
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Ketika melihat dengan jelas api besar berkobar di atas Gunung Ibu, Tadayu segera berlari kencang menuju gunung. Dia tidak menggunakan kuda.
Tadayu adalah salah satu warga Desa Konengan, satu dari tiga belas desa yang dimiliki oleh Pulau Gunung Dua. Ia seorang pemuda tampan berkulit hitam manis karatan. Badannya kokoh berotot dengan leher model beton. Pada wajahnya ada hidung mancung yang kokoh dan sepasang alis tebal.
Di saat suasana ramai oleh warga, Tadayu berlari kencang biasa seperti lari kuda, tetapi ketika sepi seperti di dalam hutan, dia akan berlari di udara dengan kecepatan tidak biasa. Meski penampilannya seumumnya pemuda kampung biasa, tetapi Tadayu adalah seorang pendekar sakti. Namun, tidak banyak yang tahu tentang kesaktiannya, termasuk keluarga besarnya di Desa Konengan.
Agar tidak menimbulkan perhatian para prajurit Pasukan Keamanan Desa yang sedang bergerak naik melalui jalan tangga batu, Tadayu memilih jalan sulit. Sulit bagi orang lain, tapi tidak bagi Tadayu. Ia bahkan bisa melesat terbang dari satu pohon ke pohon gunung lainnya, seperti ninja-ninja di film kartun di negeri masa depan.
Singkat cerita dan waktu.
Tadayu akhirnya tiba di antara keramaian para prajurit yang sedang berjuang melawan api yang besar, yang bukannya mengecil disiram air, tapi malah kian membesar. Melihat situasi yang tidak memihak, Tadayu lalu melakukan sesuatu.
Tadayu melakukan gerakan bertenaga dalam tidak jauh dari rantai prajurit yang saling mengoper ember kayu. Mereka menciduk air di sungai, lalu dioper sampai ke atas, ke pusat kebakaran. Seperti itu terus, dengan pejabat dan keluarga kerajaan hanya menonton. Mungkin status Keluarga Kerajaan dan pejabat memberi mereka kebebasan dari rasa solidaritas.
Para prajurit yang ada di sekitar sungai hanya memandangi apa yang diperbuat oleh Tadayu tanpa menegurnya.
Bruss!
Namun kemudian, para prajurit itu dibuat terkejut dengan mata mendelik dan mulut ternganga. Untung tidak ada ikan terbang yang masuk ke dalam mulut-mulut mereka.
Yang mereka saksikan adalah satu volume air sungai sebesar gajah dewasa bunting, bergerak naik ke atas lalu lepas mengudara memisahkan diri dari kesatuannya di sungai. Air itu tidak menetes atau mengalir jatuh sebagaimana kodratnya, yakni mengalir ke tempat yang lebih rendah. Seolah-olah air dalam jumlah banyak itu dibungkus oleh satu kekuatan yang tidak terlihat.
Namun, para prajurit yakin bahwa pemuda asing itulah yang melakukan hal tersebut. Seketika mereka menyimpulkan bahwa Tadayu adalah orang yang sangat sakti. Kenapa mereka menilai sangat sakti, sebab panglima mereka saja yang terkenal sakti, tidak bisa menerbangkan segenggam air pun.
Semua yang melihat keajaiban itu terus terperangah ketika air besar itu terbang perlahan naik mendaki. Sampai-sampai para prajurit berhenti mengoper ember.
__ADS_1
Keterkejutan itu merembet kepada orang-orang yang ada di sisi atas gunung yang baru melihat fenomena air terbang. Indahnya lagi, ternyata di dalam gumpalan air besar itu ada seekor ikan yang terjerat. Sebut saja namanya Kepo. Kepo berenang ke sana ke mari yang sesekali mencoba menembus dinding air yang kuat.
“Apa itu, Ayahanda?” pekik Putri Uding Kemala kepada ayahnya sambil menunjuk kepada kegemparan yang terjadi.
Raja Bandelikan, Permaisuri Turi Kumala dan Keluarga Kerajaan lainnya serta para pejabat, segera menoleh ke arah rantai prajurit. Mereka melihat di atas rantai prajurit bergerak melayang air yang banyak.
Maka hebohlah Raja, keluarga dan para pejabatnya.
Mereka sama-sama melihat bahwa air terbang itu menuju ke atas kobaran api.
Brass!
Setelah bungkusan air itu tiba di atas kebakaran, maka dia pecah dan langsung tumpah semua kepada api. Sebagian api seketika padam dan mengecil, tapi masih ada bagian yang lain. Kabar dukannya, Kepo harus mati terpanggang menjadi ikan hangus tanpa ada yang menikmati dagingnya.
Panglima Kumbiang cepat berkelebat turun ke arah sungai untuk melihat siapa pelaku pengendali air. Setibanya di sungai, dia melihat Tadayu kembali menerbangkan air sungai sebesar tadi. Untuk sementara, Panglima Kumbiang hanya memerhatikan. Para prajurit pun jadi berhenti bergotong-royong. Mereka jadi mengandalkan Tadayu, karena memang terbukti cara pemuda asing itu lebih efektif dan solutif tanpa ada efek negatif.
Karena penasaran, Raja Bandelikan, Permaisuri Turi Kumala, Putri Uding Kemala, Pangeran Rebak Semilon, dan para pejabat segera pergi sebatas mereka bisa melihat sungai di sisi bawah.
Tadayu harus melakukan sepuluh kali pembungkusan air untuk benar-benar memadamkan seluruh api. Penggunaan tenaga sakti yang besar itu membuat Tadayu bermandi peluh dan sangat terlihat sirat kelelahan di wajahnya dengan napas menderu.
“Kisanak Pendekar, siapakah dirimu gerangan? Aku tidak mengenalmu sedikit pun,” sapa Panglima Kumbiang.
“Mohon ampun, Gusti,” ucap Tadayu sambil turun berlutut dan menghormat kepada sang panglima. “Nama hamba Tadayu. Hamba warga Desa Konengan. Hamba naik ke sini hanya untuk membantu, Gusti. Ampuni hamba, Gusti!”
“Kau tidak bersalah, justru kau sangat membantu kami di saat kesulitan memadamkan api,” kata Panglima Kumbiang.
“Mohon maaf, Gusti Panglima,” ucap seorang prajurit yang datang mendekati Panglima Kumbiang. “Gusti Raja ingin bertemu dengan pemuda ini.”
“Baik,” ucap Panglima Kumbiang. Lalu katanya kepada Tadayu, “Ayo, Gusti Raja ingin bertemu denganmu.”
__ADS_1
“Baik, Gusti.”
Maka Tadayu pun dibawa menghadap kepada Raja Bandelikan. Di hadapan Raja dan keluarga besarnya, Tadayu berlutut dan menjura hormat.
“Tadayu,” sebut Raja Bandelikan setelah Tadayu memperkenal dirinya kembali di hadapan para pembesar. “Aku sangat senang mengetahui bahwa ternyata di pulau ini ada seorang pendekar sakti yang begitu hebat.”
“Gusti Raja begitu memuji. Saya tidak lebih hanya seorang pemuda desa,” ucap Tadayu merendah.
Tampak Putri Uding Kemala selalu tersenyum memandang kepada Tadayu. Sembilan puluh sembilan persen bisa diterka bahwa sang putri menaruh hati kepada Tadayu.
“Tapi, kenapa orang kerajaan baru tahu tentang dirimu, Tadayu?” tanya Permaisuri Turi Kumala karena ada yang mengganjal di otaknya. Semoga itu bukan cikal bakal kanker otak.
“Oh, ampun, Gusti. Mungkin karena hamba baru beberapa pekan tinggal di Desa Konengan. Hamba baru kembali dari berguru,” jawab Tadayu.
“Oooh!” desah sang permaisuri.
“Siapa nama orangtuamu?” tanya Raja Bandelikan.
“Hamba sejak kecil sudah tidak berorangtua, Gusti. Hamba di Desa Konengan tinggal bersama paman hamba yang bernama Dayung Karat,” jawab Tadayu lagi.
“Maksudmu, Nahkoda Dayung Karat?” sela Panglima Kumbiang.
“Iya, betul, Gusti.”
“Kami sangat berterima kasih atas bantuanmu hari ini, Tadayu. Sampai-sampai kau bersusah payah naik ke sini hanya untuk memadamkan api. Sekarang, kau boleh kembali ke desamu. Besok pagi datanglah ke mari bersama keluarga pamanmu!” perintah Raja Bandelikan.
“Mohon maaf, Gusti Raja. Ketika hamba berangkat ke sini, paman hamba belum kembali dari berlayar. Namun, seharusnya hari ini dia kembali dari Bandakawen,” ucap Tadayu.
“Tidak mengapa. Jika sudah pulang, bawalah bersamamu,” kata Raja Bandelikan bijak.
__ADS_1
“Jika demikian, hamba mohon undur diri, Gusti,” ucap Tadayu.
“Baiklah.” (RH)