Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 12: Jati Diri Gada Perkasa


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


“Siapa kau, Bajingan?!” tanya Adipati Siluman Merah membentak Gada Perkasa.


“Aku … Aku adalah kekasih Munik Segilir,” jawab Gada Perkasa tergagap dan suaranya terdengar jelas bergetar, menunjukkan bahwa ia takut.


“Bocah tidak jelas sepertimu …,” kata Adipati Siluman Merah, lalu tiba-tiba dia melesat maju dan berhenti sangat dekat di depan Gada Perkasa. Bukan lagi sejangkauan pedang, tetapi sejangkauan tangan. “Begitu beraninya mencintai putriku!”


Alangkah terkejutnya Gada Perkasa menghadapi kecepatan perpindahan posisi berdiri sang adipati. Sampai-sampai ia mati gerak dengan kedua kaki berdiri gemetar.


Bak!


Karena terlalu terkejutnya, Gada Perkasa sampai lupa bahwa dia sedang memegang pedang dan perisai. Satu pukulan telapak tangan Adipati Siluman Merah lebih dulu menghajar dada Gada Perkasa.


“Hukh!” keluh Gada Perkasa dengan tubuh terlempar ke belakang dan jatuh punggung lebih dulu. Hal itu membuat pedang terlepas dari pegangan, sementara perisai terlepas tapi masih dekat dengan tangannya.


Buru-buru Gada Perkasa bangkit dengan memegang perisainya menggunakan dua tangan.


Sementara itu, agak jauh di belakang Adipati Siluman Merah telah berdiri keluarga besar dari sang adipati, termasuk seorang gadis cantik jelita bernama Bening Mengalir.


Melihat Bening Mengalir yang ternyata lebih cantik dan lebih bening dari Munik Segilir, membuat Gada Perkasa sempat terpana dan loading otaknya.


“Jawab! Siapa kau, Keparat!” bentak Adipati Siluman Merah, tapi kemudian satu kakinya mengayun deras kepada Gada Perkasa lantara melihat pemuda berwajah bokong kuali itu memandangi putrinya.


Brakr!


Tendangan itu menghantam perisai tutup gentong di tangan Gada Perkasa, sehingga hancur berantakan. Tidak hanya itu, Gada Perkasa juga sampai kembali terjengkang. Memang tendangan Adipati Siluman Merah dimaksudkan kepada perisai, bukan kepada tubuh si pemuda, tetapi tetap saja kekuatan tendangan itu membuat si pemuda kembali terjengkang.


“Nenek Kenyooot! Nenek Kenyooot!” teriak Gada Perkasa mulai panik sambil buru-buru bangkit lagi.


Ia melihat ke sekelilingnya, seolah mencari celah untuk melarikan diri. Namun, di belakangnya telah ada mata-mata tombak yang siap menusuk.


Namun, tidak ada Kenyot Gaib yang muncul karena panggilan Gada Perkasa.


“Ayah, dia itu Kakang Gada Perkasa, kekasih Kakak Munik Segilir!” teriak Bening Mengalir.


Terkejut semua orang mendengar teriakan Bening Mengalir, terutama bagi Gada Perkasa.


“Bagaimana dia tahu aku, sedangkan aku tidak tahu dia?” batin Gada Perkasa.


Adipati Siluman Merah dan keluarga besarnya terkejut karena baru tahu bahwa Munik Segilir ternyata memiliki kekasih lain, padahal ia besok akan menikah dengan Bajigur yang berjari-jari sebesar pisang.

__ADS_1


“Jika kau memang benar adalah kekasih putriku Munik, aku tidak akan sudi putriku berhubungan dengan lelaki selemah dirimu, Keparat!” tandas Adipati Siluman Merah.


Buk!


“Hukrr!”


Gerakan Adipati Siluman Merah begitu cepat maju kepada Gada Perkasa, lalu satu tinju bertenaga dalam menghantam dada si pemuda.


Gada Perkasa terdorong beberapa tindak ke belakang dengan mulut menyemburkan sedikit darah kental.


“Akk!” jerit Gada Perkasa ketika punggungnya yang mundur, tanpa diniatkan tertusuk dua mata tombak milik prajurit di belakangnya.


Buru-buru Gada Perkasa menarik maju tubuhnya menjauhi tombak yang telah menusuknya beberapa inci. Darah pun mengalir keluar dari balik kulit punggungnya.


Gada Perkasa meringis kesakitan. Kematian telah membayang di benaknya.


“Nenek Kenyooot!” teriak Gada Perkasa.


Ketidakmunculan Kenyot Gaib membuat pemuda itu berkesimpulan bahwa dia telah dibohongi oleh nenek berbibir kenyot.


“Tangkap orang ini dan gantung di pohon!” perintah Adipati Siluman Merah kepada para prajurit.


Gada Perkasa pun pasrah. Ia tidak berani bergerak lagi.


Plak!


Adipati Siluman Merah berjalan cepat mendatangi Gada Perkasa dan langsung menampar lelaki yang sudah memikirkan kematian. Ia memikirkan kematian bukan karena dia telah bertobat, tetapi karena ia merasa terlalu tolol bisa percaya dengan kata-kata nenek tidak bergigi.


Tamparan itu begitu panas dan membuat wajah pemuda itu tersentak ke samping dengan muncratan darah yang terlempar. Tamparan itu membuat Gada Perkasa sampai menangis.


“Gantung orang ini di pohon!” perintah Adipati Siluman Merah lagi.


“Jangan, lepaskan aku!” teriak Gada Perkasa tapi tidak berusaha melawan, karena ia begitu ngeri merasakan ujung tombak-tombak tersebut, sampai-sampai bulu bokongnya merinding. Lalu teriaknya lagi untuk mencoba peruntungan terakhirnya, “Nenek Kenyooot!”


Namun, sama seperti sebelumnya, Kenyot Gaib tidak kunjung datang.


Seorang prajurit segera datang dengan membawa tambang. Ia mengikat tubuh dan tangan Gada Perkasa dengan kuat.


Di bawah todongan tombak para prajurit, Gada Perkasa ditarik dan digiring menuju ke sebatang pohon sawo yang tumbuh tinggi di halaman utama.


Adipati Siluman Merah membiarkan para prajurit itu mengerjakan tugasnya untuk menggantung Gada Perkasa. Ia lalu beralih memandang dan mendekati putrinya, Bening Mengalir.

__ADS_1


“Bening, apa yang kau tahu tentang lelaki keparat itu? Benarkah dia telah menjalin hubungan gelap dengan kakakmu Munik?” tanya Adipati Siluman Merah kepada Bening Mengalir.


“Kakak Munik selalu bercerita kepadaku tentang cintanya terhadap Kakang Gada Perkasa. Mereka diam-diam sering bertemu di Bukit Kembar pada malam hari ….”


“Malam hari?” sebut ulang Adipati Siluman Merah seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Bukankah kediaman ini dijaga ketat?”


“Kakak Munik membayar Perwira Serak Barbaya agar membiarkannya keluar malam-malam,” jawab Bening Mengalir.


“Kurang ajar Serak Barbaya, beraninya dia mengambil keuntungan dari putriku!” gusar Adipati Siluman Merah. Ia lalu bertanya, “Apakah kau tahu, lelaki bernama Gada Perkosa itu telah meniduri kakakmu?”


“Aku juga pernah menanyakan hal itu, tapi Kakak menjawab tidak pernah,” jawab Bening Mengalir.


“Syukurlah,” ucap Adipati Siluman Merah yang warna mukanya sudah berangsur normal dari warna merah kepiting rebus.


“Lalu siapa yang menculik kakakmu tadi?” tanya Adipati Siluman Merah lagi.


“Aku tidak tahu, Ayah. Aku juga tidak melihat wajahnya,” jawab Bening Mengalir.


“Siapa lelaki bernama Gada Perkosa itu?”


“Dia seorang pemuda desa biasa yang bekerja di kebun jengkol Ki Sudagar. Dia bukan seorang pendekar, hanya lelaki biasa yang terkadang berkelahi dengan sesama pekerja kebun jengkol,” jelas Bening Mengalir. “Tapi, Kakang Gada Perkasa dan Kakak Munik saling mencintai, Ayah.”


“Seandainya dia lelaki yang dapat diandalkan. Lihat betapa lemahnya dia. Cinta bukan sekedar merasakan bahagia, tapi juga terkait tentang kemampuan melindungi pasangan. Aku tidak akan pernah membiarkan putriku memiliki suami yang tidak bisa bertarung seperti itu,” tandas Adipati Siluman Merah.


“Lalu bagaimana dengan Kakak Munik?” tanya Bening masih menyisakan banyak kecemasan.


“Aku yakin, orang yang menculik kakakmu itu masih satu komplotan dengan Gada Perkosa, dia melakukan ini pasti agar terlihat bukan dia yang menculik Munik,” tukas Adipati Siluman Merah. “Lalu bagaimana kau bisa mengenal orang itu, padahal kau selalu tinggal di rumah?”


“Kakak Munik pernah menunjukkanku Kakang Gada Perkasa dari jauh secara diam-diam saat di pasar Ibu Kota,” jujur Bening Mengalir.


“Akk! Akk! Akh …!”


Tiba-tiba terdengar suara pekik jeritan kematian dari area bawah pohon sawo. Jeritan itu mengejutkan Adipati Siluman Merah dan semua orang yang ada di rumah itu. Mereka cepat alihkan perhatian.


Mereka lebih terkejut saat melihat para prajurit kadipaten bertumbangan tanpa nyawa lagi.


Para prajurit yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu bertumbangan dengan kondisi wajah seolah kering tanpa darah dan daging. Sangat jelas bahwa wajah mereka seperti tengkorak yang hanya tulang berbalut kulit belaka. Bola-bola mata mereka yang mendelik, seolah kering tanpa cairan dan harapan.


Di bawah pohon sawo itu, telah berdiri nenek berjubah abu-abu bertongkat kayu hitam. Nenek itu adalah Kenyot Gaib. Ia memutus tali yang menggantung Gada Perkasa di dahan pohon menggunakan tongkatnya.


Adipati Siluman Merah kian terkejut saat melihat ada dua kakek berjalan santai memasuki halaman rumahnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2