Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 26: Masuk Hutan Timur


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Akhirnya Arda Handara sampai di pinggiran timur Ibu Kota.


“Wuaaah! Hutan Timuuur!” pekik Arda Handara girang ketika dia melihat dengan jelas kebesaran Hutan Timur yang begitu eksotis sebagai hutan yang baru saja tidak perawan.


Ia berteriak ketika dia jauh dari keramaian kota.


Arda Handara lalu mengeluarkan seekor ulat bulu berwarna merah bergaris-garis biru gelap. Ulat itu kini berada di atas jari telunjuknya.


“Bodong, sebentar lagi kedudukanmu akan disingkirkan oleh uyut-uyut dari Hutan Timur. Jangan menangis ya. Hahaha!” kata Arda Handara sambil mendekatkan wajahnya kepada si ulat bulu. Lalu teriaknya dengan semangat, “Ayo kita ke Hutan Timuuur!”


Setelah berteriak seperti itu, Arda Handara lalu berlari kencang menerobos semak belukar yang setinggi pinggangnya. Suara tawanya terdengar begitu gembira.


“Hei, berhenti!”


Teriak satu suara perempuan tiba-tiba.


Teriakan itu membuat Arda Handara terkejut dan berhenti. Ia langsung mendongak ke atas sebuah pohon mangga.


Ia langsung bisa mendeteksi asal sumber suara. Dilihatnya ada seorang wanita belia berkulit hitam manis dan berambut sebahu, sedang menggantung di dahan pohon. Wanita berwajah manis itu tidak sedang gantung diri, tapi sedang duduk menggantung pada simpulan tambang.


Gadis belia yang tidak lain adalah Barada itu, sedang menunjuk dan mendelik kepada Arda Handara yang berwajah masih sehitam bokong kuali.


“Hei, Anak Monyet! Mau ke mana kau?!” teriak Barada lagi.


Terkejutlah Arda Handara disebut “Anak Monyet”.


“Kau yang perempuan monyet, memanjat-manjat seperti monyet!” teriak Arda Handara yang ternyata bisa marah juga.


“Eh eh eh, anak nakal!” hardik Barada lagi.


“Eh eh eh, perempuan nakal! Weeek!” balas Arda Handara pula lalu menjulurkan lidahnya.


Perlawanan Arda Handara membuat Barada kian emosi. Buru-buru dia membuka beberapa simpul talinya, membuat tubuhnya turun ke bawah dan mendarat dengan baik. Tambangnya ikut terbawa di tangan.


Melihat Barada sudah turun dari pohon, Arda Handara cepat berlari kabur ke arah Hutan Timur.


“Hei, Anak Monyet! Ayah ibumu mencarimu!” teriak Barada lagi, berusaha mencegah Arda Handara terus berlari.


“Awas kau! Ayah ibuku bukan monyet!” teriak Arda Handara mengancam, tapi tetap berlari kencang menerobos rerumputan yang tinggi.


“Kau mau ke mana?!” tanya Barada.


“Cari uyut-uyut!” sahut Arda Handara.


Kejar-kejaran terus terjadi dan tidak terasa mereka kian mendekati hutan larangan.


“Jika kau bukan anak monyet, di sana tidak ada buyutmu!” teriak Barada yang semakin tertinggal oleh Arda Handara.


“Aku mencari uyut-uyut, bukan buyut!”


“Itu hutan berbahaya, bukan pasar mainan!”


“Aku tahuuu!”


“Kalau kau tahu, kenapa mau bunuh diriii?!”


“Aku mau mencari uyut-uyut, bukan bunuh diri!”

__ADS_1


Demi berniat menyelamatkan anak kecil pelari kencang itu, Barada terus mengejar, tidak peduli bahwa mereka berdua sebentar lagi akan memasuki Hutan Timur.


“Anak siapa sebenarnya dia? Kenapa senekat ini. Sudah tahu itu hutan berbahaya, kenapa masih pergi ke sana?” batin Barada yang mulai terengah-engah karena berlari sprint. “Anak itu cepat sekali larinya.”


Tidak terasa, akhirnya Arda Handara melewati dua batang pohon besar yang lebih besar dari tiang Istana. Dengan demikian, Arda Handara secara resmi sudah memasuki Hutan Timur. Setelah berlari beberapa puluh tombak ke dalam hutan dan cahaya meredup karena sinar matahari terhalang kelebatan daun pepohonan, Arda Handara berhenti sebentar untuk memerhatikan keadaan sekitar, guna memilih jalan yang bagus.


Berhentinya Arda Handara, membuat Barada bisa memendekkan jarak dengan bocah bangsawan itu. Namun, ketika ia sudah bisa melihat keberadaan Arda Handara lagi, anak itu sudah berlari lagi dan hilang di balik tumbuhan liar yang lebih tinggi dari kepalanya.


Barada terus berlari mengejar. Tanpa sungkan-sungkan dia pun menerobos tumbuhan liar. Meski Arda Handara sudah tidak terlihat, tetapi pergerakan tumbuhan yang dilewatinya menjadi penunjuk posisinya.


“Hei, Anak Ganteng!” panggil Barada. Kali ini mengubah panggilannya, agar Arda Handara mau berhenti.


“Woi, Kakak Hitam!” sahut Arda Handara terdengar cukup jauh, tapi tidak terlihat wujudnya.


“Berhentilah, agar aku bisa menyusulmu!” teriak Barada lagi.


“Jangan mengejarku, nanti kau digigit ayam!” sahut Arda Handara pula. Posisi suaranya terus berpindah posisi.


“Ayam itu mematuk, bukan menggigit!”


“Ayam nenekku menggigit. Hahaha!”


“Laaah, dia malah tertawa,” gerutuh Barada. Lalu teriaknya lagi, “Berhenti sebentar, agar aku bisa menyusulmu!”


“Tidak mau! Nanti kau menangkapku dan mengikatku, lalu memasakku! Kau pasti perempuan jahat!”


“Aku tidak jahat. Aku mengejarmu karena ingin menolongmu!”


“Aku tidak sedang minta tolong!”


“Jika kau sendirian, nanti kau ketakutan. Biar aku temani!”


Terkejut Barada mendengar jawaban Arda Handara.


“Anak kecil sialan. Masih kecil, tapi pikirannya sudah ke mana-mana!” maki Barada.


“Aaak!” pekik Arda Handara tiba-tiba, tapi tidak terlihat tubuhnya. Jeritannya terdengar agak menjauh.


“Anak Monyet!” pekik Barada terkejut.


Barada buru-buru mepercepat larinya yang terhalang banyak rintangan.


“Anak Ganteng, di mana kau?!” teriak Barada sambil berhenti berlari, sebab ia tidak melihat tanda pergerakan posisi Arda Handara.


“Di sini, Biii!” teriak Arda Handara. Suaranya menggema.


“Di sini mana?!” sahut Barada sambil melihat ke sana dan ke sini.


“Di bawah, aku jatuh, Bi!” jawab Arda Handara.


Barada cepat bergerak. Di sisi timur memang ada jurang. Ia harus berhati-hati melangkah, sebab bibir jurang tertutupi oleh semak belukar. Ia memilih pergi ke sebuah pohon yang akar-akar besarnya menjorok ke arah jurang.


Dari atas akar pohon, Barada mencoba mencari-cari dengan pandangannya.


“Anak Ganteng!” panggil Barada.


“Iya, Biii! Aku di bawahmu!”


Barada segera memandang ke bawah akar pohon yang menjorok. Ternyata, posisi Arda Handara berada tepat di bawah akar pohon, tetapi jaraknya beberapa tombak ke bawah.


Arda Handara dalam posisi bergantung kepada tumbuhan rambat di dinding jurang yang dipenuhi tumbuhan yang batangnya hanya setebal batang pohon kangkung. Kedua tangannya menggenggam batang tumbuhan hijau itu.

__ADS_1


“Kau bisa memanjat ke sini!” teriak Barada.


“Tidak bisa, daunnya bisa putus!”


“Tidak akan putus. Naiklah! Jika kau bisa berlari kencang, kau pasti bisa memanjat!” seru Barada yang yakin bahwa anak itu bisa memanjat. Terlebih Arda Handara adalah anak yang bertenaga.


Karena Barada tidak percaya, Arda Handara terpaksa mencoba memanjat dengan menarik batang tumbuhan rambat yang dipegang tangan kanannya.


Tas!


Tiba-tiba batang tumbuhan rambat itu putus.


“Ak!” jerit Arda Handara terkejut ketika tubuhnya bergerak jatuh separuh.


“Anak Monyet! Hati-hati!” pekik Barada terkejut dan nyaris saja jantungnya copot melihat batang tanaman itu putus.


Beruntung, tanaman pada tangan kiri Arda Handara tidak ikut putus dan tangan kanannya cepat meraih batang yang lain. Hal itu membuat tubuh si anak batal jatuh ke bawah.


“Diam, diam, jangan bergerak!” teriak Barada panik.


Buru-buru Barada mengikatkan ujung talinya pada akar pohon yang kuat. Ia bekerja cekatan dan terkesan buru-buru, khawatir Arda Handara jatuh lebih dulu sebelum dia datang menjemput.


Ujung tali yang lain dilempar ke bawah, Ternyata ujung tali yang dilempar belum bisa mencapai posisi Arda Handara.


Melihat kenyataan itu, Barada terpaksa harus turun, karena tali masih kurang panjang sekitar satu depa. Jika ia turun dan menjadikan tubuhnya sebagai tali penyambung, niscaya ia bisa mencapai anak itu.


“Anak Ganteng, sebenarnya kau anak siapa?” tanya Barada sambil bergerak turun menggunakan tali, seperti pasukan khusus.


“Anak ayahanda dan ibundaku!”


“Aku menanyakan nama ayah dan ibumu!”


“Ayahandaku Prabu Dira, Raja Sanggana Kecil!”


“Dasar anak nakal! Dalam situasi seperti ini kau masih saja berbohong!” rutuk Barada.


“Aku tidak berbohong. Aku Pangeran Arda Handara, putra Prabu Dira. Ibundaku bernama Permaisuri Dewi Ara!” tandas Arda Handara.


“Lihatlah wajahmu yang seperti monyet itu, siapa yang akan percaya bahwa kau seorang pangeran,” kata Barada.


Akhirnya, Barada bergantungan pada ujung talinya. Ia memberikan ujung kakinya kepada Arda Handara.


“Ayo, ambil kakiku, Anak Ganteng!”


Arda Handara dapat dengan mudah beralih meraih pergelangan kaki Barada. Barada mengerenyit ketika seluruh beban tubuh Arda Handara beralih ke kakinya.


“Bibi, ayo naik!” kata Arda Handara sambil memanjat perlahan pada kaki barada.


“Ada ular,” ucap Barada pelan dengan suara gemetar dan mata mendelik, menatap pergerakan seekor ular sebesar lengannya pada dinding jurang, tepat di atasnya.


Ular berwarna hijau seperti daun itu merayap perlahan mendekati posisi tangan Barada pada tali.


“Jika ada ular, Bibi cekik saja lehernya, pasti dia minta ampun-ampun!” sahut Arda Handara enteng.


Namun, sepasang mata Barada kian mendelik, ketika sang ular mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Tuk!


“Aaak!” jeri Barada seiring tangannya terlepas dari pegangannya pada tali, saat punggung tangannya dipatuk oleh si ular hijau.


“Aaak!” jerit Arda Handara pula seiring tubuhnya meluncur turun dengan deras di dinding jurang. Ia tetap berpegangan kuat pada kaki Barada. (RH)

__ADS_1


__ADS_2