
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Setelah kemenangan Pasukan Domba Merah dari Pasukan Beruang Biru, acara tidak langsung bubar, masih ada acara penyerahan hadiah, baik itu untuk tim kesembilanan ataupun untuk personal.
Di tengah lautan kapas, tiba-tiba muncul sebuah panggung besar yang bergerak naik dengan sendirinya, seperti ada mesin yang menaikkannya.
Di panggung itulah, Pelatih Banik Terong dan kesembilan anak asuhnya berdiri untuk menerima berbagai hadiah. Tetap Hakim Langit yang menjadi juru wicaranya.
Raja Titah Bang-or, Permaisuri Mekar Ni-or, Putri Babi-or, dan Gubernur Ilang Banyol naik pula ke panggung untuk menyerahkan berbagai hadiah kepada para juara.
Pelatih dan tim kesembilanan masing-masing mendapat cincin berlian dan kain sutera jingga yang diserahkan oleh Gubernur Ilang Banyol. Hadiah juga berupa sejumlah status keistimewaan yang akan mempermudah memperoleh layanan dan ada tabungan dari Kerajaan.
“Kita sambut Penerbang Nomor Jawu tahun ini adalaaah ….!” teriak Hakim Langit keras membahana lalu menggantungkan kalimatnya.
“Pangeran Handaraaa!” teriak ribuan penonton serentak.
“Yaaa, kalian semua sudah tahu. Penerbang Nomor Jawu tahun ini adalah si penerbang ajaib, Ardaaa Handaraaa!” teriak Hakim Langit lagi yang langsung disambut dengan sorak dan tepuk tangan.
“Yeee!”
Plok plok plok …!
Semua personel Pasukan Domba Merah bersorak dan bertepuk tangan untuk Arda Handara.
“Hahaha!” tawa jumawa Arda Handara sambil melambaikan tangan kepada siapa saja.
“Pangeran Handara! Pangeran Handara! Pangeran Handara …!” sebut para penonton berulang-ulang.
“Penerbang Nomor Jawu akan mendapatkan Cincin Mahkota Separa dan sebuah Kalung Peri Mimpi!” teriak Hakim Langit mengumumkan jenis hadiah yang akan didapat oleh Arda Handara sebagai Penerbang Nomor Jawu.
Seorang wanita cebol cantik melangkah maju. Dia membawa baki perak yang di atasnya ada sebuah cincin emas besar dan seuntai kalung berbandul batu permata berwarna putih susu.
“Silakan Paduka Raja,” kata Hakim Langit kepada Raja Titah Bang-or.
“Silakan, Putriku,” kata Raja Titah Bang-or yang justru mempersilakan Putri Babi-or untuk memberikan dua jenis hadiahnya.
“Silakan maju, Penerbang Handara!” kata Hakim Langit kepada Arda Handara.
“Hahaha!” Sambil tertawa, Arda Handara melangkah maju dengan kaki dan perut lebih dulu, sementara dada dan kepala tertinggal di belakang dengan kedua tangannya melenggang lebar. Gaya jalannya mengangkang seperti pengantin sunat. Lagak itu sekedar untuk melucu belaka.
“Hahahak …!” Ramailah para penonton dan rekan-rekan melihat tingkah Arda Handara. Bahkan Putri Babi-or ikut tertawa, maklum lagi senang-senangnya kepda Arda Handara.
Namun, ketika mendekati sang putri bercadar, Arda Handara kembali berjalan normal dan menunduk hormat kepada sang putri. Ia mendadak menjadi anak baik.
__ADS_1
Tampak Sanda Kolot begitu gembira melihat Arda Handara menjadi Penerbang Nomor Jawu.
Sementara itu, dengan mata indahnya, Putri Babi-or menatap Arda Handara tanpa berkedip. Arda Handara hanya tersenyum lebar sambil sesekali memandang kepada Raja, Permaisuri dan Gubernur bergantian. Sepertinya ia tidak begitu fokus untuk memerhatikan sang putri yang terus memandangnya.
“Silakan, Putri,” kata Hakim Langit mengingatkan sang putri yang tak kunjung menyematkan hadiahnya.
Putri Babi-or mengangguk. Dia lalu mengambil Kalung Peri Mimpi di atas baki.
“Lebih mendekatlah, Pangeran!” panggil Putri Babi-or.
Sambil tersenyum, Pangeran Arda Handara maju selangkah lagi. Sang putri lalu maju pula untuk mengalungkan kalung yang ada di tangannya. Posisi keduanya menjadi sangat dekat, terlebih ketika putri bercadar itu mengangkat kedua tangannya bermaksud mengalungkan kalung.
Sejenak Arda Handara bertemu pandang dengan mata indah Putri Babi-or. Maaf, tidak ada getaran cinta pada hati Arda Handara. Namun, berbeda dengan Putri Babi-or yang meski badannya seperti anak kecil, tetapi hati, otak dan perasaannya sudah gadis dewasa.
Karena tangan sang putri lebih pendek dan tingginya sama dengannya, mau tidak mau Arda Handara harus menundukkan kepala. Putri Babi-or pun agak maju dan berjinjit untuk mengalungkan Kalung Peri Mimpi.
Posisi itu membuat keduanya terlalu dekat. Wajah Arda Handara hampir menyentuh dada Putri Babi-or yang membusung. Meski dada itu begitu harum dan membuat nyaman perasaan dan pikiran, tetapi sekali lagi maaf, Arda Handara yang sudah terbiasa menyusu kepada ibundanya, tidak mengalami desiran indah apa pun meski disuguhkan bukit di depan wajahnya, apalagi bukit itu masih terkemas dengan rapi.
Justru rekan-rekan batangan Arda Handara yang heboh sendiri, tapi mode silent agar tidak dianggap kurang ajar kepada putri kerajaan.
Pada akhirnya, Kalung Peri Mimpi melingkar di leher Arda Handara.
Plok plok plok …!
Tepuk tangan kembali terdengar meriah.
Mau tidak mau, kondisi serupa terulang lagi. Arda Handara dan Putri Babi-or kembali saling sangat dekat dan wajah sang pangeran kembali disuguhkan dua busungan bukit perawan. Raja Titah Bang-or dan Permaisuri Mekar Ni-or hanya tersenyum gembira melihat putrinya begitu dekat dengan Pangeran Arda Handara.
Memang, sang raja sengaja memberi kesempatan kepada putrinya untuk memberikan hadiah itu, maksudnya agar Putri Babi-or menjalani masa kedekatan dengan pangeran yang kelak akan menjadi suaminya.
Putri Babi-or kemudian memasangkan ring emas itu di kepala Arda Handara yang standarnya sama dengan standar kepala orang-orang cebol dewasa.
“Kau tampan sekali, Pangeran!” bisik Putri Babi-or ketika menyematkan mahkota emas itu di kepala Arda Handara yang merunduk nyaris menyentuh dadanya yang harum semerbak mewangi.
Bisikan itu kali ini membuat Arda Handara mendelik dan segera mengangkat kepalanya. Karena sang putri belum menarik posisi wajahnya, nyaris saja mereka bertemu bibir, tetapi ujung hidung masih bergesekan. Entah untung atau rugi, hidung Arda Handara hanya menggesek kain cadar yang menutupi hidung dan bibir sang putri.
Namun, insiden kecil itu membuat Putri Babi-or tersipu malu sendiri dengan pipi yang menyemu merah kemerah-merahan di balik cadar. Desiran indah dan rasa berbunga-bunga yang dirasakan oleh Putri Babi-or hanya terpancar lewat tatapan mata yang berubah sayu dan berkedip menunduk.
“Hahaha!” tertawalah Jangka Kolor dan rekan-rekan lelakinya, tapi tidak bagi Sanda Kolot yang merengut.
Tapi tidak juga bagi Hijau Kemot yang memandang pertunjukan panggung itu dari jauh, dari gerbang bawah tribun. Hatinya pun menderita pestidak syndrome, perih dan sakit hati mendadak. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia menarik-narik ujung kain bajunya yang tidak sobek-sobek.
“Hahaha!” tawa Arda Handara santai dan bahagia. Selama dia tidak diberi tahu akan diajak kawin atau buat anak yang banyak, bocil ini belum tahu yang namanya isyarat jatuh cinta.
Maka jadilah Putri Babi-or berimajinasi dan berilusi seorang diri. Ia segera mundur sebelum dianggap sebagai putri murahan.
__ADS_1
“Selanjutnya, kita sambut, Penerbang Wanita Nomor Jawu tahun ini, Sandaaa Kolooot!” teriak Hakim Langit kembali membahana.
“Aaak …!” jerit Sanda Kolot sambil loncat-loncat karena terlalu girangnya.
“Yeee!” sorak penonton lagi bergemuruh sambil bertepuk tangan meriah.
Plok plok plok …!
“Sanda Kolot! Sanda Kolot! Sanda Kolot …!” sebut para pendukung berulang-ulang.
“Pangeran Handaraaa!” pekik Sanda Kolot sambil berlari maju dan melompat memeluk Arda Handara.
Sanda Kolot memeluk Arda Handara begitu kencang, tidak peduli bahwa saat itu mereka sedang berada di depan Keluarga Raja.
“Hahaha!” Arda Handara hanya mengimbangi dengan tertawa juga, mau tidak mau ia pun memeluk tubuh mungil Sanda Kolot. Masih untung tidak ada serangan bibir dari Sanda Kolot, hanya peluk kegembiraan.
Penyakit pestidak syndrome pun kembali melanda perasaan Putri Babi-or dan Hijau Kemot.
“Maaf, Penerbang Kolot, ini sedang di depan Paduka Raja,” ucap Hakim Langit yang mendekati bocil dan gadis itu.
“Oh, maaf!” ucap Sanda Kolot terkejut.
Ia buru-buru berbalik dan turun berlutut menghadap kepada Raja dan Permaisuri.
“Ampuni hamba, Paduka Raja. Ampuni hamba yang lancang!” ucap Sanda Kolot yang jadi merasa ngeri-ngeri merinding.
“Karena kau adalah Penerbang Wanita Nomor Jawu, aku maklumi,” kata Raja Titah Bang-or.
“Terima kasih, Paduka Raja,” ucap Sanda Kolot.
Dengan tetap tersenyum girang, Sanda Kolot kembali bangkit dan berdiri di sisi kanan Arda Handara. Sesekali dia memandang bahagia kepada Arda Handara. Saat itu dia sangat haqqul yaqin di dalam hati bahwa Pangeran Arda Handara adalah pasangan yang tepat baginya.
Raja Titah Bang-or lalu mempersilakan Permaisuri Mekar Ni-or untuk memberikan hadiah kepada Sanda Kolot.
Tidak seperti Arda Handara, Sanda Kolot hanya mendapat hadiah Cincin Mahkota Separa model cewek.
Entah kenapa, kali ini lebih spesial karena Penerbang Nomor Jawu mendapat dua jenis hadiah. Tahun lalu, Galang Ocot pun hanya mendapatkan hadiah Cincin Mahkota Separa.
Sekedar bocoran. Kalung Peri Mimpi sebenarnya adalah hadiah pribadi dari Putri Babi-or untuk Arda Handara. Itulah yang terjadi.
Setelah acara serah terima hadiah itu, maka usailah pagelaran turnamen Pertandingan Tongkat Bola. Para penonton pun pulang dengan kegembiraan dan juga kekecewaan bagi pendukung kesembilanan yang kalah.
Sementara itu, di dalam ruangan tim kesembilanan Pasukan Beruang Biru, sepuluh prajurit Pasukan Pelindung tiba-tiba muncul dan masuk, mengejutkan para personel tim yang sedang menjalani pengobatan dari tabib klub.
“Galang Ocot, kau kami tangkap karena telah membayar orang untuk membunuh Penerbang Arda Handara!” kata pemimpin prajurit kepada Galang Ocot yang wajahnya bengkak biru-biru keunyu-unyuan.
__ADS_1
“Belelele!” kejut semua personel Pasukan Beruang Biru di kamar tim itu.
Sementara Galang Ocot hanya pasrah. Dua orang prajurit segera mendatangi Galang Ocot yang sedang duduk bersandar. Kedua tangannya segera dibelenggu dengan borgol made in Separa. (RH)