
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Hari itu adalah hari kebebasan dan hari kegembiraan bagi militer dan sipil di Negeri Pulau Kabut.
Semua tahanan militer dan sipil dibebaskan, terutama para pejabat yang membangkang terhadap pemerintahan penjajah.
Orang-orang hartawan yang bebas dari tahanan melakukan sawer kepeng kepada rakyat kecil di Ibu Kota, bukan kepada penyanyi dangdut keliling.
Sementara rakyat kecil tidak main sawer, tapi main panah-panahan. Namanya juga panah-panahan, berarti panah mainan buatan sendiri, bukan beli di abang tukang mainan.
Bermain panah-panahan adalah permainan khas di Negeri Pulau Kabut yang sifatnya untuk bergembira dan menghibur karena anak panahnya tidak tajam, tapi tumpul. Jika ada yang terkena, pasti akan menjerit yang terkadang terdengar lucu dan membuat tertawa rekan sepermainan lainnya.
Kaum wanita yang terbebas dari penjara dan perbudakan yang tidak manusiawi, banyak yang segera berpakaian bagus dan berdandan cantik meski mereka tidak cantik, tanpa lupa mandi lebih dulu. Itu sebagai bentuk syukur mereka.
Para orang tua juga bersuka hati membuat berbagai macam penganan yang nantinya akan di bawah ke alun-alun ibu kota Tanah Hitam, yang kemudian dimakan bersama tanpa harus bayar alias geratis.
Di saat warga Ibu Kota dan warga dua kota lain yang dimiliki oleh Negeri Pulau Kabut bergembira ria, keluarga Istana harus memendam kesedihan dengan gugurnya Pangeran Bewe Sereng, orang yang begitu berjasa karena berhasil membawa orang-orang pembebas yang berhasil membebaskan negeri tersebut. Keluarga Istana yang masih tersisa berpikir, biarlah kesedihan itu mereka rasakan sendiri tanpa perlu dibagikan kepada rakyat yang sedang bergembira ria.
Usai memakamkan Pangeran Bewe Sereng di dasar laut di bawah Karang Hitam, Keluarga Istana segera mengadakan pertemuan penting dengan Permaisuri Dewi Ara dan para pengikutnya.
Hari itupun, Pelabuhan Pintu Kabut dan Pelabuhan Kepeng ditutup selama satu hari penuh. Kapal dagang yang ingin meninggalkan Pelabuhan Kepeng atau yang datang tidak diperkenankan. Kapal-kapal yang datang mau tidak mau harus bersauh di air dalam sampai ada keputusan dari Istana Kabut Kuning.
Kedua pelabuhan untuk sementara dijaga penuh oleh kelompok Bajak Laut Malam pimpinan Genggam Garam.
Para pasukan Kerajaan Puncak Samudera yang tersisa menjadi tahanan. Keesokannya mereka diberi tawaran oleh Istana, yaitu memilih dieksekusi mati atau menjadi pekerja tanpa bayaran untuk melanjutkan proyek pembangunan benteng di Pelabuhan Pintu Kabut dan yang lainnya. Setelah proyek-proyek itu selesai, mereka akan dibebaskan secara penuh.
Sementara para pejabat Negeri Pulau Kabut yang membelot menjadi pengabdi Kerajaan Puncak Samudera, ditangkap semua dan dipenjara. Beberapa pejabat yang berusaha kabur harus mati di ujung senjata.
Di dalam pertemuan setelah ditumpasnya semua orang Negeri Karang Hijau, dari Keluarga Istana yang hadir adalah Putri Mahkota Putri Keken, Tangan Kanan Seser Kaseser, Menteri Kete Weleng, Putri Neneng Ame, Penasihat Jejer Meranggi, dan Menteri Kesetiaan Gular Beber.
__ADS_1
Jejer Meranggi dan Gular Beber adalah dua pejabat yang memilih dipenjara dan disiksa demi setia kepada Istana Kabut Kuning.
Adapun dari pihak tamu yang hadir adalah Permaisuri Dewi Ara, Pangeran Arda Handara, Eyang Hagara dan Tikam Ginting yang dalam kondisi terluka parah, Mimi Mama, Setya Gogol, Lentera Pyar, Bagang Kala, Anik Remas, Komandan Bengisan, Bong Bong Dut, dan Nahkoda Dayung Karat.
Orang-orang seperti Komandan Bengisan, Bong Bong Dut dan Dayung Karat merasa sangat bangga dan terhormat bisa diikutkan dalam pertemuan super penting itu. Biar pun Dewi Ara adalah wanita yang senyumnya mahalnya selangit dan masih memiliki sisa karakter yang kejam, tetapi dia tahu cara mengangkat derajat para abdinya.
“Pemerintahan tidak boleh kosong. Putri Mahkota harus segera dinobatkan sebagai ratu!” tegas Dewi Ara.
“Aku setuju,” kata Kete Weleng.
“Aku rasa, kita semua setuju jika Putri Mahkota kita nobatkan secepatnya menjadi ratu. Namun, usia Putri Mahkota masih begitu muda,” kata Putri Neneng Ame.
“Itu urusan kalian kemudian. Yang jelas, tahta adalah sangat jelas hak Putri Keken. Jika ada yang berusaha menolaknya dengan alasan apa pun, itu artinya dia bergelagat menentang dan sama dengan memberontak, meski tanpa perlawanan,” kata Dewi Ara yang membuat Putri Neneng Ame mendelik, seolah-olah Dewi Ara mencurigainya.
“Kita masih memiliki Penasihat Jejer Meranggi dan Tangan Kanan Sese Kaseser yang bisa membantu Ratu, dalam mengambil keputusan-keputusan yang memerlukan pikiran yang dewasa,” kata Kete Weleng.
“Tentukanlah waktu penobatan!” kata Dewi Ara yang lebih kepada perintah.
“Besok pagi kami akan menobatkan Putri Mahkota sebagai Ratu Negeri Pulau Kabut,” kata Penasihat Jejer Meranggi. “Mohon kesediannya, Putri Mahkota.”
“Tunggu!” kata Menteri Kete Weleng dengan nada agak tinggi. “Sebelum kematiannya, Pangeran Bewe Sereng menyampaikan satu wasiat yang juga disaksikan dan didengar oleh Tetua Hagara.”
Semua perhatian seketika fokus kepada Menteri Kete Weleng mendengar perkataan itu.
“Sampaikanlah, Menteri. Jangan sampai wasiat itu menjadi masalah di kemudian hari jika tidak disampaikan,” kata Dewi Ara.
“Aku telah mencoba memahami kenapa Pangeran Bewe Sereng sampai berwasiat demikian. Isi wasiat itu berbunyi ‘jika Gusti Permaisuri mengambil kuasa Istana, maka berikanlah’,” kata Kete Weleng yang membuat Keluarga Istana dan pejabat Istana terkejut. Itu berarti memberi jalan luas bagi Dewi Ara untuk mengambil tahta dengan bebas, pikir mereka.
Melihat reaksi wajah-wajah tuan rumah itu, Kete Weleng segera melanjutkan kata-katanya.
“Aku tidak membual atau mengarang kalimat karena ini disaksikan oleh Tetua Hagara,” kata Kete Weleng.
__ADS_1
“Benar. Seperti itu kalimat wasiatnya,” kata Eyang Hagara.
Sebelum ada anggota Keluarga Istana atau pejabat yang berkomentar, Dewi Ara lebih cepat berbicara menanggapi isi wasiat itu.
“Aku datang bukan untuk mengusai negeri ini, tetapi aku melaksanakan perintah Raja Kerajaan Sanggana Kecil untuk membantu negeri ini lepas dari Negeri Karang Hijau. Sekarang negeri ini dinyatakan telah lepas dari cengkeraman Negeri Karang Hijau, itu artinya tugasku dan tugas pengikutku telah selesai. Setelah itu adalah urusan Ratu Negeri Pulau Kabut dan para pejabatnya. Setelah penobatan Putri Mahkota sebagai ratu baru, sudah waktunya aku pulang ke Sanggana Kecil dan ke suamiku,” kata Dewi Ara.
“Tapi, Gusti Permaisuri …,” ucap Seser Kaseser yang segera dipotong oleh Dewi Ara.
“Aku tidak menginginkan harta atau kedudukan di negeri ini. Aku pun tidak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di sini. Kalian cukup memberikan hadiah kepada para abdiku atas perjuangan mereka dalam perang pembebasan ini,” kata Dewi Ara.
“Hihihi!” tawa Mimi Mama yang senang mendengar perintah itu.
“Hehehe!” kekeh pelan Bong Bong Dut.
“Waaah! Aku baru tahu, ternyata kau cantik-cantik mata kepeng!” tukas Arda Handara kepada Mimi Mama yang duduk di sebelahnya.
“Aku tidak akan marah. Dulu aku menjadi pembunuh bayaran yang mahal karena aku memang suka dengan kepeng dan emas,” kata Mimi Mama.
“Kau tidak bisa menjadi calon istriku, bisa miskin aku nanti,” kata Arda Handara.
“Hahaha!” tawa beberapa orang mendengar kata-kata sang pangeran kecil.
“Tapi, Gusti Permaisuri. Jika Gusti Permaisuri pergi, itu sama saja meninggalkan kami untuk hancur lebih buruk dari sebelumnya,” kata Kete Weleng.
“Benar, Gusti. Kami akan dihancurkan oleh Kerajaan Puncak Samudera,” kata Seser Kaseser pula. “Aku rasa wasiat mendiang Pangeran Bewe Sereng benar dan tepat.”
“Namun sayang, aku tidak tertarik dengan kekuasaan. Kalian punya pikiran dan kekuatan. Itu urusan kalian!” tandas Dewi Ara. “Serangan Kerajaan Karang Hijau ke negeri ini baru sekedar dugaan tanpa diketahui kapan itu akan terjadi. Apakah besok, satu purnama lagi, atau setahun lagi. Namun, itu urusan kalian kemudian. Apakah kalian bisa melawan atau tidak, kalian punya otak yang bisa memikirkan banyak cara menghadapi ancaman Negeri Karang Hijau.” (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Novel Baru
Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.