Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 53: Pangeran Bunuh Pangeran


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Pangeran Bangir Kukuh masih dalam kondisi terluka. Kondisinya masih lemah, terlebih tabib andalan Kerajaan sudah berpindah tuan dan sudah pergi. Seharian dia hanya mengeram di kamarnya yang besar dan megah.


Seperti saat ini, di balik tirai-tirai warna kuning dan putih yang seindah telur rebus dibelah, Pangeran Bangir Kukuh berbaring di ranjang merahnya. Ia buto, tapi tubuh bawahnya ditutupi oleh selimut merah muda yang lembut. Ada dua bantal yang menyanggah kepalanya, sehingga wajahnya bisa lebih tinggi dari badannya.


Ternyata, Pangeran Bangir Kukuh tidak sendirian. Ada tiga orang wanita yang sedang bersamanya, yang sedang membelai-belai. Oh, bukan membelai, tetapi sedang membaluri tubuh sang pangeran dengan cairan berminyak. Ada bau-bau kunyit dan jahe dari cairan tersebut.


Ketiga wanita itu berpakaian seronok, mengobral kulit mulus mereka tanpa sensor. Bagi seorang perempuan, bisa disebut mereka busikit.


Satu perempuan bekerja mengolesi bagian dada, satu lagi mengolesi bagian perut, dan satu lagi mempekerjakan tangannya di balik selimut di sekitar paha.


Kerja ketiga wanita itu membuat Pangeran Bangir Kukuh memejamkan mata sambil senyum-senyum tipis. Ia merasakan enak pada badannya karena ada pijatan-pijatan lembut, plus merasakan rangsangan meski ia belum kuat untuk bergoyang.


Di saat Pangeran Bangir Kukuh sedang menikmati sensasi pengobatan plus-plus tersebut, tanpa terdengar suaranya, seorang lelaki berpakaian abu-abu yang menutupi separuh wajahnya dengan lilitan kain datang dengan gerakan perlahan. Di tangan kanannya terhunus sebilah pedang.


“Akk!” jerit salah satu dari wanita pemijat itu ketika lelaki bertopeng menyibak tirai ranjang dengan perlahan.


Set set set!


“Akk! Ak! Akk!” jerit ketiga wanita itu saat kelebatan pedang yang cepat telah merobek leher-leher mereka.


Alangkah terkejutnya Pangeran Bangir Kukuh. Kenikmatannya seketika lenyap berganti dengan ketakutan, saat matanya yang terbuka telah mendapati sesosok lelaki telah berdiri di sisi ranjangnya dengan pedang panjang yang sudah berlumur darah.


Satu wanita sudah tertelungkup di atas perutnya dengan leher yang terus mengeluarkan darah segar.


“Si-si-siapa kau?” tanya Pangeran Bangir Kukuh dengan suara gemetar ketakutan, terlebih ketika penyusup itu meletakkan ujung pedangnya di dada atas sang pangeran.


Pedang itu tinggal didorong, maka bisa naik menusuk leher.


Tangan kiri lelaki berpedang itu lalu menarik kain yang menutupi separuh wajahnya. Maka, ketika wajah itu terbuka bebas, terkejutlah Pangeran Bangir Kukuh.


“Kakak Rebak!” pekik Pangeran Bangir Kukuh syok dengan mata seperti mau melompat dari rongganya.


Lelaki pemegang pedang itu tidak lain adalah Pangeran Rebak Semilon yang menatap adiknya dengan penuh dendam.


“Ke-ke-kenapa Kakak Pangeran melakukan ini?” tanya Pangeran Bangir Kukuh masih ketakutan.


Pangeran Rebak Semilon tidak menjawab.


Pangeran Bangir Kukuh kemudian melirik ke arah tirai, ada siluet sosok wanita yang datang mendekat. Semakin dekat kepada tirai, bisa terlihat bahwa itu adalah wanita muda yang cantik. Namun, sang pangeran tidak bisa langsung mengenali.


Hingga akhirnya, siluet wanita itu menyibak tirai dan melangkah masuk ke sisi Pangeran Rebak Semilon.


“Pu-pu-putri Gunira?”’ sebut Pangeran Bangir Kukuh tergagap yang ekspresinya kian ketakutan, bahkan ingin menangis.


“Adik Bangir, bukankah kau tahu bahwa Putri Gunira adalah kekasihku? Namun, kenapa kau tega memperkosanya?” tanya Pangeran Rebak Semilon dengan geram.


“A-a-aku bisa jelaskan, Kakak,” kata Pangeran Bangir Kukuh tergagap, tanpa berani bergerak bangkit.


Set!


“Aaak!” jerit Pangeran Bangir Kukuh kencang, ketika pedang di dadanya ditarik, tapi menekan pula.


Satu goresan dalam tercipta di dada kiri Pangeran Bangir Kukuh.


“Aaak! Ampuni aku, Kakak! Aku akan bertanggung jawab. Aku bisa menikahi Putri Gunira!” teriak Pangeran Bangir Kukuh.

__ADS_1


“Bajingan keparat!” maki Putri Gunira sambil meninju perut Pangeran Bangir Kukuh.


Bukk!


“Hukr!”


Pangeran Bangir Kukuh menyemburkan darah kental akibat tinju Putri Gunira yang bertenaga dalam tinggi.


“Tolooong! Tolooong!” teriak Pangeran Bangir Kukuh keras, berharap prajurit penjaga pintu kamarnya mendengar.


Namun, besarnya kamar dan rapatnya lubang udara membuat prajurit penjaga tidak mendengar teriakan sejak tadi.


“Kenapa kau memperkosa kekasihku, Bajingan?!” bentak Pangeran Rebak Semilon sambil menancapkan ujung pedangnya ke lengan kiri Pangeran Bangir Kukuh.


“Akk …!” jerit Pangeran Bangir Kukuh. Lalu katanya sambil kesakitan, “Aku dendam kepadamu karena kau Putra Mahkota, karena kau lebih istimewa dariku! Aaak!”


“Sesalilah perbuatan biadabmu, Bangir!” desis Pangeran Rebak Semilon.


Set!


Setelah berkata seperti itu, Pangeran Rebak Semilon mengelebatkan pedangnya yang merobek leher adik kandungnya sendiri. Darah pun mengalir seperti pipa air bocor membanjiri ranjang tersebut.


Pangeran Bangir Kukuh tewas tanpa jeritan lagi.


“Ayo, Sayang!” ajak Pangeran Rebak Semilon kepada Putri Gunira. Dadanya terlihat naik turun memendam emosi yang bergejolak. Bagaimanapun dendamnya dia kepada adiknya, tetapi setelah adik itu mati di tangannya, tetap ada secercah keibaan yang muncul, yang harus dia pendam dan sembunyikan.


“Kakak Pangeran menjadi satriaku hari ini,” puji Putri Gunira.


Mereka berdua lalu bergegas pergi ke sebuah pintu rahasia, jalan yang sebelumnya mereka lewati untuk masuk ke kamar tersebut.


“Apakah ketiga dayang itu sudah keluar dari kamar Pangeran?” tanya Permaisuri Turi Kumala kepada dua prajurit penjaga pintu kamar.


“Belum, Paduka,” jawab si prajurit.


“Buka!” perintah Permaisuri Turi Kumala.


Salah satu prajurit lalu mendorong pintu berdaun dua itu. Namun, pintu tidak bisa dibuka.


“Dikunci dari dalam, Paduka,” jawab si prajurit.


“Coba ketuk!” perintah sang permaisuri lagi.


Tok tok tok!


Si prajurit lalu mengetuk dengan buku jarinya.


“Itu terlalu pelan, Prajurit. Kamar Pangeran luas. Ketuk dengan pedang!”


“Iya, Paduka.”


Dok dok dok!


Si prajurit lalu mengetuk pintu dengan gagang pedangnya. Keras.


Namun, setelah ketukan keras itu, tidak ada sahutan dari dalam. Suara langkah kaki pun tidak terdengar.


Karena tidak ada reaksi, Permaisuri Turi Kumala hanya menarik sudut bibirnya tanda kesal.

__ADS_1


“Jika para dayang itu sudah keluar, suruh melapor kepadaku!”


“Baik, Paduka.”


Setelah itu, Permaisuri Turi Kumala berbalik pergi meninggalkan kamar putranya.


Hingga empat kali waktu memasak bubur kacang hijau tidak ada dayang yang kunjung datang melapor, seiring waktu mulai senja, Permaisuri Turi Kumala tidak bisa menahan diri lagi. Ia pun kembali pergi ke kamar putranya.


“Apakah belum keluar?” tanya Permaisuri Turi Kumala langsung kepada kedua prajurit penjaga.


“Masih, Paduka. Tidak biasanya. Mungkin terjadi sesuatu,” kata si prajurit yang sudah biasa menjaga pintu kamar di saat Pangeran Bangir Kukuh sedang bermain perempuan di dalam kamarnya.


“Gedor lebih keras!” perintah Permaisuri Turi Kumala yang menunjukkan perubahan ekspresi wajah.


Dok dok dok!


Tiga ketukan keras menggunakan gagang pedang dilakukan. Tidak ada sahutan lagi. Mereka menunggu sejenak.


“Dobrak!” perintah sang permaisuri lagi.


“Ayo!” ajak si prajurit kepada rekannya.


Kedua prajurit itu lalu menjauhi daun pintu sejenak dan memasang kuda-kuda. Satu prajurit lalu menghitung.


“Satuuu, tiga!”


Brak!


Pada hitungan ketiga, keduanya bersama berlari dan menabrakkan lengannya ke pintu. Namun, pintu itu hanya terhentak, belum terbuka.


“Sekali lagi!” ajak si prajurit.


Keduanya kembali mundur untuk mengambil kuda-kuda.


“Satuuu, tiga! Heaaat!” pekik mereka bersama. Kompak.


Brak!


Kali ini, keduanya menggunakan tendangan geledek untuk mendobrak pintu. Karena di depan Permaisuri, maka keduanya mengerahkan tendangan terbaiknya.


Hasilnya, pengunci pintu di sisi dalam patah dan pintu pun terbuka lebar dengan kasar.


Permaisuri Turi Kumala segera berjalan masuk. Rupanya masih ada pintu yang harus dibuka. Namun kali ini, pintu dalam itu tidak dikunci, sehingga sang permaisuri tinggal mendorongnya.


Permaisuri Turi Kumala sudah melihat tirai kuning putih yang mengurung ranjang. Namun, dia belum bisa melihat jelas kegiatan di balik tirai, apakah ada orang atau zonk.


Namun, ketika semakin mendekat, ketika sudah bisa melihat siluet bayangan orang di balik tirai, Permaisuri Turi Kumala jadi mengerutkan kening, terlebih ada bau anyir darah.


Permaisuri yang diikuti oleh empat orang dayang itu mempercepat langkahnya mendekati ranjang, terlebih ia yakin bahwa putranya ada di dalam, demikian pula dengan para dayang. Namun, siluet mereka semua tidak bergerak, bahkan ada yang tergeletak di lantai.


Alangkah terkejutnya sang permaisuri ketika melihat ada genangan darah di bawah tirai.


“Putraku!” pekik Permaisuri Turi Kumala lalu berlari dan menyibak tirai. Ia pun menjerit, “Aaa …! Bangir Kukuuuh!”


Dak dak dak …!


Kedua prajurit penjaga segera datang berlari. Dua pintu yang terbuka membuat mereka bisa mendengar jeritan sang permaisuri. (RH)

__ADS_1


__ADS_2