
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Kenapa kau ada di kapal ini juga?” tanya Bagang Kala kepada Mimi Mama.
“Aku dan kakekku mau pulang ke Pulau Tujuh Selir,” jawab Mimi Mama yang ikut duduk tidak begitu jauh dari Bagang Kala.
“Tapi kapal ini menuju ke Pulau Gunung Dua,” kata Bagang Kala.
“Dari Pulau Gunung Dua aku akan naik perahu ke Pulau Tujuh Selir,” kata Mimi Mama. “Kakang, apakah kau tidak tertarik pergi ke Pulau Tujuh Selir? Di sana banyak wanita yang siap dijadikan selir.”
“Tidak, terima kasih atas tawarannya. Aku baru menikah. Aku tidak mau rumah tanggaku hanya seumur buih di pantai,” kata Bagang Kala.
“Wanita di kampung halamanku cantik-cantik, Kakang. Cantiknya seperti diriku. Mereka juga pandai membunuh suami sendiri,” kata Mimi Mama lagi.
“Aku sepertinya perlu istirahat,” kata Bagang Kala yang mulai tidak nyaman dengan tema obrolan Mimi Mama. Ia segera bangkit dan melangkah goyang karena ayunan ombak.
“Hihihi …!” Mimi Mama malah tertawa berkepanjangan melihat sikap pengantin baru itu.
Ketika hendak pergi ke tempat istrinya menunggu, Bagang Kala berhenti sejenak. Pandangan dan pikirannya tertarik pada perahu kecil yang ada menempel di sisi kiri kapal. Perahu itu berfungsi sebagai perahu darurat jika terjadi kecelakaan terhadap kapal itu.
Bagang Kala memutuskan untuk memeriksa perahu kecil tersebut.
“Kherr ....”
Baru saja dia mendekati perahu di atas kapal itu, terdengar suara dengkuran dari dalam perahu yang gelap.
“Ada orangnya,” batin Bagang Kala. Namun, dia tetap mendekati perahu yang tingginya seperutnya.
Saat Bagang Kala melongok melihat ke dalam perahu, dia melihat ada seseorang yang tidur di perahu itu. Besar tubuhnya menunjukkan bahwa orang itu bertubuh gemuk. Namun, tidak jelas wajahnya karena gelap.
“Baunya seperti Bong Bong Dut,” batin Bagang Kala. Namun, Bagang Kala merasa penasaran dan ingin memastikan bahwa dugaannya benar.
Cuss!
Bagang Kala menciptakan sinar hijau terang pada kelima jari tangannya yang ia ulurkan ke atas tubuh orang yang tidur. Sinar hijau dari ilmu Jari-Jari Musim Daun itu sejenak menerangi dalam perahu dan wajah orang besar yang tidur mendengkur. Hanya setarikan napas, Bagang Kala kembali memadamkan sinar di jari tangannya, khawatir ada yang melihat.
“Benar, ternyata Bong Bong Dut,” batin Bagang Kala.
Pemuda itu memandang ke sekitar. Ia mencari-cari, siapa tahu ada perahu serupa yang ia lewatkan keberadaannya. Sepertinya dia punya ide terselubung terhadap perahu kecil itu. Ternyata, perahu hanya ada satu itu saja.
Terpaksa, dengan perasaan yang kecewa dan badan yang agak tidak nyaman, Bagang Kala pulang kembali kepada istrinya.
Ia datang dan langsung duduk meringkuk di sisi Anik Remas. Di dalam keremangan sudut perahu, ia kembali berlindung di balik kain lebar yang bisa menutupi mereka berdua.
“Ada apa denganmu, Bagang? Kau bau muntahan,” tanya Anik Remas cepat.
“Aku tidak menemukan tempat yang bagus untuk mandi kucing. Justru aku mabuk laut dan muntah,” jawab Bagang Kala berbisik. Dia tahu bahwa nenek yang berbaring miring menghadap ke posisi mereka itu belum tidur.
“Sungguh menyebalkan,” rutuk Anik Remas merengut di dalam kegelapan. Karena kesal, dia mencubit paha Bagang Kala.
“Aw!” pekik Bagang Kala terkejut dan merasa sakit.
Pekikan Bagang Kala itu membuat si nenek bergerak, sepertinya dia ikut terkejut mendengar jeritan si pemuda.
“Kau kenapa, Kisanak Muda?” tanya si nenek, akhirnya bersuara.
__ADS_1
“Ti-ti-tidak apa-apa, Nek. Jariku terjepit,” jawab Bagang Kala tergagap dan berdusta, padahal gurunya mengajarkan agar menjadi orang jujur.
“Kalian pengantin baru?” tanya si nenek.
“Iya,” jawab Bagang Kala jujur.
“Tidak apa jika kalian mau berlayar di dalam pelayaran, aku tidak akan minta ikut,” kata si nenek.
“Iya, Nenek tidak akan minta ikut, tetapi pasti akan menonton,” rutuk Anik Remas, tetapi itu di dalam hati.
“Iya, Nek,” sahut Bagang Kala.
Setelah itu suasana kembali hening. Sepertinya si nenek sudah mengerti dan memilih tidur.
“Tadi aku menemukan tempat bagus, di perahu kecil di atas kapal, yang ada di samping kapal,” kata Bagang Kala berbisik.
“Aku rasa itu bisa kita pakai,” bisik Anik Remas pula bersemangat.
“Tapi, di dalamnya ada Bong Bong Dut tidur,” kata Bagang Kala lagi, yang seketika membuat Anik Remas kembali lemas. “Apakah kau punya akal yang bisa membuat Bong Bong Dut meninggalkan perahu itu?”
Anik Remas terdiam sejenak, tidak berapa lama ia bergerak keluar dari selimutan kain.
“Ayo!” ajak Anik Remas tanpa memberi penjelasan.
Bagang Kala pun bangkit tanpa bertanya.
“Bawa kainnya!” bisik Anik Remas.
Bagang Kala pun menurut.
Karena lantai kapal bergoyang halus, Bagang Kala memilih memegang tangan istrinya agar lebih nyaman. Mereka lewat dengan langkah tidak bersuara di antara para penumpang yang sedang berbaring tertidur berkelompok, sesuai dengan rombongannya. Bahkan ada yang tidur sendiri, sepertinya dia jomblo lautan.
“Kau bangunkan Bong Bong Dut, katakan kepadanya bahwa Gusti Permaisuri memanggilnya di perut kapal,” kata Anik Remas berbisik.
“Tadi aku ke bawah, tapi di sana tempat awak kapal tidur,” kata Bagang Kala, juga berbisik.
“Ini hanya untuk mengelabuinya saja,” tandas Anik Remas.
“Baik.”
“Setelah dia pergi, kita turunkan perahu ini ke air, lalu kita naik,” kata Anik Remas.
“Maksudmu, kita akan pergi meninggalkan kapal ini?” tanya Bagang Kala.
“Tidak. Nanti talinya kita ikat, jadi perahu kita mengekor dengan kapal,” tandas Anik Remas.
“Iya.”
“Bangunkan Bong Bong Dut!”
Bagang Kala lalu mendatangi perahu darurat itu.
“Bong Bong Dut, bangun!” panggil Bagang Kala dengan setengah berbisik sambil menepak-nepak wajah Bong Bong Dut.
Pemuda gemuk yang sedang bermimpi ditampar putri cantik jelita itu, bangun gelagapan.
__ADS_1
“Tolong! Tolop!” teriak Bong Bong Dut yang bangun terduduk, tetapi teriakannya cepat redam oleh bekapan tangan Bagang Kala.
“Eeeh, tenang! Aku Bagang Kala!” kata Bagang Kala cepat sambil berbisik.
Seketika Bong Bong Dut terdiam dan mencoba mengenali Bagang Kala yang membekapnya. Setelah rekannya itu jinak, Bagang Kala melepaskan tangannya. Bong Bong Dut bisa mengenali wajah gelap Bagang Kala dari dekat.
“Ada apa?” tanya Bong Bong Dut, pelan sambil melihat ke sekitar.
“Gusti Permaisuri memanggilmu di dasar kapal, di perut kapal. Penting!” bisik Bagang Kala.
“Memnggilku?” sebut ulang Bong Bong Dut terkejut.
Pemuda gemuk itu buru-buru bangun dan bergerak turun dari perahu yang agak menggantung. Bagang Kala membantunya turun dengan memegangi tangannya.
Setelah menginjak lantai kapal, Bong Bong Dut buru-buru berjalan pergi. Ia tidak melihat keberadaan Anik Remas, karena wanita itu memang bersembunyi dari Bong Bong Dut.
“Cepat, kita turunkan perahunya,” kata Anik Remas yang kemudian muncul.
Singkat cerita.
Suami istri itu berhasil menurunkan perahu kecil lewat sisi kapal ke air laut. Ketika perahu diturunkan, Anik Remas naik lebih dulu. Setelah perahu berada di air, barulah Bagang Kala turun dengan hati-hati. Beruntung tidak ada awak kapal atau penumpang lain yang melihat.
Agar tidak lepas dari kapal, perahu itu tetap ditambatkan dengan tali yang dipanjangkan.
Alangkah gembiranya Bagang Kala dan Anik Remas, karena akhirnya mereka bisa mendapat tempat untuk berlayar edisi khusus.
Gelapnya malam dan guncangan ombak yang pastinya terasa lebih keras, menjadi kendala yang harus mereka atasi. Di perahu itu, apakah mereka mau tertawa genit atau mendesah sekencang orang melahirkan, tidak perlu khawatir karena suara ombak lautan lebih keras daripada rintihan kenikmatan mereka.
Namun, entah dosa apa yang pernah dilakukan oleh pasangan pengantin baru itu?
Baru saja mereka ingin melakukan proses pemasukan, tiba-tiba terdengar teriakan keras.
“Bajak Laut Malaaam! Bajak Laut Malaaam!” teriak seorang awak kapal yang bertugas jaga di anjungan.
Fooong …!
Setelah berteriak seperti itu, si awak kapal cepat meniup sebuah terompet cangkang keong besar. Tiupannya begitu panjang, memberi tanda kepada nahkoda dan awak kapal lainnya bahwa kondisi kapal dalam bahaya besar.
Nahkoda kapal yang belum tidur segera naik ke anjungan dan melihat ke satu arah. Para awak kapal yang jumlahnya belasan orang, segera naik ke atas dan berkumpul di dek haluan. Mereka memandang ke satu arah.
Di arah barat kapal, ada dua cahaya merah berbentuk mata di dalam kegelapan lautan. Entah itu mata makhluk raksasa apa. Posisi mata menyala itu bergerak mendekat ke arah kapal.
Para penumpang pun menjadi riuh dan berbangunan. Mereka bertanya-tanya menyikapi kegaduhan yang ditimbulkan oleh para awak kapal.
“Ada apa, Kakang?” tanya Setya Gogol yang datang bersama Lentera Pyar.
“Kita akan dirompak oleh Bajak Laut Malam. Mereka akan merampok harta dan wanita muda sepertimu, Nisanak,” jawab awak kapal yang ditanyai.
Kegaduhan yang tercipta di atas kapal, mau tidak mau mengganggu kenyamanan Bagang Kala dan Anik Remas.
“Bagaimana ini, Sayang?” tanya Bagang Kala bingung, maklum pengalamam pertama di malam pertama.
“Langsung tembak saja, Bagang.”
“Bagaimana caranya?” tanya Bagang Kala lugu.
__ADS_1
Anik Remas harus tabah hati. Terpaksa ia pun memberi panduan singkat.
Beruntung keberadaan mereka di bawah belum disadari oleh siapa pun. (RH)