya, kedua orang itu tidak muncul-muncul ke permukaan dekat perahu. Tinggallah Gandang Duko kebingungan sendiri. Sebab, setelah dia menunggu sekitar setengah jam, Tadayu tidak kunjung muncul, padahal dia berilmu tinggi. (RH)