
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
“Aku tidak suka dengan perundingan sehingga kalian tarik-menarik banyak pertimbangan. Berdasarkan pengamatanku, jelas Ketua Dua tidak pantas untuk menduduki posisi Ketua Satu. Apakah kau tahu apa kesalahanmu, Ketua Dua?” ujar Dewi Ara.
“I-i-iya,” jawab Tolak Berang yang harus pupus harapannya untuk menjadi Ketua Satu Perguruan Cambuk Neraka. Mengabaikan tamu yang adalah Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil merupakan dosa besar baginya.
“Aku melihat yang pantas menjadi Ketua Satu adalah Ketua Lima,” kata Dewi Ara memutuskan, membuat sebagian orang terkejut dan langsung memusatkan perhatiannya kepada Sarang Asugara.
“Tapi, Gusti Permaisrui. Hamba adalah Ketua Lima, bagaimana mungkin bisa langsung menduduki kursi Ketua Satu?” kata Sarang Asugara.
“Jika kau tidak mau, tidak usah menjadi ketua apa pun. Dan biarkan perguruan ini menjadi lemah seterusnya,” tandas Dewi Ara yang tidak mau menerima alasan. Lalu katanya lagi, “Aku melihat kepemimpinanmu di saat suasana kacau seperti tadi.”
“Baik, Gusti Permaisuri. Hamba taat kepada keputusan Gusti Permaisuri,” ucap Sarang Asugara sambil menghormat di kursinya.
“Untuk Ketua Dua, aku serahkan kepada Ketua Empat,” kata Dewi Ara.
“Mohon ampun, Gusti Permaisuri, jika hamba lancang. Bukannya hamba tidak menerima anugerah yang Gusti Permaisuri berikan, tetapi aku telah memutuskan untuk berhenti sebagai ketua dan keluar dari perguruan,” kata Anik Remas sambil menghormat dalam, khawatir penolakannya justru membuat murka wanita sakti itu.
“Bagus. Berikan alasanmu!” puji Dewi Ara dingin.
“Aku ingin menikah dengan Bagang Kala, Pendekar Angin Barat,” kata Anik Remas mantap, tanpa ragu atau malu-malu.
Pengakuan itu jelas mengejutkan semua orang Perguruan Cambuk Neraka, bahkan Gelisa baru tahu hal tersebut. Itu jelas bisa menjadi trending topic dalam tangga gosip di perguruan.
“Aku dan Bagang Kala telah sepakat akan menikah. Calon suamiku ingin pergi mengembara, maka aku akan mengikutinya,” jelas Anik Remas lagi.
“Bagaimana bisa kau jatuh cinta kepada pendekar asing yang telah membunuh murid-murid kita?!” hardik Tolak Berang.
“Aku juga bisa bertanya kepadamu, Tolak. Bagaimana bisa kau membiarkan putramu menjadi pembunuh dan pemerkosa?” balas Anik Remas.
“Kau ….”
“Cukup!” kata Dewi Ara yang menghentikan kata-kata Tolak Berang. “Tidak ada pembalasan dan dendam lagi. Apakah semua orang yang membunuh orangtua dan kakak perempuanmu sudah mati semua, Kisanak?”
__ADS_1
Dewi Ara bertanya kepada Bagang Kala. Pertanyaan itu pula membuat Tampar Bayu yang hadir di ruangan itu jadi terkesiap, karena tinggal dialah yang tersisa dari enam orang pembunuh orangtua Bagang Kala.
“Masih ada satu orang, Gusti Permaisuri. Dia!” jawab Bagang Kala lalu menunjuk kepada Tampar Bayu yang jadi salah tingkah, karena semua mata tertuju kepadanya. “Namun, aku tidak akan menuntut nyawanya, cukup sudah. Aku tidak mau dendam membutakanku. Biarkan ini menjadi pelajaran baginya.”
Legalah Tampar Bayu mendengar kebijakan Pendekar Angin Barat.
“Baiklah, perkara dendammu telah selesai,” kata Dewi Ara. “Itu artinya, Ketua Dua tidak tergantikan. Silakan kalian nanti memilih ketua yang lain. Gogol, serahkan cambuk itu kepada Ketua Satu!”
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Setya Gogol patuh.
Pemomong Arda Handara itu segera pergi menyerahkan Cambuk Usus Bumi kepada Sarang Asugara, yang kini menjabat sebagai Ketua Satu Perguruan Cambuk Neraka. Dengan penuh takzim, Sarang Asugara menerima pusaka itu ke dalam pangkuannya. Tolak Berang harus memendam rasa irinya.
“Serahkan Ketua Tiga kepada Kerajaan untuk diadili. Besok pagi aku akan berangkat melanjutkan perjalanan. Siapa pun pejabat Istana yang dikirim ke perguruan ini besok, sampaikan saja salamku kepadanya,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap para pemimpin perguruan itu kompak.
Akhirnya, pertemuan singkat itupun usai. Dewi Ara dan pengawalnya pergi kembali ke rumah tamu untuk beristirahat. Malam itu, fasilitas di kamar tamu sudah berubah drastis menjadi lebih mewah dengan maksud memanjakan sang permaisuri dan orang-orangnya.
Namun, sebelum Dewi Ara naik ke rumah tamu, tiba-tiba ….
“Sembah hormatku, Gusti Permaisuri!” ucap Bagang Kala yang muncul tiba-tiba dari samping, sambil turun bersujud di tanah gelap.
“Hamba adalah pendekar yang baru keluar dari tempat guru hamba setelah berguru selama lima belas tahun. Hamba kini tidak memiliki tujuan, izinkan hamba mengabdi kepada Gusti Permaisuri dan ikut Gusti dalam perjalanan,” ujar Bagang Kala.
“Bukahkah kau ingin menikah dengan Anik Remas? Untuk apa mengabdi kepadaku. Hiduplah bahagia setelah kalian menikah,” kata Dewi Ara.
“Kami memang akan menikah, tapi kami juga akan berpetualang, Gusti Permaisuri,” kata Bagang Kala yang datang seorang diri. Ia masih bersujud.
“Aku memang butuh tenaga untuk mengangkat-angkat anggotaku yang terluka. Tapi ingat, aku tidak menjamin keselamatan kalian. Nyawa kalian ada di tangan kalian sendiri,” kata Dewi Ara memutuskan.
“Terima kasih, Gusti Permaisuri!” ucap Bagang Kala girang.
Dewi Ara lalu pergi meninggalkan Bagang Kala seorang diri.
“Dewi, luka Bewe Sereng masih terlalu parah,” kata Tikam Ginting.
__ADS_1
“Dia tidak akan mati jika menempuh perjalanan dalam kondisi masih terluka,” kata Dewi Ara.
“Ibunda, sejak pertempuran tadi, Suling jadi takut kepadaku,” curhat Arda Handara.
“Itu karena ayahnya terluka parah dan kakaknya mati,” jawab sang ibu sekenanya.
“Hah, padahal suling mau mengajakku membuat bayi,” celetuk Arda Handara.
Plak!
Dengan pelan, Dewi Ara menepak kepala anaknya.
“Tunggu lima belas tahun lagi, baru kau boleh membuat bayi,” kata Dewi Ara yang membuat Tikam Ginting dan kedua pemomongnya tertawa kecil.
“Baik, Ibunda. Hehehe!” ucap Arda Handara lalu tertawa cengengesan.
Ternyata, penghadapan Bagang Kala kepada Dewi Ara tanpa sepengetahuan Anik Remas. Barulah pemuda itu menyampaikan kepada Anik Remas setelah kembali ke kamar mantan ketua tersebut.
Anik Remas terkejut mendengar laporan Bagang Kala yang sudah fix akan ikut kepada Permaisuri Dewi Ara. Sebab, bukan hal itu yang diinginkan olehnya.
“Aku ingin hidup bersamamu di suatu tempat tanpa ada yang mengganggu, bukan mengikuti Gusti Permaisuri,” kata Anik Remas mulai mendebat Bagang Kala.
“Tidak, Anik. Aku ingin mengembara. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya,” bantah Bagang Kala.
Terdiamlah Anik Remas sambil menatap tajam kepada calon suaminya. Tidak berapa lama, akhirnya Anik Remas menarik napas panjang dan memilih mengalah. Demi cinta.
Setelah itu, hubungan Bagang Kala dengan Anik Remas kembali harmonis dan melembut.
Ternyata, setelah Dewi Ara meninggalkan pendapa, para petinggi Perguruan Cambuk Neraka melanjutkan musyawarahnya. Hasilnya, mereka mengangkat tiga ketua baru, yakni Kepala Latih Jenang Kolo sebagai Ketua Tiga, Kepala Kebersihan Suriwak sebagai Ketua Empat dan Guna Wetong sebagai Ketua Lima.
Peresmian mereka sebagai lima orang ketua Perguruan Cambuk Neraka akan diadakan besok, oleh pejabat Istana Kerajaan Baturaharja.
Singkat cerita. Keesokan paginya rombongan Dewi Ara meninggalkan perguruan tersebut. Para ketua dan Garda Tadapan melepas kepergian mereka.
Anik Remas membawa kereta kudanya yang tanpa atap. Bagang Kala bertindak sebagai sais, sebab Gelisa dan Kelakar memilih terus berada di perguruan. Rumah dinas milik Anik Remas akan diberikan kepada Ketua Empat Suriwak.
__ADS_1
Sementara Bewe Sereng yang masih terluka parah, ikut di bak kereta.
Rombongan itu pun siap menuju ke Negeri Pulau Kabut. (RH)