
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Datang seorang diri ke kediaman Adipati Rugi Segila adalah hal yang mengesalkan bagi Kerik Gemulai. Kekesalan itu karena dia harus lebih banyak menunggu untuk mendapatkan izin. Birokrasinya begitu berbelit seperti mengurus dokumen pribadi di pasar ikan.
Lewat waktu magrib, Kerik Gemulai tiba di pos penjagaan pertama. Setelah menyampaikan identitas lengkapnya dan mengutarakan maksud tujuannya kepada prajurit penjaga, ia harus menunggu agak lama untuk mendapatkan izin masuk. Pasalnya, prajurit penjaga harus pergi berkuda ke pos dua untuk melapor.
Kemudian prajurit pos dua akan pergi berkuda ke pos tiga untuk melapor. Prajurit pos tiga nantinya akan melapor ke pos empat dan prajurit pos empat pergi melapor ke pos kediaman Adipati Rugi Segila.
Prosedur untuk bertemu dengan Adipati Rugi Segila lebih rumit daripada mau bertemu dengan seorang raja. Adipati Kadipaten Kedaweng kali ini memang memiliki pemikiran yang sangat berbeda, tidak seperti mendiang ayahnya ketika menjabat selagi hidup.
Anehnya, Adipati Rugi Segila mengizinkan prajuritnya menerima suap. Jika tamu yang datang mau prosedur cepat, tamu bisa membayar uang belut sehingga bisa memangkas waktu tunggu separuh waktu.
Karena Kerik Gemulai adalah orang yang butuh uang, maka dia tidak mau menyuap, meski prajurit di pos satu sudah menawarkan. Akhirnya pendekar wanita berbadan kurus itu harus menunggu selama empat jam baru menerima izin dari kediaman sang adipati.
Meski sudah mendapat izin, di pos dua Kerik Gemulai wajib meninggalkan senjatanya. Ia pun meninggalkan pedangnya di pos dua.
Herannya, di pos tiga, empat dan pos kediaman Adipari Rugi Segila, Kerik Gemulai masih ditanya identitas dan tujuan ingin bertemu sang adipati. Khusus di pos kediaman Adipati, Kerik Gemulai harus di geledah tubuhnya. Ada pengawal wanita di pos itu yang tugasnya untuk menggeledah tubuh tamu wanita.
Kerik Gemulai harus meninggalkan seluruh kepeng dan perhiasannya di pos tersebut.
Bagaimana tidak dongkol setengah hidup, seorang pendekar bayaran dunia persilatan diperlakukan oleh aturan yang rumit.
__ADS_1
Akhirnya Kerik Gemulai sudah masuk di rumah besar Adipati Rugi Segila. Waktu menunjukkan dua jam lagi menuju tengah malam. Ia tinggal menunggu sang adipati keluar menemuinya.
Rumah Adipati Rugi Segila penuh dengan prajurit dan centeng yang berjaga. Sudah menjadi tren di para penguasa, selain prajurit yang merupakan satuan keamanan resmi yang digaji oleh pemerintah, mereka juga mempekerjakan centeng-centeng dan pendekar yang direkrut dan dibayar sendiri oleh si penguasa yang bersangkutan.
Banyaknya personel keamanan membuat kediaman sang adipati lebih ramai daripada lingkungan istana.
Rumah sang adipati terdiri dari tiga bangunan terpisah. Bangunan depan yang berfungsi untuk menerima tamu atau mengumpulkan orang, bangunan belakang yang paling besar berfungsi sebagai rumah pribadi yang sangat pribadi, dan bangunan panjang di sisi utara berfungsi sebagai gudang sekaligus dapur dan barak bagi pasukan keamanan. Benar-benar sudah seperti markas militer dengan sistem keamanan yang super ketat.
Akhirnya Adipati Rugi Segila datang dari arah ruangan dalam. Ia datang tidak sendiri. Ia datang bersama seorang wanita dan beberapa prajurit.
Jika Adipati Rugi Segila langsung pergi menemui Kerik Gemulai bersama prajurit yang mengawalnya, maka wanita yang bersamanya berhenti dan dudu di ruang sebelah yang dipisahkan oleh tirai kain tipis berwarna merah. Siluet wanita itu menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang muda dan sangat cantik. Kerik Gemulai hanya bisa menduga bahwa itu adalah istri sang adipati.
Adipati Rugi Segila adalah sosok lelaki tampan yang berusia empat puluh tahun. Wajahnya yang berhidung mancung tanpa kumis dan jenggot. Rambutnya gondrong sebahu, tapi disisir rapi tanpa hiasan di kepala. Ia datang dalam penampilan yang begitu tampan dan mewah. Pakaiannya serba sutera berwarna merah dan kuning. Wangi tubuhnya pun semerbak hingga jauh, sampai-sampai Kerik Gemulai terbayang urusan asmara. Di pinggang belakang sang adipati ada keris yang diselipkan.
“Maafkan karena telah membuat menunggu, Pendekar Kerik Gemulai,” ucap Adipati Rugi Segila ramah dengan senyum lebar.
“Silakan, silakan,” kata Adipati Rugi Segila lalu duduk lebih dulu di kursi kerajinan rotan tanpa bantal untuk bokong. “Pastinya kedatanganmu begitu penting yang berkaitan dengan Ratu Wilasin.”
“Benar, Gusti. Injak Bantet dan Gulalu Ireng nyaris menangkap Ratu Wilasin di Desa Bulukempis di Kadipaten Bojongkolot, tetapi dihalangi oleh orang-orang kepala desanya ….”
“Ya ya ya, aku tahu Desa Bulukempis yang terkenal dengan adu dombanya. Yang katanya dipimpin oleh seorang pendekar tua mantan pemberontak Baturaharja,” kata Adipati Rugi Segila memotong perkataan Kerik Gemulai. “Silakan lanjutkan.”
Sementara wanita cantik berpakaian serba hijau muda di ruang sebelah diam menyimak percakapan tersebut.
__ADS_1
“Penghalangan yang dilakukan oleh orang-orang pendekar Domba Hidung Merah, membuat Injak Bantet dan Gulalu Ireng pergi menemuiku dan meminta bantuan satu pasukan dari Kesatuan Timur untuk menyerang ke Desa Bulukempis. Namun, di tengah jalan kami justru bertemu dan bentrok dengan Domba Hidung Merah yang sedang menuju ke Sanggana Kecil,” tutur Kerik Gemulai.
“Ke Sanggana Kecil?” sebut ulang Adipati Rugi Segila dengan alis agak berkerut. “Untuk apa dia mau pergi ke Sanggana Kecil?”
“Katanya mau melihat domba jagoan. Ketika kami memaksanya, dia justru membunuh Komandan Lawung Bati, Injak Bantet dan Gulalu Ireng. Sepertinya dia tahu bahwa kami hendak menangkap Ratu Wilasin. Dia menuduh kami sebagai pemberontak. Aku khawatir dia datang ke Sanggana Kecil untuk melapor tentang pemberontakan ini,” jelas Kerik Gemulai.
“Hahaha!” Adipati Rugi Segila justru tertawa pendek, terkesan meremehkan keterangan Kerik Gemulai. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan pendekar tua itu. Domba Hidung Merah adalah salah satu mantan pemberontak yang masuk dalam daftar hitam Kerajaan Sanggana Kecil. Orang yang sudah masuk daftar hitam, perkataan dan kehadirannya tidak akan diterima di Istana Sanggana Kecil. Terima kasih sudah khawatir, Pendekar.”
“Apakah Gusti Adipati tidak khawatir jika ternyata Domba Hidung Merah melapor tentang adanya orang yang memburu Ratu Wilasin?” tanya Kerik Gemulai yang masih kurang sreg dengan respon sang adipati.
“Aku sudah memakai Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas untuk membunuh Ratu Wilasin. Telik sandiku telah melapor bahwa Ratu Wilasin sudah meninggalkan wilayah kekuasaan Baturaharja, jadi besok aku tidak akan melibatkan militer lagi. Perburuan sepenuhnya akan dilakukan oleh para pendekar bayaran. Kejarlah Ratu Wilasin ke wilayah Kerajaan Welang di selatan, karena telik sandi mengatakan mereka memasuki wilayah Kerajaan Welang dengan serombongan pendekar. Kelompok Ronggo Keling dan para pendekar bayaran lainnya besok pagi akan aku perintahkan mengejar ke sana,” kata Adipati Rugi Segila.
“Baiklah, Gusti. Jika demikian, aku izin pamit,” ucap Kerik Gemulai.
“Baik,” ucap sang adipati pula. Lalu perintahnya kepada prajuritnya, “Prajurit, antar Pendekar Kerik ke barak untuk makan!”
“Baik, Gusti,” jawab prajurit yang berdiri agak jauh dari kursi.
Seperginya Kerik Gemulai, Adipati Rugi Segila pun berjalan masuk dan menemui wanita cantik di ruang sebelah.
“Kakang yakin bahwa Domba Hidung Merah tidak akan menimbulkan masalah?” tanya wanita cantik yang memang adalah istri sang adipati.
“Tenang saja. Mulai besok militer tidak akan kita libatkan dan Komandan Kumbang Draga besok akan tiba di sini. Jika sampai ada laporan yang bocor bahwa Ratu Wilasin sedang diburu, Istana akan menyelidiki dari para pejabat Istana lalu ke militer. Setelah itu mereka akan menemukan jalan buntu untuk mencari tahu dalangnya. Kau sudah mengenal aku. Aku bisa meyakinkan para pendekar bayaran itu tidak bocor jika mereka terancam mati. Aku mempertaruhkan semua kekayaanku dan milik mendiang ayahku demi cintaku padamu, Manik Sayang. Tidak mungkin aku akan bertindak ceroboh.”
__ADS_1
“Kau memang suami yang membuatku bergantung dan selalu ingin memberikan pelayanan yang terbaik untukmu,” ucap sang istri dengan nada manja dan setengah berbisik sambil memeluk lengan kekar suaminya.
“Dendammu akan terlunasi dan pada akhirnya Prabu Banggarin tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, orang yang memiliki ikatan darah paling dekat dengan Prabu Banggarin adalah aku,” kata Adipati Rugi Segila seraya tersenyum, membuat istrinya tertawa kecil. (RH)