Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 16: Bajak Laut Bertempur


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Setelah membakar tiga kapal perang di dermaga sehingga menyisakan tiga kapal lagi, ternyata pasukan Bajak Laut Malam memutuskan bertempur. Mereka bertempur bukan untuk mencari mati, tetapi karena gatal ingin bertarung disebabkan suasana sangat mendukung.


Tangan Kanan memimpin rekan-rekannya naik lewat dermaga utama. Jelas mereka segera disambut oleh serbuan pasukan.


Set! Tseb!


“Akk!” jerit seorang anggota Bajak Laut Malam saat terkena panah jauh yang dilesatkan dari atas benteng. Dia seketika tewas.


Tangan Kanan dan rekan-rekannya terkejut.


“Bengkak Ubur, lindungi pasukan!” teriak Tangan Kanan kepada seorang anggotanya.


“Siap!” sahut seorang anggota bajak laut bertubuh gendut yang membawa tameng baja lebar di tangan kanan dan golok besar di tangan kiri. Dia bernama Bengkak Ubur yang punya keahlian spesial.


Maka, ketika Tangan Kanan, Perkosa Ombak dan sejumlah rekan bertarung hebat melawan para prajurit Pasukan Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera, Bengkak Ubur bertindak sebagai mengaman dari serangan atas. Perhatiannya selalu mengawasi atas benteng.


Set set set …!


“Awas panah atas!” teriak Bengkak Ubur sambil melompat gesit.


Teng teng! Ting!


Saat melompat itu, Bengkak Ubur menangkis dua panah jauh dengan tamengnya dan satu panah dengan tebasan goloknya. Kedua benda besar di tangannya terlihat ringan. Perlindungannya itu bisa melindungi sejumlah rekannya.


Selain itu, teriakan peringatannya membuat rekan-rekannya bisa waspada dan melakukan penghindaran sendiri.


Dalam menghadapi pasukan musuh dan serangan panah jauh dari atas benteng, di sini terlihat kehebatan para anggota Bajak Laut Malam. Satu per satu prajurit bertumbangan tanpa nyawa.


Namun, jika ada anggota Bajak Laut Malam yang terkena serangan dan membuatnya terluka, maka mereka akan langsung melompat ke laut untuk mengamankan diri.


Sementara itu, pasukan di atas benteng harus terbagi dua dalam membidik musuh karena ada sekelompok bajak laut yang juga naik lewat dermaga lain. Kelompok itu dipimpin oleh Raga Ombak.


Sama seperti rombongan Tangan Kanan, rombongan Raga Ombak juga memiliki seorang pelindung kelompok. Dia bernama Rawe Setik. Tanggung jawab yang diberikan kepadanya karena dia memiliki satu ilmu unik yang bernama Menyiput Kilat.


Set set set …!


Rombongan itu juga mendapat serangan panah-panah jauh dari atas benteng.


“Serangan atas!” teriak Rawe Setik sambil melompat dan mengibaskan kedua tangan kekarnya.


Kibasan kedua tangan Rawe Setik melepaskan lesatan energi yang melebar dan menyebar di udara atas menyambut panah-panah besar. Ternyata energi dari ilmu Menyiput Kilat membuat panah-panah itu melambat gerakannya seperti adegan slow motion.

__ADS_1


Raga Ombak dan rekan-rekannya yang mendapat peringatan sebelumnya memiliki kesempatan melihat serangan yang melambat di sisi atas, sehingga mereka bisa mengatur diri untuk menghindar atau menangkis.


“Kalian berempat pergilah ke Istana, aku curiga ada musuh lain yang berhasil menyusup!” perintah Lulug Ohe kepada dua pasang rekannya.


“Baik,” jawab salah satu dari mereka.


Keempat pendekar dari Enam Pasang Kekasih Laut itu lalu berbalik meninggalkan bibir tebing tempat mereka mengamati huru-hara di pelabuhan.


“Waktunya kita turun, pasukan kita bukan lawan para bajak laut itu,” kata Kemangi Yom, istri Lulug Ohe.


Lulug Ohe dan istri, Rungga Boeng dan istri, serta pasangan kumpul kerbau yang bernama Waring Cin dan Cemuyu Angi, lalu melompat menuruni tebing dari satu titik ke titik yang lain, sehingga mereka sampai di pelabuhan dalam waktu singkat.


Pasangan Lulug Ohe dan Kemangi Yom pergi untuk melawan rombongan Tangan Kanan. Sedangkan pasangan Rungga Boeng dan Jingking Hai pergi untuk mengatasi rombongan Raga Ombak. Adapun Waring Cin dan Cemuyu Angi pergi naik ke Kapal Raja Karang bergabung bersama Laksamana Galala Lio yang sejauh ini hanya memantau situasi. Sepertinya dia menunggu pemimpin dari pasukan musuh muncul.


“Gelaga Wing dan Tanduk Moh pergi ke Istana untuk memastikan situasi,” lapor Waring Cin kepada sang laksamana.


“Pasukan kita benar-benar dibuat porak poranda. Aku penasaran, siapa pemimpin dari pasukan ini,” desis Galala Lio.


Ketika tebing paling tinggi sudah kosong dari anggota Enam Pasang Kekasih Laut, ternyata ada pergerakan senyap di area tebing karang, bergerak naik menuju ke arah benteng dari sisi samping yang gelap. Orang-orang itu adalah anggota Bajak Laut Malam yang dipimpin oleh Keong Gelap.


Lulug Ohe langsung mendatangi Tangan Kanan dan Kemangi Yom mendatangi Perkosa Ombak. Di dermaga lain, Rungga Boeng mendatangi Raga Ombak dan Jingking Hai dikeroyok oleh Rawe Setik dan Sayup Desah.


Pertarungan sengit berlangsung antara para pendekar itu.


“Munduuur!” teriak Tangan Kanan kepada kelompoknya.


Tangan Kanan, Perkosa Ombak, Bengkak Ubur dan beberapa rekannya segera mundur dengan cara melompat ke laut, meninggalkan Lulug Ohe dan istrinya serta pasukan.


“Kurang ajar!” teriak Lulug Ohe marah.


Ses ses ses …!


Lulug Ohe bergerak ke pinggir dermaga lalu melesatkan sinar-sinar ungu berwujud panah-panah ke dalam air, bermaksud menyerang para anggota bajak laut itu di dalam air.


Namun, para bajak laut itu begitu lihai sehingga tidak ada satu pun serangan Lulug Ohe yang mengenai sasaran. Setelah itu, para bajak laut itu tidak terlihat lagi.


Keputusan yang sama diambil oleh Raga Ombak di dermaga lain.


“Munduuur!” teriaknya sambil melesat mundur menjauhi Rungga Boeng yang menjadi lawan tarungnya.


Rawe Setik, Sayup Desah dan rekan bajak laut lainnya segera meninggalkan lawan dan dermaga. Mereka menceburkan diri ke dalam air lalu langsung menyelam.


Pada saat itu, beberapa bayangan bergerak mendekati belakang para prajurit operator mesin panah jauh di atas benteng.


Dengan komando bahasa isyarat gaya bajak laut, mereka menyergap lima prajurit operator dari belakang dan langsung membunuhnya.

__ADS_1


Meski mereka membunuh tanpa berisik, tetapi tetap saja ada suara yang gaduh dan gerakan mereka manarik perhatian prajurit operator lain terdekat.


Set set set …!


Ketika beberapa prajurit operator menengok, Keong Gelap dan beberapa rekannya berkelebat cepat di atas benteng yang memiliki koridor cukup lebar. Dua orang melesatkan senjata rahasianya yang berupa paku-paku beracun. Enam prajurit operator lainnya tewas.


Sementara Keong Gelap berlari cepat di atas benteng dengan golok, menyerang para prajurit operator panah jauh.


Cras cras cras!


Di saat Keong Gelap membersihkan para prajurit operator sehingga akhirnya bertarung dengan Komandan Balit Lir, lima anggota bajak laut fokus mengoperasikan lima mesin panah jauh.


Keributan yang terjadi di atas benteng menarik perhatian para punggawa yang ada di pelabuhan.


Set set set!


Lima panah jauh melesat menyerang Rungga Boeng dan Jingking Hai. Rungga Boeng dengan gesit menghindari serangan panah besar dari jauh itu. Namun ….


Set! Tsub!


“Aaak!”


“Jingking Sayang!” pekik Rungga Boeng terkejut saat mendengar dan melihat istrinya menjerit karena satu panah besar berhasil menusuk tembus tubuhnya, sampai-sampai Jingking Hai terjengkang karena kerasnya.


Rungga Boeng cepat pergi memeluk tubuh istrinya.


Ketika dipeluk, Jingking Hai sudah tidak bisa bicara dan bernapas.


“Keparaaat!” teriak Rungga Boeng begitu murka.


IA letakkan tubuh istrinya di lantai dermaga, lalu berdiri dan menatap penuh amarah ke atas benteng. Dia lalu berlari menuju jalan naik ke benteng.


Set set!


Dua panah jauh yang kembali menargetkannya bisa dia hindari.


Namun, tiba-tiba ….


Set! Tseb!


Tiba-tiba dari dalam kegelapan melesat sebatang panah biasa dan menyambar batang leher Rungga Boeng. Begitu cepat dan tiba-tiba. Rungga Boeng jatuh ke laut.


Dengan demikian, satu pasang Kekasih Laut telah mati mendahului rekan-rekannya.


Sekedar bocoran. Panah yang muncul tiba-tiba itu adalah panah yang dilepaskan oleh Tangan Kanan Seser Kaseser dari atas Kapal Bintang Hitam. (RH)

__ADS_1


__ADS_2